⚠️Bijak Memilih bacaan!
DIBACA AJA DULU, KALI AJA SUKA😉
Karena sebuah janji yang terlanjur Salwa dan Arga sanggupi dihadapan Salma yang tengah kritis. Salwa si gadis manis dan penurut yang baru saja lulus kuliah di salah satu universitas di luar kota, pada akhirnya harus menerima takdirnya yakni menikah dengan Arga, laki-laki yang tidak lain adalah kekasih kakaknya sendiri. Mampukah Salwa menjalani kehidupannya bersama Arga sang flamboyan yang menyimpan sejuta teka-teki di dalam hidupnya.
Akankah cinta bersemi diantara keduanya? Ataukah justru perpisahan yang pada akhirnya mereka pilih?
ー Chrysalis
Follow my instagram @chrysalisha98
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Crhysalis_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 31
Di kamarnya Salwa langsung melentingkan tubuhnya ke atas ranjang. Gadis itu melebarkan kedua tangannya diatas ranjang lalu menghela napasnya kuat-kuat, menatap langit-langit kamarnya sambil bermonolog. "Nggak tau kenapa... sejak kejadian dikantornya Arga tadi, rasanya jadi bete banget sama Arga. Apalagiー pas tadi lihat reaksi Arga yang kayaknya lebih percaya sama Mayang dibanding aku. Huh..!" Salwa bangkit dan duduk diatas kasur, ia tampak melampiaskan kekesalannya dengan memukul kasur miliknya. "Kenapa sih, aku jadi gini? Padahalー biasanya juga Arga suka resek gitu. Tapi kenapa kali ini sebelnya tuh beda. Semacam ada yang ganggu gitu dipikiran." Salwa mencebikkan bibirnya ia teringat dengan cerita Mayang tadi. "Dan denger cerita Mayang tadi tentang kedekatannya sama Arga waktu sekolah, apa bener Arga sama Mayang mau balikan lagi? Tapi kan Arga udah nikah! Walaupun, nikahnya karena wasiat sihー" Salwa jadi kesal sendiri dengan pikirannya. "Auk ah, pusing!" Salwa kembali merebahkan punggungnya di atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Salwa sudah tampak rapi dengan setelan kerjanya. Hari ini sekitar pukul setengah tujuh pagi, Salwa sudah terlihat akan bersiap-siap pergi. Arga yang baru saja selesai mengenakan kemeja pun bertanya, "Tumben banget kamu pagi-pagi gini udah mau siap-siap berangkat?"
Salwa yang tengah memainkan hapenya pun menjawab, "Iya, aku mau ke rumah papa dan mama soalnya."
Arga pun agak kaget dibuatnya. Ngapain pagi-pagi begini ke rumah mama dan papa? Sejengkel itukah Salwa pada Arga hingga memutuskan kembali pada orang tuanya? Pikir Arga demikian."Ka- kamu mau ngapain ke rumah papa dan mama pagi-pagi begini?"
"Emang kenapa? Aku kan mau kesana, aku kangen sama mama dan papaku, selain itu aku juga kangen sama masakan mama. Pengen aja gitu sarapan disana," jelas Salwa.
"Ohー gitu," Arga cukup lega mendengar penjelasan Salwa barusan. "Nah, terus kok belum berangkat nanti keburu siang loh"
"Kamu ngusir aku?" sahut Salwa.
"Bu- bukan ngusir wey... kenapa sih dari kemarin aku disensiin gitu terus!" Arga akhirnya protes karena merasa di jutekin oleh Salwa sejak kemarin.
"Ya habisnya, kamu nanyanya kayak seolah-olah pengen banget aku pergi gitu." Tidak bisa dipungkiri Salwa memang masih sedikit merasa jengkel dengan Arga. Apalagi kalau ingat dirinya yang seperti sangat membela Mayang, benar-benar nyebelin!
"Ya bukan gitu, aku kan cuma nanya doang, dasar cewek moody...!"
"Enak aja cewek moody, aku ini belum berangkat karena aku lagi pesen taksi online nggak dapet-dapet kok!" Jelas Salwa tak terima di bilang moody.
"Ngapain kamu pesen taksi online, minta aja sama Mang Dirman buat anterin kamu."
"Ta- tapiー"
"Nggak ada tapi-tapi, udah kamu tunggu aja, aku suruh mang Dirman anterin kamu." Arga pun menelepon supirnya itu untuk segera datang ke apartemennya. "Aku udah telepon mang Dirman! Sepuluh menitan lagi dia dateng, jadi kamu tunggu aja." Salwa mengangguk menuruti ucapan sang suami. "Oh iya, mulai besok mang Dirman jadi supir kamu, jadi kemana-mana kamu bisa minta sama si mamang okey?"
Salwa terbelalak senang. "Sumpah, beneran?"
"Iya," balas Arga datar.
"Asyik...!" Salwa bisa menghemat uang transportnya kalau begitu.
"Udah kan, sekarang aku mau rapi-rapi," ujar Arga yang sepertinya tengah mencari kaus kaki.
"Arga!" panggil Salwa.
"Kenapa?"
"Waktu itu aku udah beliin beberapa pasang kaus kaki baru buat kamu. Tunggu sebentar, aku ambilin." Salwa pun mengambil kaus kaki yang dibelinya itu dikamarnya.
"Jangan bilang gue dikasih kaus kaki polkadot lagi?"
Salwa yang baru saja kembali itu langsung menyerahkan kaus kaki itu pada Arga. "Ini!" Arga pun menerima beberapa pasang kaus kaki berwarna gelap, ia pun tersenyum kecil. "Aku kira kamu bakal beliin aku yang kayak waktu itu lagi."
"Yaelah, aku nggak bodoh banget juga kali." tiba-tiba Arga mendapat pesan kalau ternyata mang Dirman sudah tiba. Salwa pun pamit untuk pergi duluan. "Yaudah aku duluan ya... bye!"
"Salwa!" Arga memanggil, dan sang istri pun menoleh,
"Ada apa lagi?"
"Makasih ya kaus kakinya," ucap Arga dengan suara yang cukup lembut. Salwa pun hanya membalasnya dengan senyum manis dan anggukan, lalu pergi.
"Kayaknya dia udah nggak terlalu bete deh sama gue," tebak Arga.
**
Diperjalanan Salwa teringat cara Arga tadi berterima kasih, bahkan suara Arga seolah masing terngiang-ngiang ditelinganya. Arga tadi ngomongnya manis banget deh! Dan tidak bisa disangkal hal itu membuat Salwa jadi senyum-senyum kecil.
"Kita mau kemana non?" Tanya Mang Dirman.
Seketika pikiran Salwa terbuyarkan, "ー Oh itu, kitaーke rumah orang tua saya ya Mang!"
"Siap Non," balas Mang Dirman.
**
Sekitar kurang dari satu jam perjalanan, akhirnya Salwa tiba juga di kediaman orang tuanya. Rumah yang cukup luas yang berada dikawasan komplek yang cukup asri adalah alamat tempat tinggal Salwa dulu sebelum dinikahi oleh Arga. Salwa pun langsung masuk ke dalam rumahnya, di teras ia disambut bi Ina ART-nya yang sudah 15 tahun lebih bekerja untuk keluarga orang tuanya itu. "Eh Non Salwa, tumben banget pagi-pagi udah kemari, makin cantik aja sih Non!"
"Ah bibi bisa aja, eh iya mama sama papa lagi apa?"
"Oh, ibu sama bapak lagi baru mau sarapan Non. Non Salwa masuk aja, pasti ibu sama bapak seneng lihatnya."
Salwa pun mengangguk, "Kalau gitu aku masuk dulu ya, oh iya bi Ina tolong bikinin minunuman ya buat mang Dirman!" Ujar Salwa yang kemudian langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Mang Dirman teh saha?" ucap bi Inah kebingungan.
"Mang Dirman tuh saya neng," ujar Mang Dirman yang entah sejak kapan sudah keluar mobil.
**
Salwa yang baru datang itu pun langsung menghampiri kedua orang tuanya, yang ada di ruang makan. "Mama... Papa...!" Seru gadis itu.
"Salwa?" ujar Mama yang tengah mengambilkan nasi goreng untuk sang suami. Rania tidak percaya pagi-pagi begini sudah melihat putrinya datang berkunjung.
"Kamu kemari buat sarapan nak?" ucap papa Ramdani. Salwa pun langsung ikut duduk bergabung dimeja makan bersama kedua orang tuanya. Terlihat sekali rona bahagia menyelimuti kedua orang tua Salwa melihat kedatangan putri mereka.
"Salwa mau numpang sarapan disini, boleh kan?"
"Boleh banget dong sayang, kamu mau makan nasi goreng? Atau mau mama masakin yang lain, bilang aja sama mama." Saking senangnya Rania dirinya bahkan mau repot-repot membuatkan sarapan lain jika Salwa tak suka menunya kali ini.
Salwa menggeleng sambil senyum. "Nggak usah Ma, nasi goreng ini aja. Kebetulan Salwa emang lagi kangen banget sama nasi goreng Mama yang super lezat ini."
Rania menghela napas, "Syukurlah kalau gitu."
Salwa pun langsung ingin menyendok nasi goreng itu ke piringnya,tapi oleh mama Rania langsung dihalau, "Salwa sayang, kamu belum cuci tangan loh sayang."
"Oh iya lupa," ucap Salwa malu-malu yang kemudian langsung pergi cuci tangan. Melihat Salwa seperti itu, membuatnya terlihat seperti gadis kecil mama dan papanya yang masih butuh diingatkan, bahkan perkara cuci tangan sekalipun. Ya memang seperti sebuah pepatah mengatakan, meski anak sudah dewasa, tetap saja akan jadi anak-anak jika di hadapan orang tuanya.
🌹🌹🌹
LIKE, COMMENT, VOTE YA...
Baca Novelku yang lain juga ya judulnya :
LOVE PETAL FALLS (udah tamat)
salwa tinggalin laki kaya tuh,ga tegas,plin plan..