Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sejarah kelam benua Xuan Lu
Pagi di Ibu Kota Zhonghua tidak diawali dengan kicauan burung yang merdu, melainkan oleh dentang lonceng perunggu raksasa yang suaranya memantul di antara dinding-dinding batu akademi. Suara itu berat, seolah menekan dada setiap orang yang mendengarnya, mengingatkan bahwa waktu untuk bermanja telah habis.
Zhou Yu terbangun lebih dulu. Ia menatap langit-langit kayu asramanya yang retak, lalu menoleh ke samping. Ling’er masih terlelap, napasnya teratur namun jemarinya masih menggenggam erat ujung baju Zhou Yu sebuah sisa ketakutan dari intimidasi Tuan Muda Chen semalam. Dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak membangunkan istrinya, Zhou Yu bangkit.
"Da Ge, bangun," bisik Zhou Yu sambil menyentuh bahu sahabatnya yang tidur mendengkur di sudut ruangan.
Da Ge terbangun, matanya yang merah segera waspada. Tanpa banyak bicara, mereka bertiga membawa perlengkapan mandi menuju sungai kecil yang mengalir di pinggiran kompleks akademi. Sungai itu airnya jernih namun sedingin es, mengalir langsung dari puncak gunung salju yang mengelilingi ibu kota.
Saat mereka tiba di tepi sungai, kabut tipis masih menari di atas permukaan air. Zhou Yu dan Da Ge memilih titik yang agak jauh, memberikan ruang bagi Ling’er untuk membersihkan diri di balik rimbunnya pohon gandarusa.
Zhou Yu menanggalkan bajunya, membiarkan kulitnya yang penuh bekas luka terkena udara pagi yang menggigit. Ia melompat ke dalam air.
Byur!
Dinginnya air terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk pori-porinya. Namun, bagi Zhou Yu, ini adalah meditasi. Ia memejamkan mata, membiarkan energi dingin sungai menyatu dengan Qi air dalam dirinya yang telah dimurnikan oleh Bunga Embun Salju.
Di balik pepohonan, Ling’er membasuh wajahnya. Air sungai yang dingin membuat kulitnya yang halus merona kemerahan. Ia melihat pantulan dirinya di air dia bukan lagi gadis tambang yang kusam, melainkan seorang wanita yang memikul tanggung jawab besar. Ia berdoa dalam hati agar hari ini mereka tidak perlu menarik perhatian siapapun.
Selesai mandi, mereka berkumpul di depan tungku batu kecil di luar asrama. Da Ge dengan cekatan membelah kayu, sementara Ling’er mulai memasak bubur gandum sederhana dengan tambahan sedikit bumbu yang mereka bawa dari desa. Aroma nasi yang tanak dan hangatnya api tungku memberikan rasa nyaman yang kontras dengan kemegahan dingin akademi di sekeliling mereka.
"Makanlah yang banyak," ucap Zhou Yu sambil menyodorkan mangkuk kepada Da Ge dan Ling’er. "Hari ini kita akan mulai masuk kelas. Jangan biarkan perut kosong membuat fokus kalian goyah."
Mereka makan dalam keheningan yang khidmat. Di kejauhan, mereka melihat murid-murid bangsawan berjalan dengan jubah sutra yang berkilauan, menuju ruang makan mewah. Namun bagi Zhou Yu, semangkuk bubur di tangan Ling’er jauh lebih berharga daripada perjamuan manapun di kekaisaran ini.
Tengah hari tiba, seorang penjaga dengan zirah ringan mendatangi asrama mereka. Wajahnya keras dan tanpa ekspresi. "Kalian, para penghuni asrama bawah! Segera ke Aula Guntur. Kelas sejarah dan bela diri dasar akan dimulai. Jangan terlambat atau kalian akan menerima sepuluh cambukan energi!"
Aula Guntur adalah sebuah ruangan melingkar yang sangat luas. Di tengahnya terdapat panggung batu yang tinggi. Murid-murid baru dibagi menjadi beberapa kelompok. Zhou Yu, Ling’er, dan Da Ge duduk di barisan paling belakang, berusaha membaur dengan bayang-bayang.
Seorang pria tua dengan jubah abu-abu panjang dan janggut yang menjuntai hingga ke dada naik ke atas panggung. Namanya adalah Tetua Mo, sejarawan sekaligus penguji teori akademi. Ia tidak membawa buku, namun saat ia melambaikan tangannya, udara di aula itu mendadak menjadi dingin.
"Kalian di sini untuk menjadi kuat," suara Tetua Mo terdengar serak namun bergema di setiap sudut ruangan. "Tapi kekuatan tanpa pengetahuan hanyalah keberingasan yang buta. Hari ini, aku akan menceritakan kisah singkat dari titik balik sejarah benua ini... Kejadian 3.000 tahun yang lalu."
Tetua Mo mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu. Seketika, sebuah formasi Qi muncul di udara, menciptakan proyeksi visual yang begitu nyata hingga para murid tersentak.
Visual Sejarah: Dua Sosok Penentu Takdir
Bayangan di udara itu mulai membentuk sebuah pemandangan yang mengerikan. Langit dalam proyeksi itu berwarna merah darah, awan-awan hitam bergulung seperti ombak raksasa yang hendak menelan bumi.
"Tiga ribu tahun yang lalu," Tetua Mo memulai, suaranya kini terdengar seperti narasi dewa, "benua ini sedang berada di ambang kehancuran. Energi iblis dari dimensi lain merembes masuk, mengubah manusia menjadi monster tanpa jiwa. Kekaisaran saat itu sudah runtuh, dan harapan hanyalah sebuah kata yang mati."
Tiba-tiba, dari balik kabut merah dalam proyeksi itu, muncul dua siluet manusia. Visual itu menjadi sangat tajam hingga Zhou Yu bisa melihat detailnya.
Di sebelah kiri, berdiri seorang pria dengan bahu lebar dan gagah. Ia tidak mengenakan zirah, hanya jubah hitam yang berkibar tertiup badai. Di tangannya, ia memegang sebuah Kapak dengan gagang panjang yang bilahnya sehijau giok namun memancarkan aura emas yang menyilaukan. Setiap kali ia mengayunkan kapaknya, bumi dalam proyeksi itu terbelah, menciptakan jurang yang menelan ribuan tentara iblis.
"Sosok pertama adalah Sang Pembelah Langit," ucap Tetua Mo. "Senjatanya sebilah kapak dengan gagang panjang yang konon diciptakan dari jantung bintang yang jatuh. Dengan satu tebasan horizontal, ia mampu meruntuhkan sepuluh benteng sekaligus."
Lalu, visual itu bergeser ke sosok kedua. seorang pria yang sama gagah nya, auranya bahkan jauh lebih tajam dan dingin. Ia memegang sebuah Pedang Hitam yang tidak memantulkan cahaya sama sekali. Pedang itu seolah-olah menyerap segala warna di sekitarnya. Saat pria itu bergerak, ia tampak seperti bayangan yang menari di antara kematian.
"Dan sosok kedua... Sang iblis gurun. Ia memegang pedang hitam tanpa nama. Pedang itu tidak memotong daging, melainkan memotong jiwa. Dalam satu malam yang paling gelap dalam sejarah, kedua pemuda ini berdiri di puncak Gunung Langit, membelakangi satu sama lain, melawan jutaan pasukan kegelapan."
Zhou Yu terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan pedang Han Shui di punggungnya bergetar pelan, seolah memberikan reaksi terhadap cerita tersebut.
Visual itu menjadi semakin dramatis. Digambarkan bagaimana kedua pemuda itu memandang dingin ke arah langit yang runtuh. Pemuda berkapak menghantamkan senjatanya ke bumi, membangkitkan perisai energi yang melindungi umat manusia, sementara pemuda berpedang hitam menebaskan senjatanya ke angkasa, membelah awan hitam dan membiarkan sinar matahari pertama masuk setelah seratus tahun kegelapan.
"Tak ada yang tahu dari mana mereka berasal. Namun yang semua orang tahu mereka adalah seorang pengembara, sama seperti kalian," Tetua Mo menatap tajam ke arah murid-murid. "Namun, setelah perang berakhir, mereka menghilang. tak ada yang tahu kemana tujuan mereka.mereka juga memusnahkan bencana yang melanda benua ini hingga sekarang mereka di kenang sebagai legenda di dunia ini.
Proyeksi itu memudar, menyisakan aula yang sunyi senyap. Murid-murid bangsawan tampak bersemangat, membayangkan diri mereka sebagai titisan dua pemuda legendaris itu. Namun, bagi Zhou Yu, cerita itu terasa sangat personal.
Ia melirik ke arah Da Ge. Sahabatnya itu juga terdiam, tangannya tanpa sadar memegang gagang palu besarnya yang kini terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan kapak dalam sejarah tadi. Ada binar tekad baru di mata Da Ge seolah ia baru saja menemukan jalan hidupnya.
Sementara itu, Ling’er tampak pucat. Ia meremas ujung baju Zhou Yu. Sebagai orang yang memiliki sensitivitas energi yang tinggi, ia bisa merasakan bahwa sejarah yang diceritakan Tetua Mo bukan sekadar masa lalu, melainkan peringatan.
"Kak Yu..." bisik Ling’er. "Kenapa aku merasa pedang yang dibawa pria dalam sejarah itu... terasa sangat familiar sekali.?"
Zhou Yu tidak menjawab. Ia hanya menatap panggung kosong di depan. Di dalam benaknya, suara Han Shui yang biasanya marah-marah, kini terdiam seribu bahasa.
"bocah.. perjalanan mu masih panjang.. teruslah menatap lurus kedepan." suara Han shui parau, ia seperti menyiratkan makna yang mendalam lewat kata kata nya
Zhou Yu merasa bulu kuduknya meremang. Ia menyadari bahwa kedatangan mereka ke ibu kota bukan sekadar untuk belajar, melainkan ditarik oleh benang takdir yang sudah terjalin sejak ribuan tahun yang lalu.
Kelas berakhir. Saat mereka hendak keluar dari aula, Zhou Yu merasakan sebuah tatapan tajam dari lantai atas aula sebuah balkon tertutup yang hanya diperuntukkan bagi para Tetua Agung. Di sana, seorang pria berjubah hitam yang memancarkan aura keungan, menatap lurus ke arah Zhou Yu.
"Ayo cepat pergi dari sini," bisik Zhou Yu, menarik tangan Ling’er dan Da Ge.
Mereka berjalan cepat menuju asrama, namun Zhou Yu tahu, tarian sejarah baru saja dimulai. Pedang hitam dan kapak raksasa... apakah kebetulan ia memiliki pedang yang serupa dan sahabatnya memiliki palu yang berat? Atau apakah mereka adalah reinkarnasi yang dicari oleh musuh-musuh kuno yang masih bersembunyi?
Malam itu, saat mereka kembali ke gubuk reyot mereka, Zhou Yu menatap pedang Han Shui yang terbungkus kain. Ia tahu, masa-masa tenang di Desa Harapan kini terasa sangat jauh. Di sini, di Zhonghua, mereka adalah bidak dalam papan catur yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
"Ling'er, Da Ge," ucap Zhou Yu saat mereka duduk mengelilingi lilin yang redup. "Mulai besok, latihan kita tidak boleh hanya sekadar bertahan. Kita harus menguasai ilmu ini secepat mungkin."
malam itu berlalu dengan tenang tanpa gangguan,namun di tengah ketenangan itu firasat buruk menjalar di pikiran Zhou Yu.
...Bersambung.... ...