NovelToon NovelToon
Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Angst / Pihak Ketiga / Penyesalan Suami / Selingkuh / Konflik etika / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Gresya Salsabila

Kisah cinta yang rumit antara Fajar Mahardika dan Cahaya Senja. Karena suatu alasan dan segala rasa yang berkemelut dalam hati,
Fajar tak pernah menyentuh istrinya.

Sedangkan Senja, ia harus bertahan memendam luka demi menjaga keutuhan rumah tangga. Suami yang tak pernah menyentuhnya, serta mertua yang selalu memojokkannya.

Di tengah keputusasaan, Kenzo Antonio Putra, lelaki dari masa lalu datang menguji kesetiaannya.
Mampukah Senja bertahan pada pernikahannya? Ataukah ia akan tergoda oleh kekasih lamanya?

Temukan jawabannya, hanya dalam novel Kesucian Cinta Yang Ternoda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Ke Apartemen

"Masih mual?" tanya Fajar sambil menatap Senja yang baru saja berkumur.

Sudah cukup lama Senja muntah-muntah, dan kini ia terlihat sedikit pucat.

"Tidak Kak." jawab Senja sambil menggeleng.

"Kalau bagitu ayo keluar, nanti aku pesankan lagi makanan yang masih hangat!" ajak Fajar sambil menggenggam tangan Senja.

"Aku minum saja Kak, aku tidak ada selera untuk makan." jawab Senja sambil melangkahkan kakinya.

"Tapi kamu harus makan sayang, perut kamu nanti malah sakit kalau tidak makan." ucap Fajar.

Senja terdiam, ia tidak menjawab ucapan Fajar. Membayangkan rasa kuah soto yang khas rempah-rempahnya, dipadu dengan rasa babat yang amis menurutnya, ahh perutnya kembali terasa mual.

"Sayang!" panggil Fajar.

"Aku tidak cocok lauknya Kak." ucap Senja dengan pelan.

"Kamu mau pesan lauk yang lain? Atau kita pindah warung saja?"

"Tidak usah Kak, kita makan di sini saja. Tapi aku akan memilih sendiri lauknya." kata Senja.

"Baiklah, asal kamu harus makan. Setelah ini kita pulang saja. Tunggu keadaanmu membaik, dan nanti kita akan jalan-jalan lagi." ucap Fajar sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian, Fajar dan Senja kembali duduk di tempatnya. Mereka memesan makanan yang baru. Fajar tetap dengan soto babat, dan segelas teh hangat. Sedangkan Senja, ia lebih memilih lauk sambal, dan mentimun segar. Dan minumannya, ia lebih memilih air putih.

"Kamu yakin hanya makan dengan lauk itu sayang?" tanya Fajar sambil menatap istrinya.

"Iya, ini enak Kak." jawab Senja sambil tersenyum.

"Kamu aneh sayang." ucap Fajar sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia melanjutkan makannya.

Senja langsung tersedak saat mendengar kalimat yang Fajar ucapkan. Aneh, satu kata yang berhasil membuat jantungnya berdetak cepat.

"Sayang kamu kenapa? Ayo minum dulu!" kata Fajar saat melihat Senja terbatuk-batuk.

"Tidak apa-apa Kak, tadi...tadi ada mentimun yang ketelan." jawab Senja dengan sedikit gugup.

"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru!" kata Fajar.

"Iya Kak." jawab Senja sambil meneguk minumannya.

Hati Senja semakin resah, dan gelisah. Ia juga menyadari ada yang tidak biasa dengan dirinya. Dia yang biasanya sangat menyukai coklat hangat dipagi hari, kini sangat anti dengan minuman itu, bahkan dengan minuman manis lainnya. Dan setiap kali ia mengincip daging, atau ikan, perutnya langsung terasa mual.

"Mungkinkah apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, jika memang iya lalu bagaimana nasib pernikahanku nanti. Tamuku seharusnya sudah datang sejak seminggu yang lalu. Tapi aku melakukannya hanya sekali, seharusnya tidak terjadi apa-apa kan." batin Senja sambil menggigit bibirnya. Ia kembali kehilangan selera makannya.

"Sayang!" panggil Fajar.

"Sayang!" panggil Fajar dengan suara yang lebih tinggi.

"Eh...ehm iya Kak, kenapa?" jawab Senja dengan gugup.

"Kamu kenapa diam saja? Apa ada hal lain yang sedang kamu fikirkan?" tanya Fajar sambil menatap Senja lekat-lekat.

"Tidak Kak tidak. Aku...aku hanya merasa sangat bahagia hari ini." jawab Senja sambil mencoba tersenyum.

"Kamu yakin? Jika ada masalah yang mengganggumu katakan saja padaku!"

"Tidak Kak."

"Aku melakukannya hanya sekali, jadi aku tidak mungkin hamil." ucap Senja dalam hatinya. Ia mencoba menepis kemungkinan buruk yang seringkali melintas dalam otaknya.

***

Dua hari kemudian. Fajar, dan Senja memutuskan untuk pulang ke apartemen. Sebenarnya mereka berencana pulang besok, namun tadi malam Bu Rani menelfonnya, dan menyuruh mereka untuk makan malam bersama di rumahnya. Fajar tak menolak, ia tahu Ibunya akan kembali membahas tentang cucu. Dan saat itu juga Fajar akan menjelaskan kebenaran yang terjadi pada dirinya. Ia akan meluruskan semua masalahnya, agar Ibunya tak memojokkan Senja, juga tidak menyuruhnya menikah lagi.

"Sudah semua sayang?" tanya Fajar sambil menatap koper yang dibawa Senja.

"Sudah Kak, apa kita pulang sekarang?"

"Iya, nanti malam kita harus ke rumah Mama. Jadi akan lebih baik jika kita bisa secepatnya sampai di apartemen." jawab Fajar.

"Kak!" panggil Senja.

"Kenapa sayang?"

"Nanti malam..." Senja tidak meneruskan kalimatnya, ia sedikit ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Kamu jangan khawatir, nanti malam aku akan menjelaskan semuanya pada Mama. Kamu tenang saja, setelah ini sikap Mama padamu pasti akan lebih baik." ucap Fajar sambil memegang kedua bahu Senja. Ia seolah tahu apa yang sedang Senja fikirkan.

"Terima kasih ya Kak." kata Senja dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.

"Tidak perlu berterima kasih. Justru seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Karena keegoisanku, kau berada diposisi yang sulit. Maafkan aku ya." ucap Fajar sambil menangkup kedua pipi Senja.

"Jangan terus meminta maaf Kak, aku sudah memaafkanmu sejak lama." jawab Senja.

"Kamu sungguh wanita yang berhati mulia, aku sangat mencintaimu sayang." ucap Fajar sambil meraih pinggang Senja, dan memeluknya dengan erat.

"Aku juga sangat mencintaimu Kak." kata Senja dalam pelukan Fajar.

Lalu Fajar mengecup puncak kepala Senja dengan lembut.

"Ayo sayang!" ajak Fajar seraya melepaskan pelukannya.

"Ayo!"

Kemudian mereka melangkah bersama dengan bergandengan tangan. Mereka terus berjalan menuju garasi. Sesampainya di sana, Fajar dan Senja langsung naik ke dalam mobil. Mereka duduk bersebelahan di kursi depan. Fajar mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.

Mobil terus melaju menyusuri jalanan berkelok, dan menurun yang berada di kawasan puncak. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di pusat kota.

"Tidurlah jika kamu lelah! Perjalanan kita masih sangat panjang sayang." kata Fajar sambil menatap Senja yang tampak lesu.

"Iya Kak." jawab Senja dengan pelan.

Lalu Senja berusaha memejamkan matanya, entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah, dan letih.

Setelah delapan jam perjalanan, akhirnya Fajar dan Senja tiba di halaman apartemen. Fajar mengulas senyum di bibirnya, kala menatap sang istri yang masih tertidur pulas. Fajar melepaskan sabuk pengamannya, dan kemudian menepuk pipi Senja dengan pelan.

"Sayang! Bangun sayang! Kita sudah sampai!" kata Fajar dengan nada yang sedikit keras.

Senja menguap, lalu ia menggeliat pelan. Senja mengucek matanya dengan kedua tangannya.

"Sayang ayo bangun! Kita sudah sampai, lanjutkan tidurmu di kamar!" kata Fajar.

"Kita sudah sampai?" tanya Senja dengan suara seraknya. Ia menatap ke kanan, dan ke kiri. Ternyata benar, ia sudah tiba di halaman apartemen.

"Iya kita sudah sampai, pulas sekali tidurmu hmm." goda Fajar sambil mengacak rambut Senja.

"Entahlah rasanya aku sangat lelah, dan mengantuk sekali Kak." ucap Senja sambil melepaskan sabuk pengamannya.

"Ya sudah ayo turun!"

"Iya."

Kemudian mereka berdua turun dari mobil. Senja berjalan di depan, sedangkan Fajar, ia berjalan di belakang sambil membawa kopernya. Mereka terus berjalan menuju ke apartemen. Sesampainya di sana, Senja langsung membuka pintunya, dan kemudian melenggang masuk.

Senja menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia melempar tas selempangnya begitu saja, dan kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas sofa.

"Sayang kenapa kamu tidur di sini? Ayo masuk ke kamar!" kata Fajar sambil mendekati Senja.

"Capek Kak, aku ingin di sini saja." jawab Senja dengan malas, seraya membalikkan tubuhnya, dan membelakangi Fajar.

"Ya sudah terserah, asal kamu merasa nyaman." sahut Fajar sambil melangkah pergi. Ia sedikit tertawa saat melihat tingkah Senja yang lucu menurutnya.

Fajar melangkah masuk ke dalam kamar, dan meletakkan kopernya di sudut ruangan. Lalu ia berjalan menuju ke kamar mandi, dan membersihkan badannya di sana.

Sekitar setengah jam kemudian, Fajar keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat tampan dengan balutan celana kasual, dan kaos pendek warna biru. Rambutnya yang masih sedikit basah menambahkan kadar ketampanannya. Fajar melangkah menuju ruang tamu, ia hendak menghampiri Senja yang masih tertidur di sana.

Namun belum sempat Fajar mendekati Senja, tiba-tiba pintu apartemennya dibuka dari luar. Ternyata Ibunya yang datang, beliau datang bersama Farah, dan juga pelayan yang bekerja di rumahnya.

"Mama!" sapa Fajar, ia sedikit heran melihat kedatangan Ibunya.

"Bik langsung saja ke dapur!" perintah Bu Rani pada pelayannya.

"Iya Nyonya." jawab pelayan itu sambil melangkah pergi seraya membawa keranjang belanjaannya.

"Ma ini maksudnya apa? Katanya kita makan malam bersama di sana. Tapi kenapa Mama malah kesini, dan membawa banyak belanjaan?" tanya Fajar sambil mengernyit heran.

"Kamu kan baru saja berlibur, Mama tahu kamu capek. Jadi kita makan malamnya di sini saja. Nanti Dion, dan Papamu akan menyusul. Sekalian ada yang ingin Mama bahas sampai tuntas. Kalau di sini kan istri kamu tidak bisa main kabur-kabur seperti dulu." jawab Bu Rani sambil melipat tangannya di dada.

"Ma sudahlah jangan begitu, Senja itu sudah cukup sabar lho menghadapi Mama. Baiklah kalau Mama ingin bicara, tapi sebelum itu aku juga ingin membicarakan hal penting dengan Mama." ucap Fajar sambil menghela nafas panjang.

"Hal penting apa?" tanya Bu Rani.

"Nanti saja Ma, jika Papa sudah ada di sini." jawab Fajar.

"Kak Senja dimana Kak?" tanya Farah dengan tiba-tiba.

"Aduh Senja masih tidur di sana lagi, kalau Mama tahu bagaimana." batin Fajar sambil melirik sofa tempat Senja tertidur. Senja tidur tanpa melepas jaket, ataupun sepatunya. Jika Bu Rani tahu, beliau pasti akan mengritik sikap Senja yang tidak elegan.

Bersambung.....

1
Nelsi Bengkulu16
senja nih ngak mikir anak apa, aneh terlalu lebay, toh fajar juga bukan orang yg benar.
Nelsi Bengkulu16
HIV
Nelsi Bengkulu16
kok geregetan sama sikap senja ya
Dewa Rana
ada apa sih fajar
Dermawan
Luar biasa
yuiwnye
puassss kan Bu Rani
yuiwnye
bersama saling cinta tp sama² memendam luka
IG👉Salsabilagresya: Betul, Kak
total 1 replies
yuiwnye
senja hamil, horeeee ibu mertua happy nih 😅😅
IG👉Salsabilagresya: Setelah tahu faktanya nggak jadi happy😃☺
total 1 replies
yuiwnye
apakah benar fajar ke Singapura 🧐🧐🤔🤔
yuiwnye
fajar terjangkit HIV dr Adara ya 🤔🤔🤔
nebak² nih, penasaran 😅😅
Rika Kamiko: semua novel anda memiliki judul yg sesuai dg kaidah yg memenuhi syarat dlm sebuah tulisan,, mempunyaibaha sastra yg menarik yg membuat org punya keinginan untuk membaca,, tetappertahankan,,
total 2 replies
Konny Rianty
kerennn cerita nya thorrrr" tk bertele -- tele...
Can Sikumbang
bnyak x bawangy😭😭😭
IG👉Salsabilagresya: Iya kak😊😊
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
terima kasih kakak Author 🙏
ceritanya bagus, keren dan banyak pelajaran yang bisa diambil, selalu sehat dan selalu semangat dalam berkarya ❤️💪💪💪
Iyas Masriyah
Luar biasa
junaidah yusoh
tak sabar
Herawati Suharman
bagus cerita nya menarik sekali
IG👉Salsabilagresya: makasih banyak kak
total 1 replies
Ninik Ningsih
fajar kena penyakit yg menukar kayaknya
IG👉Salsabilagresya: sepertinya begitu kak
total 1 replies
Mbah goegle
kalau udh kaburr..punya suami kyk gtu...
Jade Meamoure
lah ya udah pisah aja baik baik
Jade Meamoure
cari aja yg bukan Ken dan Fajar tuh 2 laki udah nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!