Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.
Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.
Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.
Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.
Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?
Terus ikuti jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dhona mendapatkan panggilan telepon dari Zayyan. Zayyan menyuruh Dhona untuk datang ke kantornya. Dhona menuju alamat yang sudah diberikan Zayyan. Dhona parkir di depan sebuah kantor dengan bangunan besar.
Dhona keluar dari mobilnya. Dhona dengan sopan menghampiri petugas keamanan memberitahu nama dia Dhona dan ada temu janji dengan Pak Zayyan.
Petugas keamanan dengan ramah dan sopan mengantar Dhona sampai ke ruangan Zayyan. Zayyan langsung memeluk Dhona dan mengecup kening Dhona. Zayyan mengatakan gedung itu adalah kantornya.
"Sayang, kamu mau ninggalin aku lagi, hem," ucap Zayyan.
"Maaf, aku pulang mau ganti pakaian dan kerja. Tapi .... ya sudah lah. Ada apa Kak Zayyan panggil aku?" Dhona duduk di kursi tamu samping Zayyan.
Zayyan mengambil map coklat dan membukanya. Zayyan bertanya kepada Dhona apakah kenal dengan gadis yang ada di foto itu. Dhona yang penasaran mengambil foto yang diberikan Zayyan.
"De ... Devi!" Dhona kemudian memandangi Zayyan.
"Sayang, coba jelaskan. Bagaimana bisa wajahmu berubah menjadi Devi? Apakah supaya tidak ada yang mengenalimu. Apa kamu ingin menghindari kamu, keluargamu?"
Dhona sama seperti sebelumnya tidak bisa menjelaskan kepada Zayyan bagaimana wajahnya bisa berubah menjadi Devi. Tapi Dhona jujur kepada Zayyan. Sebelumnya Dhona sakit hati. Dhona ingin menjauh sejauh mungkin dari Zayyan.
Zayyan kemudian bertanya kepada Dhona, apakah Dhona tahu siapa Devi. Di mana keluarganya, alamatnya. Dhona menggelengkan kepala. Dhona tidak pernah menanyakan itu kepada Devi.
Dhona mengenal Devi sebagai makhluk astral. Dhona juga tidak pernah menanyakan kepada Devi siapa dia sebenarnya. Devi tertutup masalah pribadinya. Devi yang Dhona kenal adalah seseorang yang menolongnya di dalam setiap kesulitan.
"Kak Zayyan, ada apa dengan Devi?" Dhona menatap Zayyan.
Zayyan menarik napas, menggeser sedikit duduknya sambil merangkul pundak Dhona. Zayyan mengecup pipi Dhona. Zayyan meminta Dhona tenang karena informasi yang akan diberikan Zayyan sedikit mengejutkan Dhona.
Dhona kembali menatap Zayyan. Dhona tidak sabar ingin tahu informasi apa yang Zayyan dapat tentang Devi. Dhona sedikit memaksa Zayyan.
Menurut informasi yang Zayyan dapatkan. Keluarga Devi di kota Topaz mencari keberadaannya. Keluarga Devi melaporkan Devi ke kantor polisi karena Devi sudah lama menghilang.
Devi terakhir kali mengunjungi rumah kakek dan neneknya di hari mamanya Devi menghembuskan napas terakhirnya. Pada saat mamanya Devi meninggal, Devi sudah tidak ada di rumah.
Bi Imas yang merawat Devi sejak kecil, melihat Devi pada hari itu meninggalkan rumah kakeknya. Kata Bi Imas kepada polisi, Devi marah karena sebelumnya diusir oleh mamanya.
"Dan tahukah kamu apa yang terjadi pada Devi?"
Dhona dengan cepat menggelengkan kepalanya. Zayyan melepaskan rangkulannya. Zayyan mengeluarkan foto yang masih ada di dalam map coklat. Zayyan memberikannya kepada Dhona.
Dhona melihat foto beberapa petugas polisi memeriksa tengkorak di atas kain yang dibentangkan. Dhona kemudian minta penjelasan dari foto itu.
Dan betapa terkejutnya Dhona saat Zayyan memberitahunya, tengkorak yang ditemukan petugas polisi itu adalah Devi. Setelah dicek lebih dalam, nama korban yang ditemukan adalah Devi Ciara. Diperkirakan dia adalah korban tabrak lari.
"Menurut informasi, dia adalah Devi Ciara," Zayyan menunjuk foto Devi.
"De ... Devi telah meninggal? Jadi selama ini aku berteman dengan siapa?" tubuh Dhona bergetar hebat.
"Sayang, selama ini, kamu memakai wajah Devi. Aku saja tidak bisa menemukanmu. Aku sungguh tidak mengerti," Zayyan memegangi pelipisnya.
Dhona juga tidak mengerti apa yang telah terjadi. Jika benar Devi yang selama ini menemaninya adalah Devi yang ada di dalam foto, bearti Devi adalah setan. Dhona bergidik ngeri. Tanpa sengaja Dhona memeluk Zayyan.
Zayyan memanfaatkan keadaan. Zayyan memeluk erat Dhona. Zayyan mengecup kening Dhona. Zayyan mendengar ponsel Dhona berdering. Zayyan mengambil ponsel Dhona.
Dhona melihat ke layar ponselnya. Ternyata panggilan dari Elvano. Elvano juga mengirimkan pesan kepada Dhona. Di dalam pesan itu, Elvano meminta tolong kepada Devi untuk menyampaikan pesan kepada Dhona, Ardian masuk rumah sakit.
"Ada apa sayang?" Zayyan melirik ke ponsel Dhona.
"Elvano ngirim pesan ke Devi, minta tolong sampaikan ke Dhona, Ayah masuk rumah sakit."
"Kok dia tahu kamu adalah Devi?"
"Aku tadi ketemu dia di depan kantor. Mungkin dia curiga aku pakai mobil Devi," sahut Dhona.
Zayyan mengajak Dhona ke rumah sakit bersamanya. Dhona dengan berat hati menuruti Zayyan pergi ke rumah sakit. Dhona masih malas berurusan dengan Ardian dan keluarga kecilnya.
Di dalam mobil, Dhona hanya diam. Dhona masih memikirkan Devi. Biar bagaimanapun Devi adalah orang yang selama ini membantunya. Dhona harus memberitahu kabar ini kepada Devi.
"Devi, Devi, Devi," Dhona lirih memanggil Devi dalam hati.
Seperti sebelumnya, Dhona tidak merasakan kehadiran Devi. Dhona harus menyiapkan mentalnya sebelum bertemu dengan Devi. Dhona melihat keluar jendela mobil, mereka telah tiba di depan rumah sakit.
Dhona kembali memeriksa pesan yang dikirim Elvano. Mereka bertanya kepada perawat di mana ruangan Seruni nomor 1. Perawat mengantar mereka sampai ke depan pintu ruangan Seruni nomor 1.
Dhona dan Zayyan berdiri di depan pintu. Mereka melihat ke dalam ruangan. Dari dalam ruangan Rana, Alia dan Elvano menemani Ardian yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.
Ardian melihat kehadiran mereka. Ardian memberikan aba-aba kepada Zayyan dan Dhona masuk ke dalam. Rana, Alia dan Elvano menatap ke arah mereka.
"Permisi," Zayyan memberikan buah-buahan yang baru saja dia beli di seberang rumah sakit kepada Rana.
"Iya, terima kasih," Rana mengambil buah pemberian Zayyan.
Elvano, Alia, Rana dan Ardian memperhatikan Zayyan. Dhona hanya diam dan tidak memperkenalkan Zayyan.
"Maaf, bukannya kita pernah bertemu sebelumnya? Kamu yang dulu mengantar Dhona ke rumah Kakek Pasha kan?" tanya Rana.
"Iya, Tante. Perkenalkan saya Zayyan. Saya suaminya Dhona."
"Apa? Suami?" Ardian, Rana, Alia dan Elvano berbarengan.
"Iya, saya suami Dhona. Kami dikabarin Devi, Om Ardian sakit," kata Zayyan.
"Mana Devi?" Elvano mencari Devi sampai ke luar pintu.
Zayyan dan Dhona tidak menjawab. Dhona melihat Devi berada di belakang Alia. Dhona meminta Devi menemuinya di luar ada hal penting yang harus Devi ketahui.
Dhona permisi ke toilet. Dhona keluar dari ruangan Seruni 1. Dhona masuk ke dalam toilet. Dhona merasakan kehadiran Devi. Dhona bicara dengan Devi di dalam hati. Dhona memberitahu semua informasi yang dia dapatkan dari Zayyan.
Devi kaget saat mendengar cerita Dhona. Devi baru menyadari dia bukan lagi manusia. Devi mengira, Devi bisa menghilang dan bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata karena Devi sebelumnya meminum darah dari nenek tua.
Dhona juga memberitahu Devi, mamanya meninggal dunia di hari terakhir Devi berkunjung ke rumah kakeknya.
Setelah mengetahui Devi bukan manusia, Dhona sama sekali tidak takut. Dhona malah merasa iba. Dhona bahkan bersedia meminjamkan tubuhnya untuk Devi balas dendam.
"Dhona, yang menabrakmu saat rumah sakit jiwa kebakaran adalah Alia."
"Apa! Alia!" Dhona mengepalkan tangannya.
"Alia dan teman-temannya juga pernah menabrak orang. Korbannya dibuang di tepi jalan raya yang curam!"
"Devi, jangan-jangan yang menabrak dan membuang jasadmu, pelakunya adalah Alia," tebak Dhona.
"Aku harus cari tahu!"
Devi dengan cepat menghilang. Dhona kembali ke ruangan Seruni 1. Devi mengambil alih tubuh Alia. Alia merasa tidak nyaman. Alia histeris berteriak.
"Tolooooooong!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...