NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Notifikasi yang membuat cemas

Pagi itu, Kirana sedang sibuk menata piring-piring plastik bekas untuk direndam. Dapur beraroma sisa kaldu ayam dan daun salam—wangi yang biasanya bikin hatinya tenang. Tapi hari ini, sesuatu beda.

(“Ding!”)

Suara notifikasi HP-nya terdengar dari atas kasur lipat. Biasanya cuma kiriman promo GoFood atau pesan dari Bu Anita. Tapi kali ini… namanya muncul di layar.

(Aris.)

Kirana membeku. Tangannya gemetar sedikit saat menggapai HP. Gio, yang sedang asyik nyusun stik es krim jadi “menara es krim”, menoleh.

“Ma, kenapa ? Ada hantu?”

Kirana buru-buru memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, Sayang. .”

Tapi bukan spam.

SMS pertama:

#Kamu pikir aku nggak tahu kamu masak buat kantor tempat aku kerja ? Jangan sombong, Kir. Kamu cuma ibu rumah tangga gagal.

Jantungnya berdebar kencang. Matanya langsung berkaca-kaca, tapi dia cepat-cepat mengedipkan air mata itu pergi.

Belum sempat menarik napas, SMS kedua datang:

# Gio anakku. Aku bisa ambil dia kapan saja kalau aku mau. Pikir-pikir lagi sebelum sok hebat.

HP itu hampir jatuh dari tangannya.

Siska yang sedang belanja di warung depan belum pulang. Kirana sendirian. Dan rasa takut—yang selama ini dikuburnya dalam-dalam—tiba-tiba bangkit, menggerogoti dadanya.

“Aku nggak boleh panik,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku harus kuat buat Gio.”

Tapi suaranya bergetar. Dia duduk di lantai, memeluk lutut, mencoba menenangkan napas.

Gio mendekat, duduk di sebelahnya. “Mama kenapa? Siapa yang ganggu?”

Kirana menggeleng. “Nggak ada, Sayang. Mama cuma… capek.”

Tapi Gio, meski masih kecil, punya radar empati yang tajam. Dia peluk lengan Mama-nya erat-erat. “Kalau ada yang jahat ke Mama, aku akan lawan Aku punya pedang es krim!”

Kirana tertawa lewat isak, lalu cium puncak kepala Gio. “Iya, Sayang. Mama punya prajurit terbaik.”

Tepat saat itu, pintu ruko terbuka dengan dentuman riang.

“Kir! Aku bawa bumbu rahasia baru—ada kunyit segar sama daun ketumbar hidup! Katanya bisa bikin orang…” Siska berhenti bicara saat melihat wajah Kirana.

Matanya menyipit. “Siapa yang ganggu kamu?”

Kirana awalnya diam. Tapi Siska nggak main-main. Dia meletakkan belanjaan, lalu duduk tepat di depan Kirana, pegang kedua tangannya.

“Cerita. Sekarang juga. Atau aku bakal asumsikan yang terburuk,dan terus terang, imajinasiku lebih gila dari sinetron jam tujuh malam.”

Dengan suara serak, Kirana tunjukkan HP-nya.

Siska baca satu per satu SMS itu. Wajahnya berubah dari khawatir… jadi murka. Matanya menyala kayak kompor gas pas pertama kali dinyalain.

“Dia berani bilang *ibu rumah tangga gagal*? Padahal kamu tiap hari bangun jam empat, masak buat dua puluh orang, urus anak, bayar listrik, dan tetap senyum?! Kalau itu gagal, aku pengen lihat versi ‘sukses’-nya—mungkin tidur di kasur emas sambil suruh robot masak!”

Kirana tersenyum tipis. “Yang bikin aku takut… dia bilang mau ambil Gio.”

Siska langsung berdiri, bolak-balik kayak singa kelaparan. “Oh, tidak. Tidak, tidak, tidak. Dengar baik-baik, Kir: Aris itu mantan. Bukan ayah aktif. Bukan penanggung jawab. Bahkan nggak layak disebut manusia kalau berani ancam ambil anak yang dulu dia tinggalin kayak sampah!”

Dia berhenti, lalu jongkok lagi, tatap mata Kirana. “Dan soal hukum? Kamu punya akta perceraian, kan? Di situ jelas siapa wali utama?”

Kirana menggeleng . “dia membohongiku ,aku cuma dinikahi sirih "Siska terkejut ,tapi dia kembali bersikap seperti semula

"yang penting kamu dan dia sudah cerai ." sahut Siska

" Tapi… aku takut dia pakai uang buat cari pengacara mahal.”

“Biarkan!” Siska menepuk paha Kirana. “Kita lawan! Aku rela jual semua koleksi kaos kucingku buat bayar pengacara! Mbak Rina juga punya teman di LBH perempuan—gratis konsultasi! Dan Bu Anita? Suaminya punya kenalan di kejaksaan!”

Kirana terkejut. “Kamu udah mikirin semua itu?”

“Ya iyalah! Aku kan tim Dapur Keadilan! Nggak cuma masak, tapi juga jaga keadilan—plus kasih bumbu drama secukupnya.”

Gio nyeletuk, “Aku akan jaga mama dan bilang : JANGAN GANGGU MAMA!”

Siska langsung angkat Gio ke pundaknya. “Lihat? Prajurit kita udah siap tempur! Tinggal bikin kostum superhero dari celemek bekas.”

Tapi kemudian, Siska jadi serius lagi. “Kir, dengar. Ancaman itu cuma omong kosong. Orang kayak Aris nggak punya nyali. Dia cuma mau bikin kamu takut biar kamu diam, nggak berkembang. Tapi kamu? Kamu udah jauh meninggalkan dia. Kamu bukan lagi Kirana yang dulu ditindas. Kamu Kirana si Ratu Ayam Mentega—yang masakannya bikin orang lupa mantan!”

Kirana tertawa, tapi kali ini lebih lega. Beban di dadanya mulai ringan.

“Terus… aku harus balas SMS-nya?”

“Jangan! Malah bikin dia senang karena kamu respon.” Siska ambil HP Kirana, lalu buka aplikasi catatan. “Aku bantu tulis draft balasan—tapi jangan dikirim. Ini buat terapi amarah.”

Dia ketik cepat:

# Hai mas Aris. Terima kasih sudah ingetin aku betapa beruntungnya aku udah bebas dari kamu. Sekarang aku punya teman, usaha, dan anak yang lebih sayang mamanya daripada jam tangan emasmu. Oh ya, ayam goreng mentegaku kemarin enak, ‘kan? Itu cuma permulaan. Next menu: (Ayam Mantan Nyesel). Datang aja—gratis buat mantan yang masih punya muka!#

Kirana tertawa terbahak-bahak. “Gila! Tapi… jangan dikirim, ya?”

“Tenang. Ini cuma obat jiwa. Biar kamu ngerasa powerful lagi.”

Siska lalu buka grup WA “Dapur Kirana & Co.”—yang isinya Bu Anita, Mbak Rina, dan sekarang juga Siska. Dia kirim pesan:

#ALERT: Mantan jahat mulai ganggu. Butuh support moral + rencana perlindungan. Siapa volunteer jadi satpam ruko?

Dalam lima detik, notifikasi berdering.

Bu Anita: "Aku suruh satpam kantor jaga ruko jam malam. Gratis."

Mbak Rina: *Aku print poster: DILARANG MASUK UNTUK MANTAN TOXIC.*

Siska: "Aku tidur di sini mulai malam ini. Bawa sleeping bag dan stok mie instan."

Kirana terharu. “Kalian… nggak perlu segitunya.”

“Perlu!” potong Siska. “Karena kamu bukan cuma teman. Kamu keluarga. Dan keluarga nggak biarin satu sama lain jatuh sendirian.”

Malam itu, setelah Gio tertidur, Siska benar-benar gelar sleeping bag di sudut dapur. Mereka duduk berdua, minum teh jahe hangat.

“Besok, kita tetap masak seperti biasa,” kata Siska. “Kita nggak boleh biarkan dia ganggu ritme kita. Malah, kita bikin menu spesial: (Soto Semangat)—pakai bumbu ‘jangan takut’ dan ‘kamu kuat’.”

Kirana mengangguk. “Iya. Aku nggak mau Gio lihat aku takut. Aku mau dia tahu: Mama-nya bisa hadapi apapun.”

“Betul! Dan kalau Aris nekat datang ke sini?” Siska pura-pura ambil spatula besar. “Aku tantang duel: siapa yang bisa goreng ayam lebih empuk. Kalau dia kalah—dan pasti kalah—dia harus nyanyi dangdut di depan ruko sambil pake celemek Gio!”

Kirana tertawa, matanya bersinar. “Aku rekam, terus upload TikTok. Judulnya: (Mantan vs Ayam Goreng – Siapa yang Menang?”

“Viral dalam sehari!”

Di tengah tawa itu, Kirana sadar:

teror SMS itu memang bikin jantung copot.

Tapi cinta, persahabatan, dan celemek bebek marah milik Siska…

bisa pasang jantungnya kembali—lebih kuat dari sebelumnya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama,

Kirana tidur tanpa mimpi buruk.

Karena di sampingnya, ada teman yang rela jaga sampai subuh—

bukan dengan senjata,

tapi dengan lelucon, teh jahe,

dan keyakinan teguh bahwa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!