Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pitu (7)
Malam di tanah terkutuk itu seolah membeku. Han Jia duduk di ambang pintu gubuknya yang miring, menatap hamparan tanah hitam yang kini tak lagi tampak mati di matanya. Di bawah sinar rembulan, setiap jengkal tanah itu tampak seperti tabel periodik raksasa yang menunggu untuk dieksplorasi. Ia memutar-mutar sebuah botol kecil di jemarinya sebuah botol berisi larutan yang baru saja ia distilasi secara kasar dari akar Sawi Roh yang gagal tumbuh sempurna.
Dalam pikirannya, ia tidak sedang berada di sebuah desa kuno yang miskin. Ia sedang berada di sebuah garis depan penelitian baru.
"Profesor, aktivitas sinaptik subjek meningkat tajam. Arus listrik di korteks serebralnya mulai stabil. Dalam terminologi lokal: dia akan bangun sekarang," suara Hera memecah lamunan Han Jia.
Han Jia tidak menoleh. Ia tetap menatap rembulan. "Hera, menurutmu apakah fisiologi manusia di dunia ini memiliki struktur DNA yang sama? Jika kepadatan tulangnya tiga kali lipat manusia biasa, pasti ada ikatan protein yang diperkuat oleh energi Qi tersebut."
"Analisis sementara menunjukkan adanya integrasi partikel energi pada tingkat sub-atomik, Profesor. Dia bukan sekadar manusia, dia adalah reaktor biologis berjalan."
Di dalam gubuk, sebuah erangan rendah terdengar. Feng Shura, sang jenderal yang terluka, merasakan dunianya berputar. Hal terakhir yang ia ingat adalah rasa sakit yang membakar di perutnya, sebuah racun yang seharusnya mengirimnya ke gerbang kematian dalam hitungan menit. Namun, saat ia membuka mata, yang ia temukan bukanlah kegelapan, melainkan langit-langit jerami yang berbau debu dan obat-obatan.
Secara insting, tangannya bergerak ke pinggang, mencari gagang pedangnya. Kosong. Panik mulai merayap, namun tubuhnya terasa seberat timbal.
"Jangan dipaksakan, Tuan Prajurit. Otot-ototmu sedang berada dalam fase re-uptake saraf setelah aku memberikan penawar alkaloid dosis tinggi. Jika kau mencoba berdiri sekarang, kau hanya akan merusak jaringan ikat yang baru saja kupulihkan," suara dingin dan tenang itu datang dari arah pintu.
Feng Shura menoleh. Di sana, duduk seorang gadis dengan pakaian lusuh namun memiliki aura yang lebih mengintimidasi daripada kaisar yang pernah ia temui. Cahaya bulan menyinari separuh wajah gadis itu, menciptakan bayangan tajam yang menonjolkan mata besar yang jernih namun sedingin es.
"Kau... siapa kau?" suara Shura parau, seperti gesekan amplas pada kayu.
"Namaku Han Jia. Tapi itu tidak relevan bagimu," Han Jia berdiri dan berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak bersuara. "Yang relevan adalah fakta bahwa aku menghabiskan tiga helai daun Sawi Roh kelas S+ untuk membersihkan darahmu dari racun neurotoksin organik. Di pasar gelap manapun, nyawamu saat ini bernilai lebih mahal daripada seluruh desa ini."
Feng Shura tertegun. Ia melihat luka di perutnya. Tidak ada lagi nanah hitam. Hanya ada sisa-sisa pasta hijau yang berbau segar. Ia menatap gadis di depannya dengan penuh selidik. Bagaimana mungkin seorang gadis desa terpencil memiliki pengetahuan medis yang begitu presisi? Dan istilah-istilah yang ia gunakan... 'neurotoksin'? 'agen kelasi'? Semuanya asing namun terdengar sangat otoritatif.
"Aku adalah Feng Shura," ucap pria itu, mencoba mengembalikan martabatnya meskipun ia terbaring di lantai tanah. "Aku berhutang budi padamu. Tapi katakan padaku, tanaman apa yang kau gunakan? Bau ini... aku tidak pernah menciumnya di apotek manapun di ibu kota."
"Itu karena aku tidak menanam tumbuhan," Han Jia berjongkok di sampingnya, menatap luka Shura dengan pandangan klinis yang membuat pria itu merasa seperti objek eksperimen. "Aku menanam harapan hidup yang telah dimodifikasi secara molekuler. Sekarang, diamlah. Aku perlu memeriksa apakah ada nekrosis pada jaringan dalammu." Tangan Han Jia yang dingin menyentuh kulit Shura.
Pria itu tersentak, sebagai seorang pejuang, ia tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh area vitalnya, apalagi dalam kondisi tak berdaya. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Han Jia yang membuatnya terdiam. Bukan tatapan penuh nafsu atau kasihan, tapi tatapan yang murni... observasi.
"Profesor, detak jantung subjek meningkat secara anomali saat Anda menyentuhnya. Apakah ini reaksi alergi?" tanya Hera dengan nada polos yang dibuat-buat.
"Bukan. Ini reaksi psikologis terhadap kehilangan kendali," jawab Han Jia dalam hati.
Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari kejauhan. Bukan suara burung malam, melainkan suara kemarahan manusia. Cahaya jingga dari obor mulai memantul di dinding gubuk.
"Han Jia! Keluar kau, penyihir sialan!" teriakan Paman Han terdengar paling nyaring. "Bawa iblis yang kau sembunyikan itu keluar, atau kami akan membakar tempat ini beserta seluruh kutukannya!"
Feng Shura mencoba menggapai belati tersembunyi di sepatunya, namun Han Jia menekan bahunya dengan satu tangan. Kekuatan tangan gadis itu luar biasa, seolah ia memiliki tenaga yang jauh melampaui ukuran tubuhnya.
"Tetap di sini, Spesimen Shura. Kau belum selesai diobservasi," ucap Han Jia.
"Mereka akan membakarmu!" Shura mendesis. "Berikan pedangku, aku akan menghabisi mereka meski dalam kondisi ini."
Han Jia tertawa kecil sebuah tawa yang kering dan tanpa emosi. "Menghabisi mereka dengan pedang? Itu sangat tidak efisien. Kau akan membuang energi kinetik dan menciptakan polusi darah yang tidak perlu. Dalam sains, solusi terbaik adalah yang paling bersih."
Han Jia melangkah keluar gubuk. Di depannya, hampir seluruh warga desa berdiri membawa obor dan cangkul. Bibi Liu berdiri di barisan depan dengan wajah penuh kemenangan yang menjijikkan.
"Lihat! Dia benar-benar sudah berubah! Kulitnya... dia pasti memakan jantung manusia untuk mendapatkan kecantikan iblis itu!" teriak Bibi Liu.
Han Jia menatap kerumunan itu. Baginya, mereka hanyalah kumpulan atom yang tidak terorganisir dengan baik. Ia mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi bubuk berwarna abu-abu kusam hasil ekstraksi mineral 'Awan Hitam' yang ia campur dengan serbuk sari bunga tidur yang ia temukan di hutan.
"Aku akan memberi kalian satu peringatan secara termodinamika," suara Han Jia bergema tenang namun menusuk. "Udara di sekitar ladang ini sedang berada dalam kondisi jenuh. Satu percikan api lagi, dan aku tidak menjamin paru-paru kalian akan tetap berfungsi."
"Jangan dengarkan dia! Dia hanya menggertak!" Paman Han melemparkan obornya ke arah tumpukan jerami di samping gubuk.
Saat obor itu melayang di udara, Han Jia melemparkan bubuk di tangannya ke arah api.
Wush!
Bukannya terbakar, obor itu mendadak padam dalam kilatan cahaya ungu yang aneh. Dan sedetik kemudian, sebuah awan gas tipis menyebar dengan kecepatan yang tidak logis ke arah warga desa.
"Hera, aktifkan katalisator udara!" perintah Han Jia.
Seketika, orang-orang yang menghirup gas itu mulai merasa kaki mereka seberat timbal. Satu per satu, mereka jatuh terduduk, lalu berbaring di tanah. Mereka tidak pingsan, mereka hanya kehilangan kendali motorik total. Mata mereka terbelalak ketakutan, namun mereka tidak bisa mengeluarkan suara sepatah pun.
Han Jia berjalan di antara kerumunan orang yang lumpuh itu dengan langkah santai. Ia berhenti di depan Paman Han yang sedang megap-megap di tanah.
"Kau tahu, Paman," Han Jia berjongkok, menatap mata pamannya dengan dingin. "Di dunia asalku, orang-orang sepertimu biasanya berakhir di dalam tabung pengolahan limbah. Tapi di sini, aku akan membiarkanmu hidup... sebagai saksi bagaimana tanah 'terkutuk' ini akan menjadi tempat yang paling kalian dambakan, namun tak akan pernah bisa kalian masuki."
Ia mengambil obor yang padam itu dan mematahkannya menjadi dua dengan tangan kosong.
Feng Shura, yang merangkak ke ambang pintu untuk melihat apa yang terjadi, terpaku. Ia melihat seorang gadis muda berdiri sendirian di tengah puluhan pria dewasa yang tak berdaya. Tidak ada sihir api yang megah, tidak ada pedang yang beradu. Hanya sebuah gas ungu dan ketenangan yang mematikan.
"Dia bukan manusia..." bisik Shura pada dirinya sendiri.
"Bagus sekali, Profesor. Efisiensi penggunaan sumber daya: 98%. Poin energi yang terkumpul dari rasa takut subjek: 800 poin. Kita bisa segera membuka modul 'Laboratorium Alkimia Tingkat 1' sekarang," lapor Hera dengan nada puas.
Han Jia berbalik, menatap Shura yang masih takjub. "Nah, Shura. Sekarang kau sudah melihat kemampuanku. Apakah kau masih ingin menjadi jenderal yang sombong, atau kau ingin menjadi asisten penelitianku yang pertama?"
Malam itu, peta kekuatan di wilayah tersebut bergeser. Bukan karena pasukan tentara, tapi karena seorang wanita yang membawa sains ke dunia yang penuh takhayul.