Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhenti dan Melupakan
Update
Selamat membaca
Maaf menunggu lama
Jangan lupa Vote, komen dan Jempolnya (👍)
Jangan pelit 😁😁
***
"Apa informasi yang kamu dapatkan?"
Bima duduk berhadapan dengan seorang pria berpakaian hitam lengkap dengan kacamata hitam masih melekat di wajah pria asing itu.
"Informasi yang anda inginkan, Tuan. Tentang wanita yang bernama Clara." Jelas pria itu kemudian melepas kacamata hitam dan meletakkannya di atas meja.
Wajah pria asing itu terlihat jelas dengan paras tajam dengan bekas luka goresan di pipi kanannya masih membekas hingga membuat pria asing itu terlihat mengerikan. Tidak membuat Bima takut.
Pria asing itu menyodorkan map merah. "Semua yang anda inginkan ada di dalam. Hanya saja, ada hal yang aneh dalam pencarian ini. Ada beberapa data yang hilang." Tambah pria asing itu menjelaskan.
"Beberapa data hilang?" Bima mengulang kata terakhir pria asing itu.
Apa maksudnya?
Pria asing itu mengangguk. Bima memperhatikan map merah itu tanpa membuka map itu. Dia akan membuka nya nanti saat pulang. Tapi dia tidak akan pulang ke rumah orangtuanya. Dia akan pulang ke apartemen miliknya. Bima menyelidiki wanita itu beberapa tahun lalu semasa dia berada di Jerman tanpa sepengetahuan Reza. Tapi tanpa Bima ketahui ternyata Daddy nya sudah mengetahui apa yang di lakukan Bima. Daddy nya memang sangat cerdas. Segala yang di lakukannya selalu di ketahui. Membuat Bima kesal akan hal itu. Sebenarnya Reza sudah memberitahu agar Bima tidak mencari tahu tentang wanita itu apalagi meminta detektif swasta yang di sewanya.
Hal itu malah membuat Bima penasaran karena Reza seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Hingga akhirnya Bima diam-diam menyewa seseorang detektif baru, berharap Reza tidak mencium tujuannya dan dia tidak mengetahuinya dan mengganggu pencarian wanita itu.
"Bisa kamu jelaskan padaku, Franz?" Kata Bima memandang pria yang bernama Franz dengan bertanya-tanya karena dia kebingungan dan penasaran akan ucapan Franz tadi.
"Sebelumnya, anda bilang pernah meminta mencarikan data wanita itu pada detektif lain kan?" Bima membenarkan. "Tapi hasilnya nihil? Itu yang saya maksud. Sepertinya seseorang menyembunyikan data terakhir wanita itu. Hingga saya tidak mendapatkan informasi jelas dan banyak perihal wanita itu."
Bima diam.
Lalu siapa orang yang menyembunyikannya? Bima tidak tahu kalau pencarian wanita itu begitu tertutup rapat. Membuat orang-orang suruhannya tidak pernah bisa menemukannya sampai saat ini.
"Saya harap anda tidak kecewa. Menurut saya anda bisa membaca data yang sudah saya dapatkan." Tukas Franz.
"Kenapa serumit ini." Bima terlihat pasrah, mengusap gusar wajahnya. Seakan dunia tidak ingin Bima bertemu dengan Clara ataupun bersatu dengannya.
Apa ini namanya kalau bukan kutukan? Tapi kutukan apa? Bima saja bingung dengan semuanya.
"Satu hal yang anda harus tahu, Tuan. Ini sebenarnya saya dapatkan informasi tentang wanita itu tidak sengaja saya mendengarnya. Tapi saat saya berada di dalam warung di dekat rumahnya dulu, tidak sengaja mereka membicarakan keluarga dari Pak Arga. Mereka bilang lima tahun lalu kalau wanita itu hamil sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Malang."
"Hamil?"
Bima terlihat syok. Wanita yang di carinya selama ini sudah mempunyai anak. Mata Bima terpejam sesaat, tangannya memijat pelan keningnya.
"Artinya, wanita itu memiliki anak berumur lima tahun sekarang, Tuan."
Waktu seakan berhenti saat mendengar kenyataan kalau Clara wanita yang di carinya selama ini mempunyai anak dengan pria lain. Pencariannya selama ini sia-sia saja. Wanita itu pasti sudah bahagia sedangkan dirinya di sini terpuruk atas perlakuannya.
Shit.
Tunggu artinya, Clara sudah menikah di usia muda. Bima tidak ingin percaya tapi hatinya sudah sangat sakit.
Bima sangat membencinya berkali-kali lipat. Mulai detik ini dia tidak ingin mengetahui keberadaan Clara.
Sudah berakhir!
Wajah Bima berubah dingin dan rahangnya mulai mengeras. Ia menatap map merahnya.
"Stop pencarian untuk wanita itu." Ujar Bima tegas.
"Kenapa, Tuan?"
"Tidak perlu kamu tahu alasannya. Aku akan mentransfer uang sebagai bonusmu, Franz."
"Terima kasih, Tuan."
Franz kemudian mendapatkan kode untuk meninggalkan tempat dan Bima duduk sendiri merenung. Matanya masih melihat map merah itu dan pikirannya melayang entah kemana.
Segala pikiran dan hatinya hanya wanita itu. Mungkin ini pertanda kalau Bima harus menyerah dan melupakan semuanya.
"Tidak bisakah kamu tidak menyakitiku, Ara."
***
Langkah kaki seseorang memasuki ruang privat tempat Bima bertemu dengan Franz. Pria paruh baya itu mendekati Bima dengan wajah cemas. Dia hanya menunduk. Tidak menyadari seseorang sejak tadi memandang dan berdiri di sampingnya.
"Masih mencarinya?" suara pria paruh baya itu terdengar lirih kemudian duduk berhadapan dengan Bima masih duduk.
Wajah Bima mendongkak menatap pria itu. Dia sudah tahu kalau pria itu adalah orang yang di kenal. Bukan di kenal tapi pria itu adalah kerabatnya.
"Uncle Aldo ngapain di sini?" Kedua saling bertatapan.
"Ini restoran Uncle, lupa? Lagian mau lihat keponakan Uncle lah yang lagi galau. Kenapa pertanyaan Uncle gak di jawab? Dosa loh mengabaikan pertanyaan orang tua apalagi kamu mengalihkan pembicaraan, itu gak sopan, Bi." Cerca Aldo dengan kearifan kesopan santunannya.
Bima menghela nafas.
"Bukan urusan, Uncle." Tegasnya.
"Kalau begini, Uncle bakal cecar kamu terus-terusan. Jangan terfokus dengan satu wanita saja. Cobalah membuka hatimu dengan wanita di luar sana yang mungkin sedang menunggu. Cetusnya. Bima menatap Aldo. "Dulu Uncle pernah mengalami gagal move on kayak kamu sebelum Istri Uncle jadi tambatan hati Uncle."
Dia hanya mendengus ucapan Aldo sama saja dengan kedua orang tuanya yaitu membuka hatinya. Memang segampang forguso. Bima sebenarnya sudah lelah tapi sebelum bertemu dengan wanita itu, Bima tidak akan tenang dan ingin sekali mendengarkan penjelasan tentang wanita meninggalnya tanpa kabar sama sekali selama sepuluh tahun ini.
"Maksud Uncle? Mau curhat tentang masa lalu?"
"Kalau kamu mau dengerin."
Bima mengangguk setuju.
"Dulu Uncle pernah menyakiti seorang wanita yang baik, semasa SMA."
"Uncle pernah SMA juga?" ejek Bima membuat Aldo berdecak kesal.
Kak Lisa anakmu sungguh menyebalkan.
"Bi, belum kelar cerita." Aldo memperingati sembari menjitak kepala Bima.
"Ok lanjut… "
Bima tersenyum meledek. "Dengerin jangan potong ucapan Uncle sebelum selesai."
"Yes, Chef… "
Aldo menceritakan masa lalunya tentang dia pernah menyakiti wanita yang di cintainya. Ada rasa penyesalan saat melakukan hal tersebut. Dia harus menerima kebencian, kemarahan dan kehilangannya. Rasanya mungkin sama dengan yang di rasakan wanita itu. Di mana dia harus bisa menerima kenyataan kalau wanita itu memilih pria lain. Hingga dia harus bisa menerima semuanya dan membuka hatinya.
Bima mendengarkan semua itu merasa iba. Ternyata Aldo, Unclenya lebih kejam lagi. Ia tidak bisa menyakiti wanita meski dia sendiri malah di sakiti.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu, Uncle? Apa Uncle masih berhubungan baik?" tanya Bima mulai penasaran akan cerita Aldo.
"Kami berteman baik. Malah menjadi keluarga."
"Keluarga? Siapa?"
"Kepo ya?"
"Uncle yang cerita, ya, harus Uncle selesaikan pamali."
"Wanita itu Mommy kamu, Luna."
Bima kaget. "What?"
Dia terkejut sudah pasti. Apalagi Daddy dan Uncle bersaing mendapatkan hati Mommy nya. Dan pemenangnya Daddy nya. Bima tidak pungkiri kalau Daddy nya mempunyai pesona yang tidak ada duanya.
"Kaget?"
"Yes, hampir aja jantung Bima copot. Tapi Alhamdulillah, Mommy gak berjodoh sama Uncle."
"Kok gitu… "
"Nanti Mommy bukan Mommy aku, malah jadi Tante aku. Bi gak kebayang kalau itu terjadi."
"Kita gak tahu datangnya jodoh dan siapa dia. Kita hanya bisa menerima semuanya dengan baik."
Bima setuju akan hal itu. Fakta yang membuat Bima terkejut. Tapi untung hubungan keduanya tetap terjalin baik dan hal itu yang Bima harapkan.
"Makanya kamu cari wanita yang menurut hati kamu terbaik untuk kamu, Bi."
"Yes, Uncle. I try it."
***
Jam sudah menunjukkan pukul 16:00 sore tapi Bosnya masih belum datang dan menunjukkan batang hidungnya. Memang sebelumnya Bosnya sudah memberitahu akan datang telat, tapi ini sudah berjam-jam lamanya. Apalagi sejak tadi Pak Riki mencarinya terus meminta meng-ACC berkasnya. Hana bener-benar kewalahan harus menghadapi Pak Riki yang super bawel meski seorang pria. Tampang boleh, tapi mulutnya kayak emak-emak komplek lagi ghibah. Pantas masih perjaka sampai sekarang umurnya memasuki 30-an mulutnya permisah sangat tertimpah balik dengan wajahnya yang rupawan tapi lebih rupawan wajah Bosnya yang tidak sebanding dengan Pak Riki masih di bawah rata-rata kegantengan level The Most Wanted-nya di kantor. Meski kegantengan nomor wahid masih di pegang ownernya, Reza Raditya Winajaya walaupun usia sudah tidak muda tapi tidak kalah dengan pria muda lainnya. Yang akan di ganti dengan anaknya siapa lagi kalau bukan Bimantara Reza Winajaya. Sungguh membuat Hana berdecak kagum dengan gen keturunan Winajaya bak Dewa dan Dewi khayangan.
Melupakan Bosnya sesaat Hana berkutak dengan layar komputer dan memeriksa email masuk dari berbagai rekan bisnis perusahaan dengan berbagai perusahaan dalam negeri dan luar negri. Kadang Hana bingung dengan kerjaanya yang selalu membuatnya pusing apalagi dengan kelakuan Bosnya yang labil seperti ABG.
Memang panjang umur, baru saja Hana bicarakan orangnya muncul dengan raut wajah datar mana ekspresinya? Seperti moodnya sedang buruk terlihat dari aura gelap di sekitarnya yang sebelum dan sesudahnya terlihat jelas perbedaannya.
"Sore, pak." Sapa Hana. Jawab kek malah to the point aja. Dasar Bos Galak. Lanjutnya dalam hati.
"Keruangan saya sekarang." Perintahnya.
Hana baru saja merespon hanya mengangguk sedikit takut karena tampang Bosnya tampak kacau. Dia mengikuti Bima dari belakang dan memasuki ruangan.
"Duduk!"
Kok aku jadi takut ya...Ringisnya dalam hati.
Hana duduk di sofa dan memperhatikan Bima melempar map merah di atas meja. Pria itu berjalan mendekati Hana dan duduk di seberangnya saling berhadapan.
"Pak Bima, ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana hati-hati, pria di hadapannya sekarang dalam mode angry bird seakan siap melempar batu ke arah Hana. Menatap Bosnya adalah sebuah cobaan. Kenapa? Karena setiap melihat matanya ada sebuah manik kerinduan di mata seseorang meski tatapan tajam menyirat. Entah pria itu rindu dengan siapa? Hana kah? Pastinya bukan. Hanya khayalan dunia maya.
"Hari ini bisa kamu bantu dan temani saya?" ajak Bima sebelum meminta persetujuan Hana.
Hana menjawab ragu-ragu. "Bisa, kemana, Pak?"
"Kamu hanya cukup bantu dan menemani saya, jangan banyak tanya ataupun ingin tahu kita kemana. Saya butuh bantuan untuk kamu sekarang. Tidak ada pilihan lain selain kamu, Hana. Saya yakin kamu bisa melakukannya." Kata Bima membuat Hana bingung tujuh belokan selokan.
Butuh tapi maksa! melakukan apa coba?
Hana hanya mengangguk tidak ingin menjawab. Ia tahu kalau Bosnya tidak semangat terlihat jelas wajahnya lelah.
"Oh iya, apa ada yang mencari saya?" tanya Bima mengalihkan pembicaraan mereka sesaat sebelum mereka berdua pergi.
"Ada. Pak Riki. Beliau bilang ingin meminta persetujuan anda untuk berkasnya." Balas Hana dengan tenang.
"Baiklah suruh dia kemari, sebelumnya saya minta kopi, tolong buatkan."
"Baik Pak."
Kali ini Hana tidak menolak membuatkan kopi. Ia berdiri dan meninggalkan ruangan. Pikiran masih seputar Bosnya yang secara mendadak meminta menemaninya. Tapi kemana? Ia hanya bisa Positive thinking toh Bosnya bukan seperti Bos dalam dunia khayalnya, seorang Bastard. Bima adalah Bos yang menurutnya penuh rahasia.
Setelah membuatkan kopi Hana kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sudah sempat tertunda karena Bosnya. Sekarang Bosnya sedang bersama Pak Riki entahlah sedang berbicara apa, mereka tampak serius, mungkin itu masalah proyek yang sedang berlangsung.
Sambil menunggu Bosnya keluar dari tempat persembunyian, Hana melihat layar ponselnya dan melihat pesan masuk dan membaca pesan itu dengan mengernyit.
Hai cantik masih ingat sama aku?
Siapa? Hana tidak ingat. Kemudian dia membalas pesan entah siapa itu.
Siapa? Maaf saya tidak kenal.
Tidak lama pesan masuk dengan cepat dan membuat Hana mendengus kesal.
Benar tidak ingat. Pesta topeng. Apa kamu lupa?
Hana tersenyum saat mengingat sesuatu. Hana baru ingat. Tidak bukan ingat baru ngeh akan pria yang berkenalan dengannya saat di pesta topeng. Kemudian Hana cepat membalas pesannya.
Adam?
Baru berapa detik Adam langsung menelpon Hana dan dia pun langsung menjawabnya.
"Baru ingat, cantik?" Suara di ujung telepon terdengar dengan nada menggoda
"Maaf, bukan begitu hanya saja aku tidak ngeh kalau itu kamu, Dam. Kenapa baru menghubungi?" Hana begitu senang akan Adam menghubunginya bukan apa-apa, Adam adalah teman yang menyenangkan meski mereka baru berkenalan saat itu.
"Wow, jadi, wanita cantik ini menunggu pangeran Adam menghubungi? So sweet, Maaf kalau aku baru menghubungimu karena aku sedang mempersiapkan pameran kunanti." Jelas Adam begitu kegirangan saat dan Hana merutuki ucapannya yang terkesan berlebihan.
"Berhenti memanggilku cantik, risih tahu. Aku memang cantik gak usah di perjelas."
Suara tawa terdengar Hana di ujung telepon. "Sangat percaya diri sekali kamu. Tapi memang benar kamu memang cantik."
"Memangnya kamu tahu aku cantik? Kemarin aku memakai topeng mana bisa kamu melihat wajahku, Adam." Tukas Hana.
"Ayolah, mendengar suaramu saja aku yakin kalau kamu itu memang cantik."
"Sudahlah. Untuk apa kamu menghubungiku?"
"Aku hanya ingin tahu kabar temanku dan mengajaknya makan malam sekarang, apa kamu ada acara?"
"Kabarku baik. Tapi aku ada acara malam ini. Mungkin lain waktu."
Hana tidak bohong memang ada, Bosnya meminta Hana menemaninya dan tidak tahu kapan selesainya.
"Sayang sekali. Tapi tidak masalah, kita cari hari lain saja."
"Okay, kalau begitu, aku tutup dulu karena aku masih dalam jam kerja."
"Baiklah, selamat bekerja, Hana."
Panggilan berakhir dan membuat Hana bernafas lega. Tidak lama pintu ruangan terbuka Bosnya dan Pak Riki keluar dan berdiri dari duduknya, Hana memasang senyum manis. Pak Riki meninggalkan keduanya. Hingga hanya tersisa mereka berdua.
"Ayo kita pergi sekarang."
***
Ada yang kangen Aldo? 🙋♀
Eh, Adam nongol, penasaran gak sama dia?
Bakal saingan nih sama Bima
Penasaran kan, di tunggu kelanjutannya