"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Membangunkan Sesuatu
"Hari ini Anda bersikap di luar kebiasaan Anda, Tuan. Bolehkah saya bertanya mengapa?"
Suara pertanyaan Liam memecah keheningan di tengah perjalanan Arlan menuju kediaman Larson usai bekerja. Sayangnya, itu tidak cukup untuk membuat Arlan yang kini tengah duduk di jok penumpang di samping Liam menoleh sekedar memberikan jawaban. Netranya menatap jalanan yang mereka lewati.
"Adakah transaksi yang dilakukan bocah itu baru-baru ini?"
Bukan jawaban yang Liam dapatkan, tetapi pertanyaan yang segera ia pahami siapa yang atasannya maksud. Dan itulah alasan mengapa dirinya bertanya terkait perubahan sikap sang atasan.
"Ada, Tuan," jawab Liam menoleh sekilas sebelum kembali fokus mengemudi.
"Tidak banyak. Saya rasa, Nona membeli dua gaun yang mana salah satunya diberikan kepada sahabat Nona jika mengingat transaksi itu terjadi sebelum acara prom night."
Arlan hanya mengangguk, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan kota sampai mobil yang Liam kemudikan melambat saat kediaman Larson sudah terlihat.
Pria itu bahkan segera turun dari mobil begitu mobil yang ia tumpangi berhenti tanpa mengatakan apapun, meninggalkan sang asisten yang hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala melihat sikap atasannya yang tampak berbeda.
"Baru kali ini Tuan peduli pada wanita, apakah itu karena Nona adalah istri dari keponakannya atau ...." Liam menggeleng cepat, urung menyelesaikan kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan. Rahasia yang atasannya sembunyikan dari semua orang, dan hanya dirinya, Tuan Marlan dan Nyonya Melani saja yang tahu.
"Tuan tidak sepeduli itu pada keponakannya sendiri," batin Liam mengingatkan diri sendiri tentang bagaimana hubungan keluarga sang atasan.
Liam gegas turun dari mobil setelah ia menarik rem tangan, melangkahkan kakinya dengan cepat hingga ia bisa mensejajarkan langkahnya di samping sang atasan.
Sejenak, pandangannya mengedar, mendapati suasana di kediaman Larson malam ini tidak seperti biasanya. Para pelayan yang bekerja di rumah itu tampak sibuk menata hidangan di meja, menyiapkan banyak kudapan dan masakan yang menjadi menu kesukaan Rieta, tetapi gadis yang menjadi bintang utama malam itu justru tidak terlihat.
"Di mana bocah itu?"
Pertanyaan itu entah Arlan lontarkan kepada siapa, kemudian segera duduk di sofa kosong di depan kakak iparnya yang tengah duduk bersama sang istri.
"Dia memiliki nama, Arlan," tegur Tuan Marlan.
"Dia juga bukan seorang bocah lagi," Nyonya Melani menimpali.
Arlan hanya menaikkan bahu dengan acuh. "Duduklah, Liam," ucapnya beralih pandang pada sang asisten.
Liam mengangguk, duduk di samping sang atasan tanpa bantahan. Sementara itu, di dalam kamar, Rieta mematut dirinya di dapan cermin, mengamati penampilannya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum. Ia hanya mengenakan pakaian santai, tetapi sedikit lebih rapi jika dibandingkan dengan ketika ia tinggal sendirian di luar negri.
Pandangannya kini beralih pada bingkai foto yang ia letakkan di atas meja rias, foto dirinya bersama seorang pria yang mana foto itu adalah dua foto yang ia satukan dengan latar belakang warna merah, foto yang sama dengan foto di buku nikah miliknya.
"Aku akan mengunjungimu lagi besok. Tunggu aku," gumam Rieta.
Dengan satu hembusan napas, Rieta melangkah keluar kamar, menuruni tangga yang membuat atensi semua orang tertuju padanya tanpa terkecuali Arlan. Pria itu sempat terpaku sejenak, menatap lekat wajah cantik dari gadis yang kembali ia lihat setelah beberapa tahun berlalu. Gadis yang terakhir kali ia lihat masih remaja, kini sudah dewasa.
Dan ketika acara makan malam dimulai, Arlan sengaja duduk tepat di samping Rieta, tetap memasang wajah datar hingga tidak ada curiga jika ia mencuri pandang ke arah Rieta. Percakapan hangat pun mengalir di tengah aktivitas makan malam mereka.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Arlan?" tanya Nyonya Melani.
Gerakan Arlan saat akan menyuap makanan seketika terhenti di udara, netranya menatap datar sang kakak yang kini tengah tersenyum padanya. Ia paham, ada maksud dari pertanyaan yang kakaknya lontarkan.
"Baik," jawab Arlan seraya melanjutkan suapan yang sempat terhenti.
"Bisakah aku meminta tolong padamu, Arlan?" Nonya Melani berkata lagi.
"Tentang menantumu?" tebak Arlan memasang wajah tanpa minat.
Nyonya Melani tersenyum sambil mengangguk.
"Sudah kuduga."
"Dia baru saja pulang hari ini, dan kau ingin dia segera bekerja?" tanya Arlan tajam.
Atmosfer dalam ruang makan berubah dalam sekejap, suasana yang sebelumnya hangat berubah tegang hanya dengan satu pertanyaan telak yang Arlan lontarkan.
"Tentu saja tidak," sanggah Nyonya Melani mencoba mencairkan suasana.
"Lalu?" tanya Arlan dengan alis terangkat.
"Aku ingin kamu mengajarinya sebagai permulaan sebelum Rieta terjun ke dalam bisnis," jawab Nyonya Melani.
Arlan mendengus, tidak sepenuhnya percaya pada apa yang kakaknya ucapkan. Tapi kemudian, benaknya terpikirkan kemungkinan yang bisa ia dapatkan jika ia memilih menerima permintaan kakak tirinya.
"Dengan syarat." ucap Arlan seraya meletakkan sendok dari tangannya, lalu menyandarkan punggung dan melipat kedua tangannya.
Baik Tuan Marlan atau Rieta urung membuka suara saat Arlan berbicara lebih cepat. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengarahkan pandangan pada Arlan, menunggu apa yang akan Arlan katakan.
"Aku akan tinggal di sini," ucap Arlan.
Ruangan berubah hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dengan keterkejutan yang mereka rasakan, termasuk Liam yang nyaris menyemburkan air yang baru saja ia teguk.
"Kenapa kamu harus tinggal di sini?" Nyonya Melani mengerutkan kening.
Arlan mengedikkan bahu. "Ya atau tidak sama sekali."
Nyonya Melani ingin memprotes, tapi segera ditahan oleh suaminya. Sementara Rieta yang duduk di samping Arlan hanya diam, sadar dirinya tidak berhak melarang pria itu ingin tinggal di mana. Hingga, saat acara makan malam itu selesai, Rieta beranjak dari duduknya setelah Tuan Marlan beserta istrinya pergi meninggalkan ruang makan, begitu pula dengan Liam yang sudah pamit undur diri.
Namun, hal tak terduga justru terjadi tepat saat Rieta bangun dari duduknya. Secara tidak sengaja tangannya menyenggol gelas berisi jus jeruk yang tidak ia habiskan. Nahasnya, jus itu justru tumpah menyiram Arlan yang belum beranjak dari duduknya.
Kedua mata Rieta membulat sempurna, tangannya berusaha menahan gelas itu, tetapi terlambat. Yang terlihat dalam penglihatan Rieta saat ini adalah kemeja serta jas Arlan basah dengan noda kuning yang begitu jelas terlihat.
"P-Paman ... M-Maaf ... aku ... aku tidak sengaja."
Rieta tergagap, refleknya bergerak cepat meraih serbet di meja dan segera membersikan air jus yang sudah meresap ke pakaian yang Arlan kenakan.
"Bagaimana ini ...." batin Rieta menggerutu panik.
Tangan Rieta terus bergerak membersihkan noda jus tanpa menyadari perubahan ekspresi pada wajah pria itu. Menyeka dengan putus asa bagian dada, dan terus turun ke bawah.
"Hentikan!" Arlan menggeram tertahan, mencengkram pergelangan tangan Rieta dan menahan tangan itu agar berhenti menyentuhnya. Jarak yang terlalu dekat itu sukses membuat hatinya terusik.
"M-Maaf, Paman. Aku tidak sengaja, aku ... aku hanya ingin membersihkannya," jawab Rieta tergagap.
"Caramu membersihkan sama sekali tidak membantu. Kau justru menggangguku," sahut Arlan.
"Aku tidak bermaksud begitu," sanggah Rieta menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin ...,"
Rieta gagal melanjutkan kalimatnya ketika tiba-tiba Arlan menariknya dengan sentakan ringan yang membuat tubuhnya jatuh ke pangkuan pria itu. Aroma maskulin dari Arlan bercampur aroma jeruk seketika memenuhi indra penciuman Rieta.
"Apa yang Paman lakukan?" Rieta memekik kaget.
Sebelum Rieta sempat bereaksi, Arlan mendekatkan wajah, memuat Rieta bisa merasakan hembusan napas pria itu menyapu lehernya, lalu berbisik.
"Kamu sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak kamu bangunkan, bagaimana kamu akan bertanggung jawab?"
Tubuh Rieta membeku seketika.
. . . .
. . .
To be continued...