Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 - Berkunjung
Pukul 10.30,
Kulihat jam didinding.
Aku beranjak dari tempatku, lalu, berjalan pergi menuju kamar mandi dan beberapa langkah setelah aku keluar dari kamar mandi, lenganku dipegang oleh seseorang dari belakang, aku sangat terkejut saat melihat siapa orang yang memegang lenganku, setelahnya dia membawaku keluar dari kampus dengan tangannya yang terus memegang lenganku. Safira hanya terdiam. Dia memberikan kunci motornya serta helmnya kepadaku, aku memakai helm yang diberikannya, kemudian aku mengendarai motornya sesuai dengan kemana arahan tangannya, sampailah aku disuatu tempat yang dimana saat kita ingin menemui orang yang berada didalamnya harus melalui berbagai pemeriksaan, aku melepaskan sweaterku, lalu, memasukkannya bersama dengan handphoneku kedalam tasku, kemudian aku memberikan tasku itu kepada petugas yang berwenang. Setelahnya. Aku melihat Safira disebrangku yang sedang merentangkan tangannya, beberapa saat kemudian aku diminta menyerahkan dompetku kepada petugas, lalu, aku merentangkan tanganku, dan melepas sepatuku, kemudian setelah pemeriksaan selesai aku berjalan dibelakangnya menuju tempat berkunjung, aku duduk bersebelahan dengannya sembari terus melihat punggung tanganku yang dicap sebagai pengunjung.
Dan,
Tidak beberapa lama.
Datanglah seseorang menemuiku.
Temanku.
Suasana yang canggung. Ferdi meminta rokok kepada orang disebrangnya, aku masih terdiam harus duduk berhadapan dengannya, kemudian aku tertawa kecil saat melihat perubahan besar didirinya, aku melihat bekas tindikan ditelinganya yang berwarna kehitaman, ternyata aku dipertemukan oleh perempuan disampingku dengan yang ingin kusebut musuhku, aku hanya tidak ingin menganggapnya sebagai temanku, karena didalam pertemanan kita harus selalu menahan diri untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Musuhku dan temanku. Aku langsung mengambil korek didekatku, kemudian aku mendekatkan dan menyalakannya kearah rokok yang menempel dibibirnya, setelahnya dia menghisap rokok itu dengan penghayatan, lalu, menghembuskan asap rokoknya itu secara perlahan, dan kita bertiga itu masih terdiam, temanku itu menatap kosong seakan memikirkan sesuatu, disekelilingku aku melihat banyak orang yang bertato dijenguk oleh keluarganya, sedangkan temanku yang berada tepat didepanku itu rasanya belum pernah dikunjungi oleh siapapun.
"Gimana?" ucapku
Ferdi tersenyum sinis, "Semuanya itu kacaulah"
"Berapa lama disini?" ucapku
"Sekitar dua tahunan" ucap Ferdi
Ferdi tertawa kecil, sembari menghisap rokoknya, "Beneran aku gak habis pikir ada orang yang dateng kesini cuman buat ketemu bajingan"
"Harusnya kamu makasih" ucap Safira
"Makasih" ucap Ferdi
"Iya" ucap Safira
Safira memberikan sekotak roti kepadanya, lalu, tanpa disadari waktu terasa berjalan dengan cepatnya, sampai pada akhirnya nama temanku itu dipanggil melalui speaker karena waktu berkunjung sudah habis, Safira berjalan didepan sedangkan aku dan Ferdi jauh dibelakangnya, temanku itu berjalan dengan terus menudukkan kepalanya, seakan ada sesuatu yang tidak sanggup disampaikannya. Entahlah. Seperti halnya perpisahan yang biasanya terjadi, sebenarnya kita sangat berat hati saat terjadinya perpisahan, tapi, kita dengan tanpa perasaan bersalahnya tersenyum menyembunyikan semuanya yang dirasakan, semua orang yang dikunjungi kulihat berjalan dengan tatapan kosong setelah ditinggal oleh pengunjungnya, sebelum aku berjalan pergi meninggalkannya pundakku ditepuk olehnya.
"Jagain dia tolong" ucap Ferdi
...*********...
"Kunjungan?" ucap Damar
Damar menunjuk tanganku, "Siapa yang masuk?"
"Temen" ucapku
Kuperhatikan cap ditanganku. Aku dengan cepat membalik tanganku saat melihat Tanaya berjalan kearahku, dan temanku itu langsung beranjak dari tempatnya, lalu, berjalan pergi meninggalkanku sendirian, Tanaya berdiri dihadapanku sembari melipat kedua tangannya, lagipula siapa yang tidak merasa kesal saat ada seseorang yang berjanji akan menemaninya, tapi, orang yang berjanji itu malah pergi meninggalkannya tanpa memberinya kabar. Sebentar. Rasanya aku memang tidak pernah berjanji akan menemaninya, walaupun begitu tetap akulah yang harus dimaafkan olehnya, dan tatapan matanya itu terasa menusukku, padahal dia hanya sekedar menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi, rasanya aku ingin segera dimaafkan olehnya agar mengakhiri semuanya. Hentikan itu semuanya.
Tanaya menatapku lekat.
Aku menyentuh dagunya, lalu, memalingkan wajahnya.
"Nik" ucap Tanaya
Tanaya menahan senyumnya, "Kamu mau denger cerita yang sedih?"
"Gimana emang ceritanya?" ucapku
"Tokoh utamanya itu namanya Tanaya. Suatu hari dia pengen ditemenin soalnya dikantin sendirian, terus ada orang yang dateng gak tau siapa kayak ngasih harapan dihatinya, tapi, orang itu malah pergi ninggalin dia. Bersambung" ucap Tanaya, menghela nafasnya
"Ceritanya sedih beneran" ucapku
"Banget" ucap Tanaya
Aku tertawa kecil, "Sudut pandangnya bukan orang pertama serba tahu diceritanya, tapi, sudut pandang orang pertama merasa tahu diceritanya"
"Bener. Tokoh utamanya juga gak tau alasan ditinggal. Pinter" ucap Tanaya
"Ayo" ucapku
"Kemana?" ucap Tanaya
"Ngelanjutin lagi ceritanya tadi bersambung" ucapku
"Ternyata ceritanya dilanjutin" ucap Tanaya
"Iyalah" ucapku
Bercanda. Aku beranjak dari tempat menuju kekamar mandi, dan sesampainya disana aku langsung menuju wastafel untuk menghilangkan cap ditanganku, aku melihat diriku sendiri dikaca saat membasuh tanganku, kemudian aku melihat disamping kaca tertulis nama perempuan yang kukenal, aku tidak habis pikir bahwa ada dorongan yang mendasari seseorang untuk menulis siapa yang disukainya itu dikamar mandi. Tanaya banyak disukai. Dikejauhan aku melihatnya setelah keluar dari kamar mandi, kemudian aku berjalan mendekatinya dan kulihat dia terus menerus tersenyum saat memegang handphonenya, setiap orang yang melewati koridor seringkali menyempatkan untuk menatapnya lekat beberapa detik, setelah jaraknya cukup dekat aku berjalan melewatinya tanpa melihatnya sedikitpun, kerah belakangku ditarik olehnya yang membuatku tertawa dengan luapan kekesalannya itu, kemudian lenganku dipukulnya lebih dari sekali dengan kerasnya, tapi, dia melakukannya juga sembari tersenyum simpul. Teruslah menebar senyuman.
Bahagialah.
"Kamu gak capek? Senyum gitu terus" ucapku
Tanaya malah justru semakin tersenyum sembari menunjuk kedua pipinya, "Orang aku cantik. Semua orang suka kalau aku senyum. Jadinya aku senyum"
"Percaya" ucapku
Inginku menyangkal dirinya.
Tapi.
Kenyataannya,
Dirinya memang cantiklah. Aku berjalan menuju perpustakaan dan kulihat dia berjalan mengikutiku dibelakang, kemudian sesampainya disana aku mencari buku dirak, sedangkan dia memilih untuk duduk tenang, sembari memegang handphonenya kembali, aku berjalan menghampirinya setelah menemukan buku yang kucari, setelah membuka bukuku aku tidak memperhatikan apa yang dilakukannya sedikitpun. Bukuku difoto olehnya. Kuperhatikan dia terus menerus tersenyum semenjak aku bertemu dikantin, kemudian entah mengapa aku melihatnya sangat cantik berbeda dari biasanya, padahal akupun setiap hari melihatnya dikampus, aku tidak bisa mengingat apapun materi yang terkandung dalam bukuku, lalu, aku menutup bukuku karena perempuan disampingku mengalihkan semua perhatianku. Harusnya aku membaca.
"Kamu operasi dimana?" ucapku
Tanaya menatapku bingung,
Aku menatapnya lekat, sembari menahan tersenyum, "Penasaran. Aku gak bisa lihat bekas sayap dipunggungmu pasti dokternya ahli banget. Bidadari"
Tanaya tersenyum manis, "Tumben kamu godain"
"Selama ini aku gak nyadar. Ternyata. Kamu emang cantik" ucapku, tertawa kecil
"Kemana aja kamunya?" ucap Tanaya
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....