NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana di dalam ruang kerja pribadi Dikta malam itu begitu riuh dengan kemegahan aula utama Hotel Grand Ballroom yang berada beberapa lantai di bawahnya. Namun, di dalam ruangan bernuansa maskulin ini, hanya ada kesunyian yang mencekam.

Dikta duduk di balik meja mahoni besar. Kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangan yang tegas. Pria itu tampak sangat serius membaca lembar demi helai berkas laporan audit internal perusahaannya.

"Marco," panggil Dikta tanpa mengalihkan pandangan dari berkas.

"Ya, Pak?" Marco yang berdiri siaga di dekat pintu langsung menegakkan tubuhnya.

"Pastikan laporan dari divisi properti ini sinkron dengan data besok pagi. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun saat para investor asing itu mulai menuntut transparansi."

"Sudah saya periksa ulang dua kali, Pak. Semuanya bersih," jawab Marco tegas.

Sesaat kemudian, ponsel di dalam saku celana Dikta bergetar pelan. Dikta merogohnya, melihat nomor tak dikenal di layar gawai mahal tersebut, lalu menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel ke telinga dan memilih diam, menunggu.

"Halo, Pak Dikta yang terhormat," sebuah suara serak yang penuh nada meremehkan memecah keheningan, disusul tawa remeh yang memuakkan. "Bagaimana rasanya mengasuh anak dengan air susu dari istri orang lain? Sangat eksklusif, bukan?"

Rahang Dikta seketika mengeras. Mata elangnya menajam. "Kau punya nyali juga menghubungi nomor pribadiku, Bagas. Apa maumu?"

Di seberang telepon, Bagas tertawa terbahak-bahak. "Oh, jangan terlalu tegang, Pak Dikta. Aku hanya ingin mengingatkanmu. Nikmati malam megahmu ini selagi bisa. Karena sebentar lagi, semua kesombonganmu itu akan runtuh bersama dinasti yang kau banggakan."

"Kau hanya tikus kecil yang tidak tahu diri," jawab Dikta dingin. Matanya melirik ke arah Marco yang langsung menangkap perubahan atmosfer di ruangan itu. "Kau pikir aku tidak tahu jika kau bebas berkeliaran di luar sana? Aku tahu kau tidak di penjara, Bagas. Aku tahu uang kontrak yang kuberikan justru dipakai ibumu bersenang-senang, sementara istrimu menangis darah di sini karena mengira suaminya membusuk di sel tahanan. Kau pikir kau bisa membodohiku?"

Bagas sempat terdiam selama beberapa detik. Namun, tawa liciknya terdengar lagi, jauh lebih penuh percaya diri.

"Oh, kau tahu aku bebas? Baguslah, setidaknya kau tidak sebodoh yang kukira," sahut Bagas santai. "Tapi kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan terjadi malam ini. Nikmati pestamu, Dikta. Anggap saja ini malam terakhir untuk reputasimu."

Sambungan telepon diputus sepihak. Dikta melempar ponselnya ke atas meja mahoni hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Aura membunuh memancar pekat dari tubuhnya.

"Ada masalah, Pak? Apakah itu Bagas?" Marco melangkah mendekat dengan ekspresi serius. "Bagaimana dia bisa mendapatkan nomor pribadi Anda?"

"Pecundang itu baru saja menggertakku," mendengus Dikta sembari bersandar pada kursinya. "Dia bilang reputasiku akan runtuh malam ini."

"Perlu saya gerakkan anak buah untuk melacak dan menyeretnya sekarang juga, Pak?" Tangan Marco bergerak cepat ke belakang pinggang, siap menarik senjata.

Dikta mengangkat tangannya, menolak. "Tidak perlu, Marco. Keamanan di penthouse ini dijaga oleh orang-orang terbaikmu, bukan?"

"Sistem enkripsi kita tingkat tinggi, Pak. Berlapis penjagaan ring satu di setiap akses masuk. Saya sendiri yang memimpin pemeriksaan sore tadi," jawab Marco meyakinkan. "Tidak ada satu pun celah yang bisa ditembus oleh orang luar seperti dia."

"Kalau begitu biarkan saja," ujar Dikta dingin. "Dia hanya menggertak untuk mengalihkan perhatianku dari Gala Investor ini. Fokus saja pada pengamanan aula bawah. Pastikan para investor melihat kita memegang kendali penuh."

"Baik, Pak. Saya akan memastikan tim ring satu di aula bawah tetap waspada," kata Marco sebelum membungkuk pelan dan melangkah keluar.

Sementara itu, suasana di dalam penthouse pribadi Dikta justru berbanding terbalik. Kamar utama bayi itu begitu sunyi dan remang-remang.

Aku baru saja selesai menyusui Arkan. Aku berjalan pelan, meletakkan tubuh mungil itu ke dalam boks bayi miliknya dengan sangat pelan agar tidak terbangun. Setelah memastikan Arkan terlelap, aku berdiri diam di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta. Hatiku jadi teringat Bagas.

‘Mas Bagas... apakah kau tidak merindukan aku? batinku perih, air mataku yang menggenang di pelupuk mata, luruh seketika. Istri yang mana tidak merindukan suaminya. Apalagi pria itu pernah berjasa untuknya. Rela membayar mahal demi selamat dari pendarahan saat melahirkan, meski buah cintanya tidak bisa diselamatkan.

Bzzzt.

Tiba-tiba, lampu di koridor luar penthouse mendadak berkedip, lalu padam, tak menyisakan cahaya sedikitpun. Pintu kamarku yang semula tertutup rapat, perlahan terbuka dengan derit halus.

Aku tersentak, berbalik cepat. "Pak Dikta...?" panggilku lirih, mengira sang pemilik penthouse yang datang.

Namun, di ambang pintu yang remang, berdiri seorang pria dengan kemeja yang acak-acak dan kerah yang robek. Wajahnya tampak kusut.

Mataku melebar sempurna. Napasku tercekat di tenggorokan. "M-Mas... Mas Bagas?!" Sontak, detak jantungnya bergemuruh hebat antara rasa tidak percaya, ketakutan, sekaligus kegembiraan yang muncul begitu saja.

"Arini... ini aku," bisik Bagas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar dan tersengal-sengal, melangkah masuk ke dalam kamar.

Mataku seketika berbinar. Aku merindukan suara khas itu. Air mata haru langsung luruh membasahi pipiku. Mengabaikan segala pikiran yang akan terjadi. Aku menghambur ke dalam pelukan Bagas, mendekap erat tubuhnya seolah takut pria itu akan pergi lagi.

"Mas! Kamu di sini? Bagaimana bisa?" bisikku histeris, tanganku meraba wajah Bagas dengan cemas. "Bagaimana jika Pak Dikta tahu jika Mas berada di sini? Mengapa pakaianmu robek seperti ini? Apa mereka menyiksamu?" Aku merasa kasihan melihat penampilan Bagas tidak seperti di foto yang Dikta berikan kemarin. Apa itu rekayasa Dikta agar aku bisa tenang dan tidak stres memikirkan Bagas? Pertanyaan itu memutar otakku dengan cepat, seolah ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Bagas membalas pelukan Arini dengan erat, namun di balik pundak istrinya, seringai iblis terukir di wajahnya. Matanya melirik ke arah pintu di mana Doni dan tiga orang jurnalis sudah bersiap di balik kegelapan lorong dengan kamera menyala.

"Aku merindukanmu, Arin... aku nekat ke sini karena Pak Dikta tidak mengizinkan aku menemuimu. Dia benar- benar jahat dan kejam. Memperlakukan dirimu seperti mesin, semata ingin asupan Asi untuk anaknya," lirih Bagas berdusta. Ia memulai aktingnya di bawah sorot lensa kamera yang mulai merekam secara tersembunyi dari balik pintu.

"Sebaiknya Mas duduk dulu. Aku ingin memastikan kedaan dulu," pintaku lalu meraih ponsel untuk menerangi jalanku.

Alih-alih aku berniat baik pada Bagas, justru lampu menyala terang. Bagas menatap kilatan lampu blitz dari kamera para jurnalis yang tiba-tiba menyeruak masuk memecah kegelapan kamar, membuat pandanganku terlihat samar selama beberapa detik. Suara jepretan kamera yang bertubi-tubi terdengar seperti rentetan tembakan yang menghujam jantungku.

Aku membeku. Ponselku hampir saja terjatuh. Pikiranku mendadak lumpuh, tidak mampu mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.

"Bu Arini, apakah benar Anda ditahan di sini secara paksa oleh Pak Dikta?"

"Apakah Anda dipisahkan dari suami Anda demi menjadi ibu susuan anak Pak Dikta?"

"Tolong konfirmasinya, benarkah ada pemerasan dan ancaman di balik kontrak kerja Anda?"

Pertanyaan-pertanyaan tajam bertubi-tubi dilontarkan oleh para jurnalis yang kini membuatku bingung. Aku mundur selangkah dengan tubuh yang gemetar, langsung menutupi boks bayi Arkan dengan badanku.

Aku menoleh ke arah Bagas, mencari perlindungan dan penjelasan. Namun, Bagas justru memasang wajah penuh penderitaan di depan kamera. Ia merangkul bahuku seolah-olah kami pasangan yang teraniaya.

"Mas... apa-apaan ini? Siapa mereka?" bisikku dengan suara bergetar. "Kenapa ada wartawan? Suruh mereka keluar, Mas! Nanti Den Arkan terbangun, nanti Pak Dikta..."

"Ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu dari iblis itu, Arin!" potong Bagas setengah berbisik, namun matanya tetap melirik ke arah lensa kamera Doni yang terus merekam. "Biarkan seluruh kota tahu kebusukan Dikta yang sudah memisahkan kita dan memanfaatkanmu!"

Kata-kata Bagas justru membuat kepala Arini berdenyut perih. Menyelamatkanku? Memisahkan kita?

Tepat saat kilatan kamera semakin menjadi-jadi dan Arkan mulai menggeliat terusik di dalam boksnya, sebuah derap langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari arah koridor yang gelap.

Dikta berdiri tegap diambang pintu dengan aura membunuh yang begitu pekat, dikawal oleh Marco dan beberapa pria berbadan tegap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!