Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Yang Menyakitkan
Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, kondisi Raka akhirnya dinyatakan membaik. Demamnya sudah turun sepenuhnya dan dokter mengizinkannya pulang.
Hansen tampak lega. Meskipun selama beberapa hari terakhir tubuhnya sendiri terasa kurang sehat, ia tetap berusaha memberikan perhatian penuh kepada putranya.
Juan membantu membereskan barang-barang Raka, sementara Hansen mengurus administrasi kepulangan mereka.
Setelah semuanya selesai, Hansen menggendong Raka menuju mobil. Anak itu memang sudah bisa berjalan sendiri, tetapi Hansen masih ingin memanjakannya setelah beberapa hari sakit.
"Bagaimana? Senang sudah boleh pulang?" tanyanya sambil memasangkan sabuk pengaman Raka.
Raka mengangguk.
"Senang, Pi."
"Kalau begitu, nanti sampai rumah kamu harus istirahat. Jangan langsung bermain terlalu banyak."
"Iya, Papi."
Hansen mengusap rambut putranya sebelum menutup pintu mobil. Juan yang duduk di belakang kemudi segera menjalankan kendaraan menuju kediaman mereka.
Sepanjang perjalanan, Raka lebih banyak diam. Ia memandang keluar jendela dengan tatapan kosong, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Hansen yang duduk di sampingnya akhirnya menyadari perubahan itu.
"Kenapa, Sayang? Masih merasa tidak enak badan?"
Raka menggeleng.
"Tidak, Pi."
"Lalu kenapa diam saja?"
Raka menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri.
"Raka sedang memikirkan Bunda."
Seketika Hansen terdiam.
Nama itu kembali disebut oleh putranya. Nama yang belakangan ini juga tidak pernah berhenti memenuhi pikirannya.
"Memangnya kenapa dengan Bunda?" tanyanya hati-hati.
"Raka menyesal."
"Menyesal karena apa?"
Raka mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Waktu Bunda sakit, Raka malah nggak peduli. Raka nggak mau keluar kamar. Padahal Bunda waktu itu kelihatan sakit sekali."
Kening Hansen langsung berkerut.
"Bunda sakit?"
Raka mengangguk.
"Iya, Pi. Waktu itu Bunda demam. Badannya panas, tapi Raka malah tetap di kamar. Raka bahkan nggak bertanya apakah Bunda sudah minum obat atau belum."
Hansen menatap putranya dengan tidak percaya.
"Kapan Bunda sakit?"
Raka berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Waktu itu... beberapa hari sebelum Papi pergi ke Jepang."
Hansen semakin memperhatikan wajah Raka.
"Kamu yakin?"
"Iya, Pi. Raka ingat karena waktu itu Bunda kelihatan pucat. Tapi Raka malah nggak mau mendekatinya."
Hansen tidak langsung menjawab. Pikirannya mulai berusaha mengingat kejadian pada waktu itu.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Jepang.
Ia mencoba mengingat kapan tepatnya Jihan mengalami demam. Lalu, perlahan-lahan, ingatan tentang malam itu muncul begitu jelas.
Malam ketika ia pulang dalam keadaan mabuk.
Malam ketika ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Malam ketika ia memaksa Jihan melayaninya, meskipun perempuan itu sudah berusaha menolak dan memintanya berhenti.
Hansen membeku.
Tangannya yang semula berada di atas paha perlahan mengepal.
Kini ia mengerti mengapa Jihan keesokan harinya terlihat begitu lemah. Ia juga ingat bagaimana perempuan itu sempat kesulitan berjalan dan memilih lebih banyak berbaring di kamar.
Saat itu, Hansen tidak benar-benar peduli. Ia bahkan tidak bertanya dengan sungguh-sungguh mengenai kondisi Jihan.
Dan sekarang, ia baru mengetahui bahwa Jihan sampai mengalami demam setelah malam tersebut.
"Pi?"
Suara Raka membuyarkan lamunannya.
Hansen menoleh. "Iya, Sayang?"
"Kenapa Papi diam?"
"Nggak apa-apa."
Namun, suaranya terdengar berbeda.
Hansen kembali menatap ke depan. Ada rasa bersalah yang perlahan menghimpit dadanya.
Ia bukan hanya mengingat malam ketika dirinya memaksa Jihan dalam keadaan mabuk. Ia juga teringat bagaimana selama ini ia memperlakukan perempuan itu seolah perasaan dan keinginannya tidak pernah penting.
Padahal Jihan adalah seseorang yang pernah begitu tulus mencintainya.
"Pi, apa Bunda masih marah sama Raka?" tanya Raka lagi.
Hansen menoleh kepada putranya.
"Papi tidak tahu, Sayang. Tapi kalau kamu menyesali perbuatanmu, nanti ketika bertemu Bunda, kamu harus meminta maaf."
"Kalau Bunda nggak mau memaafkan Raka?"
Hansen mengusap kepala Raka.
"Kamu tetap harus meminta maaf. Jangan memaksa Bunda untuk langsung memaafkanmu."
Raka mengangguk pelan.
Sementara itu, Hansen kembali terdiam.
Ia baru saja menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menemukan Jihan, tetapi belum benar-benar berani menghadapi semua kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap perempuan itu.
Bahkan, salah satu alasan Jihan mungkin memilih pergi adalah karena dirinya sendiri.
Hansen memejamkan mata sejenak.
Dalam hati, ia bertanya-tanya, seberapa besar luka yang telah ia tinggalkan hingga Jihan memilih menghilang tanpa memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya?
Dan untuk pertama kalinya, Hansen merasa takut.
Bukan takut kehilangan kendali atas hidupnya, melainkan takut bahwa perempuan yang selama sepuluh tahun menjadi istrinya itu benar-benar sudah tidak ingin kembali ke dalam kehidupannya.
***
Malam semakin larut, Hansen semakin tak bisa tidur. Di dalam kamarnya ia gelisah. Gelisah memikirkan ucapan sang putra tentang kondisi kesehatan Jihan saat itu, kondisi di mana setelah ia melakukan hal yang menyiksa istrinya.
"Ya Tuhan, kenapa aku kejam sekali. Pantas saja waktu itu kamu diemin aku, ternyata apa yang aku lakukan benar-benar menyakitimu," ucap Hansen, menyesal.
Pikirannya terus dipenuhi oleh pengakuan putranya tentang Jihan yang pernah sakit beberapa hari sebelum dirinya berangkat ke Jepang.
Ingatan tentang malam itu terus menghantuinya.
Ia masih ingat bagaimana dirinya pulang dalam keadaan mabuk. Ia juga ingat Jihan yang berkali-kali memintanya berhenti, tetapi ia justru mengabaikan penolakan perempuan itu.
Hansen mengusap wajahnya kasar.
"Ya Tuhan..."
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ada perasaan tidak nyaman yang semakin kuat menguasai dadanya.
Selama ini, ia memang tahu dirinya pernah menyakiti Jihan. Namun, ia tidak pernah benar-benar memikirkan seberapa parah akibat perbuatannya malam itu.
Apalagi setelah mendengar bahwa Jihan sampai demam.
Hansen akhirnya keluar dari kamarnya. Entah apa yang mendorongnya, langkahnya justru mengarah ke kamar yang dahulu ditempati Jihan.
Pintu kamar itu masih tertutup. Sejak Jihan pergi, Hansen hampir tidak pernah memasukinya. Ia bahkan sengaja membiarkan semua barang perempuan itu tetap berada di tempatnya.
Perlahan, tangannya memutar gagang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Aroma samar yang masih tertinggal di kamar itu langsung menyambutnya. Hansen berdiri beberapa saat di ambang pintu, menatap sekeliling ruangan yang begitu rapi.
Tempat tidur masih tertata. Beberapa pakaian Jihan yang belum sempat dibawa pergi masih tersimpan di lemari. Di atas meja rias, beberapa perlengkapan perempuan itu juga masih berada di tempat semula.
Hansen melangkah masuk.
Matanya kemudian tertuju pada nakas di samping ranjang.
Ia teringat bahwa Jihan sering menyimpan obat-obatan pribadi di dalam laci tersebut. Dulu, perempuan itu selalu memastikan persediaan obatnya lengkap, meskipun Hansen jarang memperhatikan.
Entah kenapa, malam itu ia ingin melihatnya.
Tangannya menarik laci nakas perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa kemasan obat, vitamin, obat demam, serta beberapa lembar obat yang sudah tersisa sedikit. Hansen mengambil salah satu kemasan dan membacanya.
Obat pereda nyeri.
Ia meletakkannya kembali, kemudian menemukan sebuah salep kecil di bagian belakang laci.
Hansen mengangkat benda itu. Awalnya ia hanya berniat melihat namanya, tetapi begitu membaca keterangan pada kemasannya, wajahnya seketika berubah.
Itu adalah salep untuk mengobati luka dan iritasi pada area intim perempuan.
Jemari Hansen mendadak terasa dingin.
Ia menatap salep itu cukup lama.
Ingatan tentang malam ketika dirinya mabuk kembali berputar di kepalanya. Ia teringat Jihan yang terlihat ketakutan, tubuhnya yang berusaha menjauh, serta suara lirih perempuan itu yang memintanya berhenti.
Namun, ia tidak mendengarkan.
Hansen menelan ludah dengan susah payah.
"Jadi... selama ini kamu sampai terluka seperti itu?"
Suaranya terdengar begitu pelan, nyaris seperti bisikan.
Ia kembali memeriksa isi laci. Di antara obat-obatan tersebut, terdapat beberapa kemasan yang membuatnya semakin sulit bernapas.
Ada obat pereda nyeri, obat untuk mengatasi iritasi, dan salep yang sama.
Hansen mulai menyadari bahwa Jihan bukan hanya mengalami demam biasa setelah malam itu. Perempuan tersebut mungkin menahan rasa sakit yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Dan yang paling menyakitkan, semua itu terjadi karena dirinya.
Hansen duduk di tepi ranjang. Salep kecil itu masih berada dalam genggamannya.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau lukamu sampai separah ini, Jihan?"
Namun, sesaat kemudian ia tersadar bahwa pertanyaan itu sama sekali tidak pantas ia lontarkan.
Bagaimana mungkin Jihan bisa bercerita kepada orang yang justru menjadi penyebab lukanya?
Bagaimana mungkin perempuan itu merasa aman mengadu kepada seseorang yang malam itu bahkan tidak menghargai penolakannya?
Hansen menunduk dalam-dalam.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Selama ini, ia selalu merasa memiliki alasan untuk mempertahankan Jihan dalam hidupnya. Ia mencari perempuan itu karena merasa kehilangan, karena merindukan kehadirannya, bahkan karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Jihan memilih pergi.
Namun, malam ini ia mulai memahami bahwa kerinduannya bukan satu-satunya hal yang harus ia pikirkan.
Ada luka yang harus ia akui.
Ada kesalahan yang tidak bisa dihapus hanya dengan permintaan maaf.
Dan mungkin, ada alasan mengapa Jihan begitu bersungguh-sungguh menghilang dari kehidupannya.
Hansen meletakkan kembali salep itu ke dalam laci, lalu menutupnya perlahan.
Ia menatap ranjang kosong di hadapannya.
"Maafkan aku, Jihan..."
Kali ini, permintaan maaf itu bukan sekadar karena perempuan tersebut pergi meninggalkannya.
Melainkan karena ia akhirnya menyadari betapa kejamnya dirinya terhadap seseorang yang dahulu begitu mencintainya.
Malam itu Hansen kembali ke kamarnya dengan langkah berat. Namun, hingga menjelang pagi, matanya tetap tidak bisa terpejam.
Bayangan Jihan yang kesakitan terus menghantui pikirannya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merindukan istrinya.
Ia juga merasa begitu malu untuk meminta perempuan itu kembali.
Bersambung....