NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan Besi Sang Pangeran

​Kepanikan melanda jajaran Tetua Klan Lei. Wajah mereka yang tadinya pucat pasi berubah menjadi merah padam karena ketakutan yang bercampur amarah. Mereka tahu bahwa di depan setengah juta pasang mata, reputasi mereka sebagai sekutu utama Zhao Feng telah hancur total.

​"Dia hanya satu orang!" teriak Tetua Agung Klan Lei, mencoba mengompori para pengawal dan sisa pengikut setianya. "Bunuh dia sekarang! Jika kita tidak bertindak, nyawa kita akan melayang saat Zhao Feng murka!"

​Atas perintah itu, belasan kultivator tingkat tinggi dari Klan Lei dan faksi korup lainnya mencabut senjata mereka. Mereka melompat ke atas panggung pualam, menebaskan aura pedang dan tombak ke arah Hu Jin.

​Namun, Hu Jin sama sekali tidak bergeming.

​Di atas podium VIP, Qian Renxue meletakkan tangannya di atas gagang pedang di pinggangnya, siap turun tangan kapan saja jika ada pihak yang berani berbuat curang. Namun, ia berhenti saat melihat ketenangan luar biasa di mata muridnya.

​BUMM

​Hu Jin menghentakkan Pedang Hitam Kuno ke lantai pualam. Gelombang kejut biru-emas meledak, bukan dalam bentuk badai salju, melainkan dalam bentuk tekanan gravitasi absolut yang menghantam lantai arena.

​Panggung pualam yang tadinya padat mendadak amblas beberapa inci!

​Belasan kultivator yang tengah menerjang itu terpelanting jatuh, tertindih oleh beratnya aura Tulang Kaisar. Senjata di tangan mereka patah berkeping-keping akibat getaran resonansi yang dihasilkan oleh energi Hu Jin. Mereka tidak mampu berdiri, bahkan untuk sekadar mengangkat kepala pun mereka tidak sanggup.

​Hu Jin berjalan perlahan di antara mereka. Setiap langkah kakinya terdengar bagaikan dentang lonceng kematian.

​"Aku datang ke sini untuk mengikuti ujian," ucap Hu Jin, suaranya pelan namun menusuk jiwa setiap orang yang mendengarnya. "Namun, jika kalian merasa perlu melayani pengkhianat itu dengan darah, maka aku akan dengan senang hati menerima persembahan kalian."

​Hu Jin berhenti tepat di depan Tetua Agung Klan Lei yang tersungkur di lantai. Pemuda itu tidak mencabut pedangnya. Ia hanya melepaskan aura naga emas yang samar dari telapak tangannya, menempelkannya tepat di dahi sang tetua.

​SZZZT

​Pikiran sang tetua mendadak diserbu oleh bayangan kehancuran dan wibawa kaisar yang tak terbantahkan. Ia melihat sekilas masa depan Kerajaan Timur yang dipimpin oleh sang Pangeran, dan betapa kerdilnya dirinya di hadapan takdir yang telah digariskan.

​"Dengarkan ini," Hu Jin berbisik, suaranya hanya terdengar oleh para pengkhianat di panggung. "Simpan pedang kalian. Aku tidak akan membunuh kalian hari ini di atas panggung ujian suci. Tapi ingat baik-baik... saat aku melangkah masuk ke Istana Kerajaan Timur nanti, setiap tetes darah yang kalian tumpahkan dari rakyatku akan kubayar dengan nyawa kalian."

​Hu Jin melepaskan tekanannya. Para pengkhianat itu tersungkur, napas mereka memburu, mata mereka melebar karena trauma yang begitu dalam. Tanpa perlu diperintah, mereka merangkak turun dari panggung, lari terbirit-birit meninggalkan arena, kehilangan seluruh kehormatan mereka di depan khalayak ramai.

​Riuh sorak-sorai penonton pecah kembali, kali ini bukan karena kekaguman pada jurus pedang, melainkan karena kekaguman pada wibawa sang pangeran.

​"Pangeran Hu Jin! Pangeran Hu Jin!" seruan itu menggema di seluruh sudut kota.

​Malam itu, di kediaman sementara Sekte Teratai.

​Qian Renxue berdiri di balkon, memandang rembulan. Ia bisa mendengar langkah kaki yang ia kenal mendekat. Hu Jin muncul di sampingnya, masih dengan jubah abu-abunya yang tenang.

​"Itu adalah langkah yang berani," ujar Qian Renxue tanpa menoleh. "Kau telah mendeklarasikan perang terbuka. Zhao Feng pasti akan mengirimkan para pembunuh bayaran terbaiknya mulai detik ini."

​Hu Jin tersenyum kecil. "Itu memang tujuanku, Guru. Jika aku harus membersihkan Kerajaan Timur, aku harus memancing semua tikus-tikus itu keluar dari lubangnya."

​Qian Renxue berbalik, menatap muridnya dengan tatapan lembut yang jarang terlihat. "Lalu, apakah kau akan tetap berangkat ke Ujung Utara?"

​"Ya," jawab Hu Jin mantap. "Aku butuh kekuatan itu. Jika aku ingin menantang Zhao Feng yang didukung oleh faksi-faksi kuat, aku harus menjadi yang terkuat di benua ini."

​Qian Renxue mengulurkan tangannya, membetulkan letak jubah Hu Jin. "Jaga dirimu. Di Ujung Utara, bukan hanya monster yang harus kau takuti, melainkan kegelapan kuno yang telah tertidur ribuan tahun."

​Hu Jin mengangguk. "Aku mengerti, Guru. Sebelum aku pergi, aku memiliki satu permintaan terakhir."

​"Apa itu?"

​"Sekte Teratai," Hu Jin menatap gurunya dengan serius. "Mulai besok, aku ingin Guru berhenti memikirkan kepentingan sekte yang sempit dan mulailah membangun faksi yang berpihak pada kebenaran. Saat aku kembali dari Utara nanti, aku ingin Sekte Teratai berdiri di sampingku—bukan sebagai sekte yang tunduk pada politik, melainkan sebagai sekte yang berdiri di barisan depan keadilan."

​Qian Renxue tersenyum bangga. "Aku sudah memulainya sejak kau menyatakan identitasmu di arena tadi. Sekte Teratai tidak lagi akan menjadi sekte yang penakut."

​Hu Jin membungkuk hormat, lalu berbalik pergi ke dalam kegelapan malam, bersiap meninggalkan Kota Teratai Hitam sebelum fajar menyingsing.

​Di gerbang utara kota, Hu Jin berhenti sejenak. Ia menatap ke arah utara yang gelap dan dingin. Perjalanan ke Ujung Utara adalah perjalanan menuju kematian bagi banyak orang, namun bagi sang Pangeran, itu adalah tempat di mana takdirnya akan ditempa menjadi baja yang tak terpatahkan.

​Dengan satu tarikan napas panjang, Hu Jin melesat bagaikan bayangan, meninggalkan kenangan masa lalu dan menyongsong tantangan yang sesungguhnya di negeri salju abadi!

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!