NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Panggung Sandiwara

Malam puncak perayaan ulang tahun ke-25 Nusantara Industri Utama digelar dengan amat megah di Ballroom Grand Ballroom Hotel Mulia. Lampu-lampu kristal raksasa membiaskan pendar cahaya keemasan yang mewah di atas lantai marmer yang mengkilap. Ratusan tamu undangan kelas atas—mulai dari jajaran pejabat pemerintah, pengusaha nasional, hingga jajaran direksi dan komisaris—memenuhi ruangan bernuansa emas dan hitam tersebut.

Di salah satu sudut meja VIP, Rendy berdiri dengan jas kustom buatan perancang ternama. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya mengembang di wajahnya. Di sampingnya, Bu Endang—ibunya—mengenakan kebaya sutra mahal bersulam benang emas dengan perhiasan berlian yang berlebihan di leher dan pergelangan tangannya.

"Rend," bisik Bu Endang seraya menyesap jus jeruknya dengan gaya yang dipaksa-paksa berkelas, "Ibu benar-benar tidak menyangka Alya sekarang bisa se royal ini. Rumah seratus lima puluh miliar dan mobil sport itu benar-benar sudah balik nama atas namamu, kan?"

Rendy menepuk dada jasnya dengan penuh rasa percaya diri. "Tentu saja, Bu! Surat-suratnya sudah Rendy tandatangani kemarin lusa. Alya itu sangat mencintai Rendy. Dia cuma sempat emosi sebentar sama Kai Aditya, tapi pada akhirnya dia sadar kalau cuma Rendy pria yang sanggup membahagiakannya."

Bu Endang tersenyum lebar, matanya berbinar serakah. "Bagus itu! Ibu bilang juga apa, si gemuk Alya itu tidak akan bisa berpaling dari kamu. Nanti setelah acara ini selesai, kamu desak dia untuk secepatnya mengatur tanggal pernikahan kalian. Kita harus kunci harta keluarga Nusantara ini rapat-rapat!"

Rendy tertawa pelan, mengangguk setuju. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa surat-surat yang ditandatanganinya dua hari lalu hanyalah jebakan hukum yang dirancang khusus untuk memenjarakannya.

Di sisi lain ballroom, Siska berdiri seorang diri di dekat pilar utama. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat yang kontras dengan wajahnya yang pucat dan matanya yang membara oleh dendam. Bekas penolakan mentah-mentah dari Kai kemarin malam masih menancapkan rasa malu yang membakar habis akal sehatnya.

Melihat Rendy dan Bu Endang tertawa-tawa dengan sombongnya seolah dunia sudah berada di genggaman mereka, tangan Siska mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Kalian pikir kalian bisa tertawa di atas penderitaanku? desis Siska dalam hati dengan napas memburu. Rendy... kamu pikir kamu bisa membuangku dan anak ini demi harta Alya? Malam ini aku pastikan kita semua hancur bersama!

Tiba-tiba, alunan musik pembuka bergema di seluruh ruangan. Pembawa acara melangkah ke atas panggung utama dan memegang mikrofon.

"Selamat malam, Bapak dan Ibu tamu undangan yang terhormat!" sapa pembawa acara penuh semangat. "Malam ini merupakan malam yang sangat spesial bagi Nusantara Industri Utama. Untuk membuka acara resmi kita, marilah kita sambut Direktur Operasional kita yang sangat kita banggakan, Ibu Alya Nusantara!"

Tepuk tangan riuh membahana di seluruh ballroom.

Alya melangkah naik ke atas panggung dengan keanggunan yang sempurna. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang membingkai siluet tubuhnya yang langsing, bugar, dan penuh aura kepemimpinan. Di bawah pendar sorot lampu panggung, Alya tampak begitu memukau dan berwibawa—sosok wanita kuat yang telah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang masa lalu.

Rendy menatap Alya dari kejauhan dengan mata penuh hasrat dan keserakahan. Lihatlah calon istriku... cantik, kaya, dan memegang kuasa, bisik Rendy dalam hatinya, merasa memegang kemenangan mutlak.

Alya berdiri di balik podium, memegang mikrofon seraya tersenyum manis menatap ratusan tamu di hadapannya.

"Selamat malam kepada seluruh tamu undangan, rekan bisnis, dan keluarga besar Nusantara Industri Utama," tutur Alya, suaranya yang jernih dan berbobot terdengar menggema ramah. "Terima kasih atas kehadiran Anda sekalian malam ini. Perjalanan perusahaan ini tidak lepas dari kerja keras dan kesetiaan kita semua."

Alya menghentikan kalimatnya sejenak, pandangan matanya bergulir perlahan menyapu ruangan hingga mengunci posisi Rendy, Bu Endang, dan Siska secara bergantian.

"Namun, malam ini," sambung Alya dengan nada suara yang perlahan berubah dingin dan tajam, "selain merayakan ulang tahun perusahaan, saya juga ingin menyelesaikan sebuah urusan pribadi dan profesional yang sangat penting di hadapan Anda sekalian sebagai saksi hukum dan moral."

Para tamu mulai berbisik-bisik bingung. Suasana ballroom yang tadinya riuh perlahan menghening, menyisakan ketegangan yang misterius.

Rendy mengernyitkan dahinya. Urusan pribadi? Alya mau mengumumkan rencana pernikahan kami malam ini?! pikir Rendy dengan dada berdebar antusias.

"Bisa saya minta Pak Rendy untuk naik ke atas panggung?" panggil Alya seraya mengulurkan tangannya ke arah Rendy.

Bu Endang menyenggol lengan anaknya antusias. "Rend! Kamu dipanggil! Itu pasti mau diumumkan lamarannya! Cepat naik!"

Dengan rasa bangga yang membumbung tinggi, Rendy merapikan jasnya, membusungkan dada, lalu melangkah percaya diri menaiki tangga panggung utama. Ia berdiri di samping Alya dengan senyum lebar yang dipamerkan ke seluruh penjuru ruangan.

"Terima kasih, Alya..." bisik Rendy pelan di dekat panggung, merasa dirinya adalah pria paling beruntung di dunia.

Namun Alya tidak membalas bisikan itu. Ia justru melangkah satu tapak mundur dari Rendy, menatap pria itu dengan binar mata dingin yang menusuk.

"Pak Rendy," ujar Alya keras melalui mikrofon, suaranya terdengar begitu jelas di seluruh sudut ballroom. "Beberapa hari lalu, Anda menandatangani draf persetujuan untuk aset rumah dan mobil senilai seratus lima puluh miliar rupiah yang Anda kira sebagai hadiah atas 'kembalinya' hubungan kita, bukan?"

Rendy tersentak kaget, senyum di wajahnya mendadak membeku. "Al... kenapa kamu bicara soal itu di depan umum?"

"Jawab saja, Pak Rendy," potong Alya tajam. "Apakah Anda merasa bahwa Anda berhak atas harta seratus lima puluh miliar tersebut?"

Rendy menelan ludah kasar, mulai merasa ada yang tidak beres dari intonasi suara Alya. "Ya... tentu saja, Al. Kan kamu sendiri yang membelikannya untuk masa depan kita..."

Alya terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Rendy berdiri.

"Sayangnya, Pak Rendy..." Alya memberi isyarat tangan ke arah layar proyektor raksasa di belakang panggung, "...surat yang Anda tandatangani bukanlah surat hibah atau balik nama. Itu adalah draf pengakuan utang, penyerahan aset jaminan atas kasus penggelapan dana proyek operasional perusahaan senilai delapan puluh miliar yang Anda lakukan selama dua tahun terakhir!"

BARRR!

Tepat saat Alya menyelesaikan kalimatnya, layar proyektor raksasa menyala terang. Menampilkan lusinan bukti transfer bank, audit forensik keuangan, rekaman percakapan rahasia, serta bukti tanda tangan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh Rendy!

Gumam kaget dan jeritan histeris seketika pecah dari ratusan tamu undangan!

"Apa-apaan ini?!" teriak Bu Endang dari bawah panggung dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. "Bohong! Ini pasti fitnah!"

Wajah Rendy seketika berubah merah padam lalu pucat pasi. Tubuhnya gemetaran hebat, kakinya serasa lemas tak bertulang saat melihat seluruh bukti kejahatan finansialnya terpampang nyata di layar raksasa.

"A-Alya... ini apa?! Kamu jebak aku?!" teriak Rendy histeris, mencoba merebut mikrofon dari tangan Alya.

Namun sebelum tangan Rendy berhasil menyentuh Alya, sebuah bayangan tegap melangkah cepat dari balik tirai panggung.

BRUK!

Sebuah cengkeraman tangan yang amat kuat memelintir lengan Rendy ke belakang dan mendorong tubuh pria itu hingga berlutut di atas panggung!

Kai Aditya berdiri tegap di samping Alya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan, menatap Rendy dengan binar mata pembunuh yang teramat dingin.

"Jangan pernah berani menyentuh wanita saya dengan tangan kotormu itu, Rendy," desis Kai penuh ancaman, suaranya terdengar menggelegar melalui mikrofon sekunder yang dipasangnya.

Tamu undangan makin heboh melihat Kai Aditya muncul!

"Pak Kai?! Bukankah mereka sudah putus?!" seru salah satu komisaris di barisan depan.

Kai merangkul pinggang Alya secara protektif di depan ratusan pasang mata, menatap seluruh ruangan dengan keanggunan mutlak seorang penguasa.

"Saya dan Alya tidak pernah putus satu detik pun," tegas Kai dengan suara mantap yang membungkam seluruh ballroom. "Semua perdebatan dan berita keretakan kami dalam beberapa hari terakhir hanyalah drama yang sengaja kami ciptakan untuk memancing semua tikus-tikus berniat busuk keluar dari sarangnya!"

Rendy mendongak dari posisinya yang berlutut, matanya membelalak lebar oleh rasa syok dan pencerahan yang menghantam dadanya bagaikan petir.

"Kalian... kalian cuma berpura-pura?!" bisik Rendy dengan suara gemetaran oleh rasa hancur yang tak tertahankan. "Alya... kamu berpura-pura baik padaku... rumah seratus lima puluh miliar itu..."

"Semua itu cuma pancingan untuk mengunci pengakuan kejahatanmu, Rendy," balas Alya dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan di matanya. "Kamu berpikiran begitu materialistis dan serakah sampai-sampai kamu dengan mudahnya menandatangani surat tanpa membaca klausul hukum di dalamnya."

Belum sempat Rendy mencerna kehancurannya, suara jeritan histeris lain memecah keheningan dari sudut bawah panggung!

"RENDY BAJINGAN!"

Siska berlari kencang menerobos barisan tamu, menaiki tangga panggung dengan gaun hitamnya yang berantakan dan rambutnya yang terurai kacau. Matanya merah membara oleh kemurkaan gila.

Siska membawa seberkas amplop cokelat tebal dan melemparkannya tepat ke muka Rendy yang sedang berlutut!

"Kalian semua harus tahu siapa pria brengsek ini!" jerit Siska histeris ke arah seluruh tamu undangan, air mata dendam mengalir deras di pipinya. "Rendy ini adalah penipu! Dia berpacaran dengan Alya hanya demi menguras uang perusahaannya, dan di saat yang sama dia berselingkuh denganku selama dua tahun!"

Tamu undangan makin riuh! Kamera-kamera wartawan yang hadir meliput acara langsung menyala dengan kilatan flash yang membabi buta ke arah panggung!

"Siska! Tutup mulutmu!" teriak Bu Endang yang berlari ke dekat panggung dengan napas terengah-engah. "Jangan sebar fitnah kamu perempuan murahan!"

"Fitnah?!" Siska tertawa histeris seraya menunjuk perutnya sendiri yang mulai sedikit membuncit. "Di dalam perutku ini ada anak Rendy! Pria brengsek ini menyuruhku menggugurkannya karena dia mau kembali mengejar harta Alya! Dia membuangku setelah dia tahu Alya memberinya rumah seratus lima puluh miliar!"

Siska berbalik menatap Alya dan Kai dengan tatapan penuh kehancuran.

"Alya... kamu lihat kan?!" seru Siska dengan napas memburu. "Pria yang kamu anggap tulus ini cuma sampah materialistis yang tidak punya harga diri! Dia membuangku demi hartamu!"

Alya menatap Siska dan Rendy yang kini saling caci-maki di atas panggung dengan raut wajah yang teramat tenang. Tidak ada rasa marah, tidak ada rasa sedih—hanya ada kepuasan dingin dari seorang dalang yang menyaksikan permainan caturnya berakhir sempurna.

"Saya sudah tahu semuanya sejak awal, Siska," ujar Alya tenang. "Kamu dan Rendy adalah dua manusia serakah yang saling memanfaatkan. Dulu kalian bekerja sama untuk menindasku dan merebut apa yang menjadi milikku. Sekarang... kalian hancur bersama karena keserakahan kalian sendiri."

"Alya... tolong, Al! Aku mohon!" Rendy merangkak di atas panggung, mencoba menggapai kaki Alya dengan wajah bersimbah air mata dan ketakutan yang luar biasa. "Aku mengaku salah! Aku dijebak oleh Siska! Siska yang menggodaku dulu! Tolong beri aku kesempatan kedua, Al! Aku janji bakal berubah!"

"Jangan dengarkan dia, Alya!" jerit Siska seraya menerjang Rendy, menjambak rambut Rendy secara kasar di atas panggung. "Kamu yang merencanakan semuanya, Rendy! Kamu yang menyuruhku memalsukan tanda tangan Alya!"

"Lepaskan aku, perempuan gila!" bentak Rendy seraya mendorong Siska hingga terjerembap di lantai panggung.

Kedua mantan kekasih yang dulu bersatu untuk menindas Alya kini saling cakar, saling pukul, dan saling membongkar kebusukan masing-masing di depan ratusan pejabat, pengusaha, dan kamera media yang terus merekam adegan memalukan tersebut.

Bu Endang yang menyaksikan kejatuhan total anaknya dan hancurnya nama baik keluarga mereka di depan publik mendadak memegangi dadanya yang sesak. Wajahnya pucat pasi, matanya mendelik, lalu tubuhnya roboh pingsan di lantai ballroom!

"Ibu!" jerit Rendy panik, namun ia tidak bisa bergerak karena pada saat yang sama, empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah naik ke atas panggung utama.

"Saudara Rendy dan Saudari Siska," ujar perwira polisi dengan suara tegas, menunjukkan surat perintah penangkapan. "Anda berdua kami tangkap atas tuduhan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen negara, penipuan berskala besar, dan tindakan pelecehan hukum. Harap ikut kami ke kantor polisi sekarang tanpa perlawanan."

Petugas polisi segera memiting kedua tangan Rendy ke belakang dan memasangkan borgol besi yang dingin di pergelangan tangannya. Siska yang terus menangis histeris juga langsung diamankan oleh dua petugas polisi wanita.

"Alya! Tolong aku, Alya!" jerit Rendy frustrasi saat tubuhnya diseret kasar keluar dari panggung. "Aku mencintaimu, Alya! Tolong cabut laporannya!"

Alya berdiri tegap di samping Kai, menatap Rendy yang diseret pergi dengan senyuman paling dingin yang pernah ada.

"Penjara adalah tempat terbaik untuk pria seperti kamu, Rendy," bisik Alya pelan namun penuh pembalasan mutlak.

Sorot kilatan lampu kamera dan jeritan histeris Siska serta tangisan penyesalan Rendy mengiringi kepergian dua musuhnya menuju kendaraan tahanan kepolisian. Harta palsu 150 miliar, impian kesombongan, dan seluruh tipu daya mereka kini berakhir dalam kemiskinan, kehancuran nama baik, dan kurungan penjara selama puluhan tahun.

Suasana ballroom perlahan kembali dapat dikendalikan setelah petugas keamanan merapikan area panggung dan membawa Bu Endang ke rumah sakit.

Alya melangkah menuju tepi panggung atap terbuka (rooftop) hotel yang sejuk. Angin malam menyapu lembut rambut hitam mewahnya. Pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta membentang indah di bawah sana.

Sebuah jas hitam hangat tiba-tiba dilingkarkan di atas bahu Alya.

Alya menoleh dan menemukan Kai berdiri di sampingnya. Pria itu menyunggingkan senyum hangat paling tulus, memandang Alya dengan mata yang dipenuhi kebanggaan dan cinta yang luar biasa dalam.

"Semuanya sudah berakhir, Ratu," bisik Kai lembut seraya merengkuh tubuh Alya ke dalam pelukannya yang hangat.

Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Kai, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan menentramkan. Seluruh beban dendam, sakit hati di masa lalu saat ia dihina sebagai perempuan gemuk yang tak berharga, dan rasa pengkhianatan... kini telah musnah sepenuhnya tanpa tersisa.

"Terima kasih, Kai," tutur Alya tulus, mendongak menatap mata tampan pria di hadapannya. "Terima kasih sudah berdiri di sampingku dan membantuku menuntaskan semuanya."

Kai menundukkan wajanya, mengusap lembut pipi Alya dengan ibu jarinya, lalu menyunggingkan senyum penuh kepastian.

"Tugas saya menjaga dan mencintaimu baru saja dimulai, Alya," ujar Kai rendah dan mesra. "Besok... tidak ada lagi pancingan catur, tidak ada lagi sandiwara. Yang ada cuma kita berdua dan masa depan yang sudah saya siapkan untuk kita."

Kai mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Alya secara lembut dan dalam di bawah pendar ribuan bintang malam kota Jakarta. Alya membalas kecupan itu dengan kehangatan cinta yang nyata—sebuah akhir sempurna dari pembalasan dendam yang elegan, dan awal dari kebahagiaan sejati yang pantas ia dapatkan.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!