Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan yang Belum Disadari
Pagi itu, Aira duduk di ruang tengah penthouse sambil memeriksa catatan produksi sanggar yang dikirimkan Bibi. Beberapa motif tenun membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama daripada perkiraan awal, terutama motif Giri Senja yang memiliki detail cukup rumit.
Aira mencatat beberapa hal yang perlu dibicarakan bersama Paman dan Bibi. Ia tidak ingin mengubah jadwal produksi sebelum mengetahui keadaan para pengrajin secara langsung.
Saat Devan keluar dari kamar dengan pakaian kerja, ia melihat Aira sedang sibuk dengan catatannya.
"Kamu sedang mengurus sanggar?" tanyanya.
Aira mengangkat wajah. "Iya, Mas. Ada beberapa motif yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan."
Devan melirik catatan di pangkuan Aira sebelum meraih tas kerjanya.
"Aku berangkat ke kantor."
"Baik, Mas. Hati-hati di jalan."
Devan mengangguk singkat, lalu meninggalkan penthouse. Aira kembali berkonsentrasi pada catatannya, memikirkan hal-hal yang perlu dibicarakan dengan keluarganya.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Setelah Arga meletakkan dokumen di meja, ia membuka catatan yang dibawanya.
"Tim keuangan sudah mengirimkan pembaruan laporan, Tuan. Namun, ada beberapa bagian yang masih perlu dicocokkan dengan data pendukung."
Devan menerima dokumen tersebut dan mulai membacanya.
"Koordinasikan dengan tim terkait. Pastikan semuanya sudah diperiksa sebelum laporan akhir disusun."
"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi mereka."
Arga hendak kembali ke tempatnya ketika Devan menutup dokumen yang sedang dibaca.
"Untuk agenda berikutnya, apakah ada hal lain yang perlu saya perhatikan?"
"Belum ada, Tuan. Saya akan mengabari Anda jika ada perkembangan dari masing-masing divisi."
Devan mengangguk. "Baik. Kamu bisa kembali bekerja."
Setelah Arga keluar, Devan kembali memeriksa laporan di mejanya. Entah mengapa, ia teringat pada kesungguhan Aira dalam mengurus sanggar. Perempuan itu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi masalah, sesuatu yang baru belakangan ini mulai ia perhatikan. Devan tidak memikirkannya lebih jauh dan kembali fokus pada pekerjaannya.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Setelah berbicara dengan Bibi, Aira menghubungi Rendra untuk menyampaikan perkembangan produksi. Ia menjelaskan bahwa beberapa motif membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama daripada perkiraan awal.
Rendra mendengarkan penjelasannya sebelum memberikan usulan.
"Bagaimana kalau pengirimannya dilakukan secara bertahap? Produk yang sudah selesai dan lolos pemeriksaan bisa dikirim lebih dulu, sementara sisanya menyusul sesuai jadwal yang kita sepakati."
Aira mempertimbangkan usulan tersebut. Cara itu memungkinkan para pengrajin menyelesaikan tenunan dengan lebih leluasa tanpa harus terburu-buru mengejar seluruh pesanan sekaligus.
"Saya rasa itu bisa dilakukan, Pak Rendra. Saya akan memastikan pembagian pekerjaan dan jadwalnya bersama Paman dan Bibi."
"Baik. Saya akan menyesuaikan penerimaan barang dengan jadwal pengiriman yang baru. Yang terpenting, kualitas setiap produk tetap terjaga."
Aira membuka kembali catatan produksinya untuk mencocokkan perkiraan waktu pengerjaan dengan jadwal pengiriman. Ia juga memastikan bahwa setiap tenunan akan diperiksa terlebih dahulu sebelum dikirim ke Galeri Nusantara.
"Untuk pemeriksaan akhir, saya akan berkoordinasi dengan Paman dan Bibi agar tidak ada produk yang terlewat," ujar Aira.
"Baik. Kalau ada perubahan jadwal, kabari aku lebih awal supaya pihak galeri bisa menyesuaikan penerimaan barang," jawab Rendra.
Aira menyetujui hal itu. Ia tidak ingin perubahan dalam produksi justru menimbulkan kesalahpahaman dengan pihak galeri. Setelah mencocokkan jadwal dan memastikan tidak ada kendala lain, mereka mengakhiri pembicaraan dengan kesepakatan yang jelas.
Setelah memastikan kembali beberapa hal terkait pengiriman, mereka sepakat menggunakan sistem pengiriman bertahap. Aira kemudian menghubungi Bibi untuk menyampaikan hasil pembicaraan tersebut dan memastikan keluarganya bisa menjalankan penyesuaian itu.
Dengan kesepakatan tersebut, pekerjaan sanggar dapat dilanjutkan tanpa harus memaksakan seluruh pesanan selesai pada waktu yang sama.
Aira merasa lega. Setidaknya, mereka telah menemukan jalan keluar yang memungkinkan pesanan tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas tenun yang selama ini mereka jaga.
...___🍀🍀🍀🍀____...
Beberapa hari setelah kesepakatan pengiriman bertahap dibuat, sanggar tenun di Bantul mulai menyelesaikan kelompok produk pertama untuk Galeri Nusantara.
Sejak pagi, Paman dan Bibi memeriksa hasil tenunan bersama para pengrajin. Mereka memastikan setiap produk sesuai dengan motif, ukuran, dan kualitas yang telah disepakati. Kain bermotif Giri Senja mendapat perhatian lebih karena perpaduan warna nila dan tembaga membutuhkan ketelitian agar hasilnya tetap konsisten.
Aira yang berada di Jakarta terus mengikuti perkembangan melalui pesan dari Bibi.
Kelompok pertama sudah selesai diperiksa. Sore ini barangnya akan dikirim, tulis Bibi.
Aira membaca pesan itu dengan lega. Ia segera menghubungi Paman untuk memastikan semua produk sudah dikemas dan siap dikirim.
Setelah mendapat kepastian bahwa persiapan berjalan lancar, Aira kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia berharap pengiriman pertama ini menjadi awal yang baik bagi sanggar.
Dua hari kemudian, Aira menerima pesan dari Rendra.
Selamat siang, Bu Aira. Barang dari sanggar sudah kami terima. Saya ingin menyampaikan hasil pemeriksaan awal.
Aira segera membalas.
Selamat siang, Pak Rendra. Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apakah ada yang perlu diperbaiki?
Tidak lama kemudian, Rendra menjawab.
Secara umum, kualitasnya sesuai dengan kesepakatan. Motif dan perpaduan warnanya juga konsisten. Ada beberapa catatan kecil terkait kerapian bagian akhir, tetapi masih bisa diperbaiki untuk produksi berikutnya.
Aira membaca pesan itu dengan saksama. Ia senang hasil kerja para pengrajin mendapat tanggapan baik, tetapi tetap mencatat masukan mengenai kerapian produk.
Terima kasih atas masukannya, Pak. Saya akan menyampaikan catatan tersebut kepada Paman dan Bibi agar bisa menjadi perhatian pada produksi berikutnya.
Rendra kemudian menyampaikan hal lain.
Produk yang sudah diterima mendapat tanggapan positif dari tim galeri. Kami sedang mempertimbangkan penambahan pesanan. Namun, saya ingin memastikan terlebih dahulu apakah sanggar mampu memenuhinya tanpa mengurangi kualitas.
Aira tidak langsung memberikan jawaban. Tambahan pesanan tentu menjadi peluang baik, tetapi ia perlu memastikan kemampuan sanggar sebelum menyetujuinya.
Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya perlu membicarakan hal ini dengan Paman dan Bibi terlebih dahulu. Kami ingin memastikan jumlah dan jadwal yang memungkinkan bagi sanggar.
Setelah percakapan berakhir, Aira menghubungi Bibi untuk membicarakan tawaran tersebut.
"Bi, Pak Rendra menyampaikan bahwa hasil pengiriman pertama mendapat tanggapan baik. Pihak galeri juga mempertimbangkan penambahan pesanan," jelas Aira.
"Syukurlah kalau hasilnya diterima dengan baik," jawab Bibi. "Tapi kita harus menghitung kemampuan para pengrajin dulu. Jangan sampai mereka terlalu terbebani."
"Iya, Bi. Saya juga tidak ingin menerima pesanan terlalu banyak kalau akhirnya kualitasnya menurun."
"Bicarakan dulu dengan Paman. Kita lihat berapa banyak yang bisa diselesaikan tanpa mengorbankan kualitas."
Aira mengiyakan. Setelah mengakhiri panggilan, ia membuka kembali catatan produksi dan mulai menyusun daftar kebutuhan untuk pesanan berikutnya. Ia perlu memperhitungkan jumlah pengrajin yang tersedia, waktu pengerjaan, serta persediaan bahan.
Kerja sama dengan Galeri Nusantara mulai menunjukkan hasil. Bagi Aira, kesempatan ini bukan sekadar peluang mendapatkan pesanan lebih banyak, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Sebelum memberikan jawaban kepada Rendra, Aira ingin memastikan bahwa sanggar mampu memenuhi pesanan tambahan tanpa mengorbankan kualitas tenunan mereka.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭