Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Sadam mengangkat wajah, "Anda—"
"Saya belum selesai." Adam memotongnya tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan.
"Saya datang ke sini dengan cara baik-baik. Saya duduk, berbicara, dan memberi Anda kesempatan untuk mendengarkan. Namun, Anda memilih untuk membela seseorang yang sudah menghancurkan hidup orang lain, bahkan sebelum mendengar seluruh kebenarannya." Adam melangkah mendekat satu langkah.
"Jadi, jangan salahkan saya jika kesabaran saya habis."
Gia memandang pria itu tanpa berkedip. Ia pernah melihat Adam marah. Ia pernah merasakan sendiri bagaimana mengerikannya kemarahan pria tersebut ketika dirinya menjadi sasaran. Tetapi, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Adam tidak sedang melampiaskan amarahnya kepada Gia. Ia sedang berdiri di hadapan Sadam, orang yang selama ini membuat Gia merasa tidak memiliki tempat untuk membela dirinya sendiri.
"Sekarang, dengarkan baik-baik," katanya, setiap katanya terdengar tegas dan penuh ancaman. "Saya tidak datang untuk meminta izin Anda menyelidiki kasus ini. Saya juga tidak membutuhkan persetujuan Anda untuk membawa Amerda mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Sadam masih duduk dengan wajah menahan sakit, tetapi sorot matanya menyala penuh kebencian.
"Anda tidak akan bisa menyentuh Amerda!" bentaknya.
Adam tertawa pendek. Tawa yang justru membuat suasana semakin mencekam.
"Kalau begitu, pastikan Anda bisa menjaganya."
Sadam masih duduk di sofa sambil mengusap lututnya yang terasa nyeri. Wajahnya memerah, bukan hanya karena rasa sakit, melainkan juga karena penghinaan yang baru saja diterimanya di hadapan istri, putrinya, dan para pelayan. Seumur hidupnya, Sadam Conti tidak pernah diperlakukan seperti itu di rumahnya sendiri.
Namun, yang membuatnya semakin geram adalah kenyataan bahwa pria yang berani mempermalukannya itu datang bersama Gia, putri yang selama ini dianggapnya telah menghancurkan kehormatan keluarga.
"Jadi, sekarang Anda datang ke rumah saya untuk mengancam keluarga saya?" Sadam akhirnya bersuara. "Apakah karena Anda punya kekuasaan dan uang, Anda merasa bisa melakukan apa saja?"
Adam merapikan ujung jasnya, lalu kembali duduk dengan tenang. Seolah-olah menendang meja hingga menghantam lutut seseorang tadi hanyalah tindakan sepele yang tidak layak dipikirkan lagi.
"Anda baru menyadarinya sekarang?" jawabnya datar.
Marco yang berdiri di dekat sofa mengembuskan napas pelan. Ia tahu Adam sedang sengaja memancing emosi Sadam, tetapi membiarkan kedua pria itu terus bertengkar bukanlah pilihan yang bijaksana. Terlebih, Gia masih berada di sana dalam kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih.
"Tuan Sadam," Marco menyela dengan nada profesional, "sebaiknya Anda mendengarkan penjelasan Tuan Adam sampai selesai. Kami datang membawa informasi mengenai kasus kecelakaan tersebut, bukan sekadar membuat keributan."
Sadam mendengus, "Informasi? Kalian menyebut tuduhan tanpa bukti sebagai informasi?"
"Kalau tidak ada bukti, menurut Anda untuk apa saya menghabiskan waktu menyelidiki kasus ini?" Adam menyahut. "Jangan menganggap semua orang sebodoh yang Anda kira."
"Tuan Adam!" Maudi akhirnya tidak tahan lagi. Ia berdiri dari sofa dan menatap pria itu dengan wajah pucat. "Saya tahu Anda orang berpengaruh, tetapi Anda tidak bisa datang ke rumah orang lain lalu memperlakukan suami saya seperti ini!"
Adam mengalihkan pandangannya kepada Maudi.
"Kalau begitu, ajari suami Anda untuk memperlakukan putrinya sendiri dengan benar."
Maudi terdiam, matanya bergerak ke arah Gia yang duduk dengan kepala tertunduk. Ada keinginan untuk mendekati putrinya itu, tetapi Sadam lebih dahulu mengeluarkan suara.
"Jangan membawa-bawa Gia ke dalam urusan ini!"
Adam perlahan mengangkat alis, "Lucu sekali, sejak tadi Anda terus membicarakan Gia. Anda menyebutnya pembawa malu, menuduhnya menghancurkan keluarga, bahkan mengatakan bahwa dia seharusnya mati." Tatapan Adam semakin tajam. "Sekarang, setelah saya meminta Anda mempertanggungjawabkan ucapan itu, Anda justru menyuruh saya tidak membawanya ke dalam urusan ini?"
Sadam mengepalkan tangan, "Itu urusan keluarga saya!"
"Dan Veronika?" Adam bertanya dingin. "Apakah kematiannya juga hanya urusan keluarga Anda?"
Pertanyaan itu membuat Sadam terdiam sesaat. Adam tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Veronika, calon istri saya. Anda pikir saya akan diam saja setelah mengetahui pelakunya?"
Adam berhenti sejenak, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Apakah Anda tahu apa yang lebih menjijikkan daripada kejahatan itu sendiri?"
Tidak ada yang menjawab.
"Ketika seseorang menggunakan kekuasaannya untuk memastikan pelaku tidak pernah menerima akibat dari perbuatannya. Anda mengancam saya dengan mengatakan putri Anda Amerda sekarang menantu calon perdana menteri, Anda pikir setelah kasus ini saya bongkar ke publik apa Tuan Sagara akan diam saja?" Mata Adam menyempit, Gia perlahan mengangkat wajah. Dia tahu Adam tidak sedang bercanda.
"Amerda tidak melakukan itu!" Sadam kembali berseru. "Saya mengenal anak saya. Dia tidak mungkin sengaja menghapus bukti atau mencelakai seseorang!"
Adam menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Kalau Anda begitu yakin, panggil dia ke sini."
Sadam terdiam.
"Panggil Amerda," ulang Adam. "Biarkan dia menjelaskan sendiri. Saya ingin mendengar jawabannya secara langsung."
"Amerda tidak ada di sini," jawab Sadam ketus.
"Kalau begitu, hubungi dia."
"Saya tidak harus mengikuti perintah Anda!" Sadam jelas menolaknya, hingga menyentuh batas kesabaran Adam.
"Baik,"
Satu kata itu keluar dari bibir Adam dengan begitu tenang, tetapi justru membuat suasana ruang keluarga kediaman Conti semakin mencekam. Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Ia merapikan jasnya sekilas sebelum melangkah mendekati Sadam yang masih berdiri dengan ponsel di tangan.
Sadam mengangkat dagu, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak gentar meskipun baru saja mendengar ancaman Adam.
Dalam satu gerakan cepat, tangannya mencengkeram kerah kemeja Sadam, menarik pria itu hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Ah!" Maudi menjerit karena terkejut.
Gia yang duduk di sofa langsung berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di punggungnya.
"Tuan Adam!"
Namun, pria itu sama sekali tidak memedulikan seruan mereka. Tatapannya tertuju lurus ke mata Sadam, begitu dingin hingga seolah tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
"Saya akan bertanya sekali lagi," ucap Adam perlahan. "Anda akan memanggil Amerda ke sini, atau Anda menerima akibatnya?"
Sadam mencengkeram pergelangan tangan Adam, berusaha melepaskan tangan yang meremas kerah kemejanya.
"Lepaskan saya!"
"Jawab pertanyaan saya."
"Saya tidak akan memanggilnya!" Jawaban itu membuat rahang Adam mengeras.
Maudi segera berlari menghampiri mereka, berusaha menarik lengan Adam.
"Tuan Adam, lepaskan suami saya! Tolong, jangan lakukan ini!"
Namun, sebelum Maudi sempat mendekat lebih jauh, Marco bergerak menghalanginya. Dua orang pengawal yang berjaga di luar juga masuk setelah mendengar keributan, berdiri di dekat pintu dan memastikan tidak ada seorang pun yang mendekati Adam.
"Biarkan Tuan Adam menyelesaikan urusannya, Nyonya," kata Marco tegas.
"Urusan apa? Dia sedang menyakiti suami saya!" Maudi berusaha melewati Marco, tetapi pria itu tidak bergeming.
Gia berdiri dengan wajah pucat. Ia menatap ayahnya yang dicengkeram Adam, lalu menoleh kepada para pengawal yang menghalangi jalan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia kesulitan mengatur napas. Ia tahu Adam sedang marah, ia tidak menyangka pria itu akan kembali menggunakan kekerasan di hadapan keluarganya.
"Tuan Adam, tolong lepaskan Ayah ku," pinta Gia dengan suara gemetar.
Adam bahkan tidak menoleh, "Diam, Gia."
Dua kata itu membuat gadis itu terdiam sesaat. Adam kembali memusatkan perhatiannya kepada Sadam.
"Saya tidak suka mengulang pertanyaan yang sama. Anda punya waktu untuk memilih, Tuan Sadam. Panggil Amerda sekarang, atau saya pastikan Anda menyesali keputusan Anda hari ini."
"Anda pikir saya takut kepada Anda? Hanya karena Anda meminta organisasi gelap itu? Kekuasaan Anda tidak akan mudah berlaku di Negara ini saat Perdana Mentri turun tangan,"
Adam menyipitkan mata, "Saya tidak peduli apakah Anda takut atau tidak."
"Kalau begitu, berhenti mengancam saya! Saya tidak akan memanggil Amerda ke sini!"
Keputusan itu bukan semata-mata karena Sadam keras kepala. Dalam benaknya, ia tahu bahwa selama Amerda berada di kediaman Sagara Dominic, putrinya masih memiliki perlindungan.
Keluarga Dominic bukan keluarga sembarangan. Sagara memiliki kekuasaan, jaringan bisnis, dan pengaruh yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlebih, menjelang acara amal besar yang akan diselenggarakan minggu depan, Adam tentu tidak ingin muncul persoalan yang dapat merusak nama baik organisasi Mafianya. Itu akan berpengaruh pada lawan Utara miliknya yang sedang bersaing dengan keluarga Dominic.
Sadam yakin Adam tidak akan bertindak ceroboh dengan menerobos kediaman Dominic dan menciptakan konflik terbuka ketika banyak perhatian tertuju pada keluarga tersebut dan dirinya.
Setidaknya, itulah yang ia yakini.
"Amerda tidak akan datang ke sini hanya karena Anda memerintahkannya!" lanjut Sadam. "Dia tinggal di rumah suaminya. Kalau Anda ingin menemuinya, silakan datang sendiri!"
Adam terdiam, sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jadi, Anda memilih cara ini."
'Aku bisa membunuhnya dijalan tetapi, jika ada seseorang yang tahu dia mati di tanganku. Persaingan ku dengan Sagara akan hancur, untuk mengambil kursi Perdana Mentri seperti Sagara aku juga harus bersikap layaknya sebagai orang yang peduli pada masyarakat,'
"Saya tidak memilih apa pun. Saya hanya tidak akan membiarkan Anda mengintimidasi keluarga saya!"
Pukulan Adam mendarat tepat di wajah Sadam. Kepala pria itu terayun ke samping. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah, sementara ponsel yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Tuan Adam!" jerit Maudi.
Gia membeku, dia melihat Sadam menyentuh sudut bibirnya yang mulai terluka, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi tidak percaya. Adam baru saja memukul ayah kandungnya di hadapan mereka semua. Namun, sebelum Sadam sempat mengucapkan sesuatu, Adam kembali melangkah mendekat.
"Kesempatan terakhir."
Sadam mengangkat wajah. Napasnya terdengar kasar, tetapi jawabannya tetap sama.
"Saya tidak akan memanggil Amerda."
Pukulan kedua kembali menghantam wajah Sadam. Maudi menjerit histeris dan berusaha menerobos penghalang Marco.
"Hentikan! Tolong, hentikan!"
"Nyonya Maudi, jangan mendekat!" Marco memperingatkan ketika perempuan itu mencoba melewatinya.
"Lepaskan saya! Itu suami saya!" Maudi meronta, tetapi Marco tetap menahannya.
Pukulan ketiga membuat Sadam terhuyung hingga punggungnya membentur sisi sofa. Ia berusaha menjaga keseimbangan, tetapi Adam tidak memberinya kesempatan untuk memulihkan diri.
"Telepon Amerda!" bentak Adam.
"Tidak!" Jawaban Sadam kembali memantik amarahnya.
Adam mengayunkan kaki, menendang tubuh Sadam hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai.
"Ah!"
Gia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sadam berusaha bangkit dengan bertumpu pada satu tangan.
Adam sudah berdiri di hadapannya, "Panggil dia!"
"Saya bilang tidak!"
Adam mengangkat tangan lagi.
"Aku mohon, Tuan Adam, berhenti!" Maudi menangis sambil berusaha melepaskan diri dari Marco. "Jangan pukul dia lagi!"
Adam tidak mendengarkan. Pukulan berikutnya hampir saja mendarat ketika sebuah suara melengking memecah ruangan.
"Jangan!" teriakan Gia membuat Adam terdiam.
ap Dy punya rencana sendri???