NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN ADRIAN VALERIUS

Ruang kerja Adrian Valerius terasa lebih dingin daripada biasanya.

Lima pria berdiri di hadapan meja besar yang terbuat dari kayu hitam. Tidak ada yang berbicara. Bahkan Riven, yang biasanya paling sulit menahan mulutnya, memilih diam sambil menatap foto bayi yang tergeletak di atas meja.

Foto itu memperlihatkan seorang bayi dengan gelang hitam di pergelangan tangan.

Bayi yang sama dengan yang selama ini mereka kenal sebagai Aren.

Raka berdiri paling depan. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari wajah ayahnya.

"Jadi, selama ini Ayah mengetahui siapa Aren sebenarnya?"

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia berjalan menuju lemari di sudut ruangan, membuka laci yang terkunci, lalu mengeluarkan sebuah kotak besi kecil.

Kotak itu tampak tua. Permukaannya dipenuhi goresan, sedangkan kuncinya sudah berubah warna karena usia.

Adrian meletakkannya di atas meja.

"Ayah mengetahui sebagian kisahnya," jawabnya akhirnya. "Namun, ada bagian yang bahkan sampai sekarang belum berhasil Ayah pastikan."

Darren menyilangkan tangan.

"Kalau Ayah mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan Aren, kenapa Ayah tidak memberi tahu kami sejak awal?"

"Karena Ayah tidak ingin kalian menganggap Aren sebagai ancaman sebelum mengenalnya."

Jawaban itu membuat Darren terdiam.

Adrian memandang kelima putranya satu per satu.

"Kalian harus memahami satu hal. Aren tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Ketika dia ditemukan tujuh belas tahun lalu, tidak ada seorang pun yang datang menjemputnya. Dia tumbuh tanpa mengetahui alasan dirinya ditinggalkan."

Leon menundukkan kepala.

Sebagai seorang dokter, ia terbiasa menghadapi banyak kisah menyedihkan. Namun, membayangkan adiknya tumbuh tanpa keluarga membuat dadanya terasa sesak.

"Siapa orang tua kandungnya?" tanya Leon pelan.

Adrian membuka kotak besi tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah foto lama, dan sebuah amplop berwarna cokelat.

Adrian mengambil foto itu.

"Nama ayah kandung Aren adalah Armand Ravencroft."

Kian langsung mengangkat wajah.

Darren mengerutkan kening.

Riven yang sejak tadi bersandar di dinding mendadak berdiri tegak.

Raka tidak menunjukkan reaksi berlebihan, tetapi rahangnya mengeras.

Nama Ravencroft bukan nama asing bagi mereka.

Tujuh belas tahun lalu, keluarga Ravencroft merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia bawah tanah. Mereka menguasai jaringan perdagangan ilegal, memiliki banyak perusahaan besar, dan mempunyai hubungan dengan sejumlah kelompok kriminal internasional.

Namun, hubungan mereka dengan keluarga Valerius berakhir dalam konflik yang hampir menghancurkan kedua belah pihak.

Armand Ravencroft dikenal sebagai seorang pria cerdas, kejam terhadap musuh, tetapi sangat setia kepada keluarganya.

Ia dan Adrian pernah menjadi sekutu.

Sampai sebuah pengkhianatan mengubah semuanya.

"Armand Ravencroft?" ulang Riven. "Pria yang menghilang setelah perang wilayah tujuh belas tahun lalu?"

Adrian mengangguk.

"Benar."

Riven tertawa pendek tanpa humor.

"Jadi, adik kita adalah anak musuh terbesar keluarga kita?"

"Jangan menyebut Aren seperti itu," potong Leon.

Riven menoleh.

"Aku tidak menyalahkan Aren. Aku hanya ingin tahu kenapa semua orang begitu tertarik kepadanya."

"Karena nama Ravencroft tidak pernah benar-benar menghilang," jawab Adrian. "Ada orang-orang yang masih setia kepada keluarga itu. Mereka mungkin percaya bahwa Aren adalah pewaris yang berhak mengambil alih sesuatu yang dahulu dimiliki ayahnya."

Darren segera bertanya, "Apakah mereka menginginkan Aren untuk mengambil alih jaringan keluarga Ravencroft?"

"Kemungkinan itu ada."

Kian membuka laptopnya.

"Kalau begitu, pesan-pesan anonim yang kami terima mungkin berasal dari orang yang mengetahui identitas Aren."

Adrian mengangguk pelan.

"Tetapi jangan langsung menyimpulkan bahwa semua orang yang mencari Aren ingin menyakitinya. Sebagian mungkin hanya ingin menemukan pewaris mereka."

Raka menatap ayahnya tajam.

"Dan jika mereka mencoba membawanya pergi?"

Adrian menjawab tanpa ragu.

"Aren tetap tinggal di rumah ini selama dia menginginkannya."

Raka mengangguk.

Jawaban itu sudah cukup baginya.

Namun, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

"Kenapa Ayah mengadopsinya?"

Adrian terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ia terlihat kesulitan menemukan kata-kata.

Ia menatap foto bayi di tangannya.

"Karena Ayah berjanji kepada seseorang."

"Siapa?" tanya Darren.

"Ibu kandung Aren."

Ruangan menjadi sunyi.

Adrian menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Tujuh belas tahun lalu, seorang wanita bernama Elena Ravencroft datang menemui Ayah. Dia membawa seorang bayi dan meminta Ayah melindunginya jika sesuatu terjadi kepadanya."

Leon menatap foto itu.

"Jadi, Aren tidak sengaja ditemukan di rumah sakit?"

"Benar. Elena meninggalkannya di tempat yang aman, sesuai dengan rencana yang sudah kami bicarakan. Namun, sebelum Ayah bisa menjemputnya sendiri, terjadi sesuatu. Ketika Ayah sampai di sana, Elena sudah menghilang."

Raka mengepalkan tangannya.

"Dan selama tujuh belas tahun, Ayah tidak pernah menemukannya?"

"Ayah mencarinya."

Adrian memandang putra sulungnya.

"Tetapi semua jejak Elena menghilang. Tidak ada surat, tidak ada catatan perjalanan, dan tidak ada bukti bahwa dia masih hidup."

Leon menunduk.

"Apakah dia meninggal?"

"Ayah tidak tahu."

Jawaban itu membuat suasana semakin berat.

Riven berjalan mendekati meja.

"Lalu kenapa Aren baru diadopsi sekarang? Kalau Ayah sudah mengetahui keberadaannya, seharusnya kita membawanya ke rumah sejak lama."

Adrian menghela napas.

"Karena Ayah tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang mungkin sedang mencarinya. Selama Aren berada di tempat yang tidak diketahui keluarga Ravencroft, dia memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih aman."

"Namun, sekarang mereka sudah menemukannya," ujar Kian.

"Ya."

Raka memandang foto itu sekali lagi.

Ia teringat wajah Aren ketika bertanya apakah dirinya benar-benar boleh tinggal di mansion Valerius.

Adiknya itu tidak pernah meminta kekayaan.

Tidak pernah meminta pengawal.

Tidak pernah meminta perlindungan dari keluarga mafia.

Dia hanya ingin mempunyai rumah dan keluarga.

Raka mengangkat wajah.

"Ayah, mulai sekarang, Aren adalah tanggung jawab kami."

Adrian menatapnya.

"Raka..."

"Aku tidak peduli siapa orang tua kandungnya. Aren tinggal bersama kita. Dia makan di meja yang sama dengan kita. Dia memanggil kita kakak. Bagiku, itu sudah cukup."

Darren mengangguk.

"Aku setuju."

Leon menyusul, "Aku juga."

Kian menutup laptopnya.

"Identitasnya tidak mengubah apa pun."

Riven menyilangkan tangan.

"Kalau keluarga Ravencroft ingin bertemu Aren, mereka harus datang melalui pintu depan dan berbicara dengan kita. Tidak ada yang boleh menculik adikku."

Adrian menatap kelima putranya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di wajahnya sedikit berkurang.

"Kalau begitu, kalian harus memahami risikonya. Melindungi Aren mungkin membuat keluarga kita menghadapi musuh yang sudah lama menghilang."

Raka menjawab tegas.

"Biarkan mereka datang."

---

Di lantai dua mansion, Aren duduk di tepi tempat tidur.

Ia belum berganti pakaian sejak pulang sekolah. Tasnya masih tergeletak di lantai, sedangkan buku-buku pelajaran berserakan di atas meja.

Biasanya, Aren akan segera merapikan semuanya.

Namun, malam ini pikirannya terlalu penuh.

Ia masih mengingat kalimat yang didengarnya dari balik pintu ruang kerja.

Aren bukan anak yang seharusnya kita adopsi.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Apakah keluarga Valerius menyesal telah menerimanya?

Apakah mereka mengadopsinya karena suatu alasan tersembunyi?

Atau apakah kehadirannya hanya akan membawa masalah bagi kelima kakaknya?

Aren menunduk, memandangi gelang hitam di pergelangan tangannya.

"Aku sebenarnya siapa?"

Pintu kamarnya diketuk.

Tok. Tok.

Aren segera mengusap matanya.

"Masuk."

Pintu terbuka dan Riven muncul sambil membawa dua gelas susu serta sepiring makanan ringan.

Aren berkedip.

"Kak Riven?"

Riven mengangkat piringnya.

"Aku membawa makanan."

Aren menatap jam dinding.

"Ini sudah malam."

"Dan kau belum makan camilan malam."

Aren hampir tertawa.

"Kak Leon menyuruhmu?"

Riven terlihat tersinggung.

"Kenapa semua orang mengira aku tidak bisa memikirkan adikku sendiri?"

Aren menatapnya beberapa detik.

Riven akhirnya menghela napas.

"Baiklah. Leon memang menyuruhku."

Aren tertawa kecil.

Riven meletakkan makanan di meja, lalu duduk di sofa.

"Kemari."

Aren menurut dan duduk di sampingnya.

Riven menyodorkan segelas susu.

"Minum."

Aren menerimanya.

Mereka terdiam beberapa saat.

Riven memperhatikan adiknya yang terus menatap gelas.

"Kau sedang memikirkan sesuatu?"

Aren mengangguk pelan.

"Boleh aku bertanya?"

"Tentu."

Aren menggigit bibirnya.

"Kalau seseorang memiliki masa lalu yang buruk, apakah itu berarti dia juga orang yang buruk?"

Riven langsung menoleh.

"Siapa yang mengatakan itu kepadamu?"

"Tidak ada."

"Aren."

Aren menunduk.

"Aku hanya bertanya."

Riven meletakkan gelasnya di meja.

Kemudian ia menggeser duduknya agar menghadap Aren.

"Dengar. Kau tidak bertanggung jawab atas semua hal yang dilakukan orang tuamu. Kau juga tidak harus menanggung kesalahan orang-orang sebelum dirimu."

Aren mengangkat wajah perlahan.

"Tapi bagaimana kalau masa laluku membuat keluarga ini dalam bahaya?"

Riven terdiam sejenak.

Ia tidak tahu seberapa banyak yang telah didengar Aren. Namun, ia memahami bahwa adiknya sedang merasa takut.

Riven mengangkat tangan dan mengacak rambut Aren.

"Kalau ada masalah, kita hadapi bersama."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi."

Riven tersenyum.

"Kau tahu kenapa aku punya empat kakak yang menyebalkan?"

Aren menggeleng.

"Karena hidupku terlalu tenang kalau tidak ada mereka."

Aren tertawa.

Riven melanjutkan dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Dan sekarang aku punya satu adik lagi yang suka berpikir berlebihan. Jadi, hidupku akan semakin sibuk."

Aren menunduk sambil tersenyum.

"Maaf, Kak."

Riven langsung menggeleng.

"Jangan minta maaf karena menjadi adik kami."

Kalimat itu membuat mata Aren terasa panas.

Riven menariknya ke dalam pelukan.

Pelukan itu tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk membuat Aren merasa sedikit lebih tenang.

"Kau boleh punya pertanyaan tentang masa lalumu," bisik Riven. "Kau boleh marah, sedih, atau takut. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau harus menghadapi semuanya sendirian."

Aren mengangguk dalam pelukannya.

"Terima kasih, Kak."

Riven menepuk punggungnya.

"Sudah. Jangan menangis. Kalau Kak Leon melihatmu menangis, dia akan memeriksa suhu tubuhmu selama satu jam."

Aren tertawa sambil mengusap matanya.

"Dia memang seperti itu."

"Benar. Dia bahkan pernah memeriksa suhu tubuhku hanya karena aku bersin sekali."

Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Leon yang kebetulan lewat mendengar namanya disebut.

"Aku mendengar semuanya!"

Riven langsung menoleh.

"Kenapa kau menguping?"

"Aku tidak menguping. Aku sedang mencari Aren."

Leon masuk ke kamar, membawa sebuah kotak kecil.

Ia duduk di kursi di depan mereka.

"Aku membawa sesuatu untukmu, Aren."

Aren mengerutkan kening.

"Apa?"

Leon membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat gelang kain sederhana berwarna hitam dengan tulisan kecil berwarna perak.

VALERIUS.

Aren menatapnya lama.

Leon tersenyum.

"Ini bukan pengganti gelang lamamu. Aku hanya ingin memberimu sesuatu yang bisa kau pakai kalau suatu saat gelang itu perlu diperiksa."

Aren menyentuh gelang kain tersebut.

"Terima kasih, Kak Leon."

Leon mengangguk.

"Kau tidak perlu berterima kasih untuk setiap hal kecil."

"Tapi aku senang."

Leon terdiam sejenak.

Kemudian ia tersenyum lebih lembut.

"Kalau begitu, aku akan membuatkan lebih banyak hal yang membuatmu senang."

Riven mendengus.

"Jangan terlalu memanjakannya."

Leon menatapnya.

"Kau baru saja memeluknya selama sepuluh menit."

"Itu berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Karena aku kakak yang keren."

Aren tertawa lagi.

Dan malam itu, untuk beberapa saat, kegelisahan di hatinya mulai mereda.

---

Keesokan paginya, keluarga Valerius berkumpul untuk sarapan.

Aren turun lebih awal daripada biasanya.

Ia mengenakan seragam sekolah dan membawa tas di bahu.

Raka sedang membaca laporan ketika melihatnya.

"Kau bangun pagi."

Aren mengangguk.

"Aku tidak ingin terlambat."

Darren menarik kursi untuknya.

"Duduklah."

Aren duduk di antara Darren dan Leon.

Riven segera mengambil sepotong roti dari piringnya.

Aren langsung menoleh.

"Itu punyaku!"

Riven berhenti mengunyah.

"Memangnya ada namamu di atasnya?"

Aren menunjuk piring tersebut.

"Ada."

Riven melihat piring itu.

Kemudian ia melihat Aren.

Lalu ia tertawa.

"Baiklah. Aku akan menggantinya."

Raka menggelengkan kepala.

"Riven, berhentilah mengganggu adikmu."

"Aku hanya mengajarinya cara mempertahankan hak milik."

Kian yang sejak tadi diam tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja.

"Ada kabar baru."

Semua orang langsung memperhatikannya.

Kian memutar layar ponsel agar mereka bisa melihat.

Sebuah berita lokal muncul.

MANTAN PEJABAT PERUSAHAAN RAVENCROFT TERLIHAT KEMBALI DI KOTA ARVANTIS.

Darren membaca judulnya dengan serius.

"Siapa orang ini?"

Kian menunjukkan foto seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

"Namanya Viktor Soren. Dia pernah menjadi penasihat pribadi Armand Ravencroft."

Adrian, yang baru saja memasuki ruang makan, langsung berhenti.

"Viktor sudah kembali?"

Kian mengangguk.

"Dia terlihat di dekat kawasan industri kemarin malam."

Adrian menarik kursi dan duduk.

Wajahnya tampak jauh lebih serius daripada sebelumnya.

"Kalau Viktor kembali, berarti seseorang sedang mengumpulkan orang-orang lama keluarga Ravencroft."

Raka meletakkan laporan yang dibacanya.

"Apakah dia berbahaya?"

"Dia bukan petarung, tetapi dia sangat cerdas. Dia mengetahui banyak rahasia tentang kedua keluarga."

Darren menatap foto itu.

"Apakah dia mengetahui keberadaan Aren?"

Adrian tidak menjawab.

Namun, diamnya sudah cukup membuat mereka memahami bahwa kemungkinan tersebut sangat besar.

Aren yang sejak tadi mendengarkan akhirnya bertanya.

"Siapa keluarga Ravencroft?"

Semua orang terdiam.

Raka menatap Adrian.

Adrian memandang Aren cukup lama sebelum menjawab.

"Mereka adalah keluarga yang pernah mengenal ayah dan ibu kandungmu."

Aren berhenti memegang sendok.

"Ayah kandungku?"

Adrian mengangguk perlahan.

Aren menatap wajah-wajah di sekeliling meja.

Tidak ada yang terlihat ingin menghindari pertanyaannya.

Namun, ia masih merasa takut mendengar jawabannya.

"Apakah mereka orang jahat?"

Adrian menghela napas.

"Setiap keluarga memiliki sejarahnya sendiri, Aren. Ada hal-hal baik dan buruk yang dilakukan orang-orang di dalamnya. Ayah tidak ingin kau menilai dirimu berdasarkan kesalahan orang lain."

Aren menunduk.

"Apakah mereka akan datang mencariku?"

Adrian tidak berbohong.

"Kemungkinan itu ada."

Aren menggenggam sendoknya lebih erat.

Namun, sebelum kecemasannya bertambah, Raka berbicara.

"Kalau mereka datang, kami akan menemui mereka bersama-sama."

Darren mengangguk.

"Kau tidak perlu menerima siapa pun yang datang hanya karena mereka mengaku mengenal orang tua kandungmu."

Leon menambahkan, "Kau berhak menentukan sendiri siapa yang boleh masuk ke dalam hidupmu."

Kian menatap Aren.

"Dan aku akan mencari tahu siapa yang mengirim pesan-pesan itu."

Riven menyandarkan siku di meja.

"Sedangkan tugasku memastikan tidak ada orang yang mengganggumu di sekolah."

Aren memandangi kelima kakaknya.

Mereka tidak mengatakan bahwa semua masalah akan hilang.

Mereka tidak berjanji bahwa hidupnya akan selalu aman.

Namun, mereka menawarkan sesuatu yang jauh lebih berarti.

Mereka akan tetap berada di sisinya.

Aren tersenyum kecil.

"Baiklah."

Ia mengambil sepotong roti dan mulai makan.

Namun, ketika ia hendak meneguk susu, ponsel Adrian berdering.

Adrian mengangkat panggilan tersebut.

"Halo?"

Tidak ada yang mendengar suara dari seberang telepon.

Tetapi wajah Adrian berubah.

"Apa maksudmu dia sudah datang?"

Semua orang langsung menoleh.

Adrian berdiri.

"Di mana dia sekarang?"

Ia mendengarkan beberapa detik sebelum menjawab.

"Jangan biarkan siapa pun mengganggunya. Aku akan segera datang."

Panggilan berakhir.

Raka berdiri.

"Ada apa, Ayah?"

Adrian menatap kelima putranya.

Kemudian pandangannya beralih kepada Aren.

"Viktor Soren berada di depan gerbang mansion."

Aren membeku.

Adrian melanjutkan.

"Dia mengatakan ingin bertemu dengan anak Armand Ravencroft."

Riven langsung berdiri dari kursinya.

"Dia datang ke rumah kita?"

Darren mengerutkan kening.

"Bagaimana dia bisa mengetahui alamat mansion?"

Kian sudah membuka laptopnya.

"Aku akan memeriksa rekaman gerbang."

Raka berjalan menuju pintu.

"Jangan biarkan dia masuk sebelum kita mengetahui tujuannya."

Namun, Adrian mengangkat tangan.

"Tidak. Kita akan menemuinya."

Raka menatap ayahnya.

"Ayah yakin?"

Adrian mengangguk.

"Jika Viktor datang setelah tujuh belas tahun, berarti dia membawa sesuatu yang penting."

Kemudian Adrian memandang Aren.

"Aren, kau boleh tetap di sini bersama Leon."

Aren langsung menggeleng.

"Aku ingin ikut."

"Aren," kata Leon lembut, "kau tidak harus melakukan ini sekarang."

"Aku tahu."

Aren menarik napas panjang.

"Tapi kalau semua orang membicarakan masa laluku, aku ingin mendengarnya sendiri."

Kelima kakaknya saling memandang.

Raka akhirnya mengangguk.

"Baik. Kau boleh ikut, tetapi tetap di samping kami."

Aren berdiri.

Mereka berjalan bersama menuju aula utama mansion.

Di balik pintu besar, Viktor Soren sedang menunggu.

Pria itu mengenakan setelan abu-abu dan membawa tongkat hitam. Rambutnya telah memutih di beberapa bagian, tetapi tatapannya masih tajam.

Ketika pintu dibuka, ia melihat Adrian terlebih dahulu.

Kemudian pandangannya bergerak melewati Raka, Darren, Leon, Kian, dan Riven.

Sampai akhirnya berhenti pada Aren.

Wajah Viktor berubah.

Ia menatap gelang hitam di pergelangan tangan pemuda itu.

Untuk beberapa detik, pria tersebut tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian ia menundukkan kepala sedikit.

"Jadi, kau masih hidup."

Aren merasakan jantungnya berdegup kencang.

Raka langsung melangkah setengah langkah ke depan, melindungi adiknya dari tatapan pria asing itu.

"Jaga ucapanmu."

Viktor tidak membantah.

Ia justru mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku dalam jasnya.

"Aku datang bukan untuk membawa anak itu pergi."

Adrian menyipitkan mata.

"Lalu untuk apa?"

Viktor memandang Aren sekali lagi.

"Aku datang untuk memberitahukan kebenaran yang seharusnya sudah dia ketahui sejak lama."

Ia menyerahkan amplop itu kepada Adrian.

Di bagian depan amplop terdapat tulisan tangan yang sudah memudar.

UNTUK ANAKKU, AREN.

Aren menahan napas.

Itu pertama kalinya ia melihat sesuatu yang mungkin benar-benar berasal dari orang tua kandungnya.

Tangannya gemetar ketika menerima amplop tersebut.

Ia memandang Adrian.

"Apakah aku boleh membukanya?"

Adrian mengangguk.

Aren membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto kecil.

Foto seorang wanita berambut panjang yang sedang menggendong bayi.

Wanita itu tersenyum lembut ke arah kamera.

Di belakang foto terdapat tulisan.

Untuk Aren, putraku tersayang. Jika suatu hari kau membaca surat ini, ketahuilah bahwa Ibu tidak pernah meninggalkanmu karena tidak mencintaimu.

Aren membeku.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia membaca kalimat berikutnya dengan suara hampir tidak terdengar.

Ibu meninggalkanmu di tempat yang aman karena ada orang-orang yang ingin menggunakan keberadaanmu untuk menghancurkan dua keluarga. Jangan percaya begitu saja kepada siapa pun yang mengatakan bahwa mereka mengetahui seluruh kebenaran.

Surat itu berakhir dengan satu kalimat.

Carilah kebenaran tentang malam ketika keluarga Ravencroft runtuh. Di sanalah kau akan menemukan jawaban mengapa gelang serigala itu diberikan kepadamu.

Aren menurunkan surat tersebut.

Ia tidak tahu harus merasa bahagia karena akhirnya memiliki pesan dari ibunya, atau sedih karena tidak bisa bertemu dengannya.

Riven segera berdiri di samping Aren.

Darren mengambil foto itu dengan hati-hati, lalu mengembalikannya kepada adiknya.

Leon menyentuh bahu Aren.

Kian membaca tulisan di bagian belakang amplop.

Sementara Raka menatap Viktor dengan sorot mata dingin.

"Apa yang sebenarnya terjadi tujuh belas tahun lalu?"

Viktor menghela napas.

"Perang antara Valerius dan Ravencroft bukan dimulai oleh Armand maupun Adrian."

Adrian menatapnya tajam.

"Jelaskan."

Viktor memandang seluruh anggota keluarga yang berkumpul di aula.

"Pengkhianatan itu berasal dari seseorang yang dipercaya oleh kedua keluarga."

"Siapa?" tanya Darren.

Viktor tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan satu foto lagi.

Foto seorang pria yang berdiri di samping Armand Ravencroft.

Ketika Raka melihat wajah pria tersebut, seluruh tubuhnya menegang.

Adrian bahkan sampai melangkah mundur.

Karena pria dalam foto itu bukan orang asing.

Dia adalah seseorang yang masih memiliki hubungan dengan keluarga Valerius.

Seseorang yang selama ini mereka percaya.

Viktor akhirnya menyebutkan namanya.

"Orang yang menghancurkan kedua keluarga adalah..."

Namun sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan terdengar dari luar mansion.

Seluruh jendela bergetar.

Para pengawal segera berlari menuju aula.

Raka menarik Aren ke belakang tubuhnya.

Riven bergerak ke sisi lain, sementara Darren membawa Adrian menjauh dari jendela.

Kian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi petugas keamanan.

Leon memegang bahu Aren.

"Jangan bergerak dulu."

Aren menggenggam surat ibunya erat-erat.

Di tengah kekacauan itu, Viktor memandang pintu utama dengan wajah pucat.

"Mereka menemukanku lebih cepat daripada yang kuduga."

Raka menatapnya tajam.

"Siapa yang datang?"

Viktor menoleh kepada Aren.

"Orang yang tidak ingin kau mengetahui kebenaran, Nak."

Kemudian lampu mansion padam.

Aula utama tenggelam dalam kegelapan.

Dan di tengah suara langkah kaki para pengawal, Aren mendengar seseorang berbisik dari balik pintu.

"Serahkan pewaris Ravencroft."

Malam itu, keluarga Valerius akhirnya memahami bahwa masa lalu tidak lagi sekadar mengirimkan ancaman.

Masa lalu telah datang ke depan pintu mereka.

Dan kali ini, Aren bukan hanya harus mengetahui siapa dirinya.

Ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa ada orang-orang yang rela melakukan apa saja untuk memastikan rahasia keluarganya tetap terkubur.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!