Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Canggung
Setelah kejadian pelukan maut jam 05.30 pagi tadi, suasana di penthouse lantai 42 itu resmi berubah status menjadi ZONA CANGGUNG DARURAT.
Di kamar utama, Safa masih menutup wajahnya dengan bantal doraemon, tidak berani menatap Arga. Arga berdiri kaku di dekat jendela dengan wajah merah padam, pura-pura menatap pemandangan Jakarta yang macet padahal tidak fokus sama sekali. Nenek Ratna duduk di tepi ranjang dengan nampan sup ayam di pangkuannya, senyumnya lebarnya sudah seperti orang menang lotre 10 miliar.
"Ya sudah, ya sudah, Nenek tidak mau mengganggu kalian berdua yang habis... olahraga pagi," kata Nenek dengan penekanan kata olahraga pagi yang bikin Safa makin ingin menghilang ke dalam bantal. "Nenek taruh supnya di meja makan ya. Kalian mandi dulu, ganti baju, terus sarapan. Nenek tunggu di luar."
Nenek keluar dengan langkah pelan tapi senyum kemenangannya tidak hilang. Pintu kamar ditutup pelan. _Klek._
Begitu pintu tertutup, hening lagi.
Safa pelan-pelan menurunkan bantalnya. Matanya mengintip Arga dari sela-sela jari. Arga masih berdiri membelakangi Safa, bahunya naik turun menahan napas.
"Mas..." Safa memanggil dengan suara hampir tidak terdengar.
"Hmm?" Arga menjawab tanpa menoleh, suaranya serak.
"Tadi... tadi itu... bukan salahku ya Mas... aku beneran nggak sengaja guling-guling,aku kan tidur mas ngga inget ngga sadar dengan apa yang terjadi." ungkap Safa.
Arga akhirnya menoleh. Wajahnya masih merah, tapi tatapannya sudah tidak marah, hanya... bingung dan sedikit salah tingkah. "Saya tahu. Saya juga... nggak sengaja."
Safa menunduk, memainkan ujung selimut. "Mas marah ya sama aku?"
Arga berjalan mendekat, lalu duduk di ujung ranjang, menjaga jarak aman satu meter. "Enggak. Ngapain saya marah?"
"Soalnya Mas tadi langsung melepasnya kayak kesetrum... kayak jijik..."
Kalimat polos Safa itu membuat jantung Arga mencelus. Jijik? Padahal tadi sepersekian detik dia malah merasa nyaman sekali.
Arga menghela napas. Dia mengulurkan tangan ragu-ragu, lalu dengan gerakan super hati-hati menepuk kepala Safa yang sudah mengenakan hijab tidurnya.
"Enggak jijik. Saya cuma kaget. Kagetnya kayak lihat laporan keuangan yang tiba-tiba minus," elak Arga mencoba bercanda.
Safa mendongak, matanya masih berkaca-kaca dan malu. "Beneran nggak jijik?"
"Beneran," jawab Arga tegas. "Kalau jijik nggak mungkin saya betah peluk kamu semalaman."
Safa langsung membeku. "Hah? Jadi Mas sadar semalam meluk aku?"
Arga langsung salah tingkah lagi. "Eh! Maksud saya... maksud saya... sudahlah! Sana mandi! Bau!"
Safa yang tadinya mau nangis, malah ngakak kecil melihat Arga yang panik. "Mas Arga kalau malu lucu ya." goda Safa.
"Siapa yang malu? Saya Arga Mahendra, tidak pernah malu!" Arga berdiri dengan gengsi, lalu berjalan cepat ke kamar mandi utama. "Saya mandi duluan! Kamu tunggu di luar!"
"Eh itu kamar juga kamar mandiku sekarang mas! Kan kita sekamar!" protes Safa.
"Ya sudah gantian! Pokoknya saya dulu!"
Pintu kamar mandi dibanting. Terdengar suara shower menyala kencang. Safa duduk di ranjang sambil memeluk guling, senyum-senyum sendiri. Untuk pertama kalinya, dia melihat sisi lain Mas Arga yang dingin itu. Ternyata kalau malu, Mas Arga jauh lebih lucu daripada kalau marah.
45 menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di meja makan.
Meja makan marmer yang biasanya hanya dipakai Arga untuk makan sendirian sambil baca laporan, kini terisi tiga orang. Nenek Ratna di tengah, Arga di kanan, Safa di kiri. Di atas meja ada sup ayam kampung Nenek yang masih mengepul wangi, nasi hangat, dan teh manis.
Suasana masih canggung. Arga makan dengan fokus menatap piringnya, tidak berani menatap Safa. Safa makan dengan suapan kecil-kecil, sesekali melirik Arga lalu cepat-cepat menunduk lagi kalau ketahuan.
Nenek Ratna yang melihat tingkah cucunya dan cucu mantunya itu hanya bisa menggeleng-geleng sambil menahan tawa.
"Gimana tidurnya semalam Nak?" Nenek membuka obrolan, dengan sengaja menatap Arga dan Safa bergantian. "Nyenyak?"
Safa hampir tersedak nasinya. "Uhuk! Nyenyak Nek... nyenyak banget..."
Arga menyodorkan air putih ke Safa dengan gerakan cepat. "Pelan-pelan makannya."
Nenek tersenyum melihat aksi Arga yang refleks itu. "Wah, sekarang sudah pinter nyodorin air. Kemajuan. Kemarin waktu Safa demam saja Mas Arga ini paniknya sampai telepon dokter tiga kali dalam satu jam. Dokternya sampai bingung dikira pasiennya sekarat." goda nenek, padahal tidak seperti itu.
"Nek!" Arga protes, wajahnya kembali merah.
"Loh kenapa? Nenek bangga. Cucu Nenek yang dulu katanya nggak butuh istri, sekarang kalau istrinya demam saja bisa begadang ,bisa kompres," Nenek melanjutkan omongan nya "Padahal dulu waktu kecil, Arga kalau Nenek demam saja tidak mau dekat-dekat, katanya takut ketularan."
Safa melirik Arga dengan mata berbinar. "Mas Arga begadang jagain aku ya?"
Arga menatap piringnya dalam-dalam, seolah sup ayam itu adalah laporan keuangan yang harus dianalisa. "Enggak begadang. Cuma... kebetulan belum ngantuk."
Nenek tertawa. "Belum ngantuk sampai jam 3 pagi? Nenek lihat dari CCTV apartemen lho, lampu kamar kamu nyala terus."
Safa makin terharu. Jadi selama dia demam, Mas Arga benar-benar menjaganya. Pantas saja dia sembuh dengan cepat.
Nenek lalu meletakkan sendoknya, tatapannya berubah menjadi serius tapi hangat.
"Arga, Safa," kata Nenek. "Nenek senang melihat kalian sudah tidur satu kamar. Itu artinya kalian sudah selangkah lebih maju. Pernikahan kontrak itu hanya kertas. Tapi yang Nenek lihat sekarang ini sudah bukan pernikahan diatas kertas lagi."
Arga dan Safa diam mendengarkan.
"Nenek sudah 70 tahun. Umur Nenek tidak lama lagi. Keinginan Nenek cuma satu sebelum Nenek menutup mata," Nenek menatap Safa dengan mata berkaca-kaca. "Nenek ingin gendong cicit. Cicit dari kalian berdua."
_Prang!_
Sendok Arga jatuh ke piring. Safa juga membeku, sendok supnya berhenti di tengah jalan menuju mulut.
"Cicit?" Safa mengulang dengan suara pelan, wajahnya langsung sepanas kompor gas.
"Iya," Nenek mengangguk mantap. "Nenek lihat kalian sudah saling sayang. Safa sayang sama Arga, Arga sayang sama Safa. Buat apa ditunda-tunda? Nenek tahu kalian masih muda, karir masih panjang, tapi momongan itu rezeki. Kalau sudah sayang, ya dibuat saja. Jangan ditunda."
Arga terbatuk keras. "Nek, ini terlalu cepat. Kami... kami baru..."
"Baru apa? Baru pelukan pagi tadi?" Nenek memotong dengan celetukan mautnya. "Nenek lihat tadi pagi pelukan kalian sudah mesra sekali. Tinggal dilanjutkan saja. Nenek doakan bulan depan Safa sudah isi."
Safa sudah tidak sanggup lagi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Nenek... Safa malu..."
"Ngapain malu? Halal kan? Kalian kan suami istri yang sah. Masa pelukan saja malu, gimana mau bikin cicit?" Nenek terkekeh. "Nenek dulu sama Kakek kalian, baru malam pertama langsung jadi. Arga ini mirip Kakeknya, pasti subur dan tokcer."
"NENEK!" Kali ini Arga dan Safa kompak teriak barengan, wajah mereka merahnya sudah sama persis.
Nenek tertawa puas. Tujuan mengompori mereka berhasil.
"Ya sudah, Nenek tidak mau maksa. Nenek cuma mau bilang, Nenek kasih kalian waktu. Tapi ingat, Nenek akan sering sidak. Dan kalau pas sidak Nenek masih melihat guling doraemon itu di tengah ranjang lagi, Nenek akan buang guling itu ke bawah apartemen!"
Safa langsung memeluk gulingnya yang ada di kursi sebelah. "Jangan Nek! Ini guling kesayangan Safa!"
"Nah kalau sayang guling, harusnya lebih bisa sayang suami dong," Nenek berdiri dengan tongkatnya. "Nenek pulang dulu. Supnya dihabiskan ya. Safa, kamu harus sehat biar cepat isi. Arga, jaga istrimu baik-baik."
Nenek berjalan ke pintu, meninggalkan dua orang yang masih membeku malu di meja makan.
Setelah pintu tertutup, hening lagi. Tapi hening kali ini berbeda. Hening yang malu-malu tapi ada senyumnya dibaliknya.
Safa berbisik pelan sambil mengaduk supnya. "Mas... Nenek minta cicit."
Arga yang masih menatap supnya, menjawab pelan juga. "Iya, saya dengar."
"Gimana dong Mas?"
Arga akhirnya menatap Safa. Mata mereka bertemu. Wajah Safa merah, mata Arga juga masih merah.
Arga menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara pelan tapi tegas, suara yang hanya bisa didengar Safa.
"Ya sudah, kita usahakan."
Safa membelalak. "Hah? Usahakan apa Mas?"
Arga langsung salah tingkah lagi, berdiri dan membawa piringnya ke wastafel. "Usahakan... usahakan jadi suami istri beneran! Bukan usahakan momongan! Kamu ini pikirannya kamana?"
Safa ngakak sampai hampir jatuh dari kursinya. "Mas Arga mesum ya?"
"SAYA TIDAK MESUM! KAMU YANG MESUM!"
Pagi itu, penthouse lantai 42 yang biasanya sunyi, kini dipenuhi tawa malu-malu dan teriakan canggung dari dua orang yang baru saja menyadari, bahwa mereka tidak lagi butuh kontrak untuk saling membutuhkan.
bersambung