NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Tak Berguna

Hansen terbangun dengan kepala terasa berat. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali. Ia mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan sisa pening akibat terlalu banyak minum semalam.

Namun, saat pandangannya beralih ke sisi tempat tidur, tubuhnya mendadak menegang. Ini kamar Jihan, bukan kamarnya.

Dan...

Jihan tidak ada di sana. Jihan meninggalkan dirinya berbaring sendirian.

Selimut di sisi tempat tidur perempuan itu sudah tersingkap. Bantalnya bahkan tidak lagi berada pada posisi semula. Hansen menoleh ke sekeliling kamar, lalu perlahan ingatannya tentang malam tadi kembali muncul.

Ia pulang dalam keadaan mabuk. Ia mendatangi Jihan. Ia menuntut haknya sebagai suami.

Dan Jihan sudah berkali-kali menolak.

Hansen memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya terasa sesak ketika ingatan tentang ketakutan di wajah Jihan kembali melintas. Ia ingat perempuan itu memintanya berhenti, mengingatkannya bahwa mereka sedang dalam proses perceraian, tetapi ia tetap memaksakan kehendaknya.

Hansen bangkit dengan gerakan tergesa-gesa. Ia menoleh ke pintu kamar mandi, kemudian keluar untuk mencari Jihan.

“Jihan?”

Tidak ada jawaban.

Ia memeriksa dapur, ruang makan, hingga ruang keluarga. Rumah itu terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah kecil Raka, tidak ada suara Jihan yang biasanya sibuk menyiapkan sarapan, dan tidak ada senyum lembut yang selama ini selalu menyambutnya meski ia pulang tanpa memberi kabar.

Hansen mengambil ponselnya dan segera menghubungi Jihan.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Hansen mulai panik. Bukan hanya karena Jihan tidak mengangkat teleponnya, tetapi juga karena untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari bahwa perempuan itu bisa pergi tanpa menunggunya pulang.

Ia mengetik pesan.

Jihan, kita perlu bicara.

Beberapa menit berlalu. Pesannya tidak dibalas.

Hansen kembali mengetik.

Tentang semalam, aku ingin menjelaskan.

Begitu mengirim pesan itu, ia justru merasa semakin buruk. Apa yang sebenarnya ingin ia jelaskan? Bahwa ia mabuk? Bahwa ia kehilangan kendali? Bahwa ia tidak siap kehilangan Jihan?

Tidak satu pun alasan itu bisa membenarkan tindakannya.

Ia telah mengabaikan penolakan Jihan. Ia telah menyakiti perempuan yang selama sepuluh tahun selalu berusaha mempertahankan rumah tangga mereka seorang diri.

Dan sekarang, ia bahkan tidak tahu apakah Jihan masih bersedia mendengarkan suaranya.

Hansen segera bersiap pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Jihan sedang berada di instalasi farmasi. Dengan seragam kerjanya, ia memeriksa resep yang masuk, memastikan kesesuaian obat dan dosis sebelum obat disiapkan untuk pasien.

Sesekali ia memeriksa stok obat, mencocokkan data persediaan dengan catatan yang ada, lalu membantu memastikan obat yang akan diserahkan kepada pasien telah sesuai dengan resep dan prosedur.

Pekerjaannya menuntut ketelitian. Ia tidak boleh membiarkan pikirannya mengganggu konsentrasi, apalagi ketika berurusan dengan obat-obatan yang akan dikonsumsi pasien.

Karena itu, sejak tiba di rumah sakit pagi tadi, Jihan berusaha menyingkirkan semua hal yang terjadi di rumahnya.

Ia tidak ingin mengingat malam sebelumnya.

Ia tidak ingin mengingat wajah Hansen.

Dan ia tidak ingin mengingat bahwa laki-laki yang selama bertahun-tahun menjadi suaminya telah membuatnya merasa tidak aman di rumah sendiri.

“Bu Jihan, resep yang ini sudah selesai diperiksa?” tanya seorang rekan kerja.

Jihan mengalihkan pandangan dari layar komputer.

“Sudah. Tolong pastikan jumlah obatnya sesuai sebelum diserahkan, ya.”

“Baik, Bu.”

Jihan kembali bekerja. Tangannya bergerak teratur, memeriksa obat dan labelnya satu per satu.

Ia sengaja menyibukkan diri. Selama bekerja, ia masih bisa mengendalikan pikirannya. Namun, begitu teringat bahwa Hansen mungkin akan mencarinya, dadanya kembali terasa sesak.

Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan laki-laki itu.

Mungkin meminta maaf.

Mungkin mencari pembenaran.

Atau mungkin kembali menganggap dirinya sebagai istri yang harus selalu menuruti keinginannya.

Jihan menarik napas perlahan.

Apa pun yang ingin dikatakan Hansen, ia tidak ingin lagi mengorbankan dirinya hanya demi menjaga perasaan laki-laki itu.

Hansen tiba di rumah sakit dengan langkah cepat. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat.

“Selamat pagi, Dokter Hansen.”

Hansen hanya mengangguk singkat.

Sebagai dokter bedah jantung sekaligus pemilik rumah sakit tersebut, ia terbiasa mendapatkan perhatian dan penghormatan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, pagi itu semua sapaan terasa mengganggu pikirannya.

Ia hanya ingin menemukan Jihan.

Setelah memastikan Jihan berada di instalasi farmasi, Hansen langsung menuju ke sana.

Dari pintu masuk, ia melihat istrinya sedang bekerja. Jihan berdiri di balik meja pelayanan, memeriksa obat yang akan diserahkan kepada pasien. Wajahnya tampak tenang, seolah tidak ada sesuatu pun yang terjadi di antara mereka.

Pemandangan itu membuat Hansen terdiam.

Dulu, setiap kali mereka bertemu di rumah sakit, Jihan selalu berusaha menyapanya. Bahkan ketika Hansen hanya menjawab dengan anggukan singkat, perempuan itu tetap tersenyum.

Kadang Jihan bertanya apakah ia sudah makan. Kadang ia mengingatkan Hansen agar tidak melewatkan waktu istirahat di sela-sela jadwal operasi.

Hal-hal kecil yang dulu dianggapnya mengganggu itu kini justru muncul satu per satu dalam ingatannya.

Namun, pagi ini Jihan sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

Hansen melangkah mendekat.

“Jihan.”

Jihan mendengar namanya dipanggil. Ia mengangkat wajah, dan untuk sesaat pandangan mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan berlebihan. Tidak ada senyum. Tidak ada tatapan hangat yang biasa diberikan Jihan kepadanya.

Perempuan itu hanya berkata dengan nada profesional, “Selamat pagi, Dokter Hansen.”

Sapaan tersebut membuat Hansen merasa seolah-olah mereka tidak pernah berbagi rumah, apalagi menjalani pernikahan selama sepuluh tahun.

“Jihan, aku perlu bicara denganmu.”

“Maaf, Dokter Hansen. Saya sedang bekerja.”

Hansen menatapnya, berusaha mencari celah agar bisa berbicara lebih lama.

“Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya perlu beberapa menit.”

Jihan meletakkan obat yang baru selesai diperiksanya di tempat yang sesuai, kemudian menoleh kembali kepada Hansen.

“Kalau ada keperluan terkait instalasi farmasi, silakan sampaikan kepada penanggung jawab. Kalau urusannya pribadi, saya sedang tidak bisa membicarakannya di sini.”

Nada suaranya tetap sopan. Tidak ada bentakan ataupun kemarahan yang ditunjukkan secara terang-terangan.

Justru itulah yang membuat Hansen merasa semakin jauh darinya.

Dulu, Jihan tidak pernah berbicara sekaku itu kepadanya.

“Jihan, ini tentang semalam.”

Gerakan tangan Jihan terhenti sejenak.

Hanya sejenak.

Setelah itu, ia kembali mengambil berkas resep yang harus diperiksa.

“Saya tidak ingin membicarakan itu di tempat kerja.”

“Aku ingin meminta maaf.”

Jihan menunduk, memeriksa kembali tulisan pada resep di tangannya. Ia membutuhkan waktu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

“Permintaan maaf tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Dokter Hansen.”

Hansen terdiam.

“Aku tahu aku salah.”

“Kalau Dokter sudah tahu, saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibahas di sini.”

“Jihan, tolong dengarkan aku sebentar saja.”

Kali ini Jihan mengangkat wajah. Tatapannya tidak lagi menunjukkan kebingungan seperti dahulu. Yang terlihat justru kelelahan, seolah ia sudah terlalu lama berusaha menjelaskan luka yang tidak pernah benar-benar ingin dipahami oleh suaminya.

“Apa yang ingin Dokter jelaskan?” tanyanya pelan. “Bahwa Dokter sedang mabuk? Bahwa Dokter tidak bisa mengendalikan diri? Atau bahwa karena kita masih tercatat sebagai suami istri, Dokter merasa berhak melakukan apa pun terhadap saya?”

Wajah Hansen berubah pucat.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Hansen membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Jihan tidak sedang meninggikan suara. Ia bahkan berbicara dengan sangat tenang. Namun, setiap pertanyaan yang dilontarkannya membuat Hansen semakin sulit menghindari kenyataan.

“Saya sudah mengatakan tidak,” lanjut Jihan. “Saya sudah meminta Dokter berhenti. Tetapi Dokter tetap melakukannya.”

Hansen menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sanggup menatap mata Jihan.

“Aku minta maaf,” katanya lirih.

Jihan mengembuskan napas perlahan. Ada rasa sakit yang belum hilang di dadanya, tetapi ia tidak ingin menghabiskan waktu di tempat kerja untuk kembali membicarakan malam yang ingin ia lupakan.

“Saya sedang bekerja, Dokter Hansen. Tolong jangan membuat saya harus menjelaskan hal ini lagi.”

Seorang petugas datang membawa beberapa berkas resep tambahan. Jihan langsung mengalihkan perhatian kepada pekerjaannya.

“Silakan letakkan di sini. Nanti saya periksa.”

Petugas itu mengangguk, lalu melirik Hansen sekilas sebelum kembali menjalankan tugasnya.

Hansen masih berdiri di tempat yang sama.

Ia adalah pemilik rumah sakit itu. Ia bisa meminta siapa pun mengatur jadwal pertemuan dengannya. Ia terbiasa memberikan perintah dan mendapatkan jawaban.

Tetapi ia tidak bisa memerintahkan Jihan untuk kembali mempercayainya.

Ia juga tidak bisa menggunakan kedudukannya untuk memaksa perempuan itu mendengarkan permintaan maafnya.

“Jihan,” panggilnya sekali lagi.

Jihan tidak menoleh.

Bukan karena tidak mendengar, melainkan karena ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

Setelah menyerahkan obat kepada pasien dan memastikan tidak ada kesalahan dalam proses pelayanan, barulah ia menoleh kepada Hansen.

“Apakah masih ada yang ingin Dokter sampaikan?”

Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan seorang apoteker kepada dokter yang sedang memiliki keperluan di instalasi farmasi.

Tidak lebih.

Hansen menatapnya lama.

“Setelah jam kerja, bisakah kita bicara?”

Jihan terdiam sebentar sebelum menjawab.

“Saya tidak bisa menjanjikan itu.”

“Jihan, aku hanya ingin—”

“Dokter Hansen.” Jihan memotong ucapannya dengan lembut, tetapi tegas. “Saya sudah menandatangani dokumen perceraian yang dikirimkan. Saya juga sudah mengatakan bahwa saya tidak menuntut apa pun. Saya hanya ingin prosesnya selesai dengan baik.”

Hansen merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.

“Jadi, kamu benar-benar ingin pergi?”

Jihan menatapnya tanpa berkedip.

“Bukankah itu yang Dokter inginkan sejak awal?”

Hansen terdiam.

Pertanyaan sederhana itu membawanya kembali pada hari ketika ia sendiri yang meminta perceraian. Ia ingat betapa mudahnya ia menyampaikan keinginan tersebut, seolah sepuluh tahun pernikahan mereka hanyalah sebuah kewajiban yang ingin segera ia akhiri.

Saat itu, Jihan tidak memohon.

Ia tidak menangis di hadapannya.

Ia hanya menerima keputusan tersebut.

Hansen mengira Jihan akan berubah pikiran. Ia mengira perempuan itu akan kembali menunjukkan kesedihan, akan berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, atau setidaknya meminta waktu sebelum menandatangani dokumen.

Namun, Jihan justru melakukan semuanya dengan tenang.

Kini Hansen mulai memahami bahwa mungkin selama ini ia terlalu terbiasa dengan kesetiaan Jihan sampai lupa bahwa perempuan itu juga memiliki batas.

“Aku tidak menyangka kamu akan semudah ini melepaskan semuanya,” ucapnya.

Jihan menatapnya beberapa saat.

“Bagi Dokter, mungkin ini terlihat mudah karena Dokter tidak pernah berada di posisi saya.”

Hansen tidak menjawab.

“Selama bertahun-tahun, saya berusaha membuat pernikahan ini bertahan. Saya menunggu Dokter pulang, menyiapkan makanan, dan berusaha menjadi istri yang baik meskipun Dokter tidak pernah benar-benar menginginkan saya.”

Suara Jihan tetap rendah. Ia tidak sedang berusaha membuat Hansen merasa bersalah. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang selama ini terlalu sering ia pendam.

“Saya tidak bisa terus hidup dengan berharap suatu hari Dokter akan berubah. Sekarang, saya hanya ingin menjalani hidup saya sendiri.”

Hansen merasakan tenggorokannya tercekat.

“Lalu bagaimana dengan Raka?”

“Raka tetap anak kita. Perceraian ini tidak akan mengubah kenyataan itu.”

“Kamu akan membawanya pergi?”

“Tidak. Saya tidak akan memisahkan Raka dari ayahnya.” Jihan berhenti sejenak. “Saya juga tidak akan meminta Dokter memilih antara saya dan Raka. Saya hanya ingin mendapatkan tempat tinggal sendiri setelah semuanya selesai.”

Hansen ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin Jihan pergi jauh. Ia ingin mengatakan bahwa rumah mereka masih bisa diperbaiki, bahwa mereka masih bisa mencoba sekali lagi.

Namun, semua kata itu terasa tidak pantas keluar dari mulutnya setelah apa yang ia lakukan.

Selama bertahun-tahun, ketika Jihan mengharapkan perhatian darinya, Hansen memilih menjauh. Ketika Jihan mencoba mendekat, ia menganggapnya sebagai kewajiban yang mengganggu.

Sekarang, saat Jihan berusaha menjauh demi melindungi dirinya sendiri, Hansen justru ingin menariknya kembali.

Ia mulai menyadari betapa egoisnya keinginannya itu.

“Saya harus melanjutkan pekerjaan,” kata Jihan.

Ia kembali memeriksa resep di hadapannya, menandakan bahwa percakapan mereka telah selesai.

Hansen akhirnya mundur selangkah.

“Baik.”

Satu kata itu terasa berat baginya.

Sebelum berbalik, ia sempat menatap Jihan sekali lagi. Perempuan itu sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya, berbicara kepada rekan kerja, memeriksa obat, dan melayani pasien dengan ketelitian yang sama seperti sebelumnya.

Tidak ada tanda bahwa kehadirannya telah mengubah apa pun.

Dulu, Hansen bisa datang dan pergi sesuka hati, sementara Jihan selalu menyediakan tempat untuknya dalam hidup perempuan itu.

Kini, ia berdiri di hadapannya sebagai orang yang tidak lagi memiliki tempat istimewa.

Hansen melangkah meninggalkan instalasi farmasi dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ia masih ingin Jihan kembali.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti bahwa keinginannya tidak bisa menjadi alasan bagi Jihan untuk kembali kepadanya.

Dan ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kemungkinan kehilangan istrinya.

Ia mungkin telah menghancurkan kepercayaan perempuan itu sampai tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya.

Bersambung...

1
sunaryati jarum
Betapa menderitanya Jihan berumah tangga sepuluh tahun kokk kamarnya sendiri,sungguh Hanzen suami tidak punya perasaan,untung tidak selingkuh,jika itu terjadi betapa hancurnya hatinya.
Setyowati Setyowati
🙏🙏🙏 rajin up ..makin rajin krm hadiah tonton iklannya 🥰🥰🥰
Setyowati Setyowati
nahhh menyesalkannnn ..makanya punya istri di sayangi di hargai seperti kamu menghargai dirimu sendiri...sekarang baru tau rasa kamu Hansen setelah Jihan pergi ..dan inilah awal perjuangan mu
Setyowati Setyowati
pengharum ruangan dong thor masak penghargaan ruangan
Rini Sya: oke oke😍
total 3 replies
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!