Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan pertama
Langkah kaki seorang wanita berpenampilan sangat berkelas terhenti tepat di depan kaca display butik mungil di sudut jalan protokol kota.
Maya, seorang pengusaha ternama yang langganan membeli busana dari desainer ternama, menatap lurus ke arah manekin.
Gaun katun sutra polos berwarna krem dengan aksen sulaman benang emas di bagian dada itu tampak mencolok di antara tumpukan baju lainnya.
Tanpa ragu, Maya mendorong pintu kaca butik. Bel kuningan di atas pintu berdenting nyaring.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" panggil pemilik butik ramah.
"Saya mau beli gaun krem di manekin depan itu," tunjuk Maya tanpa bertele-tele. "Boleh saya coba ukurannya dulu?"
Sepuluh menit kemudian, Maya berdiri di depan cermin besar fitting room. Jemarinya meraba jahitan di pinggang dan keliman bawah gaun.
Potongan gaun itu jatuh sempurna di lekuk tubuhnya, menyembunyikan kekurangan tanpa membuat gerak tubuhnya kaku.
"Luar biasa..." gumam Maya kagum. Ia berbalik menatap pemilik butik yang berdiri di dekat tirai. "Jahitan ini bukan buatan konveksi biasa, kan? Potongan bahunya sangat presisi. Siapa perancang gaun ini, Mbak?"
Pemilik butik tersenyum canggung. "Itu titipan teman saya, Bu. Namanya Bu Adelia. Dia baru saja mulai merintis usaha jahit sendiri."
"Kasih saya alamat tempat tinggalnya sekarang," potong Maya tegas namun penuh minat. "Saya mau pesan gaun pesta khusus untuk acara minggu depan."
Sore harinya, sebuah mobil SUV hitam mewah berpelat nomor cantik perlahan masuk ke dalam gang sempit di daerah pinggiran kota. Kehadiran kendaraan megah itu seketika memancing perhatian para tetangga kontrakan kayu.
Mobil berhenti tepat di depan kediaman Adelia. Maya keluar dengan anggun, mengenakan kacamata hitam yang kemudian disangkutkan di kerah kemeja sutranya.
Adelia yang sedang melipat kain perca di teras bambu kaget melihat tamu tak dikenal melangkah mendekat.
"Permisi, benar ini rumah Bu Adelia?" tanya Maya ramah.
Adelia berdiri, merapikan dasternya yang rapi walau sederhana. "Iya, benar. Saya Adelia. Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Saya Maya," panggil wanita itu seraya mengulurkan tangan. "Saya baru saja membeli gaun krem buatan Ibu di butik Mbak Rini. Jahitan Ibu sangat indah, potongannya pas sekali di badan saya. Makanya saya sengaja minta alamat Ibu langsung."
Adelia tertegun sejenak sebelum menyambut uluran tangan Maya dengan senyuman tulus. "Terima kasih banyak, Bu Maya. Mari silakan masuk,tapi maaf rumah saya sangat sederhana."
Maya melangkah masuk ke dalam kontrakan kayu berdinding papan tersebut. Matanya menyapu ruangan yang bersih, melihat sebuah mesin jahit engkol tua peninggalan almarhum ibu Adelia terpajang rapi di sudut ruangan bersama tumpukan kain.
"Saya butuh gaun pesta untuk acara pameran bisnis minggu depan," tutur Maya langsung pada intinya saat duduk di kursi kayu tua.
"Tapi saya bosan dengan model gaun pesta yang terlalu mencolok. Saya mau yang elegan, tegas, tapi tetap terlihat manis. Ibu punya ide?"
Adelia bergeming sebentar. Ia tidak memiliki buku katalog mewah atau tablet canggih untuk memperlihatkan desain. Dengan tenang, Adelia mengambil selembar kertas bekas kalender dan pensil tulis milik Kayla di meja belajar kecil.
"Boleh saya tahu tema acaranya, Bu Maya?" tanya Adelia seraya menderetkan pensil di atas kertas.
"Malam apresiasi bisnis," jawab Maya lekat memperhatikan jemari Adelia.
Tanpa ragu sedikit pun, jemari Adelia bergerak lincah di atas kertas bekas kalender. Goresan pensilnya membentuk siluet tubuh yang proporsional dalam hitungan detik.
Adelia menggambar gaun model dengan kerah bentuk V yang tidak terlalu rendah, diberi aksen lipatan asimetris di bagian pinggang untuk mempertegas garis tubuh, serta detail sulaman geometri di sepanjang lengan.
Adelia memutar kertas bekas itu menghadap Maya. Wajahnya memancarkan keyakinan dan binar bakat yang selama lima belas tahun ini terpendam di balik dapur rumah tangga.
"Kalau menggunakan kain katun sutra warna navy blue, lipatan di pinggang ini akan memberi kesan jenjang tanpa membuat terasa sesak saat duduk," jelas Adelia dengan artikulasi suara yang sangat jelas dan percaya diri.
Maya terpukau. Matanya tak berkedip menatap sketsa yang digambar begitu cepat namun sangat detail di atas kertas bekas tersebut. Bakat murni dan jiwa seni yang dimiliki wanita berdaster sederhana di hadapannya ini benar-benar tidak bisa dibohongi.
"Luar biasa..." bisik Maya terpana. "Sketsa ini jauh lebih berkarakter daripada desain beberapa perancang langganan saya di Luar kota."
Maya merogoh dompet kulitnya, menarik lima lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di meja. "Ini uang muka untuk bahannya. Ibu yang pilihkan kainnya sendiri. Saya percaya penuh sama selera Ibu."
Adelia menatap uang di meja dengan dada bergetar haru. "Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Bu Maya. Saya usahakan selesai tiga hari lagi."
"Satu hal lagi, Bu Adelia," tahan Maya saat hendak berdiri melangkah keluar pintu.
"Hari Sabtu minggu depan, saya mengundang Ibu untuk hadir di pameran UMKM lokal. Ada banyak rekan bisnis saya di sana, dan saya mau mengenalkan karya Ibu ke mereka."
Adelia tersentak kaget. "Hadir di pameran bisnis? Tapi, Bu Maya... saya tidak punya pakaian bagus untuk acara seperti itu."
Maya tersenyum hangat, menepuk pelan bahu Adelia. "Buatlah satu gaun cantik untuk diri Ibu sendiri pakai bahan sisa nanti. Ibu adalah pencipta karya ini, Ibu yang paling berhak bersinar."
Tiga hari berikutnya diisi Adelia dengan kerja keras tanpa henti. Jarum mesin jahit engkolnya tak berhenti berputar dari pagi hingga larut malam.
Kain katun sutra warna biru tua dipotong dan dijahit dengan tingkat ketelitian yang luar biasa. Adelia bahkan menjahit gaun sederhana berwarna hitam polos untuk dirinya sendiri agar bisa memenuhi undangan Maya.
Hari Sabtu yang dinantikan pun tiba.
Gedung konvensi megah di pusat kota dipenuhi puluhan stan pameran UMKM dan ratusan tamu dari kalangan atas. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya terang di atas karpet merah yang terbentang luas.
Adelia melangkah masuk ke dalam gedung acara, mengenakan gaun hitam buatannya yang jatuh anggun menutupi kakinya. Rambut panjangnya disanggul sederhana, wajahnya dipoles riasan tipis. Meski tampil bersahaja, aura ketenangan dan harga dirinya memancar jelas.
Di dekat area panggung utama, Maya tampak berdiri anggun dikerumuni beberapa tamu wanita kaya. Gaun navy blue buatan Adelia membungkus tubuh Maya dengan sangat mempesona, menarik perhatian banyak pasang mata.
"Wah, Maya! Gaunmu cantik sekali!" puji salah seorang rekan bisnisnya. "Beli di desainer mana ini? Potongannya unik banget!"
Maya tersenyum bangga, lalu matanya menangkap sosok Adelia yang baru saja melangkah mendekat.
"Nah, ini dia perancangnya!" seru Maya lantang, merangkul lengan Adelia hangat di depan kerumunan tamu. "Perkenalkan, ini Bu Adelia. Wanita berbakat di balik gaun indah yang saya pakai malam ini!"
Namun, sebelum Adelia sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk menyapa, sebuah suara kekehan nyaring penuh nada menghina memotong kerumunan orang.
"Astaga! Adelia?!"
Clara melangkah maju dari arah stan perhiasan sebelah, mengenakan gaun merah menyala bertabur payet mahal, didampingi Arkananta yang memegang gelas minuman. Clara menatap Adelia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan melotot mengejek.
"Maya, kamu bercanda kan?" sembur Clara dengan suara kencang yang sengaja ditinggikan hingga memancing perhatian belasan tamu di sekitarnya.
"Kamu bilang wanita ini desainer? Dia ini cuma mantan istri suamiku yang diusir karena cuma Jadi beban Finansial di rumah!"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel