Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hari Rabu kedua itu datang bagaikan malaikat yang siap mencabut nyawa Erlyn secara perlahan.
Sejak fajar menyingsing, udara di dalam rumah terasa begitu menyiksa, seolah setiap helai oksigen yang dihirupnya mengandung racun rasa bersalah.
Pesan yang masuk ke ponselnya semalam masih terngiang jelas di telinganya. Hendi tidak lagi sekadar mengancam, pria itu telah mengirimkan satu foto dari masa lalu.
Sebuah foto yang diambil di atas ranjang penthouse saat Erlyn berusia dua puluh satu tahun. Dikirim langsung ke nomor Erlyn, lengkap dengan ancaman singkat:
“Jadwal pengiriman berikutnya adalah ke ponsel suamimu jika kau berani membuat gerakan bodoh lagi seperti minggu lalu.”
Foto itu sudah cukup untuk melumpuhkan seluruh keberanian Erlyn. Perlawanan fisik berupa tendangan yang ia lakukan di hari Rabu pertama dan lari ketakutan, ternyata hanya mempercepat malapetaka.
Hendi telah kehilangan kesabarannya. Dan kini, Erlyn tahu ia tidak punya perisai apa pun lagi untuk melindungi rumah tangganya.
Pukul tiga sore, Erlyn kembali berdiri di depan pintu apartemen unit 402. Kakinya gemetar hebat, tangannya dingin bagaikan es. Saat pintu terbuka, Hendi menyambutnya dengan wajah datar tanpa senyum. Pria itu menyisakan jarak, membiarkan Erlyn masuk tanpa sapaan ramah seperti biasanya.
Bunyi kunci pintu yang diputar di belakangnya terdengar seperti vonis eksekusi.
"Kau pikir kau bisa menang melawanku, Erlyn?" suara Hendi terdengar rendah dan bergetar di dalam ruangan yang hening. Ia berjalan mendekat, tidak dengan gerakan terburu-buru, melainkan dengan langkah pasti seorang penguasa yang tahu mangsanya tak bisa lagi lari.
Erlyn mundur hingga punggungnya membentur dinding marmer di dekat pintu. "Tolong... Om Hendi... jangan sentuh aku," bisiknya, air matanya langsung tumpah membasahi pipi. Tangannya terangkat gemetar di dada. "Aku mohon... kasihanilah suamiku, kasihanilah anakku..."
Hendi berhenti tepat di hadapannya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu menyalakan layarnya tepat di depan mata Erlyn. Di sana, jari Hendi sudah berada di atas tombol kirim, dengan nama "Iqbal" tertera di daftar penerima.
"Satu ketukan jari, Erlyn," kata Hendi dingin, matanya menatap lurus ke dalam pupil mata Erlyn yang membesar karena ketakutan.
"Dan suamimu yang terhormat itu akan melihat bagaimana kau melayaniku dulu. Dia akan melihat senyummu di tempat tidurku. Pikirkan Rara. Pikirkan bagaimana rasanya anakmu dihina orang seumur hidup karena memiliki ibu dengan masa lalu seperti ini."
"Jangan..." rintih Erlyn, dadanya naik-turun menahan sesak yang teramat sangat. "Jangan lakukan itu pada keluargaku..."
"Kalau begitu, bersikaplah seperti Erlyn yang aku kenal," bisik Hendi, tangannya terulur menyentuh dagu Erlyn yang bergetar hebat.
Pria itu tidak menggunakan kekerasan kasar seperti minggu lalu. Ia menggunakan ancaman kehancuran total untuk melumpuhkan jiwa Erlyn. "Tundukkan kepalamu. Menurutlah. Maka suamimu tetap aman di rumahnya yang hangat."
Di titik itulah, perisai pertahanan mental Erlyn runtuh sepenuhnya.
Ia memejamkan mata erat-erat. Wajah Iqbal yang tersenyum tulus melintas di benaknya, disusul oleh tawa polos Rara yang sedang bermain di halaman.
Kehidupan indah selama sepuluh tahun ini... seluruh kebahagiaan rumah tangganya... semuanya digantungkan pada satu hal: kepasrahannya sore ini.
Dengan jemari yang gemetar hebat dan dada yang bergemuruh oleh rasa sakit luar biasa, Erlyn perlahan menurunkan kedua tangannya yang tadinya menolak di dada Hendi.
Ia pasrah. Jiwanya seolah melayang keluar dari tubuhnya, meninggalkan raga yang kini mematuhi setiap perintah pria itu.
Hendi tersenyum puas, senyum kemenangan seorang pemilik yang berhasil merebut kembali barangnya yang hilang. Ia membimbing Erlyn menuju kamar tidur utama.
Di atas ranjang yang luas itu, Erlyn berbaring kaku bagaikan patung tanpa nyawa. Air mata terus mengalir tanpa henti dari sudut matanya, membasahi bantal kain sutra yang dingin.
Ia merasakan setiap sentuhan dan perlakuan Hendi yang menuntut kepatuhannya, merasakan rasa jijik yang membakar sekujur tubuhnya dari dalam.
Hendi tidak lagi menahan diri. Kali ini, pria itu melampiaskan seluruh hasrat, dominasi, dan rasa penasaran yang terpendam selama belasan tahun kehilangan Erlyn.
Hendi memperlakukannya bukan sekadar untuk kepuasan sesaat, melainkan menuntut kepatuhan mutlak secara berulang-ulang, menghancurkan sisa-sisa harga diri wanita itu hingga tak tersisa.
Di bawah remang lampu kamar, di atas ranjang hitam yang sunyi, Erlyn merasakan waktu berjalan begitu lambat, terasa seperti tersiksa di atas bara api yang menyala perlahan.
Setiap ia mengira siksaan itu sudah selesai, Hendi kembali menariknya kembali, membuat Erlyn harus kembali menelan rasa sakit fisik dan batin yang luar biasa. Ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah demi menahan agar tidak ada suara rintihan jijik yang lolos dari mulutnya.
Ia sengaja mematikan rasa, membentengi pikirannya dengan membayangkan wajah Rara dan Iqbal di rumah, meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang sedang terjadi pada fisiknya saat ini hanyalah sebuah pengorbanan demi melindungi keluarganya dari kehancuran.
Hingga akhirnya, setelah berjam-jam berlalu dan Hendi benar-benar merasa puas atas penguasaan yang ia lakukan berkali-kali, ruangan itu perlahan kembali sunyi.
Di atas ranjang hitam yang berantakan, Erlyn terbaring diam tak berdaya. Tubuhnya ditutupi selimut tebal hingga sebatas dada. Matanya kosong menatap langit-langit kamar yang gelap. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan berdarah kecil, serta sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya.
Ia merasa kosong. Tidak ada lagi energi tersisa di dalam tubuhnya. Raga dan jiwanya seolah telah terpisah jarak yang sangat jauh.
Hendi bangkit dari tempat tidur, mengenakan kembali kemejanya dengan rapi di dekat cermin rias, tampak begitu santai seolah baru saja menyelesaikan urusan bisnis biasa. Ia melirik Erlyn sekilas lewat pantulan cermin.
"Kau boleh bersiap-siap pulang, Erlyn," ucap Hendi dengan nada suara yang kembali tenang dan berwibawa. Ia meletakkan selembar tisu di nakas samping tempat tidur. "Jangan lupa, jadwal kita tetap sama seperti biasa. Rabu depan, aku akan menunggumu di sini."
Erlyn tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pria itu. Perlahan-lahan, dengan menggunakan seluruh sisa tenaga yang ada di ujung jarinya, Erlyn menarik selimut lebih erat, lalu bangkit duduk dengan tubuh yang masih gemetar hebat.
Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut.
Begitu berada di dalam kamar mandi, Erlyn mengunci pintu rapat-rapat. Ia langsung menjatuhkan dirinya di lantai keramik yang dingin, menyalakan pancuran air hangat sebesar-besarnya, lalu membiarkan air itu mengguyur tubuhnya.
Ia menangis sejadi-jadinya di bawah kucuran air, mengeluarkan suara isak tangis yang tadi mati-matian ia tahan di depan Hendi. Dengan tangan yang gemetar parah, ia mengambil sabun cair, menggosok kulit lengan, leher, dan sekujur tubuhnya sekuat tenaga hingga kulitnya memerah dan terasa perih.
Ia ingin menghapus aroma tubuh Hendi. Ia ingin melunturkan rasa kotor yang menempel di setiap inci kulitnya. Ia menggosoknya terus-menerus sampai air matanya bercampur dengan air pancuran, sampai ia kehabisan napas dan terduduk lemah di lantai kamar mandi yang basah.
Aku harus pulang... aku harus menemui Rara... aku harus memeluk Iqbal... batinnya meronta di antara keputusasaan yang menghimpit dada.
Tiga puluh menit kemudian, Erlyn keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian lamanya yang tampak kusut. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak dan merah akibat menangis terlalu lama.
Ia berjalan keluar dari kamar tidur utama. Di ruang tengah, Hendi sudah duduk di sofa sambil menyesap segelas air putih, tidak mengantarnya ke depan pintu seperti biasanya.
Erlyn membuka pintu apartemen itu sendiri. Ia melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, berjalan menyusuri lorong karpet tebal dengan langkah gontai, seolah ia adalah mayat hidup yang berjalan.
Saat ia berhasil keluar dari lobi gedung Grand Tower dan menghirup udara malam kota yang dingin, Erlyn merasakan kakinya hampir tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Ia berjalan ke pinggir jalan, mencegat taksi pertama yang melintas, lalu menyebutkan alamat rumahnya dengan suara serak.
Di dalam taksi yang melaju membelah kemacetan malam kota, Erlyn menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin. Ia menatap lampu-lampu jalan yang berpendar buram di luar sana.
Ia tahu, ia baru saja menyerahkan harga dirinya secara utuh ke dalam cengkeraman monster itu. Dan ia juga tahu, beban rahasia kelam ini semakin menghimpit dadanya, membuatnya merasa menjadi wanita paling berdosa di dunia.
gpp2 terus kalo ditanyaa /Sob/