Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tinggal di mansion reza
Suara dentingan sepatu hak tinggi yang menghantam lantai marmer menggema di seluruh sudut penthouse mewah itu.
Wanita cantik dengan gaun berbalut perhiasan berkilau tadi—Sora—berdiri tegak dengan mata melotot tajam menatap ke arah Maya. Napasnya memburu, menunjukkan kemarahan yang luar biasa besar.
Maya secara insting mundur satu langkah, merasa ciut dan asing di tempat mewah tersebut. Statusnya yang cuma seorang pelayan restoran tiba-tiba diseret ke tengah konflik tingkat tinggi antara bos mafia dan istri sahnya.
"Reza! Jawab aku!" teriak Sora lagi, suaranya melengking tinggi penuh emosi.
"Siapa wanita lusuh ini? Kenapa kamu membawa wanita asing ke dalam tempat tinggal pribadi kita? Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?!"
Reza sama sekali tidak terlihat kaget ataupun panik menghadapi kemarahan istrinya.
Pria itu justru menarik napas pelan, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dengan tenang.
"Sora, jaga nada suara kamu," ucap Reza dengan suara berat dan datar, namun mengandung wibawa yang membuat siapa pun segan.
"Ini bukan tempat yang cocok untuk kamu membuat keributan."
Sora mendengus sinis, tertawa kecil penuh nada meremehkan. Ia melangkah lebih dekat, menatap Maya dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan jijik.
"Keributan? Kamu bilang aku bikin keributan di rumah suamiku sendiri? Dan wanita ini... apa dia simpanan murahan yang baru saja kamu pungut dari jalanan?"
Maya merasa wajahnya panas seketika. Hatinya perih mendengar sebutan merendahkan itu, tapi ia tidak punya keberanian untuk membela diri di hadapan wanita berkelas sosial tinggi seperti Sora.
"Jaga mulutmu, Sora," potong Reza dengan nada bicara yang mulai berubah dingin, tatapannya menajam.
"Maya bukan siapa-siapa yang seperti kamu pikirkan. Dia berada di sini karena urusan keselamatan."
"Keselamatan?" Sora melirik tajam ke arah Reza, lalu kembali menatap Maya penuh curiga.
"Alasan klasik! Kalau dia butuh perlindungan, kenapa tidak kamu kirim ke tempat penampungan atau kantor polisi? Kenapa harus dibawa ke Rumah mewah ini? Jangan-jangan kamu memang sengaja memelihara wanita ini di belakangku, ya?!"
"Cukup, Sora!" bentak Reza pelan namun menusuk, membuat suasana ruangan mendadak hening seketika.
"Kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Jangan memperkeruh keadaan."
Sora tertegun sejenak mendengar bentakan suaminya. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan rasa takut, melainkan kebencian yang makin membara, terutama saat ia melirik ke arah Maya yang tertunduk gemetaran.
Sora menarik napas panjang, mencoba meredam amarahnya meski rahangnya masih mengeras. Ia melipat kedua tangan di dada, lalu menatap tajam ke arah Reza.
"Baiklah. Kalau memang wanita ini mau tinggal di sini demi keselamatannya... kita lihat saja seberapa lama dia bisa bertahan di bawah atap yang sama dengan istri sahmu."
Setelah melontarkan kalimat ancaman dingin itu, Sora berbalik badan dengan kibasan gaun mewahnya.
Ia berjalan cepat meninggalkan ruang utama, membanting pintu utama rumah dengan suara yang sangat keras hingga mengagetkan Maya.
BRAM!
Keheningan kembali menyelimuti ruangan besar itu. Maya masih berdiri kaku di dekat pintu masuk, dadanya bergemuruh hebat.
Ketakutan yang ia rasakan tadi kini bercampur dengan rasa sesak akibat kehadiran istri sah sang mafia.
Reza menghela napas berat, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Maya yang tampak pucat pasi.
"Maafkan pemandangan tadi," kata Reza dengan nada suara yang sedikit melunak, meski tetap terdengar tegas.
"Istri saya memang memiliki temperamen yang tinggi."
Maya mendongakkan kepalanya, menatap mata tajam Reza dengan perasaan campur aduk.
"Tuan... melihat kejadian barusan, aku rasa keputusan untuk tinggal di sini adalah hal yang salah besar. Aku lebih baik pergi sekarang. Biarkan aku keluar..."
"Keluar?" potong Reza cepat, lalu melangkah mendekati Maya dengan cepat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja.
"Kamu dengar sendiri ancaman Sora barusan? Dan di luar sana, anak buah musuh masih berkeliaran mencari keberadaan kamu."
Maya menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendesak keluar.
"Tapi aku tidak tahan berada di tengah pernikahan kalian! Aku bukan pelakor, Tuan! Aku tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang!"
Reza terdiam sejenak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Maya.
Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman misterius. Pria itu mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pelan puncak kepala Maya.
"Maya, dengar baik-baik," bisik Reza di dekat telinga gadis itu dengan suara berat yang menghipnotis.
"Mulai hari ini, kamu resmi pindah ke rumah mansion ini. Masalah status, biarkan itu menjadi urusan saya. Yang harus kamu pikirkan sekarang cuma satu..."
Maya menahan napasnya, menatap lekat-lekat mata hitam legam milik pria di depannya. "Apa?" tanya Maya pelan.
Sebelum Reza sempat menjawab pertanyaan itu, suara dering telepon genggam dari saku jasnya tiba-tiba berdering nyaring memecah kesunyian ruangan.
Reza mengangkat alisnya, melirik layar ponsel sebentar sebelum akhirnya menatap Maya kembali dengan tatapan yang berubah menjadi jauh lebih serius dan berbahaya.
Bersambung