NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Merayakan

Sekitar pukul empat sore, Meng Lin akhirnya tiba kembali di asrama. Matahari masih bersinar, tetapi bayangan pepohonan di halaman sudah memanjang.

Dari kejauhan terdengar suara para pekerja yang sedang menyelesaikan pekerjaan mereka. Meng Lin memperkirakan mereka tidak akan lama lagi pulang, jadi setelah meletakkan barang-barangnya di kamar, dia langsung menuju dapur.

Dia mengeluarkan beras, daging babi, dan sayuran sawi yang sudah disiapkannya. Karena jumlah orang yang harus makan cukup banyak, Meng Lin tidak membuang waktu untuk beristirahat.

Tak lama kemudian, suara pisau beradu dengan talenan terdengar dari dapur. Dia memotong daging babi menjadi beberapa bagian, lalu memasaknya dengan kecap dan bumbu sederhana hingga warnanya berubah kecokelatan. Aroma gurih perlahan menyebar, memenuhi dapur kecil itu.

Sementara nasi putih mengepul di dalam panci, Meng Lin mulai menumis sawi. Sayuran hijau itu segera layu terkena panas, mengeluarkan aroma segar yang bercampur dengan harum daging babi kecap.

Ketika semuanya selesai, tiga hidangan tersaji di atas meja panjang. Nasi putih yang masih mengepul, sepiring besar daging babi kecap, dan tumis sawi yang tampak menggugah selera.

Meng Lin melirik hidangan itu, kemudian mengangguk kecil. Sepertinya cukup untuk makan malam mereka.

Tak lama berselang, suara langkah kaki dan obrolan mulai terdengar dari luar asrama.

Pintu halaman terbuka. Xia Ning berjalan paling depan bersama beberapa pekerja lainnya. Mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan seharian, tubuh terasa lelah dan perut pun mulai keroncongan.

Namun, begitu melangkah masuk, mereka semua mendadak berhenti. Aroma daging babi kecap yang begitu menggoda menyambut mereka.

Beberapa orang tanpa sadar menelan ludah. Bahkan ada yang mengendus-endus udara, seolah ingin memastikan bahwa aroma harum itu benar-benar berasal dari dapur asrama mereka.

"Astaga, bau apa ini? Wanginya luar biasa!" seru seorang pemuda dengan mata membulat.

"Sepertinya ada yang memasak daging!" tebak Lui Yuran.

"Jangan-jangan aku sudah terlalu lapar sampai mencium makanan yang tidak ada." sela Yan Rao.

"Omong kosong! Aku juga menciumnya! Apa jangan-jangan.....!"

Mereka saling berpandangan. Rasa lelah setelah bekerja seharian seolah sedikit berkurang, digantikan rasa penasaran yang besar terhadap makanan di dalam dapur.

Saat itulah Meng Lin muncul di ambang pintu dapur. "Kalian sudah pulang?" tanya Meng Lin tersenyum.

Suaranya terdengar tenang seperti biasa. Dia menyeka tangannya dengan kain bersih, kemudian menatap mereka yang masih berdiri berkerumun di halaman.

Xia Ning segera mengalihkan pandangan dari meja makan ke arah Meng Lin. Begitu melihat tiga hidangan yang tersaji di sana, matanya ikut membesar. "Meng Lin, kamu yang memasak semua ini?"

"Ya." Meng Lin mengangguk santai. "Kalian pasti lelah setelah bekerja seharian. Bersihkan diri kalian lebih dulu. Setelah itu, kita makan bersama."

"Baik!" jawab beberapa orang hampir bersamaan. Menolak? Percuma saja, Meng Lin pasti akan memaksa.

Meskipun berusaha terlihat tenang, beberapa pemuda sudah tidak sabar. Pandangan mereka berulang kali melirik ke arah meja makan, terutama sepiring besar daging babi kecap yang mengilap terkena cahaya.

Salah seorang pemuda bahkan mengusap perutnya dengan ekspresi memelas. "Kak Xia, bisakah kita bersih-bersih lebih cepat hari ini?"

Xia Ning langsung melotot kepadanya, meskipun sudut bibirnya sendiri sedikit terangkat. "Kalau begitu, berhenti berdiri di sini dan cepat pergi!"

Mendengar itu, yang lain segera tertawa kecil sebelum bergegas mengambil perlengkapan mandi mereka.

Yan Rao, yang sejak tadi berdiri di dekat Meng Lin, akhirnya teringat sesuatu. Dia mendekat sedikit, lalu menatap gadis itu dengan rasa ingin tahu. "Meng Lin, bagaimana hasil pengumuman nya?"

Pertanyaan itu membuat Xia Ning yang baru hendak pergi ikut menghentikan langkah. Beberapa orang lainnya juga menoleh kembali.

Mereka semua tahu bahwa Meng Lin pergi ke kota untuk melihat hasilnya.. Namun, karena gadis itu belum bercerita apa pun sejak kembali, mereka tidak tahu bagaimana hasilnya.

Meng Lin mengambil teko di atas meja dan menuangkan sedikit air ke dalam cangkir. Ekspresinya tetap tenang ketika menjawab.

"Aku lulus."

"APA?!" Seruan terkejut terdengar hampir bersamaan.

Xia Ning langsung berbalik sepenuhnya. Wajahnya yang biasanya tegas kini dipenuhi kegembiraan.

"Kamu lulus menjadi guru?"

"Ya." Meng Lin mengangguk. " Aku akan mengajar bulan depan, di awal semester baru."

"Bagus sekali!" Xia Ning berseru dengan senyum lebar. "Meng Lin, kamu benar-benar hebat! Tidak mudah mendapatkan kesempatan seperti itu, apalagi di masa sekarang."

"Benar! Kalau menjadi guru, kamu tidak perlu terus-menerus melakukan pekerjaan berat di ladang!" sahut seorang pemuda dengan wajah kagum.

"Jangan bicara sembarangan. Menjadi guru juga pekerjaan yang melelahkan," tegur temannya, meskipun dia sendiri tersenyum lebar.

"Lalu bagaimana dengan Liu Yuran?" tanya Xia Ning.

"Kak Xia, untuk apa menanyakannya? Aku tahu kemampuanku.Mana mungkin aku lulus dengan banyaknya peserta dari kota!"

"Ya. Yang lulus untuk guru SD berasal dari kota!" sahut Meng Lin.

"Nah kan. Sudah ketebak..!" kata Liu Yura dengan santai. Dia tidak sedih atau kecewa sedikitpun.

"Hmm.. Sudahlah, mungkin belum waktunya.!" ucap Yan Rao. "Sekarang kita makan dulu, makanannya keburu dingin.!"

"Ya ya... Mari makan.!"

Suasana asrama mendadak ramai. Mereka mengucapkan selamat kepada Meng Lin dengan tulus. Bagi para pemuda yang setiap hari harus bekerja keras demi memenuhi kuota pekerjaan, kesempatan menjadi guru tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan.

Yan Rao pun ikut tersenyum lega. "Selamat, Meng Lin. Aku tahu kamu pintar, tetapi mendengar kamu benar-benar lulus tetap membuatku senang."

"Terima kasih." Meng Lin menerima ucapan mereka tanpa berlebihan. Namun, melihat wajah-wajah yang ikut bergembira untuknya, sorot matanya sedikit melunak.

Dia kemudian mengangkat dagu ke arah meja makan. ,"Jadi, anggap saja makanan ini sebagai traktiran dariku untuk merayakan kelulusanku."

Semua orang terdiam selama sesaat. Lalu, pandangan mereka serentak beralih ke meja makan.

Nasi putih yang masih mengepul, daging babi kecap yang dimasak hingga empuk, serta tumis sawi yang tampak segar. Belum lagi potongan buah semangka dan timun, sangat mahal.

Dari pakaian dan makanannya. Mereka sudah tahu, jika Meng Lin adalah anak orang kaya. Tapi, mereka tetap terkejut, mungkin karena sudah lama tinggal di desa.

Mereka kembali menelan ludah. "Traktiran? Semua ini?" Seorang pemuda menunjuk meja dengan ekspresi tidak percaya.

Meng Lin mengangguk. "Ya. Aku ingin merayakannya bersama kalian."

"Ini terlalu mewah!" Pemuda itu memegangi dadanya dengan wajah terharu yang dibuat-buat. "Aku bahkan belum pernah merasa begitu bahagia hanya karena pulang kerja!"

"Kalau begitu, cepat pergi mandi sebelum kamu pingsan karena kelaparan!" Xia Ning menepuk bahunya sambil tertawa.

Kali ini, tawa mereka pecah semakin keras.

Beberapa orang bergegas menuju tempat mencuci diri, sementara yang lain sibuk membicarakan hidangan malam itu. Bahkan Xia Ning yang biasanya selalu menjaga sikap sebagai pemimpin tim tampak tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Dia menoleh kepada Meng Lin sebelum pergi.

"Terima kasih, Meng Lin. Dan sekali lagi, selamat."

Meng Lin hanya mengangguk ringan. "Pergilah bersih-bersih. Makanannya tidak akan lari."

"Kalau kamu terus mengatakan hal seperti itu, aku khawatir mereka malah akan berlari lebih cepat!" Yan Rao menggoda sambil tertawa kecil.

Meng Lin meliriknya sekilas, lalu menggeleng pelan. Namun, ketika melihat para pemuda bergegas pergi dengan wajah penuh semangat, sudut bibirnya terangkat tipis.

Sudah lama dia tidak merayakan sesuatu bersama orang lain seperti ini. Di kehidupan sebelumnya, keberhasilan sering kali hanya menjadi angka di atas kertas.

Tidak ada keramaian, tidak ada orang yang menunggu untuk mengucapkan selamat, apalagi hidangan sederhana yang dinikmati bersama setelah seharian bekerja.

Kali ini berbeda.

Mungkin kehidupan di desa ini tidak semudah yang dibayangkan. Dia masih harus menghadapi banyak hal, dan jalan yang terbentang di hadapannya belum tentu mulus.

Namun, setidaknya untuk malam ini, dia bisa menikmati suasana hangat bersama orang-orang yang mulai dikenalnya.

Meng Lin berbalik ke dapur untuk menyiapkan mangkuk dan sumpit.

Tak lama lagi, mereka akan kembali memenuhi meja makan.

Dan dia yakin, melihat banyaknya orang yang tadi menelan ludah hanya karena mencium aroma masakannya, makan malam kali ini pasti akan berlangsung sangat meriah.

.

.

.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
Yani
lanjut Thorr
gift ☕ biar semangat 🥰🥰
Fauziah Daud
sehat selalu n lanjut
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat 😍💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n terus sehat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!