Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapangan Basket, Tripoin Jalanan, dan Kapas Merah di Ruang Kesehatan
Jadwal pelajaran olahraga (Penjas) di SMA Mingde adalah satu-satunya waktu di mana otak para murid bisa bernapas dari cekikan rumus Matematika dan hapalan Sejarah.
Sialnya—atau mungkin kebetulannya—jadwal Penjas Kelas 11-3 hari ini digabung dengan Kelas 11-1 karena salah satu guru olahraga sedang cuti. Ya, Kelas 11-1. Kelasnya sang dewa akademis, Wang Yibo.
Matahari Jiangcheng bersinar cukup terik siang itu. Di pinggir lapangan basket *outdoor*, murid-murid perempuan dari kedua kelas sudah duduk manis di tribun. Sebagian besar dari mereka diam-diam membawa botol air mineral dingin, berharap bisa memberikannya pada cowok incaran mereka setelah tanding.
Lin Xiao duduk di barisan paling bawah tribun, berteduh di bawah bayangan pohon besar. Alih-alih menonton ke arah lapangan, pangkuannya malah dipenuhi oleh buku saku kosakata bahasa Inggris. Dia bergumam pelan, menghafal kata demi kata.
"Lin Xiao!"
Suara panggilan itu membuat Lin Xiao mendongak. Wang Yibo berjalan menghampirinya dengan senyum ramah yang selalu berhasil membuat siswi lain meleleh. Cowok itu mengenakan seragam *tracksuit* yang lengannya digulung rapi sampai siku.
"Kamu masih belajar di jam olahraga? Nanti matamu lelah, lho," tegur Yibo lembut, berdiri tepat di depan Lin Xiao untuk menghalanginya dari sinar matahari yang menyilaukan.
Lin Xiao tersenyum canggung, menutup buku sakunya. "Ah, ujian bulan depan materinya sangat banyak, Yibo. Aku cuma menyicil sedikit."
"Nanti setelah tanding, tolong jaga botol minumku ya," Yibo menyodorkan sebotol air mineral ke arah Lin Xiao, nadanya terdengar seperti permintaan biasa, namun aslinya itu adalah sebuah deklarasi teritorial agar cowok lain melihat siapa yang diperhatikan oleh sang ketua kelas.
Namun, sebelum tangan Lin Xiao sempat menyentuh botol itu...
*BAM!*
Sebuah bola basket melayang dengan kecepatan tinggi dan memantul sangat keras tepat di aspal, hanya berjarak lima sentimeter dari ujung sepatu Wang Yibo. Pantulan bola itu begitu keras sampai Yibo refleks mundur selangkah karena kaget.
"Ops, *sorry*. Tangan gue licin."
Suara bariton yang berat dan malas itu datang dari arah tengah lapangan.
Lu Feng berdiri di sana. Cowok itu sudah melepas jaket *tracksuit*-nya, hanya menyisakan kaos oblong putih tipis yang memperlihatkan lekuk bahu dan lengannya. Keringat tipis sudah membasahi rambut hitamnya yang berantakan. Dia menatap Wang Yibo dengan senyum miring yang kelewat meremehkan.
Chen Hao yang berdiri di sebelah Lu Feng cuma bisa menepuk jidatnya. *Sialan, nih anak bener-bener ngajak perang dunia ketiga*, batinnya.
Wajah Yibo mengeras sesaat, tapi dia dengan cepat mengembalikan senyum tenangnya. Dia memungut bola basket itu, lalu memutarnya di ujung jari telunjuk dengan gaya khas anak klub basket sekolah.
"Nggak apa-apa, Lu Feng," ucap Yibo lantang, berjalan memasuki lapangan. "Daripada tanganmu licin terus, bagaimana kalau kita pemanasan dengan tanding 3 lawan 3? Kelas 11-1 lawan Kelas 11-3. Hitung-hitung melatih kerja sama tim murid baru sepertimu."
Seisi lapangan langsung bersorak heboh. Tensi antara murid teladan dan murid pindahan pembuat onar ini benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi.
Lu Feng mendengus pelan, meregangkan otot lehernya sampai terdengar bunyi *krek* pelan. "Boleh. Asal lo nggak nangis kalau kalah, Peringkat Satu."
Pertandingan dimulai.
Tiga menit pertama, Wang Yibo menunjukkan kelasnya. Cowok itu bermain sangat rapi, persis seperti buku teks. *Dribble*-nya terukur, *passing*-nya akurat, dan dia berhasil mencetak dua angka pertama lewat *lay-up* yang bersih. Sorakan cewek-cewek Kelas 11-1 menggema memekakkan telinga.
Lin Xiao, yang awalnya tidak peduli, perlahan mulai menutup bukunya. Matanya kini terpaku pada permainan di lapangan. Lebih tepatnya... terpaku pada sosok berkaos putih yang bergerak secepat kilat.
Lu Feng sama sekali tidak bermain rapi. Gayanya adalah gaya basket jalanan (streetball). Agresif, liar, penuh tipuan (*fake out*), dan sangat mendominasi.
Saat bola berada di tangan Lu Feng, Yibo maju untuk melakukan *defense* ketat. Dua cowok itu saling berhadapan. Hawa panas menguar dari tatapan mereka.
"Kamu terlalu banyak gaya, Lu Feng," bisik Yibo dengan senyum meremehkan. "Di sekolah ini, orang-orang sepertimu cuma akan jadi pajangan latar belakang."
Lu Feng tersenyum menyeringai. "Gue nggak butuh panggung sekolah ini. Gue cuma mau ngebuktiin kalau lo... nggak pantes buat dia."
Dalam sekejap mata, Lu Feng melakukan *crossover* yang sangat brutal. Bahunya menipu Yibo ke kiri, namun bola berpindah ke kanan dengan kecepatan yang tak kasat mata. Yibo kehilangan keseimbangan, nyaris terjatuh (ankle break)!
Lu Feng melompat mundur dari garis tiga angka. Postur tubuhnya di udara terlihat sangat sempurna di bawah sinar matahari. *Swish!* Bola masuk mulus ke dalam ring tanpa menyentuh besi sedikit pun. Tiga poin!
"GILA! LU FENG KEREN BANGET ANJIR!" Chen Hao berteriak histeris kegirangan sambil melompat-lompat.
Sorakan dari tribun Kelas 11-3 pecah. Bahkan Lin Xiao tanpa sadar menahan napasnya. Tangan cewek itu meremas pinggiran roknya. Matanya tak bisa lepas dari sosok Lu Feng yang kini sedang menarik kerah kaosnya ke atas untuk mengelap keringat di dagu, mengekspos perutnya yang terbentuk jelas. Pipi Lin Xiao langsung memanas, buru-buru ia menundukkan pandangannya.
Pertandingan semakin panas. Lu Feng benar-benar membantai tim Yibo. Skor berjarak jauh.
Ego Yibo sebagai anak emas Mingde terluka parah. Saat Lu Feng kembali melakukan *drive* cepat menuju ring, Yibo berlari mengejarnya dari belakang. Logika Yibo sudah tertutup amarah. Saat Lu Feng melompat untuk *lay-up*, Yibo dengan sengaja menabrakkan bahunya ke udara, menghantam rusuk Lu Feng!
"LU FENG!" jerit Lin Xiao dari pinggir lapangan, suaranya melengking menembus sorakan penonton.
Lu Feng kehilangan keseimbangan di udara. Tubuh besarnya terhempas ke aspal lapangan *outdoor* dengan posisi yang salah.
*BRAK!*
"ARGH!" Lu Feng mengerang tertahan. Siku kanan dan lututnya terseret kasar di aspal. Kulitnya robek seketika, darah segar langsung mengalir membasahi sikunya.
Peluit guru olahraga berbunyi nyaring. Seisi lapangan panik. Chen Hao langsung berlari menghampiri temannya.
"Feng! Lo nggak apa-apa, Bro?!" panik Chen Hao.
Yibo mendarat dengan aman, berpura-pura kaget dan mengangkat kedua tangannya. "Maaf, aku tidak sengaja. Tubuhku terbawa momentum." Alasan yang sangat klise, tapi para guru cenderung percaya pada anak teladan.
Lu Feng mengumpat pelan, menepis tangan Chen Hao dan bangkit berdiri sendiri. Sikunya berdenyut nyeri, darahnya menetes ke lantai. Matanya menatap Yibo dengan tajam, bersiap untuk mendaratkan tinju ke wajah munafik itu, tapi sebuah suara menghentikannya.
"Pak Guru! Lu Feng berdarah parah. Dia harus dibawa ke ruang kesehatan sekarang!"
Lin Xiao sudah berdiri di sana. Wajah cewek itu pucat pasi, matanya memancarkan kepanikan yang sangat jarang ia perlihatkan. Sang ketua kelas yang selalu tenang itu kini napasnya memburu, menatap luka di siku Lu Feng dengan ngeri.
Guru olahraga mengangguk cepat. "Ya, ya! Bawa dia ke UKS. Lin Xiao, sebagai ketua kelas, tolong antar dia dan obati lukanya. Saya harus mengurus sisa pertandingan ini."
Lin Xiao tidak membantah. Dia langsung mendekati Lu Feng, mengabaikan tatapan syok dari Wang Yibo.
"Ayo," ucap Lin Xiao dingin pada Lu Feng, lalu berjalan mendahului cowok itu. Lu Feng tersenyum tipis, rasa sakit di sikunya mendadak hilang. Dia berjalan mengekor di belakang Lin Xiao, meninggalkan Yibo yang berdiri mematung menahan malu dan amarah di tengah lapangan.
***
Ruang kesehatan (UKS) SMA Mingde berada di lantai dasar gedung utama. Sepi dan berbau khas antiseptik. Dokter jaga sedang tidak ada di tempat, menyisakan mereka berdua saja di ruangan itu.
Lu Feng duduk di tepi ranjang putih, sementara Lin Xiao sibuk mengobrak-abrik lemari kaca, mencari kotak P3K. Tangannya terlihat sedikit gemetar saat mengambil botol alkohol dan kapas.
Cewek itu kembali, menarik kursi kecil dan duduk tepat di hadapan Lu Feng.
"Mana lenganmu," perintah Lin Xiao dengan nada tegas yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Lu Feng menyodorkan lengan kanannya yang berdarah. Lin Xiao menunduk, menuangkan alkohol ke atas kapas. Wajah cewek itu berada sangat dekat dengan dada Lu Feng. Aroma sabun *peach* bercampur dengan keringat maskulin membuat udara di ruangan itu terasa sangat tipis.
"Ini akan sedikit perih. Tahan," bisik Lin Xiao pelan.
Saat kapas beralkohol itu menyentuh luka robek di siku Lu Feng, cowok itu sama sekali tidak meringis. Jangankan berteriak, napasnya saja sangat teratur. Matanya justru sibuk menatap wajah Lin Xiao dari jarak sedekat ini. Memperhatikan kerutan panik di dahi cewek itu, dan bagaimana bibir mungilnya sedikit mengerucut saat meniup-niup lukanya pelan.
"Lo kelihatan lebih panik dari gue, Ketua Kelas," goda Lu Feng, suaranya berat dan serak, memecah keheningan UKS.
Tangan Lin Xiao terhenti sejenak. Cewek itu mendongak, menatap Lu Feng dengan tatapan kesal, tapi matanya berkaca-kaca.
"Bisa tidak kamu tidak usah banyak gaya? Kalau tahu dia akan menabrakmu, kenapa tidak menghindar?!" omel Lin Xiao, suaranya bergetar. "Bagaimana kalau tanganmu patah? Sebentar lagi ujian, bagaimana kamu akan menulis?!"
"Gue kan punya lo buat nyatetin pelajaran," jawab Lu Feng asal, tertawa pelan.
"Lu Feng!" Lin Xiao menekan kapas itu sedikit lebih keras saking kesalnya.
"Aw!" Lu Feng berpura-pura kesakitan, meski aslinya tidak terasa apa-apa.
Lin Xiao langsung panik lagi, buru-buru menarik tangannya. "M-maaf! Apa aku menekannya terlalu keras? Maaf..."
Melihat wajah bersalah Lin Xiao, pertahanan Lu Feng benar-benar runtuh. Sifat isengnya menguap begitu saja. Cowok itu tiba-tiba mengangkat tangan kirinya yang tidak terluka, dan dengan sangat lembut, ia menyentuh pipi Lin Xiao.
Sentuhan hangat dari telapak tangan Lu Feng yang agak kasar membuat napas Lin Xiao tertahan di tenggorokan. Tubuhnya membeku. Mata bulatnya menatap langsung ke dalam mata Lu Feng yang kini tidak lagi memancarkan kilat jahil, melainkan kelembutan yang sangat dalam.
"Kenapa lo sepeduli ini sama berandal kelas yang suka tidur, Lin Xiao?" bisik Lu Feng, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa inci.
Lin Xiao menelan ludah. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Lu Feng bisa mendengarnya. Dia ingin menjawab 'karena ini tugasku sebagai ketua kelas', tapi lidahnya kelu. Ditatap sedalam itu oleh Lu Feng membuat semua logika dan aturan yang ia yakini selama ini hancur berantakan.
Melihat Lin Xiao hanya diam dengan pipi merona hebat, Lu Feng mencondongkan wajahnya lebih dekat. Pandangannya turun ke arah bibir kemerahan cewek itu yang 살짝 (sedikit) terbuka karena gugup.
"Kalau lo nggak mau jawab..." suara Lu Feng semakin berbisik pelan, "...biar gue yang kasih tahu alasannya."
Lu Feng memiringkan kepalanya. Jarak mereka kini benar-benar terhapus. Hembusan napas Lu Feng menerpa bibir Lin Xiao. Cewek itu refleks memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya meremas seragamnya sendiri, bersiap untuk apa pun yang akan terjadi.
Namun, tepat saat bibir mereka nyaris bersentuhan...
*Cklek!*
"Xiao! Kamu di dalam?"
Pintu UKS didorong terbuka. Wang Yibo berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah.
Lin Xiao langsung tersentak mundur, terlonjak dari kursinya hingga kursinya nyaris terjatuh. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Dia buru-buru meraih perban dan membelakangi pintu.
Lu Feng mengumpat kasar di dalam hati. Rahangnya mengeras. Dia menoleh ke arah pintu dengan tatapan iblis yang siap membunuh siapa saja.
Wang Yibo menyadari suasana canggung dan tegang itu. Matanya menyipit penuh kecurigaan, melihat jarak kursi Lin Xiao yang terlalu dekat dengan ranjang Lu Feng. Tangannya yang memegang gagang pintu mengepal erat.
"Guru menyuruhku mengecek keadaan kalian," Yibo berdeham, berusaha mempertahankan senyum tenangnya. "Lukanya parah, Xiao?"
Lin Xiao masih membelakangi mereka, berusaha menetralkan suaranya. "T-tidak. Hanya luka gores. Aku sedang memberinya perban."
Lu Feng tersenyum sinis, menatap Yibo dengan tatapan menantang penuh kepuasan. Meski ciuman mereka gagal, Lu Feng sudah mendapatkan jawabannya. Lin Xiao memejamkan mata. Cewek itu tidak menolaknya. Dan fakta itu jauh lebih berharga daripada memenangkan seratus pertandingan basket.
"Gue baik-baik aja, Peringkat Satu," ucap Lu Feng santai, sengaja menekankan kata-katanya. "Ketua Kelas ngerawat gue dengan... sangat baik. Lo bisa balik ke kelas sekarang."
Mata Yibo berkilat marah, tapi dia memaksakan diri mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Cepat selesaikan, Xiao. Kita ada rapat OSIS lima belas menit lagi." Yibo pun menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras.
Setelah pintu tertutup, keheningan canggung kembali melanda UKS. Lin Xiao menunduk, dengan cepat membalut siku Lu Feng dengan perban, tangannya masih gemetar mengingat seberapa dekat wajah mereka tadi.
"Sudah selesai," cicit Lin Xiao pelan, merapikan kotak P3K tanpa berani menatap mata Lu Feng.
Lu Feng bangkit dari ranjang. Cowok itu berdiri menjulang di depan Lin Xiao. Dia tidak memaksa cewek itu menatapnya, melainkan hanya mengulurkan tangan, menepuk puncak kepala Lin Xiao dua kali dengan sangat lembut.
"Gue hutang penjelasan sama lo, Ketua Kelas," bisik Lu Feng, senyum tipis terukir di bibirnya. "Atau mungkin... hutang satu ciuman."
Mata Lin Xiao membelalak kaget. Dia langsung mendongak, tapi Lu Feng sudah berbalik dan berjalan santai keluar dari UKS, meninggalkan Lin Xiao sendirian dengan wajah yang serasa ingin meledak saking panasnya.
Di luar, angin musim gugur bertiup sejuk, tapi bagi Lin Xiao, hari ini benar-benar terasa seperti musim panas yang membakar pertahanan hatinya hingga tak bersisa.