"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hari Pernikahan
Hari yang paling Kate coba hilangkan dari kalender hidupnya pada akhirnya datang juga. Hari pernikahan. Hari ini, barisan pengawal berjaga rapat tepat di depan pintu kamar agar sang Putri Raventhal tidak lagi melancarkan aksi kabur. Rhea pun senantiasa berada di samping sang nona, memastikan gadis itu tetap berada di tempat dan tampil dengan keanggunan sempurna.
Meski begitu, satu-satunya orang yang paling tidak bahagia di acara ini tidak lain dan tidak bukan adalah sang putri sendiri. Padahal semalam ia sudah mencoba melarikan diri, tapi hasilnya gagal total. Bahkan hari ini, saat ia memaksakan diri ingin memakai gaun hitam berkabung, Rhea dengan lihai menggantinya dengan gaun pengantin putih yang sangat indah dan memancarkan keanggunan tiada tanding.
"Huh..." Helaan napas Kate terdengar sangat berat. Gadis itu memandang ke arah pantulan dirinya di balik cermin—seorang gadis yang sangat cantik, namun menampilkan ekspresi lelah dan pusing tujuh keliling.
Rhea yang baru saja selesai menyisir rambutnya refleks memandang sang nona dari balik cermin. Suaranya yang selalu terlalu realistis kembali terdengar di telinga Kate. "Ada apa lagi, Nona? Anda akan dinikahkan dengan seorang Jenderal—pria yang paling diidamkan di seluruh kerajaan. Kenapa wajah Anda masih saja murung sampai sekarang?"
"Murung?" Kate langsung berbalik menghadap Rhea dengan tatapan tajam tak terima. Suaranya bahkan naik satu oktaf. "Kau masih bertanya kenapa aku murung?" tanyanya dengan mata melebar.
Rhea hanya menatap sang nona dengan pandangan polos tanpa berkedip. "Ya. Kenapa masih murung?" katanya tanpa peka sedikit pun.
"Masih tanya?" kata Kate syok. "Jenderal batu itu tidak banyak bicara! Dia seperti patung Yunani, menyebalkan dan tidak seru! Kau mau aku menikah dengan pria yang hanya bicara satu kalimat per menit?"
"Justru bagus, Nona. Anda yang banyak bicara ini jadi bisa bebas berekspresi sementara Jenderal mendengarkan Anda dengan baik," sahut Rhea tenang.
Kate memukul meja riasnya pelan, kembali menatap Rhea seakan-akan dayangnya itu adalah musuh yang terlalu realistis. "Aku tidak sedang membicarakan itu—"
"Lalu bicara apa?"
Tok, tok, tok.
Belum sempat Kate membalas atau Rhea memotong ucapan sang nona, ketukan di pintu kamar memecahkan ketegangan di antara keduanya. Rhea dan Kate saling pandang sejenak, sebelum Rhea merapikan posisi berdirinya dan melangkah mendekat untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, utusan kerajaan sudah berdiri di sana untuk menjemput Kate menuju altar. Acara pernikahan antara dua insan berderajat tinggi itu akan dimulai sebentar lagi. Rhea mengangguk sopan, lalu kembali berjalan mendekati Kate.
"Nona, mari. Anda harus segera ke altar, pernikahan akan segera dimulai."
Kate mendengkus keras, membuang muka dari cermin. "Katakan pada utusan itu kalau aku sedang terkena penyakit mendadak!"
"Penyakit kebohongan akut tidak berlaku untuk membatalkan pernikahan kerajaan, Nona," sahut Rhea sangat tenang. Dayang itu mengambil penutup wajah dari sutra tipis, memasangkannya di kepala Kate dengan lembut, lalu merapikan gaun putih pengantin yang menjuntai indah tersebut. "Mari. Semakin cepat Anda melangkah, semakin cepat pula penderitaan formal ini selesai."
Dengan perasaan yang campur aduk antara dongkol, pasrah, dan sedikit rona merah yang enggan ia akui, Kate akhirnya melangkah keluar.
Sesuai dengan kesepakatan awal, aula pernikahan di katedral privat ini memang tidak dipenuhi oleh lautan bangsawan yang bising. Hanya ada orang-orang penting pilihan: Yang Mulia Raja, Duke Raventhal beserta perwakilan keluarga dekat, dan beberapa komandan divisi militer kepercayaan Salvatore. Suasananya begitu khidmat, intim, namun terasa sangat megah.
Saat pintu kayu jati berukir itu terbuka perlahan, seluruh pandangan langsung tertuju pada Kate.
Di ujung karpet merah, di dekat tempat Pendeta Agung berdiri, Salvatore Ardan sudah menunggu. Pria itu mengenakan seragam kebesaran militer berwarna hitam dengan aksen sulaman emas yang sangat presisi.
Tubuhnya tegap, wajahnya tetap kaku—namun sepasang mata elangnya menyapu penampilan Kate dari ujung kepala hingga kaki tanpa menyembunyikan rasa kagum sedikit pun.
Kate melangkah perlahan didampingi ayahnya, berusaha mengabaikan tatapan tajam nan intens dari pria di depan sana. Jangan terpesona, Kate. Dia cuma patung Yunani berkostum jenderal, bisik Kate mantap dalam hati.
Begitu Duke Raventhal menyerahkan jemari Kate kepada Salvatore, genggaman tangan Salvatore terasa begitu hangat dan kokoh. Pria itu menuntun Kate naik ke hadapan podium altar.
Upacara janji pernikahan pun dimulai. Pendeta Agung membacakan doa-doa suci, menyatu dengan keheningan aula yang begitu sakral. Hingga akhirnya, tiba saatnya bagi kedua mempelai untuk saling mengucapkan janji suci di hadapan Raja dan para saksi.
Salvatore berbalik menghadap Kate. Ia menatap gadis itu. Lama.
Suasana menjadi sangat hening, hanya tersisa suara deru angin lembut dari luar katedral. Salvatore lalu bersuara dengan nada baritonnya yang mantap dan menggema pelan:
"Aku tidak akan berjanji untuk membuatmu bahagia. Aku tahu kau cukup kuat untuk mencari kebahagiaanmu sendiri."
Kate sedikit terkejut. Kelopak matanya melebar pelan di balik kain sutra tipis.
"Aku juga tidak berjanji untuk menjagamu dari dunia. Karena kau bukan bunga yang perlu dikurung," lanjut Salvatore, matanya menatap dalam, jujur tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Tapi aku akan berdiri di sisimu. Saat kau marah, saat kau sinis, saat kau melempar sisir padaku—aku akan tetap di sana."
Kate mematung. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Bukan karena kau harus mencintaiku. Tapi karena... aku mencintaimu. Bahkan jika aku harus menunggu seumur hidup."
Kate membeku total.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut seorang Jenderal yang biasanya hanya mengucapkan tiga kata per jam. Janji yang tidak manis secara berlebihan, tapi begitu kuat, menghargai kebebasannya, dan terucap tanpa dusta. Dada Kate berdesir hebat, membuat benteng pertahanan di hatinya yang tadi berdiri kokoh mendadak runtuh separuh.
Pendeta Agung tersenyum hangat. "Dengan ini, saya menyatakan kalian berdua resmi menjadi suami dan istri."
Acara berlanjut ke sesi penandatanganan dokumen dan jamuan kecil di ruang samping katedral. Setelah momen sakral tadi selesai, Kate dan Salvatore berdiri sedikit menjauh dari jangkauan para tamu penting yang sedang menikmati anggur.
Kate masih berusaha menata detak jantungnya yang berantakan. Ia berpaling, menyilangkan tangan di depan dada, pura-pura sibuk menatap piala kristal di atas meja.
Salvatore melangkah mendekat. Ia mengamati Kate yang kini terlihat begitu menawan dengan gaun putihnya.
"Kau sangat cantik malam ini."
Kate menoleh cepat, berusaha menutup-nutupi rasa gugupnya dengan suara ketus. "Kalau kau mulai genit, aku lempar piala ini."
"Aku serius," ujar Salvatore singkat dan jujur.
Hal itu malah membuat Kate makin serbasalah—marah, malu, dan bingung di saat yang bersamaan. Wajahnya merona hangat hingga ke ujung telinga.
"Berhenti memujiku. Itu tidak membuatku bahagia," desis Kate sambil cemberut.
"Baiklah."
Hening sejenak di antara mereka. Salvatore hanya menatapnya tenang.
"...Tapi kau tetap cantik."
"UGH!"
Kate mengerang frustasi, menyambar piala kristal kosong di depannya seolah benar-benar ingin melemparnya ke dada Salvatore. Sementara sang Jenderal hanya mengangkat sebelah alisnya dengan senyum tipis yang amat sangat samar—sebuah tanda bahwa perang pernikahan mereka baru saja dimulai, dan kali ini, Salvatore sama sekali tidak berniat untuk kalah.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗