NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setengah jam kemudian, Rahman kembali bersama Mang Ujang, tukang bangunan langganan warga sekitar.
Mang Ujang membawa tangga bambu dan sekotak peralatan kerjanya.
"Tumben amat Pak Rahman mau perbaiki kontrakan."
"Biasanya nunggu rubuh dulu baru panggil saya," canda Mang Ujang sambil menaiki tangga.
"Jangan banyak bicara, cepat perbaiki saja gentengnya yang bocor."
"Aku bayar kamu untuk kerja, bukan untuk mengobrol," tegur Rahman ketus.
Mang Ujang hanya tertawa kecil dan mulai memeriksa genteng di atas kamar Budi.
Ternyata ada tiga genteng yang pecah dan harus diganti baru.
"Pak, ini gentengnya ada tiga yang pecah."
"Bapak ada stok genteng bekas tidak di belakang?" tanya Mang Ujang dari atas atap.
"Tidak ada, buang-buang tempat saja simpan barang rongsokan."
"Kamu beli saja genteng baru di toko material depan, sekalian beli semen untuk menambal retakannya."
Mang Ujang mengangguk paham dan segera turun dari tangga.
"Total biayanya seratus lima puluh ribu, Pak."
"Itu sudah termasuk ongkos pasang dan beli bahan."
Tangan Rahman gemetar saat merogoh saku celananya.
Seratus lima puluh ribu adalah jumlah yang sangat besar baginya.
Itu setara dengan biaya makan siangnya selama hampir dua minggu.
Ia mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas di banyak bagian.
Dengan berat hati, ia menarik tiga lembar uang lima puluh ribuan.
Ia menatap uang itu cukup lama, seolah sedang melakukan upacara perpisahan.
"Ini, ambil saja dan pastikan kerjanya rapi."
Rahman menyerahkan uang itu dengan tangan yang sedikit ditarik menahan rela.
Mang Ujang mengambil uang itu dengan cepat sebelum Rahman berubah pikiran.
"Siap, Pak Rahman, beres pokoknya."
Ting!
[Peringatan Sistem: Dilarang memotong upah pekerja keras.]
[Sistem mendeteksi harga wajar untuk perbaikan ini adalah dua ratus ribu rupiah.]
[Misi Tambahan: Bayar Mang Ujang sesuai harga wajar.]
[Hadiah: Tubuh akan terasa lebih bugar selama 24 jam.]
[Kegagalan: Rasa pegal linu di seluruh persendian selama 24 jam.]
"Astaga naga!"
Rahman hampir berteriak membaca notifikasi baru itu.
Ia menatap Mang Ujang yang sudah bersiap pergi ke toko material.
Rahman bisa merasakan lutut dan pinggangnya mulai memberikan sinyal rasa sakit.
Di usianya yang hampir tujuh puluh tahun, pegal linu adalah musuh terbesarnya.
Ia tidak bisa membayangkan harus menahan sakit di seluruh sendinya seharian penuh.
"Tunggu, Mang Ujang!" panggil Rahman cepat.
Mang Ujang menoleh dengan tatapan bingung.
"Ada apa lagi, Pak?"
"Uangnya kurang lima ribu buat beli rokok ya?"
"Bukan itu."
Rahman berjalan mendekat dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu lagi dari dompetnya.
"Ini, ambil tambahan lima puluh ribu lagi."
"Anggap saja bonus dariku karena kamu mau datang hujan-hujan begini," ucap Rahman membuang muka.
Mang Ujang melongo melihat uang tambahan di tangannya.
Ia sampai mencubit lengannya sendiri untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi.
Rahman Affandi, manusia paling kikir di kota ini, baru saja memberinya bonus.
Dan jumlahnya tidak main-main, lima puluh ribu rupiah!
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak Rahman!"
"Bapak memang orang kaya yang dermawan, semoga rezeki bapak makin lancar ya!"
Mang Ujang membungkuk berkali-kali saking senangnya.
Ia langsung berlari semangat menuju toko material dengan senyum lebar.
Rahman hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Dermawan apanya, aku ini sedang diperas oleh sistem siluman," batinnya menangis darah.
Dari celah tirai kamar nomor dua, Maya diam-diam mengamati kejadian itu.
Gadis berambut sebahu itu merasa sangat heran dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Pak Rahman kasih uang bonus ke Mang Ujang?"
"Ini pasti tanda-tanda kiamat sudah dekat," gumam Maya pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Satu jam kemudian, perbaikan atap selesai dengan sempurna.
Hujan juga sudah mulai reda dan menyisakan genangan air di halaman.
Budi keluar dari kamarnya dan melihat ke arah atap.
Tidak ada lagi air yang menetes ke lantai kamarnya.
"Sudah beres semua, Mas Budi," kata Mang Ujang sambil merapikan peralatannya.
"Pak Rahman tadi minta gentengnya diganti baru semua biar awet katanya."
Budi menatap Rahman yang sedang duduk di kursi kayu depan kamarnya.
Ada rasa bersalah menyelinap di hati pemuda itu karena sudah membentak bapak kosnya tadi pagi.
Ia berjalan menghampiri Rahman dengan canggung.
"Pak, terima kasih ya sudah cepat diperbaiki."
Rahman melirik Budi sekilas.
"Ya, lain kali kalau ada rusak jangan langsung teriak-teriak seperti orang hutan."
"Maaf, Pak, tadi saya panik takut TV saya rusak beneran."
"Ternyata Pak Rahman tidak seburuk yang diomongkan orang-orang," ucap Budi tulus.
Mendengar pujian itu, telinga Rahman terasa sedikit panas.
Ia tidak terbiasa menerima kata-kata baik dari orang lain, apalagi dari penyewanya sendiri.
Ting!
[Misi Utama Harian Selesai.]
[Penyewa Budi merasa puas dan berterima kasih.]
[Hadiah: Tambahan umur 5 hari telah didistribusikan.]
[Misi Tambahan Selesai.]
[Tukang bangunan merasa sangat dihargai kerjanya.]
[Hadiah: Kebugaran fisik 24 jam telah diaktifkan.]
Seketika itu juga, Rahman merasakan sensasi hangat mengalir dari ubun-ubun hingga ke ujung kakinya.
Rasa pegal di pinggang yang biasanya selalu menyiksanya tiba-tiba lenyap tanpa bekas.
Napasnya terasa lebih panjang dan tubuhnya terasa ringan seperti saat ia masih berusia lima puluhan.
Ia berdiri dari kursi kayunya dengan gerakan yang sangat mulus tanpa perlu berpegangan.
"Luar biasa..." gumam Rahman takjub.
"Sistem ini ternyata benar-benar ajaib."
Kehilangan dua ratus ribu rupiah rasanya sangat sepadan dengan kesehatan yang ia rasakan saat ini.
Baginya, kesehatan di masa tua adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan uang berapapun.
Meskipun hatinya masih sedikit perih mengingat uangnya yang berkurang, ia mulai bisa menerima keberadaan sistem ini.
Jika ini adalah satu-satunya cara untuk terus hidup sehat, maka ia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, mari kita lihat apa lagi yang bisa kuperbaiki di tempat rongsokan ini."
Rahman menatap deretan kontrakannya dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari biasanya.
Ia berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah tegap dan punggung yang tidak lagi membungkuk.
Hari ini adalah kemenangan kecil bagi Rahman, sekaligus awal dari perubahan besar dalam pandangannya tentang uang.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...