Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Digital di Layar Kecil
Malam di rumah Nenek Surti terasa lebih sepi daripada biasanya. Angin malam yang biasanya membawa kesejukan, kali ini terasa menusuk tulang, seolah ikut merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh Ratna. Lily duduk di beranda depan, kakinya dilipat di atas kursi rotan tua yang sudah anyirnya longgar. Di tangannya, ia menggenggam erat ponsel pintar dengan layar yang retak sedikit di sudut kiri bawah—warisan terakhir dari ayahnya sebelum semua hancur.
Jam di pojok kanan atas layar menunjukkan pukul 02.00 waktu Indonesia. Namun, bagi Ratna di Arab Saudi, itu adalah pukul 21.00 waktu setempat. Waktu di mana ibu seharusnya sedang bersiap untuk tidur setelah seharian bekerja. Atau setidaknya, begitulah yang Lily harapkan.
Jari Lily melayang di atas tombol *call*, namun ia ragu. Ia tahu ibunya mungkin sedang lelah, atau mungkin sedang dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk menelepon. Akhirnya, ia memilih mengetik pesan teks. Jari-jarinya menari lambat di papan ketik virtual, menghapus dan menulis ulang kalimat berkali-kali hingga ia menemukan kata-kata yang tepat—kata-kata yang tidak terdengar menuntut, namun cukup untuk mengekspresikan kerinduannya.
*“Ma, udah makan belum? Di sana jam berapa sekarang? Lily kangen banget. Nenek juga nanyain terus. Kabarnya gimana? Sehat kan?”*
Lily menekan tombol kirim. Ikon centang biru muncul, menandakan pesan telah dibaca. Lalu, tanda *typing...* muncul. Berkedip-kedip. Hilang. Muncul lagi. Proses itu berlangsung selama hampir lima menit. Lima menit yang terasa seperti lima tahun bagi Lily. Jantungnya berdegup kencang, bayangan-bayangan buruk mulai menyeruak di kepalanya. Apakah ibunya sakit? Apakah majikannya marah karena menggunakan ponsel? Apakah ibunya menyesal dan tidak ingin menjawab?
Akhirnya, balasan itu datang. Bukan berupa panggilan suara, melainkan teks panjang disertai sebuah foto.
*“Hai sayangku. Maaf baru balas, tadi Mama lagi beres-beres dapur habis masak makan malam buat keluarga tuan rumah. Di sini jam 9 malam. Mama sudah makan kok, enak banget makanannya, ada daging kambing panggang dan nasi arab. Enak banget, Lil! Kalau kamu di sini, pasti kamu suka.”*
Lily membaca pesan itu berulang-ulang. Ada sesuatu yang ganjil. Nada bicara ibunya terdengar terlalu ceria, terlalu ringan. Kata-kata seperti enak banget dan bersih-bersih dapur terdengar seperti skenario film bukan realitas seorang pembantu rumah tangga yang baru tiba di negara asing.
Lily membalas cepat. *“Wah, selamat ya Ma. Tapi Mama nggak capek? Kerja dari pagi sampai malam gitu? Terus kamarnya gimana? Nyaman nggak?”*
Jeda kembali terjadi. Lebih lama kali ini. Lily bisa membayangkan ibunya di seberang lautan, mungkin sedang duduk di lantai kamar sempit tanpa jendela, memijat kakinya yang bengkak, sambil berpikir keras bagaimana cara merangkai kebohongan yang meyakinkan.
Balasan Ratna akhirnya masuk, kali ini disertai emoji tersenyum lebar dan gambar hati.
*“Capek sih dikit, namanya juga kerja. Tapi alhamdulillah, majikan Mama orang baik-baik. Mereka ramah, nggak banyak minta. Kamar Mama juga luas lho, Lil. Ada AC-nya, ada kasur empuknya. Bahkan ada jendelanya kecil biar nggak pengap. Mama betah di sini. Kamu jangan khawatir ya. Fokus saja sama sekolah. Nilai matematika kamu gimana? Sudah naik belum?”*
Lily menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ibunya mengalihkan pembicaraan. Itu tanda klasik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Lily mengenal ibunya terlalu baik. Ratna bukan tipe orang yang akan menyebut pekerjaan membersihkan rumah orang lain sebagai hal yang "nyaman" dan "betah" kecuali jika ia sedang berusaha keras menutupi rasa sakit.
*“Ma,”* ketik Lily, jemarinya gemetar. *“Bohong ya?”*
Tiga huruf itu menggantung di udara digital. Lily menunggu. Detik-detik berlalu. Tidak ada jawaban. Lily mengetik lagi.
*“Ma, aku tahu Mama bohong. Mama nggak pernah bilang ‘betah’ kalau Mama lagi susah. Mama selalu bilang ‘tahan dulu’. Tolong jujur sama Lily. Apakah Mama baik-baik saja? Apakah mereka nyiksa Mama? Kalau iya, pulang aja, Ma. Lily nggak butuh uang kuliah kalau harus menukar nyawa Mama. Pulang aja. Kita cari jalan lain. Kita jual tanah Nenek kalau perlu.”*
Air mata Lily menetes, jatuh menetes ke layar ponsel, membuat huruf-huruf di sana tampak kabur. Ia merasa marah, sedih, dan takut sekaligus. Marah karena dibohongi, sedih karena ibunya menderita sendirian, dan takut karena ia tidak bisa melakukan apa-apa dari jarak ribuan kilometer.
Di sisi lain, di kamar kecil belakang dapur di Jeddah, Ratna membaca pesan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Air matanya sudah mengering karena kelelahan, namun kini kembali mengalir deras. Ia ingin sekali berteriak. Ingin sekali mengetik balik: *“Mama sakit, Lil. Mama kesepian. Mama dipaksa bangun jam 4 pagi, disuruh cuci baju pakai tangan karena mesin rusak, dimarahi kalau ada debu sedikit saja. Mama rindu masakan Nenek. Mama rindu pelukanmu.”*
Namun, jari-jarinya menolak bergerak demikian. Ia melihat foto Lily dan Nenek yang menjadi wallpaper ponselnya. Wajah polos putrinya yang masih penuh harapan. Jika ia mengatakan kebenaran, Lily akan hancur. Lily akan berhenti belajar, akan depresi, akan menyalahkan dirinya sendiri karena mengirim ibunya ke neraka ini. Ratna tidak bisa membiarkan itu terjadi. Pengorbanannya akan sia-sia jika anaknya ikut terseret ke dalam lumpur penderitaannya.
Dengan napas yang tertahan, Ratna menghapus air matanya dengan ujung selendangnya. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksakan otot-otot wajahnya yang kaku untuk membentuk senyuman, meskipun tidak ada siapa-siapa yang melihatnya di kamar gelap itu. Ia mulai mengetik, setiap huruf adalah beban berat yang ia pikul sendirian.
*“Sayang, dengarkan Mama. Ini bukan bohong. Memang ada masa adaptasi. Awalnya memang kaget, beda budaya, beda bahasa. Tapi sekarang Mama sudah biasa. Majikan Mama sebenarnya baik, mereka cuma tegas soal kebersihan karena itu standar mereka. Mama dihargai, Lil. Gaji Mama aman. Mama bisa kirim uang bulan depan.*
*Mama bohong kalau bilang Mama nggak kangen. Mama kangen banget. Setiap malam Mama lihat foto kalian sebelum tidur. Tapi Mama kuat. Karena Mama tahu, di sana ada kamu dan Nenek yang sedang berjuang. Kalau Mama pulang sekarang, apa artinya perjuangan Mama selama ini? Apa artinya surat cinta kamu yang Mama simpan di saku baju?*
*Jangan jual tanah Nenek. Itu warisan terakhir kita. Sekolah yang penting. Jadilah anak pintar. Buat Mama bangga. Kalau kamu sukses, itu obat paling manjur buat lelahnya Mama di sini. Percaya sama Mama. Mama janji, dua tahun ini akan Mama jalani dengan kepala tegak. Jangan khawatirkan Mama. Khawatirkan nilai ujian kamu saja. Oke?”*
Ratna menekan tombol kirim. Ia melempar ponselnya ke samping kasur, lalu memeluk bantal tipisnya erat-erat. Ia membenamkan wajahnya, menahan tangis agar tidak terdengar oleh penghuni rumah besar di atas sana. Tubuhnya menggigil, bukan karena dinginnya AC, melainkan karena beban rahasia yang ia pendam.
Di Indonesia, Lily membaca pesan panjang itu. Matanya menyapu setiap kalimat. Ada nada tegas di sana, nada yang familiar dari ibunya saat sedang mengambil keputusan penting. Lily tahu, ibunya sedang membangun tembok perlindungan. Tembok itu dibangun dari kebohongan-kebohongan putih agar Lily tetap bisa bermimpi.
Lily mengusap air matanya. Ia menyadari bahwa menerima kebohongan itu adalah bentuk cinta tertinggi yang bisa ia berikan saat ini. Ia harus percaya. Ia harus kuat. Ia harus menjadi alasan ibunya bertahan.
*“Oke, Ma,”* ketik Lily akhirnya, suaranya bergetar meski hanya dalam pikiran. *“Lily percaya. Lily akan belajar keras. Lily akan jadi anak yang bikin Mama bangga. Tapi janji ya, Ma? Kalau Mama nggak kuat, kasih tahu Lily. Jangan tahan sendiri. Kita satu tim, kan?”*
*“Satu tim,”* balas Ratna hampir instan, seolah sudah menunggu kata kunci itu. *“Selamanya satu tim. Sekarang tidur, Nak. Besok sekolah. Love you.”*
*“Love you more, Ma. Good night.”*
Lily meletakkan ponselnya di dada. Ia menatap langit malam yang gelap. Bintang-bintang tampak samar-samar di balik awan. Ia berharap, di suatu tempat di belahan bumi lain, ibunya juga sedang menatap bintang yang sama, dan merasa sedikit lebih hangat mengetahui bahwa putrinya tidak tertipu sepenuhnya, tetapi memilih untuk percaya demi cinta.
Di kamar kecil yang pengap itu, Ratna memejamkan matanya. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya, namun ia menelannya bulat-bulat. Itu adalah perisainya. Dan selama perisai itu masih utuh, ia akan terus bertahan, satu hari demi satu hari, demi senyum Lily yang akan ia tagih pada masa depan.