Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumor yang menyebar
Setelah Siska pergi, suasana di Kafe Madero tidak lagi terasa sama.
Nayla masih berdiri di dekat meja dengan ponsel yang digenggam erat. Kalimat Siska terus berputar di kepalanya.
*Jangan pernah dekat-dekat dengan Raka, atau kamu akan tahu bagaimana rasanya kehilangan lebih banyak daripada suami.*
Ancaman itu tidak diucapkan dengan suara keras. Tidak ada saksi yang mungkin menganggapnya sebagai ancaman. Namun tatapan Siska cukup untuk membuat Nayla mengerti bahwa perempuan itu tidak sedang bercanda.
Mira menyentuh lengan Nayla dengan hati-hati.
“Kamu sebaiknya pulang dulu,” katanya. “Jangan hadapi Siska sendirian.”
Nayla mengangguk, meski pikirannya masih berantakan.
“Terima kasih sudah datang,” ucapnya kepada Mira. “Dan terima kasih sudah memberi tahu saya semua ini.”
Mira tersenyum tipis. “Jaga dirimu. Kalau kamu butuh aku sebagai saksi atau butuh informasi lain, hubungi nomor yang tadi.”
Nayla menyimpan nomor Mira. Setelah itu, ia keluar dari kafe dengan langkah perlahan.
Udara pagi terasa lembap. Langit kelabu, dan jalanan mulai ramai oleh kendaraan menuju perkantoran. Nayla berdiri di tepi trotoar sambil membuka aplikasi transportasi daring, tetapi jemarinya sulit menekan layar dengan tepat.
Ia merasa seperti baru saja ditarik masuk ke dalam masalah yang jauh lebih besar dari perselingkuhan.
Arga.
Siska.
Bayu.
Dokumen proyek.
Dan sekarang, Raka.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Arga masuk.
**Arga:** Kamu ketemu siapa pagi ini?
Nayla membeku.
Bagaimana Arga tahu ia keluar rumah?
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
**Arga:** Jangan bilang kamu ketemu Pak Raka lagi.
Jantung Nayla berdetak cepat.
Ia belum memberi tahu Arga soal pertemuannya dengan Mira. Ia juga tidak berada bersama Raka pagi ini. Namun jelas ada seseorang yang terus mengawasi atau memberi tahu Arga tentang gerakannya.
Siska.
Nayla langsung teringat ancaman perempuan itu.
*Raka mengantarmu semalam. Satu kantor sudah mulai membicarakannya.*
Rumor itu sudah dimulai.
Nayla tidak membalas pesan Arga. Ia mematikan layar dan segera memesan kendaraan. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya.
Saat mobil bergerak meninggalkan area kafe, Nayla menatap gedung PT Arunika Properti dari balik jendela. Bangunan itu terlihat tinggi dan tenang, seolah tidak menyimpan apa pun. Padahal di dalamnya, mungkin ada kebohongan yang selama ini menjerat Arga dan Siska.
Nayla tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan bukti-bukti dari Mira.
Memberikannya kepada Raka?
Menyimpannya untuk proses perceraian?
Atau berbicara dengan Arga lebih dulu?
Namun setelah melihat cara Arga berbohong, Nayla tidak yakin suaminya akan jujur jika diberi kesempatan lagi.
Ponselnya kembali berbunyi.
Kali ini, nama **Pak Raka** muncul di layar.
Nayla menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat panggilan.
“Halo, Pak?”
“Kamu sudah sampai rumah?” suara Raka terdengar tenang.
“Belum. Saya sedang di jalan.”
“Apa kamu pergi ke suatu tempat pagi ini?”
Nayla ragu.
Ia tidak ingin langsung membebani Raka dengan masalah baru. Namun, setelah pertemuannya dengan Siska, ia tidak tahu kepada siapa lagi harus bicara.
“Saya bertemu seseorang,” jawab Nayla akhirnya.
“Siapa?”
“Namanya Mira. Dia mengirim foto Arga dan Siska kepada saya semalam.”
Di seberang sana, Raka terdiam sesaat.
“Di mana kamu bertemu?”
“Kafe Madero.”
Nada suara Raka langsung berubah lebih serius. “Kamu pergi sendiri?”
“Iya.”
“Nayla, kamu seharusnya memberi tahu saya atau orang tua kamu.”
“Saya sudah mengirim lokasi ke Mama.” Nayla menarik napas. “Saya pikir itu hanya pertemuan biasa. Tapi Mira memberi saya bukti bahwa Arga dan Siska mungkin terlibat masalah proyek bersama seorang vendor.”
“Bukti apa?”
“Ada foto mereka di hotel dan tangkapan layar chat Siska dengan seseorang bernama Bayu. Mereka membicarakan dokumen kantor.”
Raka tidak langsung menjawab.
Nayla dapat mendengar suara langkah dan pintu tertutup dari seberang telepon. Sepertinya Raka sedang mencari tempat yang lebih sepi untuk berbicara.
“Kirim semua yang kamu punya ke nomor ini,” katanya kemudian. “Jangan hapus apa pun. Jangan meneruskan ke orang lain dulu.”
“Baik.”
“Dan satu lagi,” lanjut Raka. “Apakah Siska melihat kamu?”
Nayla menatap jalanan di luar jendela.
“Iya.”
“Apa dia mengatakan sesuatu?”
Nayla ragu untuk menjawab. Ia tidak ingin terdengar seperti terlalu dramatis. Namun ancaman Siska tadi masih membuat tubuhnya tidak nyaman.
“Dia bilang orang kantor sudah membicarakan saya dan Bapak,” kata Nayla pelan. “Karena Bapak mengantar saya semalam.”
Hening beberapa detik.
“Dia juga menyuruh saya menjauh dari Bapak,” lanjut Nayla. “Katanya kalau tidak, saya akan kehilangan lebih banyak daripada suami.”
Suara Raka terdengar lebih rendah ketika menjawab.
“Dengarkan saya. Jangan bertemu Siska atau Arga sendirian untuk sementara waktu.”
Nayla memejamkan mata.
“Pak Raka, saya tidak mau terus bergantung pada Bapak.”
“Ini bukan soal bergantung.” Nada Raka tetap tegas. “Ini soal keamanan kamu.”
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu sedang berada di dalam situasi yang belum jelas. Ada kemungkinan Arga dan Siska terlibat pelanggaran kantor, dan sekarang kamu memiliki informasi yang bisa merugikan mereka.” Raka berhenti sejenak. “Kamu harus berhati-hati.”
Nayla menggenggam ponselnya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa kebenaran bisa membuatnya berada dalam bahaya.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
“Sampai rumah, kabari saya.”
“Baik.”
Panggilan berakhir.
Nayla memandangi layar ponselnya cukup lama. Ia tidak tahu apakah perasaan hangat di dadanya muncul karena Raka peduli atau karena sudah terlalu lama tidak ada seseorang yang benar-benar memikirkan keselamatannya.
Namun ia cepat-cepat menepis pikiran itu.
Raka adalah atasan Arga.
Nayla masih istri Arga.
Apa pun yang terjadi, ia tidak boleh membiarkan dirinya terlalu dekat dengan pria itu.
***
Sesampainya di rumah orang tuanya, Nayla mendapati Bu Ratih sedang menyiram tanaman di halaman depan.
Begitu melihat Nayla turun dari mobil, ibunya segera menghampiri.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Nayla mengangguk. “Aku baik, Ma.”
Namun Bu Ratih hanya perlu menatap wajah putrinya beberapa detik untuk tahu bahwa jawabannya tidak sepenuhnya benar.
“Kamu bertemu siapa?”
Nayla mengajak ibunya masuk ke rumah. Di ruang tamu, ia menceritakan pertemuannya dengan Mira. Ia memperlihatkan foto Arga dan Siska keluar dari hotel, serta tangkapan layar percakapan Siska dengan Bayu.
Bu Ratih menatap layar ponsel dengan wajah pucat.
“Ya Allah,” bisiknya. “Masalahnya ternyata bukan cuma soal perselingkuhan.”
“Aku juga tidak tahu apakah chat itu benar-benar cukup untuk membuktikan sesuatu,” kata Nayla. “Tapi Pak Raka meminta aku menyimpannya.”
“Kamu cerita ke Pak Raka?”
“Iya. Dia yang menghubungi aku.”
Bu Ratih menghela napas pelan.
“Mama bersyukur ada orang yang membantu kamu. Tapi Mama juga ingin kamu hati-hati, Nay. Orang bisa salah paham.”
Nayla menunduk.
“Siska sudah mulai menyebarkan rumor,” katanya. “Dia bilang orang kantor membicarakan aku dan Pak Raka.”
Bu Ratih duduk lebih dekat dan menggenggam tangan Nayla.
“Orang yang bersalah sering kali berusaha membuat korban terlihat buruk agar dirinya tampak benar,” ujarnya. “Jangan biarkan mereka mengatur cerita tentang hidup kamu.”
Nayla mengangguk, meski hatinya masih berat.
Ponselnya berbunyi lagi.
Kali ini, sebuah pesan dari Dimas.
**Dimas:** Selamat siang, Bu Nayla. Pak Raka meminta saya menyampaikan bahwa bukti yang Ibu kirim sudah diterima. Mohon jangan bertemu Pak Arga atau Bu Siska sendirian. Jika ada yang menghubungi atau datang ke rumah, mohon kabari kami.
Nayla membaca pesan itu dua kali.
“Ada apa?” tanya Bu Ratih.
“Pak Raka sudah menerima bukti dari Mira.”
Bu Ratih tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi belum sempat bicara ketika suara mobil berhenti terdengar dari depan rumah.
Nayla dan ibunya saling menatap.
Beberapa detik kemudian, bel rumah berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Lalu beberapa kali berturut-turut.
Bu Ratih berdiri dengan wajah cemas.
“Siapa?” tanyanya dari balik pintu.
Tidak ada jawaban.
Bel kembali berbunyi.
Nayla mendekat ke jendela kecil di samping pintu dan mengintip keluar.
Tubuhnya langsung menegang.
Arga berdiri di depan pagar.
Ia mengenakan kemeja kerja yang sama seperti pagi tadi. Wajahnya terlihat kusut dan marah. Di belakangnya, mobilnya terparkir di tepi jalan.
Nayla menarik napas tajam.
“Arga,” bisiknya.
Bu Ratih langsung memegang lengan putrinya. “Jangan buka pintu.”
Arga kembali menekan bel.
“Nayla!” panggilnya dari luar. “Aku tahu kamu di dalam. Kita harus bicara.”
Nayla memejamkan mata.
Bagaimana Arga bisa tahu ia ada di sini?
Kemungkinan besar, suaminya sudah menebaknya sejak semalam.
“Aku tidak mau bicara,” kata Nayla cukup keras agar terdengar dari balik pintu.
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu buka.”
“Pergilah, Arga.”
“Tidak. Kamu tidak bisa terus kabur seperti ini.”
Kalimat itu membuat Nayla membuka mata.
*Kabur?*
Ia yang berselingkuh, tetapi Nayla yang dianggap kabur.
Ia yang mengkhianati, tetapi Nayla yang dipaksa merasa bersalah karena mencari ruang untuk bernapas.
Bu Ratih tampak ingin membuka pintu dan menghadapi Arga, tetapi Nayla menahannya.
“Biarkan aku bicara.”
Nayla berdiri di balik pintu, masih tidak membukanya.
“Aku bukan kabur,” ucapnya tegas. “Aku sedang menjauh dari seseorang yang membuatku terluka.”
Di luar, Arga terdiam.
“Aku sudah minta maaf,” katanya kemudian. “Aku bilang aku akan selesaikan semuanya sama Siska.”
“Kamu menyelesaikannya karena ketahuan.”
“Nayla, jangan dengarkan orang lain. Jangan percaya apa pun yang mereka katakan.”
Nayla menggenggam gagang pintu.
“Kalau begitu, kenapa kamu takut aku mengetahui kebenaran?”
“Aku tidak takut.”
“Lalu kenapa kamu selalu menghapus chat? Kenapa kamu berbohong soal lembur? Kenapa kamu marah ketika aku bertanya?”
Tidak ada jawaban.
Nayla menghela napas.
“Aku tidak akan pulang sekarang. Aku juga tidak akan bicara kalau kamu datang dengan kemarahan.”
“Nayla, aku suamimu.”
“Seharusnya kamu ingat itu sebelum kamu memperlakukan aku seperti orang asing.”
Suasana di luar kembali sunyi.
Kemudian, suara Arga terdengar lebih pelan.
“Kamu benar-benar mau meninggalkan aku?”
Pertanyaan itu membuat Nayla terdiam.
Ia belum tahu jawabannya.
Ia belum siap memikirkan perceraian, pembagian hidup, atau kemungkinan menjalani masa depan tanpa Arga. Namun satu hal ia tahu pasti.
Ia tidak bisa kembali seperti dulu.
“Aku mau meninggalkan kebohongan kamu,” jawab Nayla. “Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya, berhenti menekan aku. Beri aku waktu.”
Arga tidak langsung merespons.
Beberapa detik kemudian, Nayla mendengar langkahnya menjauh dari pagar. Suara mesin mobil menyala, lalu perlahan menghilang.
Nayla bersandar pada pintu.
Lututnya terasa lemas.
Bu Ratih memeluk bahunya.
“Kamu hebat,” bisik ibunya.
Nayla menggeleng sambil menangis pelan.
“Aku takut, Ma.”
“Mama tahu.” Bu Ratih mengusap rambutnya. “Tapi kamu tetap bicara meski takut. Itu yang membuat kamu kuat.”
Ponsel Nayla bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal kembali masuk.
Bukan dari Mira.
**Nomor tak dikenal:** Kamu berani sekali menolak Arga. Tapi kamu belum tahu apa yang akan terjadi kalau Pak Raka mulai ikut campur.
Nayla menatap pesan itu dengan wajah pucat.
Siska tidak hanya tahu Nayla berada di rumah orang tuanya.
Perempuan itu juga tampaknya tahu setiap langkah yang diambil Nayla.
Dan kali ini, ancamannya semakin jelas.