Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Liza dan Ranti berdiri di kasir salah satu butik mewah di lantai tiga mal. Di depan mereka, tumpukan shopping bag sudah menumpuk, baju, sepatu, kosmetik, dan satu tas branded yang harganya membuat pramuniaga tersenyum simpul sejak tadi. Liza menyerahkan kartu ATM dengan percaya diri, seperti biasa.
Kasir menggesek kartu itu sekali. Mesin berbunyi pendek. Ia mencoba lagi dan lagi. Wajah pramuniaga itu berubah dari ramah menjadi ragu.
“Maaf, Nyonya. Ada kartu lain? Yang ini tidak bisa,” ucap kasir sopan, sambil mengembalikan kartu.
Liza mengerutkan kening. “Coba lagi saja. Mungkin mesinnya error.”
Kasir menghela napas pelan, lalu mencoba sampai lima kali. Setiap kali hasilnya sama. “Maaf, Nyonya. Kami sudah coba berkali-kali. Tidak bisa. Silakan pakai uang cash saja.”
Liza mulai memasang wajah kesal. “Saya tidak bawa uang cash. Coba terus, pasti mesinnya yang rusak.” kekeuh Liza.
“Maaf, Nyonya, kartu Anda terblokir. Silakan gunakan kartu lain, atau bayar dengan uang tunai.” kasir kali ini berbicara lebih tegas, meski masih menjaga sopan santun.
Keheningan sejenak mengisi area kasir. Beberapa pembeli di antrean belakang mulai melirik. Liza berbalik ke arah Ranti dengan wajah bingung dan panik. “Bagaimana ini, Ma? Kartunya tidak bisa.”
Ranti yang sejak tadi diam langsung berbisik, “Coba kamu telepon Aslan. Tanya kenapa dia memblokir kartumu.”
Liza mengangguk cepat, lalu mengeluarkan ponsel. Ia menekan nomor Aslan. Tapi sayangnya suaminya itu tidak mengangkatnya.
“Tidak diangkat, Ma,” bisik Liza, kini suaranya agak gemetar.
Antrean di belakang semakin panjang. Seorang wanita paruh baya yang berdiri dua meter di belakang akhirnya tidak tahan. “Kalau tidak punya uang, tidak usah belanja. Menyingkir, kami juga mau bayar!” omelnya lantang, disusul anggukan dan bisikan setuju dari beberapa orang lain.
Liza merasakan wajahnya panas. Ia menunduk, memegang erat tas yang belum dibayar, sementara Ranti mencoba menenangkan situasi dengan tersenyum kaku pada kasir.
“Tolong tunggu sebentar. Saya hubungi suami saya dulu.”
Tapi Aslan tetap tidak mengangkat. Panggilan keenam, ketujuh, semuanya masuk ke kotak suara tapi tetap saja hasilnya nihil. Liza mulai gelisah. Dompetnya hanya berisi uang receh yang jauh dari cukup. Kartu lain tidak ia bawa. Dan baju berharga puluhan juta itu masih tergeletak di meja kasir, seolah mengejeknya.
Kasir akhirnya berbicara lagi, kali ini lebih tegas. “Maaf, yonya, kalau tidak ada pembayaran lain, kami terpaksa membatalkan transaksi anda.
Liza berdiri kaku. Rasa malu menyebar dari wajah hingga ke leher. Di mal yang penuh orang, di butik yang biasanya membuatnya merasa superior, kini ia berdiri tanpa daya hanya karena kartu yang tiba-tiba mati.
Ranti menarik lengan anaknya pelan. “Sudah, Liz. Kita tinggalkan saja dulu. Nanti kita urus di rumah.”
Dengan wajah merah dan langkah kaku, Liza akhirnya meninggalkan antrean. Shopping bag yang sudah ia kumpulkan dengan senang hati terpaksa ditinggalkan di atas meja kasir. Bisikan dan tatapan orang-orang di belakangnya terasa menusuk punggung.
Begitu keluar dari butik, Liza langsung menghubungi Aslan lagi. Masih tidak diangkat. Ia mengepalkan tangan, mata berkaca-kaca menahan malu dan marah.
“Aslan pasti sengaja memblokir kartuku"
Ranti menghela napas panjang, menepuk punggung anaknya. “Kita pulang saja dulu. Nanti di rumah kamu tanya baik-baik. Jangan buat onar di sini.”
Liza mengangguk lemah. Langkahnya berat meninggalkan mal yang tadi ia masuki dengan penuh percaya diri. Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa rapuhnya posisi dirinya, istri siri yang bisa kehilangan akses keuangan dalam sekejap, tanpa peringatan, tanpa penjelasan.
Dan malam itu, rasa malu di mal jauh lebih menusuk daripada omelan apa pun yang mungkin akan ia terima di rumah.
******
Di rumah, Aslan duduk di sofa ruang tengah dengan posisi santai. Satu kaki dilipat, punggung bersandar, dan mata tertuju pada layar ponsel. Ia sedang membalas pesan dari seorang teman bisnis, jari-jarinya bergerak cepat mengetik. Lampu ruang tamu menyala redup, suasana masih cukup tenang.
Belum lama ia menekan tombol kirim, bunyi pintu utama terbuka kasar. Liza masuk dengan langkah cepat, wajahnya merah menahan amarah. Ia bahkan tidak melepas sepatu dengan rapi. Langsung berjalan menghampiri Aslan di sofa.
“Kenapa kamu memblokir kartuku?!” teriaknya, suara nyaring memenuhi ruang tamu. “Kamu sengaja ingin membuatku malu, hah?!”
Aslan terkejut. Ia menoleh cepat, alis berkerut, lalu menatap tajam istrinya. “Apa maksudmu, Liza? Kau baru datang sudah berteriak tidak jelas,” ucapnya dingin, nada suaranya rendah tapi penuh peringatan.
Liza berdiri di depan sofa, napasnya naik-turun. “Kenapa kamu memblokir kartu ATM-ku? Gara-gara kamu, aku dan Mama malu di depan banyak orang! Di mal, di kasir, semua orang menatap kami! Kartu tidak bisa digesek, aku tidak bawa cash, orang-orang menghina kami"
Aslan menatapnya beberapa detik tanpa bilang apa-apa. Lalu ia meletakkan ponsel di atas meja, bangkit berdiri, dan berdiri tegak di hadapan Liza. Jarak mereka dekat. Matanya dingin.
“Aku sengaja memblokir kartumu,” ucapnya datar, tanpa rasa bersalah. “Kau tahu sudah berapa ratus juta kau habiskan uangku hanya dalam dua hari? Tas saja dua ratus juta. Belum yang lain-lain. Naya saja dulu tidak sepertimu. Dia tidak pernah belanja membabi buta seperti ini.”
Liza membelalak, wajahnya semakin merah. “Kamu bandingkan aku dengan Naya lagi?! Aku istrimu yang sekarang! Aku sedang hamil!”
Aslan tidak goyah. Ia menatap Liza dari atas, rahangnya mengeras. “Istri atau bukan, uangku bukan untuk dihambur-hamburkan. Mulai sekarang, tidak ada kartu lagi sampai aku bilang boleh. Kalau mau belanja, minta dulu. Jangan seenaknya.”
Liza berdiri kaku, bibir bergetar menahan marah dan malu. Ia ingin membalas lebih keras, tapi tatapan Aslan yang dingin membuatnya menelan kata-kata itu kembali. Di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sesak, untuk pertama kalinya Liza merasakan bahwa posisinya di rumah itu tidak semudah dan seenak yang ia bayangkan selama ini.
Aslan pergi meninggalkan Liza yang sedang berdiri dengan menahan amarah.
Liza menatap punggung suaminya yang kian menjauh menaiki tangga. Dia mengira setelah kepergian Naya dari rumah ini, dia bisa menguasai penuh harta Aslan. Tapi ternyata salah, Aslan sangat perhitungan padanya. Dia tidak royal seperti dulu saat masih berstatus selingkuhan.
"Sabar, jangan marah-marah dulu. Kamu harus bisa mengambil hati Aslan, jangan buat dia marah" ucap Ranti mencoba menasihati putrinya.
"Tapi aku kesal ma, dia selalu membandingkan aku dan Naya" desis Liza.
"Wajar saja, mereka belum lama berpisah. Sekarang ini dia sedang sibuk mengurus perceraiannya dengan Naya. Kamu harus bisa menjaga hatinya, jangan memancing emosi dia" kata Ranti.
jadi kenapa kamu harus marah?