Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
objek foto
Di dalam gudang penyimpanan yang gelap dan sempit itu, waktu seolah berhenti.
Aura bisa merasakan kehangatan tubuh Devan yang teramat dekat, serta deru napas cowok itu yang teratur menerpa kulit lehernya. Tangannya tanpa sadar meremas ujung kemejanya sendiri, berusaha menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh liar.
Langkah kaki beberapa mahasiswa di luar koridor perlahan menjauh dan akhirnya sirna. Namun, tak satu pun dari mereka bergerak.
Devan masih menahan posisinya, tangannya masih berada di pinggang Aura, seolah tak rela melepas momen singkat itu.
"Devan..." bisik Aura pelan, memecah keheningan yang mencekam. "Mereka sudah pergi."
Devan tersentak kecil, seolah baru tersadar dari mimpi. Ia cepat-cepat menarik tangannya kembali dan mundur setengah langkah, menyandarkan punggungnya ke tumpukan kardus bekas.
Cowok itu meraba dinding di sampingnya dan menekan sakelar. Lampu bohlam kuning yang redup menyala, menerangi ruangan sempit yang berdebu itu.
Devan membuang muka, mengusap leher belakangnya yang terasa kaku. "Maaf. Gue nggak bermaksud..."
Aura membetulkan posisi tasnya yang agak melorot. Ia menatap Devan yang kini berdiri kaku dengan raut wajah yang serba salah.
Keberanian yang tadi sempat padam kembali membakar dada Aura. Ia tidak mau keluar dari ruangan ini sebelum mendapat jawaban yang jujur.
"Devan, tatap aku," pinta Aura dengan suara yang tenang namun tegas.
Devan menghela napas pendek, lalu perlahan memutar kepalanya, menatap langsung ke dalam mata jernih milik Aura.
"Kenapa harus aku?" tanya Aura meluncurkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
"Dari ratusan mahasiswi di kampus ini, dari puluhan cewek cantik yang antre mau kenal sama kamu... kenapa kamu selalu mengambil foto aku?"
Devan terkekeh pelan—sebuah kekehan tanpa rasa humor. "Gue kan udah bilang kemarin, itu cuma kebetulan—"
"Jangan bohong lagi, Devan!" potong Aura cepat, menyela sebelum Devan menyelesaikan kalimat lamanya.
"Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bodohi. Tadi malam kamu mengunggah foto aku lagi. Caption kamu... kata-kata kamu di Instagram... itu semua bukan cuma sekadar ketidaksengajaan."
Aura melangkah satu tindak mendekati Devan, menengadahkan kepalanya.
"Aku heran, Devan. Kita ini nggak pernah mengobrol. Kita dari jurusan yang beda, lingkaran pertemanan kita beda jauh. Di mata kamu, aku mungkin cuma cewek cerewet yang suka mengatur dan bikin kamu risih. Tapi kenapa lensa kamu selalu mengarah ke aku?"
Devan membisu. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jaket kulitnya, berjuang setengah mati melawan keinginan untuk membongkar seluruh isi dadanya.
"Jawab, Devan," bisik Aura, matanya menatap Devan tanpa berkedip. "Aku cuma mau tahu alasannya. Kenapa aku?"
Devan menyandarkan kepalanya ke dinding kayu di belakangnya, menatap langit-langit gudang yang berdebu. "Lu benar-benar mau tahu?"
"Iya. Aku mau tahu."
Devan menurunkan pandangannya, kembali menatap Aura dengan binar mata yang amat dalam—begitu dalam hingga membuat Aura merasa tenggelam di dalamnya.
"Karena cuma saat melihat lu lewat lensa, dunia gue terasa tenang, Aura," ucap Devan pelan. Bahasa 'gue' yang diucapkannya kali ini tidak terdengar kasar, melainkan penuh dengan kepasrahan.
Aura menahan napasnya.
"Lu nggak tahu gimana rasanya jadi gue," lanjut Devan, suaranya makin serak. "Hidup gue berisik. Orang-orang cuma melihat gue sebagai anak bermasalah, tukang cari keributan, cowok yang nggak punya masa depan. Setiap hari gue harus mendengar makian, bentakan, dan tatapan meremehkan dari orang-orang."
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh luka yang membuat hati Aura mendadak terasa nyeri.
"Tapi pertama kali gue secara tak sengaja menangkap bayangan kamu lewat lensa kamera gue dua tahun lalu... saat kamu lagi duduk sendirian membaca buku di bawah pohon, tersenyum kecil karena hal sepele... buat pertama kalinya, kebisingan di kepala gue mendadak hilang." Devan menatap Aura lekat-lekat.
"Lensa gue nggak pernah bohong, Aura. Lensa gue cuma menangkap hal paling indah yang ada di depan mata gue. Dan buat gue... itu kamu."
Gudang sempit itu mendadak hening luar biasa. Kata-kata Devan bergema halus, merambat masuk dan menetap di sudut hati Aura yang paling dalam. Aura terpaku.
Selama ini ia berpikir Devan adalah cowok arogan yang tidak peduli pada perasaan orang lain. Tapi mendengar pengakuan jujur itu, Aura merasa seperti baru saja melihat jiwa Devan yang sebenarnya—jiwa yang penuh luka dan kesepian.
"Devan... aku..." Aura kehabisan kata-kata. Bibirnya bergetar halus.
"Tapi tenang saja," potong Devan cepat, mencoba mengembalikan topeng dinginnya sebelum ia terlihat terlalu lemah di depan Aura.
"Gue sadar diri kok. Gue tahu cewek kayak kamu nggak pantes terseret ke dalam hidup gue yang berantakan. Makanya gue cuma berani mengambil foto kamu dari jauh. Gue nggak pernah punya niat buat merusak hidup kamu."
Devan melangkah melewati Aura, meraih gagang pintu gudang dan membukanya sedikit. Cahaya terang dari koridor luar kembali menerobos masuk, membelah kegelapan di antara mereka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aura spontan, membalikkan badannya.
"Keluar duluan," jawab Devan tanpa menoleh. "Kalau kita keluar barengan, nanti anak-anak kampus makin sibuk bergosip tentang kamu. Gue nggak mau reputasi kamu rusak cuma gara-gara kelihatan jalan sama biang kerok kayak gue."
Devan baru saja hendak melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti saat ujung jaket kulitnya ditarik dari belakang.
Devan menoleh kaget. Aura memegang ujung jaketnya dengan jemari yang gemetar. Gadis itu menunduk, menggigit bibir bawahnya sebelum kembali mendongak menatap Devan.
"Siapa bilang kamu merusak hidup aku?" kata Aura pelan tapi terdengar amat jelas.
Devan menegang. "Aura, lu nggak paham—"
"Aku paham, Devan!" pangkas Aura. "Selama ini aku heran kenapa foto-foto di akun itu kelihatan begitu hangat. Sekarang aku tahu alasannya. Karena kamu mengambilnya pakai hati kamu, bukan cuma sekadar tombol kamera."
Aura melepaskan cengkeramannya di jaket Devan, menatap cowok itu lurus-lurus. "Kalau kamu memang benar-benar mengagumi aku dari jauh... kenapa kamu selalu bersikap galak dan kasar setiap kali kita bertemu langsung?"
Devan tertegun. Ia menatap Aura dengan pandangan tidak percaya. Belum sempat Devan menjawab pertanyaan itu, ponsel di saku celana Aura mendadak berdering nyaring, memecah ketegangan di antara mereka.
Aura merogoh ponselnya dengan panik. Di layarnya tertera nama 'Pak Surya - Dekan'.
Aura menggeser layar ponselnya dengan tangan bergetar. "Ha—halo, Pak Surya?"
"Aura! Kamu ada di mana sekarang?" suara keras dan tegas dari Dekan terdengar memekakkan telinga dari seberang telepon, bahkan bisa terdengar oleh Devan yang berdiri di dekatnya. "Segera ke ruangan saya sekarang juga! Ada hal sangat serius yang perlu kita bicarakan terkait akun Instagram anonim itu!"
Aura membelalak kaget. "Maksud Pak Surya apa ya?"
"Ada mahasiswa yang baru saja melapor dan menyerahkan bukti bahwa pemilik akun @BehindTheLens telah melakukan pelanggaran privasi kampus! Dan nama kamu terseret di dalamnya! Datang sekarang atau kamu saya berikan sanksi akademik!"
Tut... tut... tut...
Panggilan terputus secara sepihak. Aura mematung di tempatnya, wajahnya seketika pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya. Ia mendongak perlahan, menatap Devan yang juga ikut mendengar setiap kata dari telepon tadi.
Seseorang di kampus baru saja melaporkan akun @BehindTheLens ke pihak rektorat.
Bersambung...