NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Video itu pertama kali Reyhan lihat di ponsel Yoga.

Anak itu tidak berniat menunjukkannya. Ia hanya duduk di bangku plastik belakang dapur saat jam istirahat, menatap layar dengan wajah yang berubah-ubah antara senyum dan rasa bersalah, sampai Reyhan lewat membawa map dan berhenti karena mendengar suara yang ia kenal.

"Ini guys, ini Nasi Uduk Anin, di Gang Mawar, Bandung..."

Yoga langsung berdiri, ponselnya hampir jatuh. "Mas! Maaf, Mas, saya cuma..."

"Lanjutkan."

"Mas?"

"Putar lagi."

Yoga menelan ludah, menekan layar, dan menyodorkan ponselnya dengan kedua tangan seperti menyerahkan barang bukti.

Reyhan berdiri di sana, di dekat rak bumbu, dan menonton.

Videonya hanya berdurasi dua menit lebih sedikit. Direkam dari antrean paling belakang, dengan suara pemuda yang terlalu bersemangat dan latar langit Bandung yang masih biru tua. Kamera bergerak pelan menyusuri barisan orang, ibu-ibu berdaster, pengemudi ojek berjaket hijau, dua mahasiswa dengan rambut basah, hingga akhirnya berhenti pada sebuah gerobak kecil dengan kanopi seng dan papan bertulisan cat putih.

Di balik gerobak itu berdiri seorang perempuan berkerudung dan celemek putih.

Anindya sedang menyendok nasi ke daun pisang dengan gerakan cepat dan teratur. Ia tidak melihat kamera. Ia sedang berbicara dengan seorang ibu di depannya, dan sesuatu yang ia katakan membuat seluruh antrean tertawa. Ia ikut tertawa, bukan tawa kecil yang Reyhan hafal dari dalam mobil, tapi tawa lepas yang membuat bahunya sedikit naik.

Lalu kamera mendekat ke nasi di tangannya. Telur dadar dengan pinggir yang gosong sempurna. Sambal kacang yang mengilap. Dan suara pemuda itu berbisik dramatis, "Guys, gosongnya itu disengaja. Katanya biar ada karakter."

Reyhan menurunkan ponsel itu perlahan dan menyerahkannya kembali pada Yoga.

"Mas..."

"Sudah berapa kali ditonton?"

"Eh? Se-seratus empat puluh ribu, Mas."

Reyhan mengangguk pelan, lalu berjalan ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa. Pintu ia tutup dengan sangat hati-hati, seolah ruangan di baliknya sedang tidur.

---

Di dalam, ia berdiri di depan jendela kecil tanpa menyalakan lampu.

Seratus empat puluh ribu.

Angka itu berputar di kepalanya, bukan sebagai statistik, tapi sebagai ukuran sesuatu yang lain. Jarak. Berapa jauh seseorang bisa melangkah dalam waktu sesingkat itu, ketika ia tidak lagi berjalan di belakang orang lain.

Ia ingat betul perempuan itu dulu, dengan tangan merah dan lutut yang goyah, berdiri di depan bak cuci dengan sarung tangan kuning yang kebesaran di ujung jari. Perempuan yang menjawab *maaf, Mas, saya ulang* setiap kali ia menegur dengan nada yang tidak perlu. Perempuan yang dengan sopan mengembalikan pesangon karena tidak ingin menerima belas kasihan.

Dan sekarang, ratusan ribu orang melihatnya tertawa di balik gerobak yang ia beli dengan uangnya sendiri.

Seharusnya ia bangga. Itu kata yang pantas. Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih menyesakkan, sebuah perasaan yang belum pernah ia akui pada dirinya sendiri sepanjang tiga puluh satu tahun hidupnya.

Minder.

Ia, Reyhan, pemilik warung yang membangun segalanya dari nol, yang dikenal dingin dan tak tergoyahkan, merasa kecil di hadapan seorang perempuan yang pernah ia pecat. Perempuan yang tidak punya apa-apa selain tangan dan keberanian, dan yang kini, tanpa bantuan siapa pun, punya antrean panjang di jalan yang bahkan belum pernah ia lewati.

Ia duduk di kursinya, membuka dompet, dan menatap kertas kecil yang tersimpan di dalamnya. Dua kata miring. *Pakai ini.* Ia sudah memberikan sarung tangan, wedang jahe, tumpangan hujan. Ia sudah memberi semua yang bisa diberikan lewat tangan, tetapi tidak pernah memberikan satu pun yang diberikan lewat kata-kata.

Dan perempuan itu, yang tidak pernah diberi apa-apa kecuali kebingungan, justru tumbuh seperti tanaman yang menemukan tanah sendiri.

Reyhan menutup dompet itu perlahan. Dadanya terasa sesak, dan di tengah kesesakan itu ia baru menyadari sesuatu yang membuatnya lebih malu dari apa pun: ia bahkan tidak pernah bertanya apa mimpi Anindya sebenarnya. Ia hanya mendengarnya sekali, di bangku plastik, di bawah neon yang berdengung, dan ia sendiri yang berkata *mimpi jangan disimpan terlalu lama.* Lalu ia membiarkan perempuan itu menyimpannya, sendirian, di sebuah kamar kos yang ia bahkan tidak berani masuki.

---

Sore itu, warung hampir kosong.

Ini bukan hal baru. Sudah empat bulan penjualannya tidak pernah kembali sepenuhnya ke angka semula. Pelanggan lama masih datang, tapi tidak sebanyak dulu. Beberapa reservasi besar tidak pernah kembali. Dan di dapur yang dulu riuh, sekarang hanya ada bunyi pisau di atas talenan dan desis minyak di penggorengan.

Reyhan duduk di meja kasir dengan buku kas terbuka, menghitung angka yang tidak berubah.

"Mas."

Jaka berdiri di sampingnya dengan lap di bahu dan wajah yang lebih tua dari biasanya. Ia menaruh segelas teh manis di meja, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

"Saya nggak tahu Mas butuh ini atau nggak."

"Terima kasih, Mas Jaka."

Jaka tidak langsung pergi. Ia menatap buku kas itu, lalu menatap Reyhan, lalu menarik kursi dan duduk, dengan kehati-hatian orang yang sudah lama menyimpan sesuatu di dada dan baru memutuskan menurunkannya.

"Mas, saya cuma mau bilang satu hal."

"Silakan."

"Ada yang perlu Mas dengar. Tapi bukan dari saya."

Reyhan menatapnya. "Maksudnya?"

"Saya tahu sedikit. Cuma sedikit. Dan itu bukan hak saya buat ceritain." Jaka mengusap wajahnya dengan telapak tangan lebar. "Tapi Mas harus dengar dari orang yang bener-bener tahu. Orang yang nyimpen ini sudah terlalu lama."

"Siapa?"

"Saya nggak bisa bilang."

"Mas Jaka."

"Saya bukan nggak mau." Suara Jaka rendah dan tegas. "Saya nggak boleh. Bukan karena saya takut, tapi karena kalau saya yang cerita, Mas bakal percaya dengan cara yang salah. Mas bakal marah ke semua orang, bukan ke yang seharusnya."

Hening. Di luar, rolling door berderit pelan ditiup angin sore.

"Terus saya harus apa?"

"Tunggu," kata Jaka. "Dan jangan paksa. Orang yang dipaksa ngomong, ceritanya selalu dipotong di bagian paling penting."

Ia berdiri, merapikan lapnya, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, "Dan sambil nunggu, Mas, jadi orang yang pantas didengerin."

Ia pergi ke dapur, meninggalkan Reyhan sendirian dengan segelas teh yang mulai dingin dan kalimat itu yang berdengung di telinganya.

*Jadi orang yang pantas didengerin.*

Ia tidak tahu kapan terakhir kali seseorang berkata sesuatu padanya yang terasa seperti ayahnya. Laki-laki tua pendiam itu dulu juga tidak banyak bicara, tapi setiap kali ia bicara, kalimatnya jatuh tepat di tempat yang paling lama menunggu.

---

Malam itu, Reyhan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di warungnya sendiri.

Ia mencuci piring.

Bukan karena Mang Eman lalai. Mang Eman sudah pulang sejak jam sembilan, dan bak cuci itu bersih, rapi, tanpa satu pun gelas tersisa. Reyhan berdiri di depannya selama beberapa menit, lalu mengambil dua piring dari rak bersih, memasukkannya ke dalam bak, dan membuka keran bengkok yang ia sendiri tidak pernah sentuh selama enam tahun.

Air mengalir dingin, lalu perlahan menghangat. Ia menyabuni piring itu pelan-pelan, membilasnya, mengulanginya, dengan tangan yang tidak terbiasa dan gerakan yang canggung.

Ia menatap busa yang menumpuk di jemarinya. Kulitnya mulai memerah di ujung. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti apa yang dimaksud perempuan itu ketika berkata *tangan bisa dibiasakan.* Bukan sekadar soal air panas. Tapi soal bagaimana seseorang memilih bertahan, satu piring demi satu piring, tanpa seorang pun yang melihat.

Di leher keran, di sampingnya, sarung tangan kuning itu masih tergantung, diam, hanya terkena percikan air sesekali.

Reyhan meraihnya perlahan. Jari-jarinya gemetar sedikit ketika menyentuh karet yang sudah lembap dan agak lusuh. Ia mengusapnya sekali dengan ibu jari, persis seperti yang dulu dilakukan seseorang. Lalu ia menggantungkannya kembali di tempat yang sama, dengan hati-hati, seperti mengembalikan sesuatu yang tidak lagi berhak ia pegang.

"Belum," katanya pada ruangan kosong. "Belum waktunya."

Tidak ada yang menjawab. Hanya bunyi air yang mengalir, dan di luar, hujan yang mulai turun pelan di atas atap seng.

Di ponselnya yang tergeletak di meja, layar menyala sendiri. Sebuah notifikasi dari akun video yang tidak ia ikuti. *Nasi Uduk Anin: Antrean Subuh yang Bikin Bandung Heboh.*

Reyhan menatap judul itu cukup lama. Lalu ia mematikan layarnya, menyelesaikan piring terakhir, dan memutuskan satu hal dengan kejelasan yang jarang ia miliki.

Ia tidak akan datang sebagai pemilik warung. Tidak sebagai laki-laki yang ingin diterima. Tidak sebelum ia tahu seluruh kebenaran, dan tidak sebelum ia benar-benar pantas berdiri di depan gerobak itu.

Dan itu berarti ia harus mulai dari tempat yang paling ia takuti: mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dapurnya sendiri.

Bersambung ke Bab 22..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!