Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pria itu mengenakan setelan jas hitam bespoke yang harganya mungkin setara dengan uang sewa kos Karin seumur hidup. Rahangnya mengeras, matanya yang berwarna gelap menatap tajam ke arah Karin. Aura dingin dan mengintimidasi menguar dari tubuhnya, membuat suhu ruangan seolah turun sepuluh derajat.
Arlan menghela napas panjang, bersiap untuk menghadapi tantrum istrinya. Biasanya, saat ia pulang, Karin akan langsung menangis, melempar bantal, atau merengek manja karena ia tidak membalas pesan wanita itu selama tiga hari.
Namun, malam ini berbeda.
Arlan mengerutkan keningnya. Istrinya tidak menangis. Karin sedang duduk di lantai, surrounded by dasi-dasi sutra mahal milik Arlan yang baru saja ia ambil dari lemari terbuka. Dengan wajah yang sangat serius, terlalu serius untuk ukuran orang yang sedang melakukan hal konyol, Karin sedang menumpuk dasi-dasi tersebut membentuk sebuah lingkaran.
"Karin," suara Arlan terdengar berat, dingin, dan penuh peringatan. "Apa yang kau lakukan dengan dasi-dasiku?"
Karin mendongak. Matanya berbinar polos, tanpa sedikit pun ada niat jahat atau kesedihan yang biasanya ia lihat di novel.
"Pak Arlan!" seru Karin dengan nada riang, seolah-olah suaminya baru saja pulang dari liburan, bukan dari rapat direksi yang melelahkan. "Kau sudah pulang! Cepat, bantu aku. Ulat-ulat sutra raksasa ini kedinginan, jadi aku sedang buatkan mereka sarang."
Arlan terdiam. Otak briliannya yang biasa memproses jutaan dolar dalam hitungan detik, mendadak *error* memproses kalimat istrinya.
"Ulat... sutra?" ulang Arlan, suaranya datar namun matanya menatap tumpukan dasi Hermes dan Brioni seharga ratusan juta rupiah yang kini melingkar di karpet.
"Iya!" Karin mengangguk semangat, lalu mengambil sebuah dasi berwarna merah marun dan melilitkannya di kepalanya seperti ikat kepala. "Tapi mereka aneh, Pak Arlan. Mereka tidak mau makan daun, dan warnanya bagus-bagus. Apakah mereka akan berubah menjadi kupu-kupu? Kalau jadi kupu-kupu, aku bisa bawa mereka ke taman, kan?"
Arlan menatap istrinya. Ia menunggu ledakan kemarahan, atau menyadari bahwa Karin sedang berusaha mencuri dasi-dasinya untuk dijual, atau melakukan hal bodoh lainnya. Namun, wajah Karin begitu tulus. Wanita itu benar-benar tampak percaya bahwa dasi-dasi mahal itu adalah ulat yang sedang tidur.
Seharusnya Arlan marah. Ia seharusnya membentak Karin karena telah mengacak-acak lemari dan memainkan barang-barangnya. Tapi entah mengapa, melihat istrinya yang biasanya cemberut dan penuh dendam kini tersenyum lebar dengan dasi merah melilit di kepala seperti orang asli hutan... Arlan tidak merasa marah.
Ia hanya merasa... sangat lelah, dan sedikit bingung.
"Karin," ucap Arlan pelan, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. "Itu bukan ulat. Itu dasi. Dan kau tidak boleh membawanya ke taman."
Karin memasang wajah sedih yang dibuat-buat, bibirnya manyun. "Tapi mereka kesepian di dalam lemari yang gelap, Pak Arlan. Kasihan mereka."
Arlan menatap wajah itu lekat-lekat. Tidak ada manipulasi. Tidak ada usaha untuk menjatuhkannya. Hanya... kebodohan yang murni. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, Arlan tidak merasa terancam atau jijik pada wanita di hadapannya. Ia hanya merasa seperti sedang mengasuh anak kecil yang tersesat.
"Keluarkan dari lemari lagi, dan aku akan menyuruh pelayan membersihkannya," ucap Arlan akhirnya, suaranya kehilangan sedikit ketajamannya. "Sekarang, bangkit. Kau terlihat konyol."
"Siap, Komandan!" Karin memberi hormat ala tentara yang salah, lalu dengan cepat mengumpulkan "ulat-ulat" itu dan memasukkannya kembali ke dalam lemari dengan hati-hati, seolah sedang menidurkan bayi.
Arlan hanya bisa berdiri di sana, mengamati punggung istrinya yang bergerak lincah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita itu hari ini, tapi satu hal yang pasti: Karin yang sekarang... sangat membingungkan.
Di dalam hati, Karin bersorak kemenangan. Langkah pertama berhasil! CEO dingin mulai bingung, dan aku tidak dibentak! Pertahankan topeng idiot ini, Karin. Kau pasti bisa selamat dari novel sampah ini!
lanjut kn thor💪