Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti yang membungkam
Sepertinya papa nggak punya kemampuan itu."
Ana menatap lurus ke arah pistol di tangan Bimo dengan sudut bibir terangkat tipis. Di bawah cahaya lampu ruang makan, dua belahan peluru logam yang tadi terpotong rapi masih tergeletak di atas lantai marmer.
Rahang Bimo mengeras. Rasa syok dan ngeri yang sempat melintas di matanya seketika menguap, digantikan oleh harga diri yang terkoyak. Urat-urat di lehernya menegang saat ia kembali menodongkan senjata itu tepat ke arah dahi Ana.
"Jangan main-main sama kesabaran papa Ana!"
"Coba aja sentuh dia kalau berani."
Sebuah suara berat dan dingin mendadak memotong ketegangan dari arah pintu masuk. Seluruh kepala di ruangan itu langsung menoleh serempak.
Adrian berdiri kokoh di ambang pintu, didampingi asisten pribadinya. Langkah kakinya terdengar konstan dan santai, seolah moncong pistol yang sedang mengarah pada Ana cuma mainan plastik yang nggak ada harganya.
Ana tertegun sedetik.
Adrian? Kenapa dia bisa tahu tempat ini? batinnya.
Pria itu sempat melirik Ana, melempar senyum tipis yang sarat akan arti, membuat kerutan di dahi Ana makin dalam.
"Kau… ngapain ke sini?" tanya Ana datar.
Bimo tidak menurunkan senjatanya sama sekali.
"Kalian saling kenal? Siapa kau? Berani-beraninya masuk ke rumah saya tanpa izin!"
Adrian tidak langsung menyahut. Ia terus berjalan maju, mengambil posisi tepat di sisi meja makan sebelum akhirnya menatap Bimo dengan pandangan meremehkan. "Identitas saya nggak penting buat orang kayak Anda. Yang penting sekarang... turunin pistol sampah itu."
Pandangan Adrian lalu beralih ke pundak Ana yang mulai basah oleh noda merah. "Kamu nggak apa-apa?"
"Dia nggak akan bisa nyentuhku," jawab Ana cuek sambil menekan perbannya asal.
"Tapi serius ngapain ke sini?"
Senyum di wajah Adrian berubah miring, tampak dingin sekaligus mengejek.
"Aku cuma mau anter hadiah buat keluarga Pramudia yang terhormat ini."
Adrian memberi kode lirik mata ke asistennya. Tanpa membuang waktu, sang asisten langsung melemparkan beberapa foto tebal ke atas meja makan.
Sreeet!
Foto-foto glossy itu meluncur kasar di antara piring porselen dan gelas kristal, menyebar tepat di hadapan Bimo.
Bimo menyambar salah satu foto dengan tangan gemetar. Detik itu juga pupil matanya melebar sempurna.
Di dalam foto itu Jesika terlihat sedang berdiri di sudut gedung tua tempat Ana disekap lima hari lalu bersama beberapa pria berbadan kekar.
Foto berikutnya lebih gila lagi memperlihatkan Jesika yang sedang tersenyum puas sambil menyerahkan sekeranjang amplop cokelat tebal kepada preman-preman itu.
Wajah Jesika langsung pucat pasi. Seluruh tenaga dalam dirinya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Nggak... ini palsu! Ini editan!" jerit Jesika histeris.
Bimo menoleh lambat menatap anak bungsunya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
"Jesika... apa-apaan ini?!"
"Papa demi Tuhan itu editan! Ana yang bikin ini semua buat ngejebak aku Pa! Aku nggak pernah ke sana!" Jesika menangis histeris mencoba meraih lengan ayahnya.
PLAAAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jesika hingga kepalanya terhentak ke samping, tubuhnya limbung menabrak kursi.
"Bimo! Kamu gila ya?!" Dewi menjerit histeris, langsung pasang badan memeluk tubuh Jesika yang mulai gemetar ketakutan. "Dia anakmu! Dia masih sekolah Bimo!"
Bimo menggertakkan giginya sampai berbunyi, tangannya yang memegang lembaran foto bergetar hebat karena amarah yang memuncak.
"Lihat kelakuan anak kesayanganmu ini! Bergaul sama berandalan sewa preman, terus sekarang masih berani melotot dan bohong di depan muka papa?!" bentak Bimo suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Jesika memegangi pipinya yang mulai memerah matang. Air matanya mengalir deras, namun tatapannya penuh dengan racun kebencian saat menatap Ana. "Papa... itu beneran editan... Kak Ana sengaja mau hancurin aku..."
"TUTUP MULUTMU!" Bimo berteriak kalap.
"Kamu pikir papa bodoh? Papa bisa bedain mana foto asli mana yang rekayasa!"
Bimo melemparkan sisa foto di tangannya tepat ke wajah Jesika.
"Mulai hari ini tiga bulan kamu nggak boleh keluar rumah selain ke sekolah! Delapan bulan uang jajan kamu dipotong setengah! Nggak ada pesta, nggak ada jalan-jalan, nggak ada fasilitas apa pun. Masuk kamar kamu sekarang!"
"Tapi Pa!"
"Masuk!" bentak Bimo lagi napasnya memburu.
Dewi yang tahu suaminya sudah tidak bisa dibantah, langsung menarik paksa lengan Jesika. "Ayo masuk kamar Sayang, ayo."
Dengan langkah berat dan tangisan yang sengaja dikeraskan, Jesika digiring naik ke lantai dua oleh ibunya. Sebelum menghilang di belokan tangga Jesika sempat menoleh, menatap Ana dengan pandangan penuh dendam yang amat dalam.
Setelah kekacauan itu agak mereda Bimo berbalik. Anehnya, raut wajahnya berubah drastis dalam sekejap. Sangar di wajahnya mendadak hilang, digantikan senyum canggung yang dipaksakan seolah-olah dia melupakan momen dimana dia menodongkan pistol ke kepala anak kandungnya sendiri.
"Ana... Papa tadi cuma emosi, papa salah paham. Udahlah ya kita kan keluarga, nggak usah diperpanjang lagi. Lagipula Jesika pasti cuma khilaf dan nggak sengaja."
Ana menatap ayahnya dengan pandangan kosong. Kosong, hambar dan tanpa kehangatan sedikit pun.
"Sebelum semuanya jelas, Papa langsung todong aku pakai pistol. Peluru itu hampir aja nembus kepalaku Pa," ujar Ana nadanya kelewat tenang sampai terdengar mengerikan.
"Sekarang, setelah ada bukti jelas kalau Jesika yang ngerencanain pembunuhan aku Papa cuma kasih dia hukuman potong uang jajan?"
Bimo tertawa kaku, suara tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telinga.
“Bukan begitu, kamu ini salah tangkap. Papa tadi cuma mau nakut-nakutin kamu biar kamu tahu diri. Mana mungkin Papa tega bunuh anak sendiri? Lagian ini juga salah kamu. Anak perempuan kok keluyuran sampai nggak pulang berhari-hari. Kalau tetangga atau kolega bisnis Papa tahu nama baik kamu dan nama baik keluarga kita bisa hancur. Harusnya kalau ada masalah itu langsung pulang, bukan malah nginep di luar."
Adrian yang sejak tadi memperhatikan drama keluarga itu akhirnya mengeluarkan suara. Dingin dan menusuk. "Dia dikepung preman, luka parah dan hampir mati. Menurut Anda, gimana cara dia bisa langsung pulang?"
Bimo mengernyitkan dahi merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga diusik. "Kamu ini sebenarnya siapa? Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga saya!"
Adrian membetulkan letak kerah kemejanya, berdiri tegak tanpa minat untuk meladeni pertanyaan Bimo.
"Urusan aku di sini udah selesai. Paketnya udah sampai." Adrian lalu menoleh ke arah Ana. "Aku pulang."
"Aku antar sampai depan," sahut Ana cepat.
Ia langsung melangkah lebar mengekor di belakang Adrian. Pria itu sama sekali nggak keberatan. Namun tepat sebelum mendorong pintu keluar, Adrian sempat menghentikan langkahnya sebentar, menoleh sedikit ke arah Bimo yang masih berdiri tegang di ujung meja makan.
"Satu saran saya untuk Anda, Tuan Pramudia..." ucap Adrian dengan nada rendah yang penuh ancaman. "Lain kali pastiin Anda tahu siapa musuh dan siapa darah daging Anda sendiri... sebelum Anda mutusin buat narik pelatuk."
Bimo membeku. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas, hanya bisa menatap punggung kedua orang itu menghilang di balik pintu dengan wajah yang memerah menahan malu sekaligus geram.
Di sudut ruang makan, Adit masih terduduk lemas di atas lantai. Matanya menatap kosong ke arah pintu luar, lalu beralih ke pisau daging yang masih menancap dalam di meja kayu jati, seluruh tubuhnya masih gemetar.