[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kepanikan Ethan
'Kenapa... kenapa pemuda berambut biru itu mendadak berlari ketakutan seperti itu saat melihatku? Apakah auraku begitu mengerikan, ataukah dia mengira jika aku ini adalah sesosok hantu malam?' tanya pria itu di dalam hati kecilnya yang dipenuhi kebingungan.
Ia menghela napasnya dengan rona lelah. Kedua bahu tegapnya merosot lesu ke bawah, menanggung beban tubuhnya yang mendadak terasa begitu asing.
Mengingat kembali bagaimana kondisi penampilannya saat ini yang teramat kacau berlumur lumpur, dikombinasikan dengan fakta bahwa malam telah larut sepenuhnya di tengah area ladang jagung yang terpencil, ia akhirnya mencoba memaklumi. Wajar jika makhluk hidup lain akan mengasumsikan dirinya sebagai sesosok arwah penasaran yang berniat jahat.
Namun, ia benar-benar tidak memiliki pilihan alternatif lain saat ini. Dengan kondisi seluruh sendi tubuhnya yang terasa teramat lemas selembut kapas dan tak bertenaga, ia memaksakan seluruh otot kakinya untuk bergerak maju.
Pria itu mencoba mengejar pemuda berambut biru tadi. Siapa lagi makhluk hidup di tempat asing ini yang bisa ia mintai pertolongan jika bukan pemuda berambut biru yang baru saja ia lihat itu?
Ia sendiri sama sekali tidak mengerti mengapa tubuh perkasanya bisa berada dalam kondisi yang begitu tak bertenaga dan rapuh. Semenjak ia pertama kali tersadar secara abnormal di tepi aliran air sungai tiga hari lalu, ia merasakan seluruh pasokan energi magis dan kekuatan fisiknya seperti telah terkuras habis tanpa sisa oleh sebuah kekuatan eksternal yang sama sekali tidak ia pahami strukturnya. Fenomena anomali itu baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya.
Pria misterius itu mencoba mengerahkan seluruh sisa kemampuan dan fokus jiwanya untuk berlari mengejar. Namun, bagi siapa pun makhluk hidup yang kebetulan melihat pergerakannya dari jarak jauh, ia sama sekali tidak terlihat seperti layaknya seseorang yang sedang berlari.
Postur tubuh tegapnya tampak limbung, berayun ke arah kiri dan ke kanan secara tidak teratur. Kedua belah kakinya terseret-seret dengan payah di atas permukaan tanah gembur. Ia berjalan sempoyongan dengan langkah yang kacau, persis seperti layaknya seorang pria yang sedang berada dalam kondisi mabuk berat.
Ia menatap lurus ke arah depan dengan pandangan mata yang kian sayu dan meredup. Jiwanya mulai dilingkupi oleh rasa pasrah yang besar karena siluet tubuh Ethan saat ini sudah berada di posisi yang sangat jauh di depannya, hampir sepenuhnya menghilang dari batas jangkauan pandangan matanya yang kian mengabur.
****
Ethan sesekali menolehkan kepalanya ke belakang dengan gerakan cepat. Sepasang manik matanya yang kini memancarkan kilat merah pekat supernatural tampak berputar tajam di balik pekatnya kegelapan malam. Ia ingin memastikan dengan mutlak bahwa tidak ada bayangan atau entitas mengerikan apa pun yang sedang memburu tumitnya dari arah belakang.
Di dalam benaknya, sebuah keheranan besar mulai merayap dan mengacaukan logikanya. Werewolf dominan itu membatin; jika pria misterius yang ia lihat di tengah ladang jagung tadi memang benar-benar merupakan sosok penguasa kejam yang ia kenal di masa lalu, seharusnya makhluk superior itu sudah bisa menyusul pergerakan larinya hanya dalam sekejap mata.
Namun, jalan setapak berbatu di belakangnya tetap tinggal dalam kesunyian yang mencekam. Rasa lega yang samar mulai menyusup ke dadanya saat ia akhirnya melihat siluet tubuh Alan yang masih berdiri dengan tenang di titik lokasi sebelumnya.
Ethan menghampiri posisi Alan dengan kondisi napas yang terengah-engah parah. Rongga dadanya naik-turun dengan ritme yang teramat tidak beraturan.
Kondisi payah itu terjadi bukan hanya karena efek lelah secara fisik pasca berlari cepat membelah ladang, melainkan lebih disebabkan oleh sisa-sisa trauma masa lalu yang mendadak meledak hebat di dalam kepalanya.
"Alan! Cepat kita pergi dan angkat kaki dari tempat terkutuk ini sekarang juga!" seru Ethan dengan nada suara parau yang tertahan, sembari jemari tangannya mencengkeram kuat permukaan lengan jaket kulit hitam yang dikenakan Alan.
Alan menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi. Ia menatap lurus ke arah wajah sahabatnya dengan pancaran tatapan mata ungu yang terkesan meremehkan.
"Kenapa kamu mendadak panik ketakutan seperti itu, Ethan? Apa kamu baru saja melihat penampakan hantu hutan di dalam sana? Jangan-jangan suara debuman keras tadi itu hanyalah berasal dari arwah penasaran yang ingin meminta tolong kepadamu?"
Alan mengeluarkan kekeh tawa pelan. Ia menganggap respons dan reaksi fisik yang ditunjukkan Ethan terlalu berlebihan bagi seorang calon pemimpin pack.
Ethan mendengus kasar. Wajah rupawannya mendadak memerah padam akibat kombinasi antara rasa lelah dan kesal karena ucapannya dianggap remeh oleh Alan.
"Ck! Bahkan penampakan hantu paling menyeramkan sekalipun di dunia ini bersumpah akan kalah seram jika dibandingkan dengan objek apa yang baru saja kulihat di dalam sana! Aku tidak sedang bercanda atau melempar lelucon konyol, Alan. Kita benar-benar harus meninggalkan tempat ini sekarang juga sebelum terlambat!"
"Memangnya makhluk asing macam apa yang baru saja kamu lihat di dalam rimbunnya pohon jagung itu? Apa objek itu merupakan seekor monster buas yang memiliki kemampuan untuk menelan tubuhmu hidup-hidup?" tanya Alan lagi.
Kali ini ia melontarkan kalimatnya menggunakan ekspresi wajah datar yang terkesan teramat menyebalkan di mata Ethan.
Ethan mengusap permukaan wajahnya yang basah oleh peluh dengan kasar menggunakan telapak tangannya. Ia berusaha sekeras mungkin untuk menenangkan debar jantung werewolf-nya yang berdegup kencang melawan dinding dada.
Ia menarik napas dalam-dalam ke parunya, lalu membungkuk sedikit demi berbisik lirih dengan nada suara yang teramat pelan di dekat telinga Alan. Ia seolah-olah merasa sangat takut jika embusan angin malam akan membawa vokal suaranya pada sosok kengerian yang sedang ia bicarakan.
"Apa kamu... apa kamu akan memercayai ucapanku, jika aku mengatakan bahwa sosok yang baru saja kulihat terduduk di dalam sana adalah Damian?"
Suasana mendadak hening total selama beberapa detik. Keheningan itu pecah berantakan ketika Alan tiba-tiba meledak dalam suara tawa yang teramat keras menggema, memecah sepi malam.
Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga kedua bahu tegapnya berguncang hebat. Bahkan jemarinya sampai harus bergerak menyeka bulir air mata yang keluar di sudut matanya akibat terlalu geli.
"Aku rasa isi kepala otakmu saat ini benar-benar sedang mengalami halusinasi tingkat berat, Ethan. Aku sangat mengerti kalau kamu sedang stres berat akibat tekanan dari keluargamu di Pack House perihal masalah pencarian mate, tapi membawa-bawa nama besar pria itu ke dalam ladang jagung ini? Kamu benar-benar harus banyak bersabar dan butuh waktu istirahat yang cukup," cibir Alan di sela tawanya.
Ethan mengepalkan kedua belah tinju tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap lurus ke arah wajah Alan dengan pandangan mata merah pekat yang sarat akan kejengkelan yang mendalam.
"Harus berapa kali lagi aku menyusun kalimat dan mengatakannya padamu agar otak keras kepalamu itu mau percaya?! Aku bersumpah demi Dewi Bulan aku tidak sedang berhalusinasi atau mengada-ada! Aku melihat wujudnya secara nyata dengan mata kepalaku sendiri!" bentak Ethan dengan nada bergetar menahan amarah.
"Pria di dalam ladang itu adalah Damian... sang Raja Demon yang dulu sempat kamu kalahkan dalam pertempuran besar!"