NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Masa Lalu

**

​Dalam sebuah kamar yang temaram, seorang lelaki dan perempuan sedang sama-sama tertidur. Mereka tak lain adalah dua orang yang menjadi korban ego orang lain, yaitu Rafa dan Felisa.

​Felisa yang tidur telungkup, tiba-tiba bergerak, memegangi kepalanya karena terasa pusing. Dengan perlahan mencoba terbangun, gadis itu mencoba untuk terduduk masih memegang kepala. Felisa memang sudah terbangun, tapi dia belum sepenuhnya sadar. Gadis itu masih mabuk, kepalanya terasa pening dan terasa berputar.

​"Pusing! Ini gue lagi naik rollercoaster, yah?"

​"Apa gue sedang naik ayunan?"

​Tangannya tanpa sengaja meraba sisi samping, yang langsung menyentuh tekstur lembut yang tak lain wajah Rafa.

​Awalnya Felisa kaget saat melihat seorang lelaki tidur telentang, tapi kemudian gadis itu tersenyum senang.

​"Ternyata ini mimpi, yah? Pantesan ada pangeran di sini."

​Felisa sangat senang karena merasa kembali bermimpi bertemu pangeran, setelah waktu kecil dia dulu sering bermimpi seperti ini. Setelah dewasa, entah kenapa tidak pernah datang mimpi ini lagi. Mungkin karena kehidupan yang semakin berat, mimpinya juga menjadi lebih berat, yaitu sering dikejar penagih hutang.

​"Ternyata, pangeran itu tampan, yah," gumam Felisa pada diri sendiri sambil cekikikan. Kedua tangannya sudah heboh, menarik-narik pipi lelaki di sampingnya.

​"Kok, tidur terus? Bangun, dong!"

​Tiba-tiba, gadis itu seperti mendapatkan sebuah ide cemerlang.

"Putri tidur kan, bangun karena dicium. Apa aku cium juga yah, biar dia bangun?"

​Tanpa menunggu lama, Felisa langsung mencium bibir pink alami milik Rafa. Hanya sekedar mengecup dalam, berharap sang pangeran segera bangun.

​Terdengar lenguhan kecil, Felisa semakin senang dan tetap membiarkan bibirnya menempel dengan bibir Rafa. Tiba-tiba mata Rafa secara perlahan terbuka, tatapan mereka bertemu.

​"Si--siapa?" tanya Rafa kaget karena tiba-tiba pas membuka mata, ada seorang wanita yang menciumnya.

​Felisa sedikit menjauhkan bibir mereka, tapi jika salah satu dari mereka berbicara ujung bibir itu akan saling bersentuhan.

​"Pangeran, udah bangun?" tanya Felisa yang masih berada di dunia, yang dianggap masih bermimpi.

​"Pangeran?" tanya Rafa bingung. Kepala lelaki itu masih terasa pusing, sepertinya, dia juga belum sepenuhnya sadar dari mabuk. "Siapa?"

​"Kamu lah, kamu kan, pangeran tidur yang udah aku cium biar bangun."

​"Aku pangeran?" tunjuk Rafa pada diri sendiri, yang langsung diangguki Felisa. "Ini dunia mimpi, yah?"

​Felisa langsung mengangguk. "Iya, ini dunia mimpi. Kamu pangeran dan aku putri."

​"Pantesan aneh." Rafa memperhatikan wajah Felisa, dia masih merasa geli saat ujung bibir mereka selalu bersentuhan. "Ini mimpi basah? Padahal baru kemarin gue mimpi begituan, sekarang mimpi lagi," gumam Rafa pada diri sendiri.

​"Kamu tampan banget," ujar Felisa yang kembali membuat Rafa terfokus melihat wajah Felisa.

​"Kamu juga cantik," balas Rafa. "Ya udah, ayo mulai aja!"

​"Hah, apa?"

​"Mimpi basahnya." Rafa sudah berbalik dan menindih tubuh Felisa, yang sekarang berada di bawahnya. "Biasanya tiap mimpi, gak pernah ditunjukkan wajahnya. Kali ini cantik banget."

​"Kamu mau apa, Pangeran?" tanya Felisa masih bingung karena posisinya yang berubah tiba-tiba.

​"Makan kamu."

​Setelah mengatakan itu, Rafa langsung mencium bibir merah muda Felisa. Padahal dia belum pernah berciuman sebelumnya, tapi entah kenapa sekarang di dalam mimpi ini dia merasa ahli. Terus, rasanya ciuman ini juga terasa nyata.

​Felisa sebenarnya masih bingung, karena tiba-tiba dicium agak brutal seperti ini. Tapi, karena dia tetap merasa ini dunia mimpi dan yang menciumnya adalah pangeran, Felisa memilih menikmati dan balik membalas menciumnya.

​Bibir mereka saling memagut semakin dalam, terbuai oleh sebuah hasrat yang semakin panas. Mereka tidak menolak hasrat itu, tapi memilih sama-sama menuntaskan hasrat itu, karena mereka sama-sama berpikir ini dunia mimpi.

​Tangan keduanya tanpa sadar, menjadi sangat ahli dalam melucuti baju satu sama lain. Rafa langsung menatap puas Felisa, yang sudah benar-benar naked di bawahnya.

​"Mimpinya nyata banget. Bahkan, gue benar-benar bisa ngerasain kenyalnya ini." Tangan Rafa sudah bergerilya di dada Felisa.

​"Pelan-pelan, Pangeran ... hhh ...."

Felisa menatap senang pemandangan pangeran telanjang di atasnya. Dia merasa aneh sih, ini mimpi putri dan pangeran kok malah menjadi mimpi ...

​Rafa tersenyum. Kembali memagut liar bibir Felisa, yang langsung mendapat sambutan tak kalah liar dari Felisa.

​Setelah itu, alkohol benar-benar membuat akal sehat mereka hilang. Tidak bisa membedakan, mana dunia nyata dan mimpi. Mereka memilih sama-sama melepaskan hasrat masing-masing, karena mereka tetap berpikir ini masih bermimpi.

​

​Waktu sudah hampir menjelang tengah hari, namun sepasang muda-mudi itu masih sangat asyik terlelap. Mungkin mereka lelah, karena memang menganggap hal yang mereka lakukan semalam itu mimpi dan melakukannya tak kenal waktu.

​Tiba-tiba terlihat pergerakan dari Felisa, yang tidur menghadap jendela. Mungkin, gadis itu ah, maksudnya wanita itu terganggu oleh cahaya matahari yang merembes lewat celah gorden.

​"Pusing banget."

​Felisa memegangi kepala, berusaha untuk duduk serta dengan susah payah membuka mata. Seketika, pandangan dia langsung terpaku dengan keadaan sekitar yang terasa asing.

​"Tunggu, ini dimana?" tanya Felisa yang mulai merasa janggal. "Ini bukan kamar gue, Meri. Terus, ini dimana?"

​Felisa masih memijit kening, sekilas pandangan dia menjadi ke arah bawah tubuhnya.

​"Eh, tunggu ...." Felisa kembali melihat ke arah bawahnya lagi. "Kok, gue telanjang?"

​Untuk semakin memastikan, Felisa menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuhnya. Wanita itu langsung panik, saat menyadari semuanya. Dia sekarang sedang berada di kamar asing dengan keadaan telanjang, terus jangan sampai di sampingnya ada seorang lelaki? Tidak sedrama itu, kan?

​Felisa melirik takut arah samping, setelahnya waktu terasa seolah berhenti. Felisa tidak bisa berkata-kata, jika apa yang ada dipikirannya memang benar terjadi. Sekarang, di sampingnya ada seorang lelaki yang sedang tidur telentang dengan tubuh atas tanpa baju, karena selimut hanya menutupinya sampai pinggang.

​"Enggak, Fel! Coba lo inget-inget, apa yang lo lakuin semalam sampai lo ada di sini tidur bareng cowok? Gak mungkin kan, dalam keadaan gini gue tidur doang, gak ngelakuin apapun sama dia?"

​Felisa akhirnya ingat, semalam dirinya minum bersama Angel dan kumpulannya, dia mabuk setelah itu tidak mengingat apapun lagi. Felisa sadar, jika sekarang mungkin dirinya terkena jebakan ulah Angel dan pengikutnya.

​Felisa kembali memukul kepala berulang. "Bodo ... bodo ... bodo ... banget, sih! Bisa-bisanya lo mabuk dan terkena jebakan si Angel!"

​"Eughh ... berisik!"

​Felisa dengan segala pemikiran ruwetnya, akhirnya berhenti setelah mendengar protes dari lelaki di sampingnya. Felisa segera menaikkan selimut untuk meutupi tubuhnya sampai pundak saat melihat cowok itu yang perlahan terbangun.

​Felisa masih terdiam, memperhatikan setiap tingkah cowok itu yang sialannya sangat tampan. Dari mulai lelaki itu mengucek mata, menguap, berusaha duduk dan membuat selimut dia tersingkap semakin jauh menjadi setengah paha. Setelah itu, Felisa berteriak saat melihat sesuatu yang harusnya tidak ia lihat.

​"Aaaaaaakhh! Tutupin!"

​"Aaakhhh!" Rafa balik berteriak terkejut. "Siapa lo?"

​Felisa mengintip lewat celah matanya. "Itu ... tutupin dulu!"

​"Apaan, sih?"

​"Bawah tubuh lo, lihat sana!" Felisa semakin panik saat mengintip untuk memastikan, tanpa sengaja kembali melihat lagi. Oh ... mata!

​Setelah Felisa berkata seperti itu, Rafa menurut untuk melihat bawah tubuhnya. Setelahnya, spontan lelaki itu terkejut dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai pundak, sama seperti Felisa.

​"Siapa lo? Apa yang udah lo lakuin ke gue?" cerca Rafa panik, kenapa dia seperti ini? Dia tidak bodoh, untuk tidak tahu apa yang sudah terjadi antara dia dengan wanita asing itu.

Oh ... dosa Zina!

​Felisa kesal, seharusnya pertanyaan itu dia yang ajukan, kenapa malah lelaki itu? Sekarang, seolah-olah Felisa yang telah memperkosa. Padahal, kenyataannya dia yang sebagai wanita yang paling merasa dirugikan.

​"Lo yang siapa? Lo udah perkosa gue, tapi malah nuduh gue jahat? Dimana-mana, cowok yang perkosa cewek. Di sini gue yang rugi, bukan lo!" Emosi Felisa sudah naik sampai ke ubun-ubun.

​Rafa mengerjap, membenarkan ucapan wanita ini karena memang betul dalam kasus ini pihak lelaki yang selalu bersalah. Tapi demi apa, Rafa saja tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam? Jadi, dia tidak terima jika disalahkan!

​"Gue aja gak inget, apa yang terjadi semalam kenapa bisa tidur di sini. Jadi, gak mungkin gue perkosa lo! Yang ada lo mungkin yang perkosa gue, memanfaatkan keadaaan gue yang tidak sadar!"

​"Memang gak ada akhlak yah, lo!" Felisa memukul-mukul Rafa dengan bantal secara brutal. "Ngapain gue jebak lo? Ngapain gue rela kasih keperawanan gue sama cowok yang gak dikenal? Gue gak semurah itu, yah! Gue juga gak inget apa yang terjadi, kenapa gue bisa tidur di sini?"

​"Lo masih perawan?" tanya Rafa tiba-tiba, yang langsung membuat pukulan Felisa terhenti.

​Kenapa fokus lelaki itu harus ke poin itu? Felisa menggeram kesal, menggeser posisi duduknya semakin kepinggir. Setelah itu, menunjukan noda darah yang ada di kasur. "Lihat, ini apa?"

​"Lo beneran masih perawan," gumam Rafa dengan nada lemah. Memilih menyenderkan tubuhnya ke ranjang. "Terus kalau kita sama-sama gak inget, kenapa kita bisa ada di sini dan ngelakuin perbuatan kaya gini?"

​"Mana gue tahu," jawab Felisa pelan, badannya sudah terasa lelah secara fisik dan pikiran juga.

​"Gue udah ngelakuin dosa Zina, gue udah berzina! Gue pendosa!" racau Rafa terdengar frustrasi.

​Bagaimana Rafa tidak frustrasi, sejak kecil dia dididik dengan pemahaman ajaran agama yang lumayan kuat. Apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan. Bagaimana, seharusnya hubungan wanita dan lelaki sebelum sah dan sesudah sah. Itu juga alasannya dia lebih memilih belum berpacaran. Dia tidak menjudge orang yang memilih berpacaran, karena pandangan dan prinsip setiap orang itu berbeda-beda.

​Tapi sekarang, dia sudah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Rafa benar-benar frustrasi. Dia sangat malu pada orangtuanya, adiknya, dirinya sendiri dan tentunya sang Pencipta.

​Tanpa sadar, Rafa meneteskan air mata walau dia tidak terisak. Sebelah tangannya masih memegangi rambutnya frustrasi dengan air mata yang mengalir.

​Felisa melihat itu semua, dia tiba-tiba merasa panik akan kewarasan lelaki di sampingnya.

​"Kok, nangis? Kenapa?" tanya Felisa heran. Tapi sepertinya ada yang aneh, kan? Seharusnya dia yang menangis di sini, tolong!

​"Gue udah hilang keperjakaan," jawab Rafa lebih ke meracau pada diri sendiri.

​"Heh!" Felisa kembali memukul Rafa dengan bantal dengan sebelah tangan. "Harusnya di sini yang menangis gue, loh, karena udah kehilangan keperawanan. Gue ada bekas, lo enggak! Apa kata suami gue nantinya, pas tahu gue udah gak perawan!"

​"Ayo menikah! Gue bakal jadi suami lo karena udah ngambil keperawanan lo, dan lo jadi istri gue karena udah ambil keperjakaan gue."

​Felisa tertawa mendengar ucapan Rafa. "Menikah? Sorry ... gak. Udah lah, lupain aja kejadian ini. Gue gak mau yah, masa depan gue makin hancur karena menikah di usia muda sama orang yang gak dikenal."

​"Tapi gue udah ambil keperawanan lo, gue mau bertanggungjawab. Lo juga harus bertanggungjawab!"

​"Anggap aja itu bonus buat lo karena udah dapat virgin gue. Pokoknya, gue gak mau nikah! Kita sama-sama lupain aja kejadian ini, ok! Balik ke hidup masing-masing." tolak Felisa mentah-mentah.

​"Gue mau kita nikah!" Rafa masih tetap mengotot. Dia selalu diajarkan untuk selalu bertanggungjawab atas apapun masalah itu.

​"Gak mau!"

​Felisa berdiri, otomatis selimutnya tertarik membuat Rafa buru-buru mengambil bantal untuk menutupi bagian inti tubuhnya.

​Felisa melirik sekilas, kemudian memalingkan wajah karena tidak sengaja kembali melihatnya. Wanita itu mencari bajunya yang sudah berceceran di mana-mana. Setelah menemukan, buru-buru pergi ke kamar mandi.

​"Gila! Badan gue kaya abis kena penyakit gatal-gatal pada merah-merah gini!"

​"Setelah ini, gue harus pergi! Gak mau nikah, apaan? Masa muda gue masih panjang. Karir gue baru mau naik!"

​Felisa tiba-tiba memegangi perutnya. "Enggak! Gak bakal!"

​Setelah berpakaian rapi dengan gaun semalam, Felisa keluar dari kamar mandi. Di sana ternyata lelaki itu juga sudah memakai pakaiannya lengkap, dengan beberapa kancing kemeja atasnya tidak terkancing. Sepertinya, itu memang karena tidak ada kancingnya.

​"Bukan gue kok, yang bikin gitu," gumam Felisa, meyakinkan dirinya jika kancing hilang itu bukan ulahnya.

​Setelah mengambil tas yang ada di sofa, Felisa memilih pergi beranjak ke luar. Tapi sebuah tangan menahannya yang akan membuka gagang pintu.

​"Mau kemana?" tanya Rafa yang tadi buru-buru berlari kecil untuk mengejar Felisa. Ini tidak boleh berakhir seperti ini!

​"Pulang. Lepas!" Felisa berusaha menarik tangannya, tapi sayang cengkraman Rafa lebih kuat.

​"Kita belum selesai."

​Felisa melirik sinis. "Kita udah selesai. Bahkan gak ada yang kita mulai."

​"Kita menikah. Gue mau bertanggungjawab!"

​"Gue gak butuh pertanggungjawaban lo. Lepas!"

​"Jangan keras kepala!" bentak Rafa tidak sadar karena benar-benar kesal dengan pikiran wanita ini.

​"Lo yang jangan keras kepala. Gue bilang enggak, yah enggak! Urusan kita selesai di sini!" Felisa balik membentak, masih berusaha melepaskan tangannya.

​"Gimana kalau lo hamil?" tanya Rafa yang berhasil membuat Felisa terdiam, tak lagi berontak. "Gue yakin gak pakai pengaman apapun karena gue gak punya barang gituan. Gue gak inget berapa kali kita lakuin, tapi gue yakin itu gak sekali dan semuanya pasti gue keluarin di dalem."

​Felisa semakin terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia kembali bisa menguasai diri. "Gue pastikan itu gak akan pernah terjadi. Jadi ... lepas, brengsek!"

​Rafa menghela napas panjang, melepas tangan wanita itu. Dia sudah sangat lelah berdebat di saat dia masih kecewa pada dirinya sendiri dengan apa yang terjadi semalam.

"Terserah!"

​Felisa tersenyum sinis. "Anggap kita gak pernah ketemu."

​"Ambil ini!" Rafa mengulurkan sebuah kartu nama. "Kapanpun itu lo berubah pikiran, bisa hubungi gue di sana. Gue masih siap untuk bertanggungjawab."

​Felisa memandangi kartu di tangan Rafa dan Rafa-nya bergantian. Setelahnya, mengambil kartu itu. "Ok ... gue ambil. Tapi gue pastikan, tidak akan pernah menghubungi lo."

​Setelahnya, Felisa sudah hilang dibalik pintu yang tertutup. Meninggalkan Rafa dengan berbagai macam perasaan bergejolak.

​Satu hal yang paling Rafa sesali, kenapa dia harus kembali mengulang masalah yang sama di keluarganya untuk kedua kalinya?

​"Brengsek, lo Raf!"

​

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!