NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:551
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Perjalanan kembali ke permukaan Sol-Vane terasa seperti melangkah menembus neraka dingin. Di dalam tabung lift magitech yang meluncur naik, uap darah dan bau tembaga terbakar masih menguar pekat.

​Rayker bersandar payah di dinding kaca, napasnya memburu berat saat garis-garis pendaran ungu di lehernya berdenyut tak stabil. Di sebelahnya, Lyra meringis menahan sakit; retakan halus mirip porselen pecah di pergelangan tangannya hanya tertutup oleh balutan kain darurat.

​"Penstabilan dari wadah perak itu... cuma menunda pelelehan organ kita," bisik Caelum, jarinya yang gemetar mengusap darah kering di bawah mata kanannya. Antarmuka Quantum Neural Interface miliknya berkedip-kedip kusam. "Begitu Inti Arsitek bergejolak lagi, Proyek Apotheosis di dalam darah kita akan memicu reaksi pembuangan panas otomatis. Kita bertiga... akan mati mendidih dalam hitungan hari jika ikatan sekring hidup ini tidak diputus."

​Ren Vaelen berdiri di sudut lift, merobek sisa kemeja sutra gadingnya yang ternoda darah untuk membebat luka goresan di lengannya sendiri. Rasa perih yang menggigit membuat alisnya berkerut.

​"Memutus ikatan itu bukan perkara gampang," kata Ren dengan suara rendah dan serak. "Dewan Agung sengaja mengunci struktur sihir sekring itu langsung ke organ vital kalian. Jika dipotong paksa tanpa metode yang tepat, reaksi baliknya tetap akan membunuh kalian."

​Caelum menatap Ren, mencoba memindai denyut aliran sihir di tubuh pemuda itu. Namun, lensa matanya lagi-lagi menyajikan tumpukan glitch yang membingungkan:[TARGET RESOLUTION: UNSTABLE]

[MAGITECH SCAN: DATA CORRUPTED]

[STATUS: NO VALID FRAMEWORK TO MEASURE SUBJECT]

Caelum memejamkan mata, mematikan fungsi pemindai secara paksa karena pusing yang menghantam kepalanya. Ia sadar, berusaha mengukur atau memahami keberadaan di balik tubuh fana Ren Vaelen hanya akan merusak sistem saraf matanya sendiri.

​Ting.

​Lift membentur lantai teratas Menara Aetheria. Pintu kaca bergeser terbuka, menyambut mereka dengan kemegahan palsu Aula Dewan Agung—ruangan melingkar berlapis marmer putih dan pilar-pilar emas murni yang kontras dengan kebusukan di kedalaman sepuluh kilometer.

​Di atas podium bertingkat, Tujuh Tetua Dewan Agung duduk menanti dengan jubah kebesaran mereka. Di tengah-tengah mereka berdiri Tetua Vane, pemimpin dewan yang tatapan matanya langsung tertuju pada wadah perak yang ditenteng Rayker.

​"Kalian kembali," suara Tetua Vane bergema dingin di aula. "Mana laporan kalian? Apakah penyusup itu sudah dieliminasi dan Aetheria murni sudah dikembalikan ke slot utama Inti?"

​Rayker melangkah maju dengan tumpuan kaki yang gemetar, lalu menghantamkan wadah perak itu ke lantai marmer hingga berdenting nyaring.

​"Penyusup itu bukan sekadar anomali lokal, Tetua!" seru Rayker dengan nada marah yang tak lagi tertahan. "Dia adalah Harvester dari kasta Void Sovereign! Sol-Vane dan Inti Arsitek kita cuma satu wadah kecil yang sedang diburu oleh entitas luar!"

​Keheningan mencengkeram aula seketika. Wajah para Tetua Dewan berubah pucat, namun ketakutan di mata mereka dengan cepat berganti menjadi keserakahan dan kepanikan yang picik.

​"Void Sovereign...?" gumam Tetua Vane, sebelum matanya menyipit tajam menatap Tiga Bintang yang bersimbah darah. "Jika demikian, ancaman terhadap Sol-Vane jauh lebih besar dari dugaan. Kita harus segera mengunci seluruh benteng kota!"

​Tetua Vane mengangkat tongkat kekuasaannya. "Rayker, Lyra, Caelum... kalian adalah hasil tertinggi Proyek Apotheosis. Demi keselamatan Sol-Vane, kalian harus kembali ke reaktor bawah tanah dan memicu pengapian penuh Sistem Sekring!"

​Lyra terbelalak, mundur satu langkah dengan wajah tidak percaya. "Pengapian penuh...? Itu artinya memaksa darah dan organ dalam kami terbakar total untuk menjadi bahan bakar perisai kota!"

​"Itu adalah pengorbanan mulia yang sudah dirancang untuk kalian sejak awal!" potong Tetua Vane tanpa empati sedikit pun. "Kalian diciptakan untuk menjadi wadah pelindung kota ini!"

​Rayker mengepalkan tinjunya hingga paku-paku armor emasnya menembus kulit tangannya sendiri. Pengkhianatan dari penguasa yang selama ini diabditinya terasa lebih menyakitkan daripada luka bakar Inti Arsitek.

​Di saat ketegangan berada di puncak, Ren Vaelen melangkah pelan berdiri di samping Rayker.

​Ren menatap Tujuh Tetua Dewan dengan pandangan datar yang sarat akan penghinaan. "Kalian menyebut tempat ini peradaban, tapi kalian hanyalah sekelompok cacing ketakutan yang mengurung diri di dalam kotak kaca yang hampir pecah."

​"Siapa kau, Orang Luar?!" bentak salah satu Tetua. "Berani-beraninya kau berbicara—"

​"Kalian berpikir mengorbankan tiga sekring ini akan menyelamatkan kalian?" celoteh Ren, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Penyusup yang mati di bawah sana hanyalah garis depan. Begitu para Sovereign di luar sana menyadari wadah ini retak, perisai buatan dari darah tiga orang ini tidak akan bertahan bahkan untuk satu detik."

​Ren menoleh ke arah Rayker, Lyra, dan Caelum. "Kalian tidak punya utang nyawa lagi pada tempat ini. Jika kalian tetap di sini, kalian cuma akan mati dijadikan bahan bakar oleh para penakut ini."

​Rayker menatap teman-temannya, lalu mengangguk pelan dengan keputusan yang bulat. Ia menarik pedang besarnya, menghantamkan bilah baja itu ke lantai marmer hingga lambang Dewan Agung di bawah kaki mereka hancur berkeping-keping.

​"Kami mengundurkan diri dari gelar Tiga Bintang Sol-Vane," tegas Rayker.

​"Pengkhianat! Tangkap mereka!" teriak Tetua Vane histeris.

​Namun sebelum para penjaga berarmor emas sempat bergerak, Caelum melemparkan bom getar frekuensi tinggi yang merusak seluruh jaringan magitech di dalam aula. Dalam kekacauan dan asap perak yang membumbung, Ren dan Tiga Bintang berbalik melesat keluar menembus gerbang menara.

​Di bawah naungan langit Sol-Vane yang mulai menggelap oleh badai dimensi, perjalanan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai: melangkah keluar dari batas wadah Sol-Vane untuk mencari cara memutus sumpah sekring hidup, sekaligus menghadapi bayangan para Sovereign yang telah mengincar realitas mereka.

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!