Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 006 - Umpan Pertama
Gu Yuan segera menarik tangannya dari dinding. Gemerincing kunci kuningan tertahan oleh ujung jemarinya sebelum sempat mengeluarkan bunyi yang mencurigakan.
Suara derit kunci pintu utama di bagian depan gudang sudah berputar di dalam silinder besi. Waktu yang tersisa hanya satu tarikan napas. Jika ia mencoba melompat keluar melalui pintu samping yang baru saja ia buka, bayangan tubuhnya di bawah terik matahari siang akan langsung terlihat oleh siapa pun yang melintas di pelataran luar.
Gu Yuan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, merayap cepat ke sudut paling gelap di balik deretan karung arang basah dan tumpukan peti kayu kosong. Bau arang kayu yang lembap dan debu kapur tebal seketika menyelimuti pakaian dan hidungnya, menutupi aroma keringat serta bau belerang yang menempel di tubuhnya.
Pintu depan gudang berderit membuka lebar. Cahaya matahari menerobos masuk, membentuk siluet panjang dua pria berjubah pengawas di atas lantai batu.
“Gudang ini selalu bau apek,” gerutu sebuah suara parau yang sudah sangat dihafal Gu Yuan. Itu adalah suara Luo Biao. Langkah kakinya yang berat dan sedikit menyeret melangkah masuk ke lorong tengah gudang. “Cepat periksa tong minyak pembakar di sudut belakang. Tetua Mo menginginkan tiga guci minyak lemak hitam siap diantar ke gua air terjun sebelum matahari terbenam.”
Pengawas kedua yang menyertainya adalah seorang pemuda jangkung berwajah pucat dengan sebilah belati tersemat di sabuk kulitnya. Pria itu menyalakan obor kecil dari batu api, lalu mengayunkannya memeriksa barisan gentong keramik di dekat dinding timur.
“Kenapa harus buru-buru, Senior Luo?” tanya si pemuda jangkung sambil mengetuk salah satu gentong kayu dengan ujung sepatu botnya. Suara ketukan bergaung pekak, menandakan gentong tersebut terisi penuh cairan kental. “Bukankah jadwal ritual biasanya tengah malam saat bulan berada di titik tertinggi?”
Luo Biao meludah ke lantai, tatapannya menyapu rak-rak obat dengan rasa muak. “Tetua Mo tidak bisa menunggu sampai tengah malam. Racun di Dantian-nya kian mengganas sejak dua hari lalu. Jika ia tidak menyerap darah segar malam ini juga, meridian jantungnya bisa terbakar oleh racun korosi tulang miliknya sendiri.”
Gu Yuan yang berjongkok di balik karung arang menajamkan pendengarannya. Kata darah segar dan racun korosi tulang menegaskan apa yang ia lihat di dalam simulasi pertama: Mo Cheng bukanlah tetua bijak yang membagikan pil berkah, melainkan kultivator sesat yang memelihara murid luar sebagai wadah pembersih racun di dalam tubuhnya.
“Lalu bagaimana dengan bocah Gu Yuan itu?” tanya si pemuda jangkung lagi sambil mengangkat sebuah guci minyak ke atas meja. “Kudengar kau menyuruhnya makan di dapur. Apa dia sudah menelan bubur penenang?”
Luo Biao tertawa pendek, tawa sinis yang terdengar dingin. “Dia tidak punya pilihan lain. Bocah itu mengira kakinya melepuh karena kecerobohannya sendiri. Sekarang dia pasti sedang tertidur pulas di bilik barak atau meringkuk di meja dapur. Dia mengira dirinya istimewa karena terpilih sebagai murid teladan.”
Luo Biao melangkah mendekati meja juru tulis di dekat tempat persembunyian Gu Yuan, lalu mengambil catatan persediaan barang.
“Dia hanya salah satu dari sebelas wadah,” lanjut Luo Biao dengan nada datar, seolah sedang membicarakan hewan ternak yang siap disembelih. “Sepuluh murid luar lainnya sudah dikurung di ruang bawah tanah sejak tiga hari lalu. Mereka semua sudah diberi pil pelemah otot secara bertahap lewat air sumur barak. Tetua Mo akan menguras darah mereka secara bergiliran malam ini untuk menyiram tiga puluh enam tiang altar di gua air terjun.”
Sepuluh murid luar lainnya.
Gu Yuan menggenggam erat gagang belati kecil di balik jubahnya. Selama tiga hari terakhir, memang ada beberapa murid luar dari barak barat dan selatan yang dikabarkan menghilang dengan alasan dipindahkan tugas ke tambang dalam. Ternyata mereka semua telah disekap di ruang bawah tanah gudang ini, menunggu waktu untuk dijadikan tumbal pengurasan darah bersama dirinya.
Ritual berkah itu adalah kedok pembantaian terencana terhadap murid-murid rendahan yang tidak memiliki latar belakang keluarga atau perlindungan dari klan bangsawan.
“Semuanya sudah siap, Senior Luo,” kata si pemuda jangkung sambil menyegel penutup guci minyak ketiga dengan kain terpal basah. “Tiga guci minyak lemak hitam cukup untuk menyalakan lentera darah sepanjang malam. Ayo kita keluar sebelum Tetua Mo memanggil kita ke balai dalam.”
Luo Biao mengangguk sambil melemparkan buku catatan kembali ke meja kayu. “Kunci pintu samping sebelum keluar. Aku tidak ingin ada tikus barak yang menyelinap mencuri salep luka.”
Kedua pengawas itu berbalik dan melangkah menuju pintu keluar utama. Saat Luo Biao memutar tubuhnya melewati sudut meja juru tulis, ujung jubah abu-abunya tersangkut pada paku berkarat yang menonjol di tepi rak kayu.
Tersentak oleh tarikan kain jubahnya yang robek, Luo Biao mengumpat kasar sambil menyentakkan badannya ke depan. Sentakan mendadak itu membuat sabuk kulitnya berguncang keras.
Tring… klak.
Sebuah kaitan tembaga di pinggang Luo Biao terlepas akibat benturan. Seikat kunci kuningan berukuran tebal terlepas dari sabuknya, meluncur jatuh ke lantai tanah yang berdebu, lalu bergulir perlahan melewati kolong rak kayu obat hingga berhenti tepat sejengkal di samping ujung sandal jerami Gu Yuan.
Luo Biao yang sedang sibuk memeriksa kain jubahnya yang robek tidak menyadari suara denting halus kunci tersebut di tengah suara langkah sepatu bot rekannya yang berderak keras di pintu depan.
“Sialan, jubah baru dari balai dalam robek gara-gara paku berkarat ini,” gerutu Luo Biao sambil terus melangkah ke arah ambang pintu tanpa menoleh ke belakang.
Gu Yuan membeku di tempatnya, menatap seikat kunci kuningan yang tergeletak tepat di depan jemari kakinya. Salah satu anak kunci tersebut memiliki ukiran kepala banteng bergerigi kasar—kunci master yang biasa digunakan untuk membuka gembok ruang bawah tanah dan pintu jeruji besi sekte.