Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Pemarah
Bab 21 Istri Polos Tuan Garra
Pagi itu Elisa kembali disodori berkas perjanjian.
Sebelumnya sudah dia tolak, kini Anggara kembali menyerahkan perjanjian lagi. Untuk yang terakhir ini, memang berbeda. Bukan perjanjian hak asuh atas anak yang dikandung oleh Elisa. Namun, ini tentang tawaran pernikahan. Dengan pasal-pasal yang mengikat tentunya. Sampulnya tertulis jelas. Kontrak Pernikahan, Perjanjian Pra-Nikah.
Mata Elisa perlahan membaca baris per baris, banyak sekali pasal-pasal yang harus dia patuhi dalam perjanjian itu. Jari-jarinya gemetar membalik halaman pertama, kedua, ketiga. Semakin dibaca, semakin sesak dadanya.
Pasal 1: Pihak kedua dilarang melakukan hubungan dengan orang ketiga selama masa perkawinan masih berlangsung. Pihak pertama pasti Pak Anggara, sementara Elisa adalah pihak keduanya.
Elisa terus membaca, dengan cepat dan sekilas. Hatinya sudah bisa menebak.
Yang pasti, sudah seperti prediksi Elisa, pasti menguntungkan satu pihak. Dan itu bukan dirinya, tapi pihak Anggara.
Bibir Elisa bergumam membaca dalam hati, "Pasal 4: Selama masa pernikahan, pihak kedua tidak punya hak atas harta bersama. Pihak kedua akan keluar dengan tangan kosong jika mengakhiri pernikahan dengan sepihak dan kehilangan akses untuk bertemu dengan anak-anak jika nanti ada anak yang lahir lagi dari pernikahan ini."
"Anak lagi?" Elisa terdiam. Napasnya tercekat. Ia lalu sedikit melirik Anggara yang sedang menunggu nya membaca sambil duduk santai dengan kaki disilangkan. Wajah pria itu datar, seolah apa yang ia sodorkan ini adalah hal yang wajar.
Tidak hanya itu, Elisa dibuat tercengang oleh pasal-pasal yang sudah disiapkan oleh Anggara sebelumnya.
Pasal 7: Pihak kedua wajib tinggal di kediaman yang telah ditentukan pihak pertama dan tidak diperbolehkan bekerja tanpa izin tertulis dari pihak pertama.
Pasal 9: Seluruh jadwal dan kegiatan pihak kedua harus dilaporkan kepada pihak pertama.
Ini bukan pernikahan. Ini penjara dengan surat resmi. Elisa merasa seperti burung yang akan dimasukkan ke dalam sangkar emas.
Perlahan, Elisa menutup map itu. Tangannya mengepal di atas meja.
"Maaf... saya keberatan," ucap Elisa sambil meletakkan berkas yang tadi dia baca.
Suaranya pelan tapi jelas. "Hampir 90 persen itu menguntungkan pihak pertama, yaitu Pak Anggara. Saya tidak bisa tanda tangan ini. Saya menolaknya."
Anggara yang dari tadi diam langsung menegakkan punggungnya. Rahangnya mengeras.
"Kau sia-siakan kesempatan ini?" kata Anggara dengan tegas, suaranya naik satu oktaf. "Banyak sekali wanita di luar sana yang ingin hidup bersamaku dengan status, Elisa. Mereka antre untuk mendapatkan apa yang kuberikan padamu sekarang. Rumah, uang, nama keluarga Anggara!"
Elisa mengangkat wajahnya, menatap balik mata Anggara. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak takut.
"Tapi saya bukan salah satu dari mereka, Pak. Saya tidak butuh status itu. Saya hanya ingin kebebasan saya. Tidak lebih," jawab Elisa. "Saya tidak mau menikah hanya untuk menjadi milik yang diatur pasal demi pasal. Saya manusia, bukan barang."
"Elisa!!" Anggara sampai merekatkan gigi-giginya karena kesal. Ia berdiri, kedua tangannya bertumpu di meja. Gadis miskin ini lumayan angkuh dan batu. Keras kepala.
"Jadi kamu lebih memilih hidup susah di luar sana? Dengan perutmu itu? Kau pilih mati kelaparan? Dan itu tidak mungkin! Aku tidak akan biarkan itu terjadi, selama kau masih mengandung keturunan ku!!"
"Tapi saya menolak pernikahan ini," jawab Elisa tegas.
"KAU!!!" Anggara mengangkat telunjuk ke arah Elisa. Kesal, ingin marah. Gadis itu benar-benar membuatnya emosi.
Elisa terdiam, menatap Anggara tanpa takut dan ruangan itu kembali sunyi. Hanya ada map perjanjian yang tergeletak di antara mereka, menjadi batas yang sangat jelas antara dua dunia yang berbeda. Kemiskinan dan Kekayaan.
internet nya fool,,, kalau biasa Pak Su JM 10 di matiin kecuali Anak Anak nya ada tugas desain baru ga matiin bisa kena semprot Anak gadis Ku galak,,,😁😁 tapi
pawang nya sang Bapak e gemes kadang
di cono kang bingung....
astagaaa Mak cerita mu bikin yg BCA nahan nafas krna emosi jiwa 🤦🤦🤦
kn udh di bilangin ma dokter klau ibu hamil 🫄🫄🫄🫄🫄iku GK boleh stres GK boleh di bikin sedih tau gak cih 🤦🤦🤦
tlong yaaaa kak thorr,,,nnti d buat bucin sebucin nya tuhhh pak anggara👍👍👍😀
lebih baik di goreskan di lapak MT Ok cus lanjut 💪💪
sebenarnya pada dasarnya mungkin baik asalkan kitanya nurut dan ikuti perintah nya ,,,bila sesuai tapi tak sesuai ya protes
tetapi menurut gitu kale ya,,,, tetapi kalau masih seperti diktaktor siluman Doberman
Yo jangan menyerah lawan Coyyyy 😁 hmm gregetan kan jadi Yo gerem,,,memang si kalau di pikir hidup di sangkar berlian bukan Mas saja si ya tapi
Yo gitu kata kata si siluman' Doberman itu
bikin. TREMOSI jiwa,,,Elisa sabar ya semoga hati siluman' di lembut kan dan di kasih sabarrrr seluas dada bidang siluman Garra wis ngono ae,,,kabur ga iso 😂