Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21: Macan tutul peliharaan dewa perang
Matahari pagi di hari ketiga memancarkan sinar yang hangat ke dalam Apotek Ruozi Jaya Medika. Pintu ruko bagian depan masih tertutup rapat dengan papan tulisan 'Segera Buka' yang tergantung di tirai bambu. Ruozi sengaja belum mau membuka tokonya untuk umum karena dia masih harus meracik stok obat massal di laboratorium lantai tiga.
Surat izin praktik resmi dari Tabib Liu yang didapat gratis kemarin sudah terbingkai rapi di dinding, menjadi aset berharga pertamanya.
Ruozi baru saja hendak menuangkan teh hangat untuk menikmati ketenangan paginya, ketika tiba-tiba pintu ruko digebrak dengan sangat heboh dari luar.
BRAK!
"Nona Shen! Gawat, Nona! Tolong Jenderal!" teriak Wakil Jenderal Lei Jin yang mendadak melesat masuk setelah membuka selot pintu dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
Di belakangnya, Long Tianxu melangkah masuk dengan jubah yang sengaja dilonggarkan, wajahnya tampak datar seperti biasa, namun ada aura canggung yang luar biasa terpancar dari gerak-geriknya.
Ruozi yang kaget sampai hampir menumpahkan tehnya langsung berkacak pinggang dengan wajah judes andalannya. "Mas Lei Jin! Bisa tidak kalau datang itu pelan-pelan? Pintu toko ku ini harganya mahal tahu, dan toko ini belum buka untuk umum! Memangnya ada gawat apa? Jenderalmu itu mendadak pingsan atau muntah darah?" semprot Ruozi ketus.
Lei Jin menggelengkan kepalanya dengan heboh, matanya melotot panik sambil menunjuk-nunjuk ke arah punggung Tianxu yang tertutup jubah longgar. "Bukan muntah darah, Nona! Tapi pagi tadi saat hamba membantu Jenderal bersiap memakai baju besi di markas, hamba melihat punggung Jenderal dipenuhi bulatan hitam kemerahan yang sangat mengerikan! Bentuknya bulat-bulat besar seperti habis dikutuk oleh dukun ilmu hitam atau terkena racun kutukan pemakan daging! Hamba takut nyawa Jenderal tidak selamat karena racunnya mengamuk!"
Mendengar penjelasan panik yang super heboh dari Lei Jin, Ruozi sempat tertegun selama dua detik. Namun, begitu otaknya mencerna kata "bulatan besar hitam kemerahan di punggung", Ruozi langsung tersadar. Detik berikutnya, tawa Ruozi langsung pecah dengan sangat menggelegar di dalam ruko kosong itu.
"Bwahaha! Aduh... aduh, perutku sampai sakit!" Ruozi tertawa terbahak-bahak sampai memegangi meja kasirnya, mengabaikan tatapan tajam nan dingin dari Long Tianxu yang mulai merasa harga dirinya diinjak-injak di depan bawahannya sendiri. "Kutukan ilmu hitam apa sih, Mas Lei Jin? Itu namanya bekas bekam! Bulatan merah keunguan itu tanda kalau racun kronis dan angin kotor di tubuh jenderalmu berhasil disedot keluar oleh jarum dan cangkir bambuku semalam!"
Lei Jin langsung melongo, matanya mengerjap bodoh menatap Ruozi lalu beralih menatap bos besarnya dengan canggung. "B-Bekam? Jadi... Jenderal tidak sedang sekarat karena diguna-guna musuh politik?" tanya Lei Jin dengan suara menciut, mendadak merasa sangat bodoh karena sudah panik tidak keruan sejak subuh tadi sampai nekat membawa Jenderal lari ke ruko ini.
Tianxu berdehem pelan untuk memecah kecanggungan, menatap Wakil Jenderalnya dengan pandangan mata elang yang sanggup membekukan air. "Lei Jin, tutup mulutmu. Sudah kubilang dari awal kalau ini adalah bagian dari terapi Nona Shen, tapi kamu malah berteriak histeris dan memaksaku naik kereta kuda ke sini," tegur Tianxu dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin, sukses membuat Lei Jin langsung menunduk dalam-dalam dengan wajah memerah menahan malu.
Ruozi menyeka air mata di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa, lalu berjalan mendekati Tianxu dengan langkah santai. "Tapi bagaimana rasanya setelah bangun tidur tadi pagi, Mas Jenderal? Punggung bertotol mirip macan tutul begitu pasti sebanding dengan efek kesehatannya, kan?" goda Ruozi sambil menaik-turunkan alisnya, sengaja memancing emosi pria kaku itu di tengah toko yang sepi.
Tianxu terdiam sesaat, merasakan hawa murni yang mengalir begitu hangat, stabil, dan padat di dalam dada serta seluruh pembuluh darahnya. Rasa sesak yang biasanya mengintai setiap fajar benar-benar hilang tanpa bekas, membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bertenaga daripada beberapa tahun terakhir. "Tubuhku... terasa sangat segar. Jalur meridian yang biasanya tersumbat racun kini sudah mulai pulih," aku Tianxu jujur, tidak bisa menutupi rasa takjubnya pada kemampuan luar biasa gadis sekurus triplek di depannya ini.
"Nah, kalau sudah tahu manjur, jangan lupa penuhi semua pasokan bahan herbal mentah yang aku minta kemarin ya. Hari ini aku mau mulai produksi massal salep dan obat kapsul tradisional di lantai tiga biar toko kita bisa cepat buka dan menghasilkan banyak emas," ucap Ruozi sambil tersenyum manis penuh kelicikan bisnis.
Melihat atasannya sudah sehat walafiat dan tanda itu bukan kutukan, Lei Jin yang tadinya panik kini langsung berubah mode menjadi pengagum rahasia ilmu medis Ruozi. "Wah, Nona Shen memang benar-benar tabib sakti mandraguna! Hamba berjanji akan menyuruh pasukan barak untuk mengantar seluruh pasokan herbal terbaik ke ruko ini siang ini juga!" seru Lei Jin bersemangat untuk menebus kesalahan konyolnya.
Ruozi hanya melambaikan tangannya dengan santai, mengusir dua pria militer itu agar dia bisa segera kembali fokus bekerja meracik obat. "Sudah, sudah, daripada kalian berdua berdiri di sini dan mengganggu ketenanganku, mending Mas Jenderal kembali ke markas untuk istirahat, dan Mas Lei Jin cepat urus pengiriman tanaman herbalnya. Aku mau naik ke lantai tiga untuk menyalakan tungku laboratoriumku!" perintah Ruozi tanpa beban, bersiap menghabiskan hari ketiganya dengan menyendiri di laboratorium kuno demi meracik obat-obat ajaib sebelum hari grand opening apoteknya tiba.
Long Tianxu tidak langsung bergerak pergi. Sepasang mata elangnya melirik ke arah laci kasir tempat Ruozi menyimpan emas hasil memeras Tabib Wang kemarin, lalu beralih menatap wajah gadis itu yang tampak sudah tidak sabar ingin mengusirnya. "Aku sudah memerintahkan prajurit untuk membersihkan gudang belakang tokomu siang ini agar bisa menampung kiriman herbal dari wilayah barat. Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi," ucap Tianxu dengan nada rendah yang mendadak terdengar ragu.
Ruozi yang sudah memegang cangkir tehnya langsung menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan waspada. "Apa lagi, Mas Jenderal? Jangan bilang kamu mau minta diskon biaya pengobatan ya? Perjanjian kontrak kemarin sudah ketok palu dan tidak bisa diganggu gugat, titik!" potong Ruozi secepat kilat, langsung pasang mode defensif demi mengamankan pundi-pundi emasnya.
Tianxu mendengus pelan, sedikit gemas dengan otak gadis ini yang isinya hanya ada hitung-hitungan duit.
Pria itu maju selangkah, membuat jarak di antara mereka mengikis hingga Ruozi bisa menghirup aroma kayu cendana yang samar dari tubuh sang Jenderal. "Bukan soal uang. Tapi... baju bagian dalamku agak melekat di punggung karena bekas terapi semalam. Apa itu normal?" tanya Tianxu dengan volume suara yang sengaja diperkecil agar tidak terdengar oleh Lei Jin yang sedang sibuk mengecek engsel pintu di depan.
Mendengar pertanyaan polos dari seorang Dewa Perang yang biasanya garang di medan tempur, Ruozi langsung menahan tawa setengah mati.
Ia sedikit berjinjit, lalu menepuk pundak tegap Tianxu dengan santai seolah pria itu adalah teman seangkatannya di kampus kedokteran modern dulu. "Ya normal dong, Mas Jenderal tampan! Itu karena sisa minyak jahe liar dan uap bekamnya masih bekerja membuka pori-pori kulitmu. Makanya, habis ini langsung pulang ke kediaman, mandi pakai air hangat, dan pakai baju sutra yang longgar dulu. Mengerti?" jelas Ruozi dengan nada mendikte layaknya dokter senior.
Mendapat perhatian kecil yang dibalut omelan judes itu, detak jantung Long Tianxu mendadak berdesir aneh lagi, persis seperti saat punggungnya disentuh semalam.
Tanpa membalas ucapan Ruozi, sang Jenderal langsung berbalik badan dengan gerakan tegas, merapikan jubah hitamnya untuk menyembunyikan telinganya yang mulai memerah, lalu melangkah lebar keluar dari ruko diikuti oleh Lei Jin yang masih kebingungan.
Ruozi yang ditinggal sendirian di dalam ruko hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum licik, merasa sangat puas karena hari ketiganya di dunia kuno ini berjalan begitu lancar di bawah perlindungan mutlak sang investor kelas kakap.