NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Hangat 14.

Detik yang mencengkam itu berjalan lambat. Novia membeku di posisinya, berlutut di lantai yang dingin dengan tangan menggantung di udara. Kapas bernoda antiseptik di jemarinya tinggal beberapa milimeter lagi dari luka robek di buku jari Reyhan.

Di luar, hujan deras menghantam kaca jendela apartemen, menciptakan melodi konstan yang seolah meredam suara detak jantung Novia yang berpacu gila.

Kelopak mata Reyhan bergerak lagi.

Kali ini, sepasang manik mata yang pekat itu terbuka perlahan.

Novia menahan napas. Dia sudah bersiap menerima tatapan dingin, bentakan gusar, atau penolakan kasar yang biasa Reyhan tunjukkan. Namun, apa yang dia temukan justru membuat dadanya terasa nyeri.

Sepasang mata Reyhan terlihat sangat lelah, dilapisi kabut tipis sisa tidur dan gumpalan emosi yang belum tuntas.

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling tatap dalam keheningan pukul dua pagi.

"Gue bangunin lo?" bisik Novia, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan. Dia refleks hendak menarik tangannya kembali, merasa telah lancang melewati batas teritori cowok itu.

Namun, sebelum Novia sempat menjauh, gerakan pelan dari Reyhan menghentikannya.

Cowok itu tidak menarik tangannya yang terluka. Dia hanya membalikkan telapak tangannya yang bebas, membiarkannya terbuka di atas sofa, seolah memberikan izin tersirat.

"Terusin aja," suara Reyhan terdengar sangat rendah, serak khas orang yang baru bangun tidur, namun tidak ada nada ancaman di sana.

Novia menelan ludah. Keberaniannya yang sempat menciut perlahan kembali dikumpulkan. Dia menundukkan kepala, sengaja menghindari tatapan intens Reyhan untuk menyembunyikan matanya sendiri yang masih sembap.

Dengan sangat hati-hati, Novia menempelkan kapas basah itu ke permukaan kulit Reyhan yang robek.

"Awgh..." Reyhan mendesis pelan, otot lengannya menegang seketika begitu cairan antiseptik menyentuh luka terbukanya.

"Sakit, ya? Maaf... gue pelan-pelan," ujar Novia panik. Dia refleks meniup-niup kecil luka tersebut, sebuah kebiasaan masa kecil yang otomatis keluar saat melihat seseorang kesakitan.

Reyhan terdiam. Embusan napas hangat Novia yang mengenai punggung tangannya mengirimkan sengatan aneh yang langsung menjalar ke dadanya.

Dari posisinya yang berbaring menyamping, Reyhan bisa melihat dengan jelas bagaimana kerutan khawatir di dahi Novia, bulu matanya yang masih agak basah, dan bagaimana cewek itu menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan agar tangannya tidak gemetar.

"Kenapa nggak tidur?" tanya Reyhan, memecah kesunyian di antara mereka.

"Nggak bisa," jawab Novia jujur tanpa mengalihkan fokusnya dari perban yang mulai dia lilitkan di tangan Reyhan. "Gimana gue bisa tidur kalau tahu ada orang yang tangannya bolong gara-gara ego gue sendiri?"

Reyhan mengembuskan napas berat lewat hidung. "Gue yang mukul tembok, bukan lo."

"Tapi gue yang bikin lo semarah itu, Rey," Novia berhenti menyentuh luka itu sejenak, matanya mulai berkaca-kaca lagi saat menatap perban putih yang kini menutupi luka memar di tangan suaminya. "Gue selalu salah paham. Gue selalu defensif karena gue takut. Gue takut lo beneran benci sama gue, dan tebakan gue tentang lo sama Laura..."

"Gue nggak ada apa-apa sama Laura," potong Reyhan cepat, tegas, dan tanpa keraguan.

Novia mendongak, akhirnya memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata Reyhan. "Tapi pagi tadi di lapangan..."

"Dia cuma minta tolong pasang dasi karena pin OSIS-nya nyangkut, dan soal telepon di balkon..." Reyhan menghentikan kalimatnya sejenak. Dia bangkit sedikit dari posisi berbaringnya, bertumpu pada satu sikut, membuat wajahnya kini jauh lebih dekat dengan Novia. "Dia nanya soal tugas kelompok yang harus dikumpul senin depan ke ruang guru. Nggak lebih."

Dada Novia berdesir. Rasa hangat yang asing tiba-tiba menjalar, mengikis rasa cemburu membakar yang sempat menyiksanya belakangan ini.

Namun, ada satu hal lagi yang masih mengganjal di hatinya.

"Terus kenapa lo nggak bilang dari awal? Kenapa lo selalu diam dan pasang tembok tinggi-tinggi seolah gue ini cuma pengganggu di hidup lo?" Suara Novia bergetar, menuntut kejelasan yang selama ini disembunyikan di balik sikap dingin sang ketua OSIS.

Reyhan menatap Novia lurus-urus. Tembok es yang biasanya dia bangun kokoh di sekitar dirinya seolah runtuh, menyisakan seorang remaja laki-laki yang sebenarnya sama bingungnya dengan situasi ini.

"Karena gue juga bingung, Novia," aku Reyhan, suaranya melembut, kehilangan seluruh arogansinya. "Gue nggak pernah tahu cara ngadepin cewek kayak lo. Lo berisik, lo suka ngelanggar aturan, dan lo selalu bertindak tanpa mikir panjang. Sementara hidup gue selalu diatur pake jadwal dan rencana baku."

Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang basah, lalu kembali menatap Novia dengan tatapan yang lebih dalam. "Setiap kali lo bikin masalah, gue panik. Tapi paniknya gue bukan karena takut reputasi gue hancur seperti yang lo tuduh tadi. Gue panik... karena gue takut nggak bisa ngelindungin lo dari konsekuensinya."

Kata-kata itu menghantam Novia seperti godam tak kasat mata. Jantungnya berdentum kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena sebuah realitas baru yang merangsek masuk ke dalam kesadarannya. Cowok ini peduli. Dengan caranya yang kaku, dingin, dan tidak sempurna, Reyhan ternyata selalu memperhatikannya.

"Rey..." Novia kehilangan kata-kata. Kotak P3K di sampingnya seolah terlupakan.

Keheningan kembali merayap, namun kali ini atmosfernya tidak lagi mencekam.

Hujan di luar mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis, menyisakan suara hawa dingin yang perlahan menyelimuti ruangan.

Reyhan memperhatikan Novia yang masih berlutut di lantai dengan pakaian tipisnya. Tubuh cewek itu tampak sedikit menggigil.

"Dingin?" tanya Reyhan.

Novia menggeleng pelan, meski giginya sedikit gemertak. "Nggak apa-apa. Gue udah selesai ngobatin lo. Gue balik ke kamar dulu—"

Sebelum Novia sempat menyelesaikan kalimatnya dan beranjak berdiri untuk merapikan kotak obat, sebuah gerakan refleks yang tidak terduga terjadi.

Grep!

Tangan kiri Reyhan yang tidak terluka bergerak secepat kilat. Jemarinya yang panjang dan hangat melingkari pergelangan tangan Novia dengan sentakan yang tidak terlalu kuat, namun penuh penekanan.

Novia terpekik pelan karena kehilangan keseimbangan. "Rey, lo mau—"

Belum sempat Novia memproses apa yang terjadi, Reyhan menarik tangan gadis itu ke arahnya. Tarikan yang tiba-tiba itu membuat tubuh ramping Novia condong ke depan dan langsung kehilangan pijakan.

Bruk!

Dalam satu detik yang menegangkan, tubuh Novia jatuh tepat di atas permukaan sofa yang empuk—lebih tepatnya, jatuh langsung ke dalam dekapan hangat Reyhan.

Wajah Novia menabrak dada bidang Reyhan yang terbalut kemeja putih kusut.

Aroma mint dan parfum maskulin yang khas langsung menyerbu indra penciumannya dengan intensitas yang memabukkan.

Belum sempat Novia bergerak untuk mundur karena syok, lengan kekar Reyhan sudah melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh gadis itu agar tetap berada di sana, di bawah selimut wol abu-abu yang hangat.

Jantung Novia berdentum sangat keras, hingga dia yakin Reyhan bisa mendengarnya dengan jelas karena dada mereka yang menempel rapat tanpa jarak.

"Reyhan... lepasin," bisik Novia dengan suara yang tertahan di dada cowok itu, wajahnya sudah memerah sempurna.

"Sebentar aja," gumam Reyhan di pucuk kepala Novia, mengeratkan pelukannya seolah tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya yang diperban. "Di luar dingin. Di sini aja."

Novia terpaku. Denyut jantung mereka seolah menyatu di antara keheningan malam dan sisa-sisa rintik hujan, membiarkan ego keduanya melebur dalam dekapan yang enggan dilepaskan.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!