NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Ting!

Di luar aula, Husen mengaktifkan Skill Komunikasi Empatik Level 2 dengan jangkauan maksimal menembus pintu kayu tebal.

Wusss.

Sebuah gelombang hangat langsung menyelimuti pikiran Bara, Nisa, dan Rico secara bersamaan di dalam ruangan itu.

"Jangan panik anak-anak, dengarkan suara saya baik-baik di dalam kepala kalian."

Suara Husen bergema sangat jernih membawa rasa tenang yang luar biasa kuat meredakan kepanikan mereka bertiga.

"Ujian ini hanyalah jebakan kotor yang sengaja dirancang khusus oleh yayasan musuh untuk mendiskualifikasi kalian secara hukum."

"Mereka tahu latar belakangmu Bara, mereka ingin kamu memilih jawaban yang membenarkan pemberontakan kelas sosial."

Bara menarik napas panjang dan membuangnya perlahan mengusir rasa bimbangnya seketika.

"Terus gue harus jawab pilihan yang mana, Pak Husen?"

Bara bertanya dalam pikirannya sambil menatap tajam lembaran kertas ujian di meja kayunya.

"Jawablah dengan kacamata hukum ketatanegaraan yang absolut dan kaku, lupakan perasaan empatimu sejenak."

"Demonstrasi anarkis tidak pernah dibenarkan secara hukum positif, pilih jawaban yang paling menjunjung tinggi konstitusi negara."

Husen memberikan instruksi taktis yang sangat berlawanan dengan sifat asli murid-murid buangan tersebut.

"Buat mereka kebingungan melihat hasil tes psikologi preman jalanan yang ternyata sangat patuh pada hukum negara."

Bara menyeringai miring dan mulai menyilang pilihan jawaban yang paling kaku dan formal di kertasnya.

Sret sret sret.

Sementara itu, Nisa dengan mudah melibas soal-soal logika integritas tersebut tanpa banyak hambatan.

Otak geniusnya sudah terbiasa memisahkan antara emosi dan logika mutlak sejak dia dikhianati guru lamanya dulu.

Tiga puluh menit berlalu dengan sangat menegangkan bagi semua peserta di dalam ruangan ber-AC dingin itu.

Teng teng teng.

"Waktu habis, letakkan alat tulis kalian dan tinggalkan lembar jawaban di atas meja masing-masing."

Panitia berteriak lantang dan mulai mengusir para murid keluar dari aula ujian kembali ke arah lobi hotel.

Bara melangkah keluar dengan senyum lebar dan langsung menghampiri Husen yang berdiri bersandar di pilar.

"Gila Pak, soalnya bener-bener dirancang buat ngejebak orang yang gampang emosian kayak gue."

"Untung Bapak ngingetin gue tepat waktu lewat suara aneh di kepala tadi, kalau nggak gue pasti udah coret-coret kertas itu saking emosinya."

Husen tertawa pelan dan menepuk bahu murid berotot besar itu dengan rasa bangga yang tulus.

"Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik, Bara."

"Sekarang kita tinggal menunggu wajah panitia kotor itu berubah masam saat membaca hasil ujian kalian."

Di sudut lobi yang agak sepi, Dimas sedang menelepon seseorang dengan suara yang sangat berbisik pelan.

"Halo, Pak Surya, rencana jebakan awal kita berjalan sangat mulus."

"Saya melihat sendiri anak bernama Bara itu terlihat sangat frustrasi dan emosi saat mengerjakan soal psikologi hukum tadi."

Dimas melaporkan pandangan palsunya dengan tingkat kepercayaan diri yang menembus langit.

"Dia pasti menjawab pertanyaan itu dengan logika jalanan radikalnya yang bodoh."

"Panitia bayaran kita hanya tinggal mencocokkan jawabannya dan mendiskualifikasi tim mereka dengan alasan membahayakan moral negara siang ini juga."

Pak Surya tertawa keras dari seberang sambungan telepon mendengar laporan meyakinkan dari mata-matanya itu.

"Kerja bagus Dimas, selesaikan urusan administrasi pemecatan mereka hari ini juga."

"Aku tidak mau melihat nama SMA Garuda Kelam ada di daftar peserta saat acara pembukaan resmi dimulai besok pagi."

Klik.

Sambungan telepon diputus dan Dimas tersenyum licik menatap ke arah rombongan Husen dari kejauhan.

"Permainan sudah selesai sebelum pertunjukan utama bahkan dimulai, Pak Husen."

Namun, senyuman Dimas tidak bertahan lama ketika ketua panitia ujian tiba-tiba berjalan keluar dari ruangan koreksi.

Wajah panitia berkacamata tebal itu terlihat sangat pucat pasi dan kebingungan membawa selembar kertas pengumuman.

"Mohon perhatian seluruh peserta, hasil pemindaian komputer untuk ujian integritas hukum sudah selesai."

Ratusan murid langsung mengerumuni papan pengumuman yang baru saja ditempelkan oleh panitia tersebut di tengah lobi.

Bara menyibak kerumunan itu dengan tubuh besarnya memberikan jalan untuk Nisa dan Rico melihat daftar nilai.

"Minggir woi, jangan dorong-dorongan kayak antre sembako aja lu pada!"

Bara membentak beberapa murid sekolah elite yang mencoba menyerobot posisinya di depan papan.

Mata Bara langsung mencari letak nama sekolahnya dari deretan angka yang dicetak sangat rapat tersebut.

"Peringkat satu, SMA Garuda Kelam, nilai rata-rata integritas moral dan hukum sembilan puluh delapan koma lima!"

Rico membacakan baris paling atas itu dengan suara yang sengaja dia keraskan agar seluruh lobi mendengarnya.

Keheningan absolut langsung melanda lobi hotel berbintang lima itu seketika.

Tidak ada satupun murid elite yang berani mengeluarkan suara cemoohan lagi melihat skor sempurna yang nyaris mustahil tersebut.

Dimas yang mendengar teriakan Rico langsung menjatuhkan tas ranselnya ke lantai marmer dengan suara berdentum pelan.

Bruk.

"T-tidak mungkin, bagaimana bisa kumpulan preman jalanan itu punya pola pikir hukum yang lebih bersih dari anak pejabat?!"

Dimas membatin dengan kepanikan luar biasa yang mulai merambat naik mencekik lehernya sendiri.

Dia baru saja melaporkan kemenangan mutlak kepada Pak Surya lima menit yang lalu.

Jika bos besarnya tahu bahwa laporan itu salah besar, nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya saat pulang nanti.

Panitia yang menempelkan kertas itu juga terlihat sangat terpukul dan mengusap keringat dingin di dahinya.

"Ini pasti ada yang salah dengan mesin koreksinya, tidak mungkin anak-anak kampung ini paham soal konstitusi hukum murni."

Panitia itu berbisik pelan pada temannya namun suaranya masih bisa ditangkap oleh pendengaran tajam Husen.

Husen melangkah maju membelah kerumunan dengan langkah santai namun memancarkan aura dominasi yang sangat tebal.

"Mesin komputer tidak pernah berbohong, Bapak Panitia."

"Kecuali jika Bapak memang berniat memanipulasi hasilnya sejak awal sebelum mesin itu dinyalakan."

Husen menatap tajam tepat ke bola mata panitia bayaran itu dengan tatapan yang membekukan darah.

"Sekolah kami resmi lolos kualifikasi ujian moral ini."

"Tolong segera berikan kunci kamar hotel kami sekarang juga, murid-murid saya butuh istirahat yang layak."

Panitia itu menelan ludah dengan susah payah dan buru-buru mengambil tiga buah kunci kamar dari saku jasnya dengan tangan gemetar.

Kletek kletek.

"I-ini kunci kamarnya Pak, lantai empat lorong sayap kiri."

Husen mengambil kunci tersebut dan membagikannya kepada Bara dan Nisa tanpa menoleh sedikit pun ke arah panitia itu lagi.

Dimas perlahan berjalan mendekati Husen dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan dan kaku.

"Wah, selamat ya Pak Husen, anak-anak kita memang sangat luar biasa cerdas di luar dugaan saya."

"Saya benar-benar bangga menjadi bagian dari tim sekolah ini sekarang."

Husen menoleh ke arah Dimas dan tersenyum sangat hangat yang menutupi niat membunuhnya dengan sempurna.

"Tentu saja Pak Dimas, keajaiban ini juga pasti berkat doa tulus Bapak saat mengawasi mereka tadi kan?"

"Mari kita naik ke kamar sekarang, perjalanan kita meruntuhkan kesombongan di kota ini baru saja akan dimulai besok pagi."

Dimas mengangguk pelan namun kakinya terasa sangat lemas untuk melangkah mengikuti rombongan monster tersebut.

Permainan kotor yang dia susun dengan rapi baru saja dihancurkan secara paksa di depan matanya sendiri.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!