NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Lelang di Batam

"Dua puluh lima juta. Harga pembuka, Bapak-bapak."

Suara itu datang dari atas, dari pengeras suara yang berdengung. Nala membuka mata dan cahaya lampu sorot langsung menusuk.

Dia berdiri. Atau lebih tepatnya, dia dibuat berdiri. Ada tangan seseorang di pinggangnya, menahannya supaya tidak ambruk, dan begitu lututnya kembali menahan berat badan, tangan itu menghilang.

Kain merah tipis melekat di kulitnya. Terlalu tipis. Udara dari pendingin ruangan merambat di lengan dan tengkuknya, dan dia baru sadar dia tidak memakai blazer, tidak memakai kemeja, tidak memakai apa pun yang dia pakai terakhir kali dia ingat.

Di bawah panggung kecil itu ada meja-meja bundar. Asap rokok. Gelas kristal. Kira-kira empat puluh laki-laki duduk di sana, sebagian berbahasa Indonesia dengan logat Batam, sebagian berbahasa Inggris dengan aksen Singapura. Semua menatap ke arahnya.

"Jangan salah, ini bukan barang biasa." Pembawa acara itu memakai jas mengilap dan tersenyum seperti sedang menjual mobil bekas. "Ini orang kesayangan Pak Damar Hadiwijaya. Dua tahun di sampingnya. Siang jadi sekretaris, malam..." Dia sengaja berhenti. Beberapa orang tertawa. "Silakan Bapak-bapak bayangkan sendiri."

Tawa itu lebih keras sekarang.

Seseorang di meja dekat panggung bersiul. Seorang laki-laki tua berkemeja batik mencondongkan badan ke temannya dan berbisik sambil menunjuk ke arah pahanya. Lampu sorot bergeser sedikit, mengikuti setiap tarikan napasnya, seakan-akan napas itu juga ikut dijual.

Nala menghitung. Satu pintu besar di belakang, dijaga dua orang. Satu pintu kecil di sisi kiri panggung. Satu jendela, terlalu tinggi.

Nala menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa asin. Sakit itu membuat kepalanya sedikit lebih jernih.

Teh. Dia ingat teh.

***

Dua hari lalu. Lantai tiga puluh dua, SCBD. Pukul tujuh malam, kantor sudah hampir kosong.

Dia kembali karena lupa mengunci laci berkas, dan pintu ruang kerja Damar terbuka sedikit. Di dalam, Fajar berlutut di depan brankas. Asisten yang selalu membungkuk terlalu dalam setiap kali bertemu Damar itu sedang memasukkan stempel direksi ke dalam tas ranselnya. Lalu sebuah kotak beludru. Nala tahu isi kotak itu. Kalung dengan liontin merah berbentuk teratai, satu-satunya barang di brankas itu yang tidak ada hubungannya dengan bisnis.

Fajar lari lewat tangga darurat. Nala mengejar. Di lantai basement, dia menarik tas itu dari punggung Fajar, merobek resletingnya, dan mengambil dua benda itu sebelum Fajar sempat berbalik.

Dia menyelipkan keduanya ke kantong rahasia di lapisan dalam blazernya.

Lalu ada mobil hitam. Ada tangan yang menutup mulutnya dengan kain basah. Ada bau tajam yang manis.

Sesudah itu, potongan-potongan. Lantai kapal yang bergoyang. Seseorang memaksanya minum teh hangat. Dia sempat merasakan rasa pahit yang aneh di ujung lidah sebelum tangan dan kakinya berhenti mendengar perintah otaknya.

***

"Lima puluh juta!"

"Seratus!"

"Dua ratus, dan saya mau dia malam ini juga!"

Angka-angka itu dilempar dari meja ke meja seperti bola. Nala tidak menunduk. Dia menatap lurus ke pintu di belakang ruangan, pintu kayu dengan tanda kecil bertuliskan STAF.

Di ujung meja paling depan duduk Gilang Hadiwijaya.

Sepupu Damar itu bersandar santai, satu tangan memutar-mutar gelas wiski. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing. Waktu mata mereka bertemu, dia mengangkat gelasnya sedikit, seperti bersulang.

Sebelum lelang dimulai, Gilang sempat datang ke ruang rias. Dia mencengkeram dagu Nala dan bertanya satu hal saja. "Di mana stempelnya?"

Nala tidak menjawab. Gilang menamparnya sekali, lalu tertawa. "Nggak apa-apa. Malam ini kamu laku, besok kamu akan ngomong sendiri."

Yang tidak Gilang tahu, perempuan yang mendandaninya keluar sebentar untuk mengambil bulu mata palsu. Blazer Nala dilempar begitu saja di kursi pojok. Dengan jari yang masih gemetar, Nala merobek lapisan dalamnya dan menemukan apa yang dia cari. Stempel itu. Kalung itu. Dan pisau lipat kecil dengan sarung kulit yang selalu dia bawa ke mana-mana, kebiasaan yang dia bentuk sejak hari pertama hidup di samping Damar Hadiwijaya.

Sekarang ketiganya terikat di paha kirinya, tersembunyi di balik belahan kain merah itu.

"Tiga ratus juta," kata seseorang dari meja Gilang. Anak buahnya. Gilang sedang menaikkan harga barangnya sendiri.

"Lima miliar."

Ruangan itu mendadak sunyi.

Suara itu datang dari meja di sisi kanan. Seorang laki-laki memakai jas merah muda, warna yang terlalu berani untuk tempat seperti ini, mengangkat papan nomornya dengan santai. Dia tidak menatap Nala. Dia menatap Gilang.

Pembawa acara menelan ludah. "Lima... lima miliar. Ada yang lebih tinggi?"

Gilang meletakkan gelasnya. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak tersenyum.

"Lima miliar, satu kali. Dua kali..."

Gilang berdiri dan berjalan ke arah panggung. Dia mengucapkan sesuatu ke telinga pembawa acara, dan laki-laki berjas mengilap itu langsung mengetuk palunya ke meja.

"Mohon maaf, Bapak-bapak. Ada sedikit penyesuaian. Barang ini ditarik sementara."

Protes meledak dari meja-meja. Laki-laki berjas merah muda itu hanya bersandar dan menyalakan rokok, seolah memang itu yang dia harapkan.

Dua orang menarik lengan Nala turun dari panggung.

***

Kamar itu berada di ujung lorong. Ada ranjang besar, cermin di langit-langit, dan lampu yang dibuat temaram. Mereka mendorongnya masuk dan menutup pintu.

Nala bersandar di dinding. Lututnya bergetar. Obat itu masih berenang di darahnya, membuat setiap gerakan terasa seperti berjalan di dalam air.

Pintu terbuka lagi. Gilang masuk sendirian dan mengunci pintu di belakangnya.

"Lima miliar." Dia tertawa pendek sambil melepas jam tangannya. "Ternyata ada yang mau bayar segitu buat simpanan sepupuku. Aku jadi penasaran kamu semahal apa."

"Kamu akan menyesal," kata Nala. Suaranya serak, tapi tidak bergetar.

"Oh, ya?" Gilang mendekat. "Damar nggak akan datang, Nala. Dia lagi sibuk mikirin sekretarisnya yang kabur bawa stempel. Kamu tahu apa yang dia pikir sekarang? Kamu pengkhianat."

Kalimat itu masuk lebih dalam dari yang dia mau.

Gilang mencengkeram bahunya dan mendorongnya ke arah ranjang. Nala membiarkan tubuhnya jatuh. Dia membiarkan Gilang mengira dia sudah tidak punya tenaga. Tangannya merayap ke paha, ke sarung kulit itu, ke gagang pisau yang sudah dia kenal seperti jarinya sendiri.

Waktu Gilang membungkuk, Nala menusukkan pisau itu ke perut bagian bawahnya.

Gilang tersentak. Matanya membelalak. Dia menatap ke bawah, ke tangan Nala yang masih menggenggam gagang pisau, lalu ke wajah Nala, seolah tidak percaya.

"Kamu..."

Nala mencabut pisaunya dan mendorong dada Gilang dengan sisa tenaganya.

"Itu buat tamparan tadi," katanya pelan.

Gilang terhuyung ke belakang, menabrak meja rias, menjatuhkan botol-botol parfum. Tangannya menekan perutnya dan darah merembes di antara jari-jarinya.

Nala tidak menunggu. Dia mengambil kunci dari saku celana Gilang yang terjatuh, membuka pintu, dan lari.

***

Lorong itu panjang. Kakinya telanjang di lantai keramik yang dingin. Di belakangnya terdengar teriakan, lalu langkah kaki.

Pintu bertanda STAF. Dia mendorongnya dengan bahu. Di baliknya ada dapur, ada lorong servis dengan troli-troli piring kotor, ada seorang pelayan yang menjatuhkan nampan karena kaget melihat perempuan bergaun merah tipis dengan tangan berdarah lari melewatinya.

Pintu belakang. Udara malam Batam yang lembap dan berbau laut menampar wajahnya.

Gang sempit. Tumpukan kardus. Lampu jalan yang berkedip.

Sebuah mobil sport merah berhenti tepat di mulut gang, mesinnya masih menyala. Kaca jendelanya turun.

Laki-laki berjas merah muda itu duduk di balik kemudi.

"Naik," katanya. "Kecuali kamu mau ketemu teman-temannya Gilang."

Langkah kaki di belakangnya makin dekat. Nala membuka pintu dan menjatuhkan diri ke kursi penumpang. Mobil itu melesat sebelum pintunya tertutup rapat.

***

Selama perjalanan, laki-laki itu tidak bertanya apa-apa. Dia melempar jaketnya ke pangkuan Nala dan menyalakan pemanas. Nala memakai jaket itu dan mengancingkannya sampai leher. Tangannya masih gemetar. Dia menyelipkannya ke bawah paha supaya tidak terlihat.

Di bawah jaket itu, di bawah kain merah itu, stempel dan kalung masih terikat di kulitnya. Dia meraba liontin teratai itu dari luar kain. Dingin. Utuh.

Dia harus melihat ini, pikirnya. Damar harus melihat ini dengan matanya sendiri.

"Boleh pinjam ponselmu?"

Laki-laki itu menyodorkannya tanpa bertanya untuk apa. Nala menatap layar itu lama. Dia hafal nomor itu di luar kepala. Dia sudah menekannya ribuan kali, untuk jadwal rapat, untuk mengingatkan obat mata, untuk mengabarkan bahwa mobil sudah menunggu di lobi.

Dia mengetik empat angka pertama, lalu berhenti.

Kalau dia menelepon sekarang, Damar akan mendengar suara perempuan yang menangis dan minta dijemput. Damar akan bertanya kenapa dia ada di Batam, dan dia harus menjawab lewat telepon, tanpa bukti, tanpa bisa melihat wajah laki-laki itu saat dia menjawab.

Tidak. Dia mengembalikan ponsel itu.

"Nggak jadi?"

"Nggak perlu."

"Kamu tahu siapa aku?" tanya Nala akhirnya.

"Nggak penting." Laki-laki itu tersenyum tipis ke arah jalan. "Yang penting aku tahu siapa kamu."

"Kenapa kamu bayar lima miliar?"

"Aku nggak bayar. Aku cuma bikin Gilang panik." Dia melirik Nala sekilas. "Dan berhasil, kan?"

Nala tidak menjawab.

Jalanan Batam sepi menjelang subuh. Lampu-lampu kota tertinggal di belakang. Di kejauhan, papan bertuliskan Bandara Internasional Hang Nadim mulai terlihat.

***

Pukul setengah enam pagi, ruang tunggu keberangkatan masih separuh kosong. Nala duduk di bangku paling ujung, jaket laki-laki itu menutupi tubuhnya sampai paha. Di kakinya ada sandal jepit yang dibeli laki-laki itu dari minimarket bandara. Rambutnya diikat seadanya. Dia sudah mencuci tangannya di toilet sampai kulitnya merah, tapi masih ada sisa darah di bawah kuku.

Laki-laki itu kembali membawa dua gelas kopi dan sebuah tiket.

"Jakarta. Jam enam lewat sepuluh." Dia menyodorkan tiket itu tanpa langsung melepaskannya. "Satu pertanyaan sebelum kamu naik."

Nala menatapnya.

"Masih mau pulang ke laki-laki yang menganggapmu pengkhianat?"

Jari Nala menyentuh liontin teratai di balik jaket. Dia memegangnya erat-erat, sampai ujung kelopak logam itu menekan telapak tangannya.

"Dia belum tahu," katanya.

Dia menarik tiket itu dari tangan laki-laki berjas merah muda. Kali ini laki-laki itu melepaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!