NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 6

Tiga hari berlalu sejak kejadian di gubuk. Pasokan beras putih dan daging babi asap dari Zhao Feng terbukti memberikan keajaiban bagi fisik fana Shen Jue. Kulit wajahnya yang tadinya sepucat mayat kini mulai memperlihatkan rona segar, dan rasa pening yang biasanya menghampiri tiap kali ia berdiri cepat tak pernah muncul lagi.

Pagi ini, udara di pinggiran Desa Ping-an terasa segar dengan embun yang menetes dari dedaunan pinus. Shen Jue melangkah santai menyusuri jalan setapak tanah merah yang menuju ke area perbatasan Hutan Perbatasan. Ia sengaja berjalan agak jauh untuk menguji ketahanan fisiknya yang baru pulih, sekaligus mencari beberapa jenis akar tanaman liar yang bisa diolah menjadi ramuan penguat pembuluh darah.

"Otot kakiku sudah lumayan stabil," batin Shen Jue sambil melompati sebuah batu kali yang cukup besar di pinggir jalan tanpa kehilangan keseimbangan. "Tapi aliran meridianku masih terlalu kaku. Aku butuh bahan alami untuk melonggarkannya."

Saat Shen Jue membungkuk untuk mengamati sekelompok rumpun jamur liar di bawah pohon rindang, telinganya yang pekat menangkap hembusan angin yang aneh dari atas dahan. Suara gesekan dedaunan bergerak dengan kecepatan yang terlalu tinggi untuk ukuran seekor burung biasa.

Srek! Srek!

Sebelum Shen Jue sempat menegakkan punggungnya, sebuah bayangan perak melesat turun dari dahan pohon setinggi empat meter. Sosok itu berputar di udara dengan sangat lincah, lalu mendarat mulus di atas tanah berdebu hanya dua langkah di depan Shen Jue.

"Awas!" seru seorang gadis dengan suara nyaring dan ceria saat kakinya menyentuh tanah.

Kecepatan pendaratan itu memicu hembusan angin kecil yang mengibarkan ujung baju abu-abu Shen Jue.

Shen Jue sama sekali tidak terkejut atau melompat ketakutan. Ia hanya menghentikan tangannya yang hendak memetik jamur, lalu perlahan menengadah menatap sosok di depannya.

Seorang gadis berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun berdiri di sana. Rambut hitamnya dikuncir dua dengan beberapa helai bagian depan yang berwarna perak berkilau ditimpa sinar matahari. Pakaian kain ringkas berwarna hijau muda yang dikenakannya tampak kotor oleh noda tanah dan getah pohon, tetapi sepasang mata bulatnya memancarkan energi gembira yang sangat hidup.

Di sekeliling tubuh gadis itu, sebuah bayangan transparan berupa musang kecil berbulu perak lembut melayang samar. Musang gaib itu memiliki sepasang mata merah seperti permata dan ekor panjang yang bergerak-gerak lincah sebelum perlahan memudar menyatu kembali ke dalam dada sang gadis.

"Eh? Kau tidak kaget sama sekali?" tanya gadis itu sambil memiringkan kepalanya bingung. Ia menatap Shen Jue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Kenapa aku harus kaget?" balas Shen Jue santai sambil berdiri tegak, membuang tanah tipis yang menempel di jemarinya. "Suara langkahmu di atas dahan sudah terdengar dari jarak sepuluh meter."

Gadis itu membelalakkan matanya yang bulat, lalu tertawa renyah seolah mendengar lelucon yang menyenangkan. "Wah, pendengaranmu tajam juga, ya!" puji gadis itu penuh semangat. "Padahal waktu aku pakai Roh Musang Bayangan Perak, orang-orang dewasa di desa saja sering tidak sadar kalau aku ada di atas kepala mereka!"

Shen Jue mengamati gadis itu dengan cermat. Dari ingatan masa lalunya tentang warga Desa Ping-an, gadis ini adalah Ruan Xi'er. Ayahnya adalah seorang pemburu tua yang tinggal di pinggir barat desa. Tidak seperti anak-anak lain di desa yang baru membangkitkan roh kemarin, Xi'er sudah membangkitkan rohnya beberapa bulan lalu di kota kecamatan karena usianya sedikit lebih tua.

"Namamu Shen Jue, kan?" tanya Ruan Xi'er tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia melangkah mendekat, berkacak pinggang sambil tersenyum lebar. "Aku tahu kamu! Kamu anak yang kemarin membangkitkan belati kecil berkarat di alun-alun desa, kan?"

Shen Jue menatap gadis di depannya tanpa ada raut tersinggung. "Iya, itu aku," sahut Shen Jue singkat.

Xi'er meneliti wajah Shen Jue sebentar, lalu menyilangkan tangan di dada sambil bergumam pelan. "Aneh. Kata orang-orang di pasar, kamu pasti sedang mengurung diri sambil menangis di gubukmu karena cuma dapat belati rongsok. Tapi mukamu kok kelihatan biasa saja? Malah... kelihatan makin segar."

"Untuk apa menangis?" sahut Shen Jue santai sambil berjalan mendekati batang pohon besar di dekat mereka. "Bisa bernapas dan makan enak setiap hari sudah lebih dari cukup."

"Jawabanmu aneh banget, tapi aku suka!" celetuk Xi'er sambil menepuk tangannya gembira. "Orang-orang di desa itu memang suka membesar-besarkan masalah. Rohku saja waktu pertama kali bangkit cuma dibilang musang kecil yang cuma bisa lari, tapi lihat sekarang! Kecepatanku sudah bisa buat menangkap kelinci hutan tanpa jaring!"

Xi'er mengibaskan tangannya pelan, dan untuk sepersekian detik, bayangan musang perak itu kembali muncul samar di belakang punggungnya. Aura energinya ringan, sangat lincah, dan fleksibel.

Namun, penglihatan tajam Shen Jue sebagai master tempa langsung melihat struktur tersembunyi dari Roh Musang tersebut.

"Roh Musang Bayangan Perakmu memang bagus untuk kecepatan," komentar Shen Jue mendatar sambil menatap pergelangan kaki Xi'er. "Tapi gerakanmu terlalu bertumpu pada otot betis bagian luar. Kalau kamu melompat dari dahan tinggi lebih dari lima kali lagi hari ini, pergelangan kaki kananmu akan terkilir."

Xi'er yang tadinya sedang tersenyum bangga mendadak membeku. Ia menatap kakinya sendiri dengan heran, lalu menatap Shen Jue dengan mata melebar.

"Kok... kok kamu bisa tahu?" seru Xi'er heran, suaranya sedikit meninggi karena kaget. "Kaki kananku memang terasa agak pegal dari tadi pagi gara-gara mengejar musang liar di bukit! Kamu punya mata gaib atau gimana?"

"Hanya pengamatan biasa," jawab Shen Jue tenang, menyembunyikan kenyataan bahwa ia bisa melihat tekanan aliran energi roh yang tidak seimbang di kaki gadis itu. "Kalau kamu memaksakan diri, besok kamu tidak akan bisa berjalan sama sekali."

"Aduh... padahal aku lagi butuh banget menangkap Kelinci Duri Emas di batas hutan ini," ringis Xi'er pelan sambil mengelus tumit kanannya. "Dagingnya mau dijual Ayah ke pasar kota besok buat beli obat gatal Ibu."

Gadis itu menghembuskan napas panjang, wajah cerianya sedikit muram untuk pertama kali. Kelemahan fisiknya sebagai manusia biasa jelas terlihat saat kepentingannya terhalang oleh rasa sakit di kaki.

Shen Jue memperhatikan perubahan raut wajah Xi'er. Tidak seperti warga desa lain yang penuh kedengkian dan cemoohan, gadis ini bersikap sangat tulus dan terbuka padanya sejak awal perjumpaan.

"Kelinci Duri Emas itu hewan yang sangat perasa," kata Shen Jue sambil memandang ke arah pepohonan tebal di dalam hutan. "Mengejarnya dengan mengandalkan kecepatan mentah tidak akan membuahkan hasil, apalagi kalau kakimu sedang sakit."

"Jadi... kamu tahu cara menangkapnya tanpa harus kejar-kejaran?" tanya Xi'er dengan mata berbinar menatap Shen Jue.

"Tentu saja," jawab Shen Jue sambil tersenyum tipis. "Perangkap yang bagus tidak membutuhkan kaki yang cepat, cukup membutuhkan otak yang bekerja dengan benar."

"Wah, ternyata anak bersenjata belati rongsok ini pintar bicara juga, ya!" tawa Xi'er gembira, rasa pegal di kakinya seolah terlupakan sejenak. "Ya sudah, kalau kamu bisa bantu aku tangkap kelinci itu, nanti dagingnya kita bagi dua!"

"Setuju," pungkasi Shen Jue singkat.

Pertemuan tak terduga di pinggir hutan pagi itu menjadi awal dari jalinan ikatan yang sederhana namun kuat antara dua anak yang sama-sama dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitar mereka.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!