NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA HARI SEBELUM SEMUA ORANG TAHU

Usia 7 minggu 2 hari.

Jika kemarin Sia 10,1 milimeter, hari ini 12 milimeter. Dalam dua hari ia tumbuh 2 milimeter. Kecepatannya seperti balap. Jika diukur dengan penggaris orang dewasa, 2 milimeter tidak ada artinya, tapi di dunia Sia, 2 milimeter adalah jarak antara punya selaput di jari dan tidak.

Hari ini, selaput tipis di antara jari-jari tangannya yang kemarin masih seperti kaki bebek, sudah hampir hilang. Jari-jarinya sudah terpisah sempurna. Jempol sudah bisa dibedakan dari telunjuk. Di kaki, proses yang sama baru dimulai. Celah jari kaki hari ini baru muncul. Ekor yang kemarin masih ada sisa kecil, hari ini resmi hilang. Mulai hari ini, Sia tidak lagi punya ekor. Ia resmi terlihat seperti manusia kecil, bukan lagi seperti berudu.

Di dalam kepala, belahan otaknya yang kemarin baru terbagi tiga, hari ini mulai membentuk lekukan. Otak kecilnya yang akan mengatur keseimbangan kelak, mulai tumbuh. Dan di wajahnya yang masih sangat kecil, lubang hidung sudah terbentuk, lensa mata sudah ada di balik kelopak mata yang masih menyatu, dan daun telinga bagian bawah mulai muncul sebagai lipatan kecil.

Jantungnya? 138 kali per menit hari ini. Semakin mendekati ritme yang akan ia pakai sampai lahir nanti, 140-150 kali per menit.

Semua itu dibangun dari pinjaman besar-besaran yang masih terus berjalan di tubuh Alya.

Pukul 04.55 pagi, Alya terbangun bukan karena mual. Bukan karena kram. Ia terbangun karena lapar. Lapar yang sangat tajam, menusuk, seperti perutnya kosong selama dua hari padahal baru makan 5 jam lalu.

"Fa, aku lapar," kata Alya, membangunkan Rafael yang tidurnya masih dengan satu tangan memeluk perut Alya.

Rafael langsung bangun. Ini baru. Selama dua minggu terakhir, Alya tidak pernah bilang lapar. Yang ada hanya mual, begah, menolak makan. Lapar adalah tanda baru.

"Jam 5 pagi lapar? Mau makan apa?" tanya Rafael, sudah berdiri di dapur.

"Aku tidak tahu. Aku lapar tapi aku tidak tahu mau apa. Nasi tidak mau. Roti tidak mau. Telur... mungkin telur? Tapi jangan digoreng yang bau."

Rafael mengerti. Di usia 7 minggu 2 hari, plasenta mulai mengambil alih sebagian produksi hormon dari kantung kuning telur. Tubuh Alya sedang dalam masa transisi. Hormonnya masih tinggi, tapi tubuhnya mulai belajar beradaptasi. Rasa lapar yang tiba-tiba itu adalah tanda bahwa lambungnya akhirnya kosong beneran, bukan kosong palsu karena asam.

Ia merebus dua butir telur dengan api kecil, tanpa minyak, tanpa bawang, hanya air dan garam sedikit. Setelah matang, ia kupas, potong jadi empat, dinginkan dengan kipas, lalu letakkan di piring kecil.

Alya makan satu potongan. Tidak mual. Potongan kedua. Masih aman. Potongan ketiga, keempat, habis.

"Habis?" Rafael hampir bertepuk tangan. "Kamu habis satu telur utuh, Ya Allah."

Alya tersenyum, pertama kalinya senyum lebar di pagi hari setelah hampir 10 hari hanya meringis menahan mual. "Aku lapar beneran, Fa. Bukan lapar palsu."

"Itu karena Sia hari ini butuh banyak protein buat bikin jarinya. Dia pinjam telur Ayah."

Siang itu, mereka melakukan gladi resik.

Gladi resik mengumumkan kehamilan.

Di ruang tamu apartemen yang sempit, Rafael berperan sebagai Papa, Alya berperan sebagai dirinya sendiri, dan bantal sofa berperan sebagai Mama dan Tante-tante.

Kotak krem diletakkan di tengah.

Rafael membuka kotaknya, mengeluarkan kaus kaki putih kecil itu, lalu memutar rekaman detak jantung dari ponselnya.

_Dug-dug-dug-dug._

"Ma, Pa," Alya latihan dengan suara bergetar, "kami tidak datang arisan 3 kali bukan karena skripsi. Karena kami lagi jaga ini. Ini Sia. Usianya 7 minggu 4 hari besok pas arisan. Detak jantungnya 138 kali per menit hari ini."

Lalu ia berhenti, menangis beneran, bukan latihan.

Rafael langsung memeluknya. "Kenapa?"

"Karena aku takut, Fa. Kalau nanti pas arisan aku nangis beneran gimana? Aku pasti nangis beneran. Nanti aku tidak bisa ngomong."

"Ya tidak apa-apa kalau nangis beneran. Justru kalau kamu nangis, Mama akan langsung tahu tanpa kamu harus ngomong panjang. Mama akan langsung peluk kamu. Biarin aja nangis. Tugas ngomong biar aku yang lanjutin."

Mereka mengulang gladi resik itu 3 kali, sampai Alya bisa mengucapkan kalimat itu tanpa terisak di tengah.

Pukul 15.30, ada pesan masuk lagi dari Mama, tanpa ada hubungannya dengan gladi resik mereka, tapi waktunya pas sekali.

*Mama: Nak, besok arisan keluarga menunya rendang, ayam goreng, sama sambal ati. Alya suka sambal ati kan? Mama suruh Tante Rina bikinin banyak.*

Alya membaca pesan itu, lalu langsung meletakkan ponselnya jauh-jauh.

Sambal ati. Bau ati goreng yang menyengat, bau sambal yang pedas, adalah kombinasi yang hari ini pasti akan membuatnya muntah hanya dengan membayangkannya.

Ia menatap Rafael dengan wajah panik yang lucu.

"Ma, besok Alya lagi tidak bisa makan sambal ati dulu ya, Ma. Lagi tidak tahan bau-bau menyengat. Bikinin kentang rebus aja sedikit buat Alya ya," ketik Rafael, mengambil alih ponsel Alya, mengirimkan balasan yang jujur tapi tidak membongkar rahasia.

Balasan Mama cepat: *Lagi sakit perut ya? Ya sudah, Mama bikinin sop ayam bening aja buat kamu. Jangan makan pedes dulu.*

Alya menghela napas lega. Sop ayam bening. Itu aman. Dingin sedikit, tidak berbau menyengat.

"Lihat," kata Rafael, "Mama tanpa tahu pun sudah jadi nenek yang siaga. Dia langsung ganti menu jadi sop bening."

Malam itu, ritual kalender mereka lakukan bersama dengan kotak krem yang sudah siap di samping mereka.

Rafael menulis:

*23 Okt 2026 - 7 minggu 2 hari / 7w2d - 12 mm - Sia - FHR ∼138 bpm - Jari tangan pisah sempurna, ekor resmi hilang, celah jari kaki mulai, lubang hidung & lensa mata terbentuk. Gejala Ibu: lapar tajam pagi hari pertama kali setelah 10 hari mual (tanda adaptasi), makan 1 telur rebus dingin habis tanpa mual, mual masih ada siang-malam level 4 (turun dari 5), tidak tahan bau sambal ati (trigger arisan besok). Gladi resik pengumuman 3x, Mama ganti menu jadi sop bening tanpa tahu alasan. Kotak krem siap: 4 foto USG + flashdisk suara jantung + kaus kaki putih.*

Alya mengambil pulpen, menulis di bawahnya dengan tulisan yang paling rapi selama 31 bab ini, karena hari ini tangannya tidak gemetar karena mual, tapi mantap karena lapar yang terpenuhi:

_Sia, hari ini Ibu lapar. Lapar beneran. Ibu habis satu telur rebus dingin. Ayahmu hampir tepuk tangan. Ibu tahu kamu lagi bikin jari-jari tanganmu yang cantik, makanya kamu butuh telur itu. Ibu kasih semua. Hari ini kamu sudah tidak punya ekor lagi ya, kata Ayah. Kamu sudah jadi manusia seutuhnya. Dua hari lagi, kamu akan dikenalin ke semua orang. Nenekmu bahkan sudah siapin sop bening buat Ibu tanpa tahu kalau sop itu buat kamu juga. Kamu kuat ya dua hari lagi. Detakmu hari ini 138 kali. Ibu dengar rekamannya 5 kali hari ini._

Pukul 21.00, Alya berbaring di pangkuan Rafael, dengan kotak krem di atas meja di depan mereka, terlihat jelas.

"Fa," kata Alya pelan, mengelus perutnya yang masih rata tapi sekarang terasa sedikit lebih kencang jika ditekan pelan.

"Ya?"

"Kalau nanti di arisan aku muntah karena bau rendang gimana?"

"Ya muntah aja. Biarin aja. Kalau kamu muntah di arisan, semua orang akan langsung tahu tanpa kita harus buka kotak. Itu pengumuman paling jujur. Mualmu adalah pengumumannya."

Alya tertawa kecil. "Jadi Sia yang akan mengumumkan dirinya sendiri lewat mual Ibu?"

"Iya. Sia yang akan bilang, Hai semua, aku ada di sini, makanya Ibu muntah."

Rafael mematikan lampu, menyalakan rekaman detak jantung Sia dengan volume sangat kecil, seperti kemarin.

_Dug-dug-dug._

Suara 138 kali per menit itu mengisi apartemen kecil mereka.

"Selamat malam, Sia yang sudah punya jari tangan," bisik Alya, memejamkan mata, tangannya di perut, "dua hari lagi ya. Dua hari lagi kamu tidak jadi rahasia lagi. Dua hari lagi semua orang akan tahu betapa kerasnya kamu berdetak. Ibu sudah tidak sabar mau lihat wajah nenek pas dengar suara kamu."

Di luar, Jakarta tidak hujan malam ini. Langit cerah.

Di dalam, seorang bayi sebesar biji kacang tanah dengan jari-jari tangan yang baru saja terpisah sempurna dan tanpa ekor lagi, berdetak 138 kali per menit, tanpa tahu bahwa dalam 48 jam, detaknya akan diputar di depan 20 orang dewasa yang akan menangis, tertawa, dan memeluk ibunya bergantian, hanya karena mendengar suara sekecil itu.

Bersambung...

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!