Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Ronde!
Jantung Serena berdegup kencang hingga rasanya nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Panik luar biasa menguasai seluruh akal sehatnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menyambar selimut tipis, melompat turun dari ranjang, dan kabur terbirit-birit keluar dari kamar utama.
Langkahnya membawanya berlari menyusuri lorong mansion yang sunyi hingga ia berakhir di kamar pribadi Anna yang terletak tidak jauh di sisi sayap kiri bangunan.
Tok! Tok! Tok!
Serena mengetuk pintu kamar Anna dengan tidak sabar, lalu langsung mendorongnya dan menerobos masuk ke dalam, menutup pintunya rapat-rapat sambil terengah-engah.
Anna, yang baru saja hendak merapikan meja kerjanya, terlonjak kaget melihat kemunculan majikannya yang datang dengan napas memburu, rambut berantakan, dan wajah sepucat mayat.
"Astaga, Nyonya?!" seru Anna bingung sekaligus terkejut, melihat Serena langsung merosot bersembunyi di balik lemari pakaian kecil di sudut kamarnya.
"Mengapa Nyonya bersembunyi seperti itu? Apa ada bahaya di luar? Apakah ada penyusup?"
Serena langsung mengangkat jari telunjuknya ke depan bibir, mendesis panik. "Sstt...! Diamlah, Anna! Tolong jangan bersuara keras!" bisik Serena histeris, wajahnya benar-benar ketakutan setengah mati.
"Habis sudah riwayatku malam ini! Tuan besar mu yang kejam dan egois itu benar-benar mengancam akan memperkosaku dan menghamili ku malam ini juga!" ucapnya ceplas-ceplos tanpa saringan sama sekali karena dilanda kepanikan akut.
Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Anna sontak membelalakkan matanya lebar-lebar. Mantan pasukan elit tersebut hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, namun melihat betapa gemetarnya tubuh Serena, ia tahu majikannya itu tidak sedang berbohong.
"Tolong jangan beritahu Max kalau aku bersembunyi di sini, ya, Anna? Anggap saja aku ini cuma angin yang tak kasat mata!" pintanya memohon dengan kedua tangan disatukan di depan dada, meringkuk semakin kecil di lantai sudut kamar.
Belum sempat Anna membuka mulutnya untuk memberikan tanggapan atau saran, suara dentuman keras tiba-tiba menggema di luar kamar.
Brak!
Pintu kamar Anna didobrak dari luar tanpa aba-aba. Kayu jati mahal itu terbuka lebar dengan kasar, dan di ambang pintu, muncullah sosok Sergio Maximilian Ziegler. Pria itu berdiri tegak dengan postur menjulang, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku, serta sorot mata biru terang yang menatap tajam mematikan ke dalam ruangan.
Anna yang berdiri di dekat meja kontan menunduk hormat dengan gestur kaku, lalu tanpa berani mengangkat wajahnya, ia buru-buru memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan sang tuan rumah menghadapi istrinya sendiri.
Sergio melangkah masuk perlahan. Matanya menyapu seisi kamar, langsung menangkap sosok Serena yang meringkuk rapat di lantai di balik lemari, berusaha membuat tubuhnya sekecil mungkin agar tidak terlihat dari arah pintu.
Pria itu menyunggingkan senyuman miring yang dingin dan mengerikan. "Sepertinya kamu suka sekali bermain petak umpet ya, Serena?" ujar Sergio dengan nada datar yang menusuk tulang.
"Jangan membuatku semakin marah dengan kekanak-kanakan mu ini."
Serena memejamkan mata rapat-rapat, pura-pura tidak mendengar dan berharap dirinya bisa menghilang seketika dari bumi.
"Serena!" panggil Sergio kembali, kali ini dengan penekanan suara bariton yang lebih berat dan mengintimidasi.
Karena tidak ada respons dari sang istri, Sergio mendengus pelan lalu mendekati sudut lemari tersebut. Pria itu berjongkok sedikit, lalu tersenyum penuh ejekan.
"Ohh... Aku tahu sekarang," bisik Sergio tajam, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar mengerikan di telinga Serena.
"Kamu sepertinya sengaja memilih bermain keringat denganku di kamar Anna, hm? Sayang sekali, istriku... kamar ini dindingnya tidak kedap suara seperti kamar utama kita. Aku khawatir jeritan dan suaramu nanti akan terdengar jelas hingga ke luar lorong mansion."
Mendengar ancaman bernada vulgar dan sangat serius itu, mata Serena terbuka lebar. Wajahnya berubah semakin pucat pasi seperti kertas.
Sebelum Serena sempat merangkak kabur, tangan besar Sergio sudah terulur mencengkeram pergelangan tangannya, lalu dengan mudah menarik tubuh gadis itu bangkit berdiri dari lantai.
"Jangan begini, Max... A-aku mohon..." ucap Serena memelas dengan suara bergetar hebat, air matanya hampir tumpah karena ketakutan yang nyata.
"Aku... aku tadi cuma bercanda! Sumpah, aku tidak serius bilang mau berciuman dengan Calum!" rontanya mati-matian, mencoba menarik balik tangannya.
Sergio berdiri tegak, menatap lekat-lekat wajah ketakutan istrinya tanpa ada secercah pun rasa iba di manik mata birunya.
"Tapi kau tidak pernah tahu caranya bermain-main dengan api, Serena," balas Sergio dingin mutlak.
"Sebaiknya kamu ikut denganku sekarang juga."
Tanpa mendengarkan lagi segala bentuk penolakan, rontaan, atau protes histeris dari istrinya, Sergio langsung menyambar tubuh Serena, mengangkatnya dengan mudah, lalu menggendongnya di atas bahu bidang pria itu ala karung beras.
"Ih! Turunin aku, Sergio! Lepasin!" pekik Serena histeris, memukul-mukul punggung suaminya dengan kedua tangan sambil meronta-ronta hebat di udara karena posisinya yang tergantung terbalik.
Plak!
Sebuah suara tamparan pelan namun tegas mendarat telak di atas bokong Serena yang memberontak, membuat gadis itu langsung terpekik kaget dan menghentikan pukulannya seketika. Wajah Serena merona merah padam karena malu bercampur takut yang luar biasa.
"Diam atau aku akan menambah hukumannya," ancam Sergio tanpa ampun, berjalan tenang membawa istrinya keluar dari kamar Anna.
Serena menggigit bibirnya erat-erat, menahan tangis frustrasi. Di dalam kepalanya, bayangan-bayangan mengerikan tentang apa yang akan dilakukan suaminya di kamar utama nanti berputar silih berganti dengan sangat cepat.
Sambil terus melangkah menyusuri lorong menuju kamar utama, Sergio melontarkan kalimat vonis yang sukses membuat sekujur tubuh Serena bergetar hebat ketakutan setengah mati.
"Tiga puluh ronde di atas ranjang sepertinya cukup untukmu... kita mulai hitungannya hingga pagi menjelang," ucap Sergio dengan nada suara yang terdengar sangat serius, tanpa ada nada candaan sedikit pun di sana.
"T-Tiga puluh ronde?! Kamu mau membunuhku, ya?!" tangis Serena pecah seketika, benar-benar percaya bahwa malam ini adalah malam terakhir bagi kewarasannya di bawah kekuasaan sang suami mafia yang kejam.
Bersambung...
lagi dong🤭🤭🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔