Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ethan terpekur di kursi kemudi dalam keheningan malam yang pekat, dikelilingi kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
Udara di dalam mobil terasa begitu dingin dan menusuk, mengikis sisa-sisa kehangatan yang sempat tercipta beberapa saat lalu. Ethan menundukkan kepala, membiarkan keningnya bertumpu pada lingkar kemudi yang membeku. Tangannya yang masih gemetar mencengkeram erat kulit setir, sementara detak jantungnya berdegup lambat, dipenuhi rasa hampa yang luar biasa mengerikan.
Aroma parfum Selena masih tertinggal pekat di jok belakang, berbaur dengan kepedihan yang tak terucap. Ethan memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan tatapan wanita itu, sorot mata yang sepenuhnya padam dan menyisakan kehancuran total justru terpeta semakin jelas di benaknya. Batas terlarang itu telah ia langgar tanpa ampun.
"Apa yang sudah kulakukan..." bisik Ethan serak, suaranya teredam dalam sunyi kabin yang mencekam.
Sebuah seringai pahit terbit di sudut bibirnya, mengejek dirinya sendiri yang kini benar-benar telah menjadi monster di mata orang yang paling ia cintai. Tidak ada jalan kembali. Malam ini, ia tidak hanya meremukkan Selena, tetapi juga memastikan bahwa neraka yang menanti mereka berdua baru saja dimulai.
Ethan melajukan mobilnya tanpa arah menembus pekatnya malam dengan pikiran kalut.
Deru mesin meraung membelah jalanan kota yang kian lengang, berpacu dengan kekacauan yang berkecamuk di dalam benak Ethan. Ia sengaja mengabaikan jalur menuju kediaman keluarga besarnya, memilih membiarkan setir membawanya tanpa tujuan pasti. Kedua matanya yang memerah menatap nanar aspal basah di bawah sorot lampu jalanan, sementara tangannya menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat kaku.
Pikirannya terus tertinggal di jok belakang. Rasa bersalah dan desakan obsesi saling menghantam dadanya, menciptakan denyutan menyiksa yang membuatnya sulit bernapas lega. Ia membayangkan lorong rumah yang sunyi, pintu kamar Selena yang terkunci, serta kehadiran Jason yang sewaktu-waktu bisa memicu ledakan baru jika Ethan menampakkan batang hidungnya saat ini.
Ethan menepikan kendaraannya di sebuah bahu jalan yang temaram di pinggiran kota. Ia mematikan mesin, menyandarkan kepalanya ke belakang sembari menyalakan sebatang rokok dengan jemari yang masih bergetar samar. Menatap ujung tembakau yang membara di tengah kegelapan, Ethan mengembuskan asap pekat ke udara dingin kabin mobil.
"Tatap saja dia dengan rasa bersalahmu," gumam Ethan parau pada keheningan malam, seringai getir melintas di wajahnya yang kelam. "Karena pada akhirnya, bukan dia yang menancapkan jejak terdalam di dirimu malam ini."
Sementara Selena...
Malam itu menjadi malam yang menghancurkan segala nya buat Selena. Ia pulang dengan naik taksi padahal mereka serumah. Setelah apa yang di lakukan Ethan padanya ia tidak sudi lagi melihat wajahnya apalagi harus satu mobil dengan nya.
"Apa yang harus aku katakan pada Jason." Ucapnya lirih seraya masuk ke rumah itu dengan wajah yang murung dan mata sembabnya.
Selena berdiri cukup lama di depan pintu rumah setelah menutupnya. Tangannya masih menggenggam tali tas dengan erat. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sebelum seseorang melihat keadaannya.
Namun baru beberapa langkah menuju tangga, suara Jason terdengar dari ruang tengah.
"Selena?"
Langkahnya terhenti. Jason bangkit dari sofa dan menatapnya dengan kening berkerut.
"Kamu baru pulang?"
Selena mengangguk kecil. "Iya."
Jason berjalan mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Selena yang sembab.
"Kamu kenapa?"
Selena segera memalingkan wajah. "Aku cuma capek."
"Capek sampai menangis?" tanya Jason heran.
Selena terdiam. Jason semakin mendekat, tetapi Selena justru mundur selangkah.
Gerakan kecil itu membuat Jason berhenti. "Ada apa?"
"Tidak ada." jawab Selena gugup.
"Selena." Nada suara Jason berubah serius. "Katakan padaku, apa terjadi sesuatu padamu?"
Selena menggigit bibirnya. Ia ingin mengatakan semuanya. Ingin menceritakan apa yang terjadi malam ini. Namun setiap kali hendak membuka mulut, kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokan.
"Aku cuma ingin istirahat." Ia berbalik menonggalkan Jason menaiki anak tangga dengan langkah berat.
Sesampainya di kamar, Selena langsung mengunci pintu. Baru setelah sendirian, tubuhnya yang sejak tadi dipaksa tetap tegar akhirnya kehilangan tenaga. Ia duduk di tepi ranjang dan menundukkan kepala.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya nya pada diri sendiri.