Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logam di Balik Kulit
Kaelen merasa dirinya mengambang di lautan hitam yang hangat. Tidak ada rasa sakit yang menyayat, tidak ada panasnya api biru, tidak ada sengatan racun korosif. Hanya sebuah ritme detak jantung yang berayun pelan, stabil, dan berat seperti metronom baja.
Ia membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya bukanlah langit-langit klinik Silas yang kumuh dan berbau karat, melainkan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya kekuningan lembut. Ia berbaring di atas ranjang beludru yang luas, sementara aroma cerutu mahal dan anggur rempah menguar di udara.
Kaelen mencoba bergerak. Sebuah sensasi asing, dingin, dan berat langsung menarik perhatiannya ke arah dada kiri. Ia menyingkap selimut sutra yang menutupinya dan menunduk.
Tepat di atas letak jantungnya, tertanam sebuah piringan logam melingkar berukuran sebesar telapak tangan pria dewasa. Logam berwarna obsidian pekat itu menyatu dengan daging dan ototnya seolah tumbuh secara organik. Permukaannya dipenuhi ukiran rune kuno yang memancarkan pendar cahaya biru redup setiap kali jantungnya berdetak. Sensasi mengerikan dari benturan mana yang sebelumnya menggerogoti urat nadinya kini lenyap tak berbekas. Logam itu bertindak layaknya bendungan raksasa yang menjinakkan badai liar di dalam tubuhnya, menyaring energi mematikan itu menjadi sesuatu yang bisa ia kendalikan.
"Itu adalah Inti Leviathan, mahakarya pandai besi kuno dari era sebelum kekaisaran pertama berdiri."
Suara serak Dokter Silas terdengar dari sudut ruangan. Pria tua itu melangkah mendekat ke bawah cahaya, tampak sangat kelelahan dengan kantung mata hitam yang menggantung tebal. Di belakangnya, Lyra bersandar pada dinding di dekat jendela, memainkan belatinya dengan raut wajah yang jauh lebih rileks dari sebelumnya.
"Kau mati selama dua menit di atas meja operasiku, Bocah Gila," ucap Lyra, melempar sepotong buah persik ke arah Kaelen. Refleks Kaelen seketika mengambil alih; ia menangkap buah itu di udara tanpa perlu melihat. "Silas harus membelah tulang rusukmu dan menyambungkan Jangkar Mana itu langsung ke pembuluh nadimu, sementara Rexor berteriak-teriak di telinganya soal aset investasi yang hampir hangus."
Kaelen mengusap permukaan logam dingin di dadanya, merasakan denyut energi magis yang kini mengalir selaras dengan darahnya. "Rexor menepati janjinya?"
"Bos mafia tidak menepati janji, Kaelen. Mereka melindungi aset."
Pintu ganda dari kayu mahoni di seberang ruangan menjeblak terbuka. Rexor melangkah masuk, diiringi oleh dua pengawal sibernetik setinggi dua meter. Pria raksasa itu tidak lagi memasang senyum meremehkan seperti di balkon arena. Matanya menatap Kaelen dengan kalkulasi dingin—tatapan seorang predator yang baru saja menemukan senjata pamungkas dan sedang memikirkan cara terbaik untuk menggunakannya.
Rexor melemparkan sebuah kantong kulit berisi kepingan emas ke atas meja di samping ranjang.
"Kau menghancurkan peliharaan kesayanganku hingga dadanya berlubang," geram Rexor, menarik sebuah kursi berlengan dan duduk di hadapan Kaelen. "Chimera itu bernilai lebih dari seratus ribu emas. Tapi pertunjukan yang kau berikan semalam... itu membuat seluruh petinggi Sektor Empat ketakutan sekaligus tergila-gila. Kau menyedot sihir tingkat tinggi seperti orang kehausan menenggak air, lalu memuntahkannya kembali menjadi tembakan meriam. Itu bukan anomali, Kaelen. Itu senjata pembunuh dewa."
Kaelen menyingkirkan selimutnya dan bangkit berdiri. Fisiknya terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kehadiran Jangkar Mana tidak hanya menstabilkan tubuhnya agar tidak meledak, tetapi seolah memperluas kapasitas wadah sihir di dalam jiwanya hingga berkali-kali lipat. Ia bukan lagi cangkir yang dipaksa menampung air bah; ia kini adalah lautan itu sendiri.
"Aku sudah menepati bagianku di arena semalam. Sekarang aku memiliki kendali atas kekuatanku," Kaelen menatap sang bos mafia tanpa gentar sedikit pun. "Katakan padaku di mana letak pasukan pamanku bersarang, dan aku akan melunasi utangku padamu."
Rexor menyeringai lebar, memamerkan deretan giginya yang dilapisi perak. "Itulah yang ingin kudengar. Pamanmu, Varian, mulai bertindak agresif. Pagi ini, dua peleton pasukan elit Ignis telah mendirikan barikade militer di perbatasan Sektor Tiga dan Sektor Empat. Mereka menyita seluruh jalur suplai penyulingan kami, memotong sumber pendapatan utamaku, dan menuntut kepalamu diserahkan sebelum fajar menyingsing esok hari. Pemimpin operasi mereka adalah Komandan Kael."
Kaelen terdiam sejenak. Komandan Kael adalah mantan instruktur pedangnya sendiri semasa ia masih menjadi putra mahkota. Pria itu keras kepala, tak kenal ampun, dan menguasai seni sihir pedang api yang nyaris setara dengan para tetua dewan klan.
"Kirimkan pesan padanya," ucap Kaelen, meraih jubah tempur berbahan kulit hitam yang telah disediakan Rexor di ujung ranjang, lalu mengenakannya. Logam di dadanya berpendar halus dari balik kerah bajunya. "Katakan bahwa buronannya akan datang menemuinya malam ini di pelataran Sektor Tiga. Aku akan menyerahkan diriku."
Lyra berhenti memutar belatinya, matanya melebar. "Kau bercanda? Dua peleton elit? Itu enam puluh ksatria bersenjata lengkap dengan komandan penyihir tingkat tinggi! Jangkar Mana itu mungkin membuatmu tidak meledak saat menyerap sihir, tapi dagingmu masih bisa terpotong oleh pedang baja biasa!"
"Aku tidak pernah bercanda soal nyawa, Lyra," jawab Kaelen. Matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan, memantulkan bayangan dari pusaran hitam yang kini bersarang aman di kedalaman jiwanya. "Selama berabad-abad, klan Adiwangsa mengandalkan sihir api untuk mendominasi segalanya. Malam ini, aku akan mencabut cahaya itu dari mereka. Aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana rasanya bertarung sebagai manusia biasa di dalam kegelapan mutlak."
Kaelen menoleh pada Rexor. "Siapkan pasukan terburukmu di perbatasan Sektor Tiga. Setelah aku melucuti seluruh sihir api mereka di medan perang, pasukan jalananmu yang akan masuk dan membersihkan sisanya dengan baja kotor. Kita mulai perang ini sekarang."