Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Jawaban Teka-Teki
Ada perasaan mengganjal di hati Milka saat menyadari suaminya tega membiarkan ia tidur dalam keadaan terbuka padahal pakaiannya begitu minim. Sementara itu, Vando meringkuk nyaman di bawah selimut.
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera menepisnya. Milka bangkit melepaskan lingerie, lalu berganti pakaian dengan yang biasa ia kenakan. Lalu menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim di subuh hari.
Ia segera membersihkan diri dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu, seakan lupa hari ini adalah waktu cutinya, tanpa sadar Milka telah bersiap mengenakan pakaian kerja, seragam kepolisian yang membungkus tubuhnya dengan sangat pas.
Sang suami terlihat mulai menggeliat. Milka memejamkan mata, meneguhkan hatinya. "Mas, bangun. Sholat Subuh dulu! Aku heran, kenapa akhir-akhir ini kamu tak terlihat lagi melaksanakan Solat Subuh?"
Vando menggeliat, menatap jam pada dinding kamar. Tanpa sepatah kata pun, ia beringsut turun dan langsung menuju kamar mandi. Milka yang mengharap mendapat sapaan pagi hanya bisa mematung karena keberadaannya diabaikan begitu saja.
Milka menggelengkan kepala, menepuk kedua pipinya pelan. 'Tidak! Aku tidak boleh berpikir macam-macam! Mungkin Mas Vando buru-buru karena terlambat bangun.'
Milka menyiapkan pakaian dan alat solat untuk suaminya, lalu merapikan peralatan kerja di dalam tas pria itu. Namun, jemarinya tanpa sengaja memyentuh satu benda yang terasa cukup familiar.
Sebuah gelang, ingatannya beralih cepat pada benda yang dulu pernah ia berikan kepada sahabatnya, Irana, saat pulang liburan dari Bali sebelum menikah dengan Vando.
'Kenapa gelang Irana ada di dalam tas Mas Vando?' batin Milka curiga.
Milka membolak-balik gelang itu beberapa kali. Tidak mungkin ia salah ingat. Ia sendiri yang memilih motif itu saat berlibur ke Bali. Bahkan Irana sempat memeluknya sambil berkata, "Aku akan selalu memakainya."
Suara selot pintu kamar mandi yang terbuka membuat Milka buru-buru menyimpan gelang tersebut ke dalam kantong seragam dinasnya.
Milka berpura-pura menyisir rambut sembari melirik suaminya yang keluar dari kamar mandi. Vando terlihat malas melaksanakan solat, tetapi dilaksanakan juga.
Setelah itu, ia menyerahkan deodoran dan parfum yang biasa digunakan suaminya. Milka selalu melakukan rutinitas penuh pengabdian ini setiap hari, meskipun mereka hanya memiliki status pernikahan karena perjodohan.
Ia menyerahkan baju kerja suaminya. Semuanya berlangsung hening tanpa suara. Dan ini memang selalu terjadi, reaksi tanpa sepatah kata di antara mereka.
"Mas?" Milka membantu mengancingkan kemeja pria tampan itu, menatap mata suaminya dengan sendu.
Jemarinya sempat menyentuh dada Vando. Namun pria itu malah mundur setengah langkah.
Hati wanita kuat itu berdesir hebat. Perasaannya seketika berkecamuk. Getaran di tangannya mulai terasa, tetapi ia tetap meneguhkan hati.
Mata sang istri makin berkaca-kaca, meskipun saat ini ia sedang mengenakan seragam wanita tangguh pelindung negeri. Milka menarik tisu, segera mengusapkannya pada sudut mata supaya tidak merusak riasan yang memperkuat keanggunan dirinya.
Milka beralih menuju meja makan dan mulai sarapan duluan tanpa mengatakan apa pun. Saat Vando selesai bersiap, Milka bangkit menyambar tas kerjanya. Ia menarik tangan Vando dan menciumnya sopan.
"Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban atau berharap diberi kecupan, Milka melangkah pergi, raut datar masih menggantung pada wajah Vando.
Namun, setelah terdengar pintu ditutup dari luar, bibir Vando pun tersenyum tipis dengan segera mengeluarkan ponselnya melakukan video call tanpa rasa waspada.
Di luar, Milka yang baru teringat bahwa harusnya hari ini ia cuti. Ia mengusap kening dan menggelengkan kepala.
"Kenapa sampai lupa?" Ia pun berbalik arah menarik kembali selop pintu dengan pelan.
Saat hendak melangkah masuk, langkahnya terhenti total. Dari celah pintu, ia mendengar suara suaminya sedang bertelepon mesra dengan seseorang.
Diam-diam, naluri Milka memaksanya mendengarkan obrolan tersebut.
"Kamu udah sarapan belum, Sayang? Aku sedang makan sandwich yang dibuatkan oleh Milka."
"Milka mah nggak bisa masak, Bang. Kalau aku, pagi-pagi gini pasti bakal masakin sarapan yang lezat buat Abang."
"Iya, Abang percaya kok. Kalau tahu dari dulu kamu lebih hebat segalanya dari dia, Abang mungkin menolak dijodohkan dengan wanita itu. Apalagi ... dada kamu sangat indah, beda jauh sama punya Milka."
Dengan gerakan refleks, Milka menyentuh dadanya sendiri. Seketika, air matanya menetes perlahan dan semakin deras. Pundaknya bergetar, dan ia mulai merangkai jawaban dari teka-teki pernikahannya ini.
"Ternyata tadi malam Milka udah menyiapkan dirinya semalam buat bercinta sama aku."
"Lalu kamu ladenin?" Suara wanita di seberang ponsel terdengar sedikit meninggi.
"Enggak dong. Aku udah kecapean enam ronde sama kamu, jadi aku ketiduran sampai telat bangun."
DEG!
Rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada Milka.
Bukan lagi rasa curiga.
Melainkan keyakinan bahwa rumah tangganya memang sedang dihancurkan oleh orang-orang yang paling ia percaya.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣