Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (15)
Penulis: Linda Lubi
Abang Kunti ingin curhat, tapi nggak tahu sama siapa. Semenjak putus dengan Kuntilanak di kampung lain, Abang Kunti milih jomblo dulu. Bosan pacaran. Bikin capek hati. Bikin makan hati juga. Emang kunti punya hati? Gkgkgk.....
Tapi begitu ketemu Mbak Kunti, terasa anomali. Mbak Kunti sangat berbeda dengan kunti yang lain. Itu yang membuat Abang Kunti pengen curhat. Ia harus bagaimana?
Abang Kunti kembali ke pohon asam, sebagai tempat tinggalnya. Ia masuk ke dalam batang pohon asam. Biasanya kalau pagi sampai sore ia ada di dalam pohon asam. Kalau malam hari baru ia di atas pohon asam sambil memandang rembulan.
Karena lagi gabut, ia curhat sama pohon asam. Biarin deh, daripada kena hipertensi atau gula darah jadi naik. Ihihihi. Dipikir Abang Kunti, ia sama kayak manusia. Bisa kena hipertensi dan diabetes.
"Sem, aku lagi bete nih. Nggak tau mau curhat sama siapa. Terpaksa deh aku curhat sama kamu. Pokoknya aku mau curhat. Ihihihi....."Abang Kunti nempel di dalam pohon.
"Selama ini, kamu jadi saksi sejarah perjalanan dan petualanganku. Dari kamu remaja, kita sudah jadi bestie. Aku mondok di tubuhmu hingga saat ini." Abang Kunti malah tertidur.
Padahal nggak ada sejarahnya para kuntilanak atau kuntilanang suka tidur. Abang Kunti dan Mbak Kunti sama-sama lupa kalau mereka itu setan. Bukan manusia.
Pohon asam yang melihat Abang Kunti tertidur cuma bisa pasrah saja. Lagian pohon asam cuma bisa ngomong dalam hati. Nggak bisa kasih solusi. Abang Kuntinya aja yang lebay. Bagus deh kalau tidur.
Jangan dipikir pohon asam nggak punya perasaan. Pohon juga makhluk hidup sejenis tanaman. Punya napas juga. Butuh air juga untuk kehidupannya. Terutama air hujan dan air tanah. Bahkan pohon asam juga berzikir. Sebagai tanda bersyukur kepada Sang Pencipta.
***
Hari ini Nurdin sarapan lontong Wak Zoyah. Tempat sarapan legend. Berdiri setelah peristiwa tsunami. Nurdin kurang familiar karena baru beberapa tahun kembali di sini. Ia besar di Jakarta bersama micek-nya.
Ternyata lontong Wak Zoyah sangat medok. Berasa makan lontong lebaran. Lauknya pun lengkap. Nurdin pilih lauk telur dadar. Lagi malas makan ayam. Pasti di rumah nanti, Salima masak ayam juga. Katanya tadi mau beli ayam.
Salima sendiri pakai lauk pergedel. Mereka sangat romantis. Saling suap-suapan. Pembeli yang lain dianggap cuma penonton.
Para wanita yang ada di warung lontong Wak Zoyah, pada mimisan ketika melihat Nurdin. Udah kayak kena wabah virus aja. Para pria yang sudah mengenal Nurdin jadi panik melihat para istri kayak sakau gitu.
"Wak...tolong sarapan kami dibungkus saja. Nggak jadi makan di sini." Kata para suami panik.
Mereka tengsin melihat Nurdin yang malah cuek atas segala huru hara karenanya. Iya juga sih, bukan salah Nurdin juga. Wanita-wanita itu saja yang tidak pandai menjaga mata dan hati. Sudah tau Nurdin milik Salima, masih saja terpesona.
Begitu Nurdin selesai makan dan pulang, barulah para suami lega. Meskipun hati mereka dongkol kepada para istri. Apalagi para anak gadis. Hemmm...hajab.
"Abang nunggu di motor saja ya. Jangan ke mana-mana. Adek mau ke dalam dulu." Ujar Salima meninggalkan Nurdin duduk di motor.
Salima takut para wanita yang di dalam pasar tradisional itu malah mimisan seperti biasa. Salima jadi dilema. Jika Nurdin dibawa ke pasar, maka banyak wanita yang mimisan. Kalau ditinggal di rumah, takut tergoda dengan wanita mimisan yang menggodanya. Hati Salima jadi berdarah-darah.
Ia belanja tanpa tawar-menawar lagi. Ia ingin cepat pulang. Segala kebutuhan sudah ia beli. Dengan kecepatan tingkat lurah, akhirnya Salima selesai juga belanja mingguan. Daging ayam, daging kambing, ikan dan sayur-sayuran sudah dibeli. Termasuk per-bumbuan dan buah-buahan.
Begitu sampai di parkiran Nurdin, Salima melihat ada 3 pria kemayu yang mimisan. Ihhh...Salima kesel. Capek melihat Nurdin jadi pusat perhatian.
"Ayo kita pulang, Bang." Salima mencium pipi Nurdin biar semua orang tau kalau ia istri Nurdin. Lebay kamseupay. Gkgkgk.....