Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jaket Hitam, Kejutan Pagi, dan Tatapan yang Berbeda
Suara rintik hujan yang membasahi pelataran kampus kemarin sore seolah masih meninggalkan jejak kehangatan di kamar Aleena. Di atas kursi belajar dekat jendela, jaket parka tebal berwarna hitam milik Arlan Bachtiar terlipat rapi. Aroma khas kayu dan cedarwood yang maskulin masih samar-samar tercium dari bahan kain tebal tersebut, membawa kembali ingatan Aleena pada momen tak terduga di bawah selasar gedung FISIP kemarin.
Aleena memandangi jaket itu sejenak sebelum memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas ranselnya. Ada rasa canggung yang menggelitik, namun bercampur dengan letupan semangat yang tak bisa ia jelaskan. Hari kedua Orientasi Kehidupan Kampus di Universitas Nusa Bangsa (UNB) siap dimulai, dan Aleena tahu betul bahwa hari ini tidak akan berjalan biasa saja.
Dengan kemeja putih yang disetrika rapi dan celana kain hitam, Aleena melangkah percaya diri menembus gerbang kampus. Sinar matahari pagi memantul hangat di dedaunan taman FISIP. Di pelataran auditorium, ratusan mahasiswa baru sudah berkumpul membentuk barisan, saling berbisik panik sembari memeriksa kembali kelengkapan atribut tugas mereka.
"Aleena! Sini, Lee!" panggilan melengking dari Dania memecah keramaian. Gadis berambut ikal itu melambaikan tangan heboh dari barisan tengah kelompok Ilmu Komunikasi.
Aleena melangkah santai menghampiri sahabat barunya itu dengan cengiran khasnya yang tanpa beban. "Pagi, Dan! Muka lu napa ketarik gitu? Kayak belum sarapan tiga hari."
"Aduh, Aleena... lu masih bisa bercanda!" bisik Dania panik, menarik lengan Aleena agar lebih dekat. "Lu tau enggak? Hari ini yang megang pengawasan kedisiplinan barisan kita itu langsung Kak Arlan sama tim inti BEM! Katanya kemarin ada beberapa kelompok yang catatan evaluasinya merah."
Aleena hanya terkekeh pelan, menepuk bahu Dania menenangkan. "Ya santai aja kali, Dan. Selagi tugas lengkap dan kita enggak berbuat ulah, ngapain takut?"
Belum sempat Dania membalas, suasana di pelataran mendadak hening. Langkah kaki berirama tegas terdengar melintasi selasar semen. Rombongan panitia senior berpakaian PDL hitam berjalan beriringan. Di barisan terdepan, sosok Arlan Bachtiar melangkah dengan gestur tegap yang amat dominan.
Hari ini Arlan tidak mengenakan jaket parkanya hanya kemeja PDL hitam dengan lengan tergulung rapi hingga siku dan papan klipboard di tangan kirinya. Sorot matanya yang tajam menyapu setiap barisan mahasiswa baru, membuat suasana yang tadinya bising seketika redup ditelan ketegangan.
Namun, ketika manik mata Arlan beradu pandang dengan Aleena di barisan tengah, ada jeda tipis pada langkahnya. Mata tajam itu seketika melunak selama sefraksi detik, menatap Aleena yang berdiri tegap dengan gaya petantang-petentengnya yang tak pernah luntur. Aleena, seperti biasa, bukannya menunduk segan justru memberikan anggukan kecil dan senyum tipis yang menantang.
Arlan menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat, lalu kembali memasang raut wajah dingin khas Ketua BEM.
Sesi pagi diisi dengan pemeriksaan kelengkapan berkas dan atribut oleh para panitia kedisiplinan. Satu per satu barisan diperiksa secara ketat. Di barisan sebelah Aleena, seorang mahasiswa baru tampak panik karena lupa membawa nametag kertas sesuai spesifikasi ukuran yang ditentukan.
"Lu tau kan konsekuensinya kalau atribut enggak lengkap?" tegur seorang panitia senior berwajah galak.
Di tengah situasi tegang itu, Arlan melangkah mendekati area barisan Komunikasi. Pengaruh hadirnya sang Ketua BEM membuat panitia lain secara refleks memberi jalan. Arlan mengamati mahasiswi yang panik itu sejenak, lalu matanya beralih menatap Aleena yang berdiri tak jauh di sebelahnya.
"Kelompok kalian ada yang bawa kertas karton sisa atau nametag cadangan?" tanya Arlan pendek, suaranya yang bernuansa baritone terdengar tegas namun tidak membentak.
Tanpa ragu, Aleena membuka ritsleting tas ranselnya dengan cekatan. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan selembar nametag kosong dan spidol yang memang sengaja ia siapkan sebagai antisipasi. Sifat Aleena yang sigap dan solutif seketika bekerja.
"Ini Kak, ada cadangan," ujar Aleena sambil menyerahkan kertas itu ke panitia senior di depannya.
Arlan menatap gerakan Aleena yang begitu cepat dan efisien. Ada rasa kagum yang makin mengakar di dada sang Ketua BEM. Gadis di hadapannya ini bukan sekadar mahasiswi baru yang suka membalas celotehan dengan nada santai, melainkan sosok yang tanggap, cerdas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sekitarnya.
"Bagus," puji Arlan singkat sambil menatap Aleena lurus-lurus. "Sikap saling bantu kayak gini yang sebenarnya pengen ditanamkan di kampus, bukan cuma takut sama aturan."
Mendengar pujian singkat namun berbobot dari Arlan, beberapa mahasiswa baru berbisik-bisik kagum, sementara Dania di sebelah Aleena sampai melotot tak percaya.
Saat jam istirahat siang tiba, riuh mahasiswa baru memenuhi kantin dan area koridor. Aleena memanfaatkan momen ini untuk menyelesaikan satu urusan penting. Sambil menyanggul rambutnya asal-asalan, ia merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan jaket parka hitam milik Arlan yang sudah terlipat rapi dalam kantong kain bersih.
"Dan, lu balik ke barisan duluan ya. Gue mau nyerahin ini sebentar," pamit Aleena pada Dania.
Aleena berjalan menyusuri selasar menuju ruangan Sekretariat BEM FISIP yang berada di ujung gedung. Pintu ruangan itu terbuka separuh, memperlihatkan beberapa pengurus BEM yang sedang sibuk berdiskusi di depan laptop. Di sudut meja utama, Arlan tampak sedang membaca berkas Laporan Pertanggungjawaban acara sambil menyesap secangkir kopi hitam.
Aleena mengetuk pintu kayu itu tiga kali dengan gaya santainya. Ketuk, ketuk, ketuk.
"Permisi, Kak," panggil Aleena renyah.
Arlan mendongak. Begitu melihat sosok Aleena berdiri di ambang pintu dengan kantong kain di tangannya, Arlan mengisyaratkan anggota BEM lain untuk memberikan ruang. Arlan meletakkan penanya, lalu berdiri dan berjalan mendekati pintu.
"Ada apa, Aleena?" tanya Arlan pelan, berdiri berhadapan dengan Aleena di selasar yang agak sepi.
Aleena menyodorkan kantong kain itu ke hadapan Arlan. "Nganterin jaket Kak Arlan yang kemarin. Makasih ya Kak, udah dipinjemin. Udah gue cuci dan rapiin lagi kok, dijamin wangi."
Arlan menerima kantong itu. Jemarinya sempat bersentuhan sebentar dengan jemari Aleena, mengirimkan getaran hangat yang membuat dada Aleena berdesir pelan. Arlan membuka sedikit kantong kain tersebut, lalu menatap Aleena dengan tatapan yang amat dalam.
"Sebenarnya enggak perlu terburu-buru dikembaliin hari ini," tutur Arlan dengan suara beratnya yang menenangkan. "Tapi makasih, Aleena."
Aleena menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan cengiran petantang-petentengnya yang memikat. "Harus dikembaliin cepat dong, Kak. Biar Ketua BEM kita yang galak ini enggak kedinginan kalau nanti sore hujan deras lagi."
Arlan tak mampu lagi menahan senyumnya. Sebuah senyuman tulus dan hangat—yang jarang sekali diperlihatkan di depan umum—terukir jelas di wajah tegasnya.
"Lu memang beda ya dari maba yang lain," gumam Arlan pelan sambil menggelengkan kepala. "Nanti sore selesai acara, jangan langsung pulang dulu. Gua mau bicara sebentar soal perekrutan panitia magang BEM."
Aleena menaikkan sebelah alisnya, menerima tantangan baru itu dengan binar mata yang berbinar penuh semangat. "Siap, Pak Ketua. Ditunggu panggilannya."
Saat Aleena berbalik melangkah meninggalkan koridor BEM, ia menghembuskan napas panjang dengan senyum lebar terulas di bibirnya. Perjalanan di Universitas Nusa Bangsa baru saja dimulai, namun Aleena tahu bahwa melodi kehidupannya kini bergerak ke arah yang semakin menarik dan penuh warna bersama Arlan Bachtiar.