Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tubuh Aleah menegang, gelas yang tadi ia angkat untuk diminum isinya, perlahan turun hingga berada di pangkuannya, mata indahnya mengerjap untuk beberapa saat. Ia sempat mengira pelayan yang datang untuk mengantarkan sesuatu, tetapi sosok tinggi yang memasuki ruangan itu membuat punggungnya seketika menegang.
Sagara.
Pria itu masuk dengan langkah tenang, mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka. Jas yang dikenakan nya sepanjang acara sudah hilang entah kemana. Wajahnya tampak lelah, tetapi tak sedikitpun mengurangi kesan dingin yang selalu melekat padanya. Ia menutup pintu, lalu memutar kunci dari dalam.
Klik. Suara kecil itu membuat Aleah melirik pintu secara refleks.
Beberapa saat kamar itu sunyi. Aleah meremas kuat ujun gaun pengantin nya, dadanya berdebar kuat tanpa bisa ia tangani. Di situasi aneh dan canggung ini rasanya ia ingin menghilang saja.
“ Oh kalo andai saja pintu kemans saja milik doraemon itu nyata, aku ingin meminjam nya sekarang juga. Berduaan saja dengan lelaki ini rasanya seperti terkurung berduaan dengan malaikat maut.”
Batin Aleah, dengan perasaan yang bergejolak dan campur aduk.
Disisi lain, Sagara tidak langsung berbicara. Ia justru berjalan melewati Aleah, meletakkan ponselnya diatas meja, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di hadapannya.
Tatapannya jatuh tepat ke wajah cantik itu. Beberapa saat ia mengamati setiap lekuk wajah sang gadis, rahang yang kecil, hidung yang tinggi namun mungil, mata bulat dengan iris biru yang jarang sekali manusia lain punya, bulu mata lentik dan terakhir ia jatuh kepada sepasang bibir ranum yang berwarna merah alami itu.
Sagara menggeleng pelan saat tersadar ia terlalu lama dalam pengamatannya. “Sadarlah Saga, wanita ini adalah ancaman, tidak seharusnya kau begini. Ucapnya dalam hati.
Lalu tatapan nya kembali tajam dengan kilat nya yang tampak begitu mengerikan. Aura mengintimidasi pria itu kembali mengental membuat udara disekitar nya terasa pengap.
“Karna aku tak suka berbasa- basi, jadi langsung to the point saja. Katakan, siapa orang yang menyuruh mu?”
Aleah mengerjap, tak mengerti. “Apa?”
“Jangan berpura-pura menjadi gadis yang sok polos karena itu tak akan mempan.” timpal Sagara, tajam.
Alis Aleah mengernyit dalam. “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.”
Sagara menyandarkan punggungnya. Jemarinya bertaut di bawah dagu, sementara sorot matanya tak sedikit pun menunjukkan kesabaran.
“Apa kau disuruh oleh Xavia?”
Nama yang terasa asing itu membuat Aleah menggeleng dengan raut wajah bingung. “Apa hubungannya dengan ku?”
Sagara berdecih pelan. “Jangan membuat ku mengulang pertanyaan.”
Suaranya tidak keras. Justru karena diucapkan begitu dengan tenang, setiap katanya terasa seperti tekanan yang perlahan menghimpit.
Sagara kemudian melanjutkan. “Apa dia membayar mu untuk datang ke pernikahan ini? Apa dia menyuruhmu untuk menggantikan nya setelah dia melarikan diri?”
Aleah terdiam sesaat. Mencoba memahami tuduhan yang baru saja di lemparkan kepadanya.
Lantas, ia meletakkan gelasnya di atas meja. “Jadi, itu yang kau pikirkan tentang ku?”
“Aku sedang bertanya.” Raut Sagara sedingin es.
Namun kali ini tak membuat Aleah gentar. “Tidak. Kau sedang menunduhku.”
Sagara mengangkat alis tipis. “Kalau kau tidak terlibat, jelaskan kenapa kau berada di altar dan mengenakan gaun pengantin yang seharusnya dikenakan oleh Xavia.”
Oh, sekarang Aleah paham. Nama wanita yang disebutkan nya itu adalah pengantin wanita yang sebenarnya, yang seharusnya ada di posisinya saat ini.
“Aku tidak mengenal Xavia.” Jawabnya, akhirnya. “Aku berada di posisi ini juga bukan karena kesengajaan, aku tak berniat memakai gaun pengantin ini.”
Sagara tersenyum miring, sarkas. “Lalu, kau ingin aku percaya bahwa kau bisa tiba-tiba masuk ke ruang pengantin, mengenakan gaunnya, kemudian berdiri disampingku tanpa mengetahui apapun?”
“Kubilang aku tidak masuk kesana karena ingin menikah dengan mu!”
Suara Aleah meninggi tanpa sengaja. Ia segera menarik napas, berusaha menahan emosinya yang mulai meluap.
“Aku juga tidak tahu bahwa perempuan yang seharusnya menikah dengan mu itu melarikan diri. Aku datang ke tempat ini karena—“
Deg. Ia spontan menghentikan ucapannya.
Bayangan wajah Darto tiba-tiba melintas di depan nya.Ancaman itu masih melekat, begitu nyata hingga tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak bisa menceritakan semuanya kepada pria yang bahkan baru beberapa jam lalu mengucapkan akad dengan nya. Terlebih, sejak awal bertemu kesan mereka sudah tak baik.
Sementara Sagara menangkap keraguannya itu.“Karena apa?”
Aleah menggeleng kecil. “Itu urusanku.”
Rahang Sagara mengeras.”Menarik. Kau datang ke rumahku, menggantikan pengantin yang menghilang, menikah denganku di hadapan banyak orang, tetapi ketika kutanya alasannya, kau mengatakan itu urusanmu.”
“Aku tidak pernah meminta semua ini terjadi!”
“Namun, kau menerimanya.”
Aleah menatapnya tak percaya.
“Apa menurutmu aku punya banyak pilihan?”
“Setiap orang punya pilihan.”
“Termasuk kau?” balas Aleah spontan. “Kalau kau punya begitu banyak pilihan, kenapa kau tetap menikah denganku? Kenapa tidak membatalkan semuanya ketika tahu calon istrimu menghilang?”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Untuk pertama kalinya, Aleah melihat perubahan kecil pada wajah Sagara. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan tatapan yang semakin sulit ditembus.
Pria itu berdiri.
Aleah refleks menegakkan punggungnya ketika Sagara berjalan mendekat. Ia berhenti di sisi meja, mengambil sebuah map hitam yang sejak tadi tergeletak di sana, kemudian melemparkannya ke hadapan Aleah.
Map itu meluncur di atas permukaan meja dan berhenti tepat di depan tangannya.
“Baca.”
Aleah menatap map tersebut, lalu menoleh kepadanya.
“Apa ini?”
“Jawaban untuk sebagian pertanyaanmu.”
“Bisakah kau bicara seperti manusia biasa?”
“Bisa.” Sagara menatapnya datar. “Baca dulu.”
Aleah mendengus pelan. Ia menarik map itu, membuka pengaitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi.
Tulisan di bagian atas membuat keningnya berkerut.
KONTRAK PERNIKAHAN — JANGKA WAKTU 18 BULAN.
Ia membaca kalimat berikutnya, kemudian menoleh kepada Sagara.
“Satu setengah tahun?”
“Selama itu kita akan tetap menjalani pernikahan ini di hadapan publik. Setelah masa kontrak berakhir, kita akan membicarakan perpisahan sesuai ketentuan yang berlaku.”
Aleah menatapnya tak percaya. “Jadi, kau menikahiku hanya untuk mencuci nama baik keluargamu?”
“Pernikahan ini diperlukan untuk meredam skandal akibat hilangnya calon pengantinku. Aku tidak akan membiarkan keluarga Fernandez menjadi bahan tertawaan hanya karena kejadian hari ini.”
“Lalu aku?” tanya Aleah pelan. “Aku ini apa dalam rencanamu?”
Sagara menatapnya tanpa ragu.
“Istriku di depan publik. Tidak lebih dari itu.”
Kalimat tersebut membuat Aleah terdiam. Ia menunduk kembali, menyesal karena kenapa tiba-tiba pertanyaan itu ia lontarkan? Haish, memalukan.
Baiklah, selesaikan ini, lalu setelah itu ia bisa bebas.
Awalnya Aleah masih mencoba mencerna isi kontraknya sampai tiba-tiba saat membaca bagian tentang kewajiban dan batasan kedua belah pihak, ia menemukan satu kalimat yang membuat tangannya berhenti.
Pihak Kedua tidak diperkenankan menuntut keterikatan emosional maupun hak pribadi di luar yang tercantum dalam kontrak.
Aleah mengangkat wajah. “Tenang, aku bahkan tak pernah berpikir hal semacam itu sebelum nya.”
Sagara tak menjawab.
Aleah kemudian mengambil pena, tetapi sebelum menandatangani halaman terakhir, ia menulis satu kalimat tambahan di bagian kosong.
Selama masa kontrak, Pihak Pertama tidak berhak memperlakukan Pihak Kedua sebagai seseorang yang lebih rendah hanya karena pernikahan ini berawal dari kepentingannya sendiri.
Ia mendorong dokumen itu kembali ke hadapan Sagara.
“Aku akan menjalani satu setengah tahun ini. Tapi jangan berharap aku akan tunduk pada semua keinginanmu hanya karena aku menyandang nama Fernandez.”
Sagara membaca kalimat tambahan itu. Tatapannya kemudian beralih kepada Aleah.
“Kau sedang mengajukan syarat kepadaku?”
“Aku hanya memastikan bahwa selama satu setengah tahun ini, aku tetap punya harga diri.”
Hening beberapa saat.
Sagara mengambil pena dan membubuhkan paraf di samping ketentuan tambahan tersebut.
“Baiklah. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan pendirianmu.”
…..
Bersambung